PART 22

1498 Words
“Siapa yang harus kutemui duluan?”, tanya Jonael dengan merapikan pakainnya. Aleta berdiri di sebelah dengan menenteng satu tas tangan kecil. Mereka terlihat sangat serasi. “Mr. Antonio, kemudian Mr. Felix. Tunjukkan kemampuan negosiasimu.” “Tak perlu diingatkan.”, sahut Jonael datar. “Kau bisa mulai saat makan malam nanti. Acara pembuka akan berlangsung satu jam. Kau berada di meja zona 5 dengan para tamu dari Asia. Tentu kau ingat untuk menghindari Mr. Izora dan selalu hangat pada Mr. Nakamura.” “Iya.”, jawab Jonael merekam keterangan dari Aleta. “Aku sudah memeriksa menu makanan yang akan tersaji. Semua aman dengan seleramu.” “Oke.” “Aku ada di meja belakang dan siaga menerima panggilanmu.” Jonael segera menoleh pada lawan bicaranya itu, “Kau tidak mendampingiku?” Kening Aleta berkerut tak mengerti, “Aku hanya mendapat akses masuk tanpa undangan resmi, jadi kita ada di level berbeda. Aku yakin kau bisa mengatasi malam ini dengan baik.” Jonael menghela nafas berat. Kenyataan ini tak bisa dielakkan. “Yasudah, aku masuk.”, pungkas Jonael. “Tunggu….”, sergah Aleta kemudian maju dua langkah untuk mendekat pada Jonael. Aleta meraih pergelangan tangan Jonael. Benar, tangan itu terasa lebih dingin dari seharusnya. “Bagaimana kondisimu?” “Tidak ada masalah.”, jawabnya singkat. “Baiklah. Kau bisa pergi.”, Aleta mempersilahkan dan merekapun berpisah. ***** Jonael berkeliling menemui beberapa kenalannya. Dia tidak terlalu lapar meski belum banyak makanan yang dia santap hari ini. Setelah selesai dengan beberapa orang, dia mulai penasaran dengan keberadaan Isaac. Dia ingin memberi peringatan sekali lagi pada lelaki itu. “Permisi, Miss Cecilya, apa kau melihat Tuan Isaac Baktijaya?”, tanyanya pada orang Indonesia yang secara acak berjalan di depannya. “Ohh… Dia pergi keluar setelah meneguk wine favoritnya.” “Keluar?” “Kurasa begitu. Aku sempat menyapa dia seperti kau menyapaku saat ini., tepat ketika dia berjalan ke arah luar.” “Terimakasih atas informasinya, Miss. Saya berhutang pada anda.” “Santai saja Jonael. Bukan perkara penting. Aku pergi dulu…” “Ah, iya. Silahkan.” Jonael mengangguk mempersilahkannya pergi. Pandangannya kini beralih pada deretan meja di sebelah belakang. Dia mencari sosok Aleta untuk ia ajak makan bersama namun beberapa kali mengulang penglihatan, wanita itu tidak ada. Jonael mengambil ponsel di sakunya. “Halo, Aleta. Kau dimana, huh?” ‘Aku sedang mencari obat untukmu.’ Jonael tertegun, “Astaga, jangan sok tahu dengan Paris. Ini sudah malam.” ‘Aku tahu dengan jelas area sekitar sini.’ “Segera kembali ke venue, aku ingin pulang. Atau aku menjemputmu sekarang? dimana?” ‘Apa segala urusanmu sudah selesai?’ “Sudah.” ‘Baiklah, aku akan kesana. Tunggu sepuluh menit.’, pinta Aleta kemudian panggilan berakhir. Jonael tidak tahu dimana wanita itu berada, bahkan ide membeli obat sangatlah random bagi Jonael. Waktu berjalan cepat, tak terasa sudah tiga puluh menit Jonael menunggu sambil berbincang dengan beberapa orang baru disana. Ada rasa penasaran kenapa Aleta tak kunjung muncul. Dia menekan panggilan di ponsel dengan cepat, ada jawaban di dering pertama. “Kau dimana, kenapa lama sekali?”, tuntut Jonael. ‘Kau mengenal pemilik ponsel ini?’ Suara asing terdengar dari ponsel Aleta. Jonael terkesiap dan menyadari ada hal janggal. Mereka berbicara dalam Bahasa Inggris. “Siapa kau?” ‘Aku perawat yang baru saja menangani wanita si pemilik ponsel.’ “Ke-kenapa dia? Dimana?”, spontan Jonael bertanya, dia lantas bergegas keluar venue. ‘Prospere Hospital bagian gawat darurat, dia ditemukan pingsan di tepi jalan.’ Jonael tidak ingin bertanya lebih lanjut, dia hanya ingin segera sampai disana. “Aku kesana. Tolong jaga dia sampai aku datang.” ‘Tentu, kurasa kami butuh tanda tangan anda.’ “Tidak akan lama.”, balas Jonael mengakhiri panggilan. ***** Jonael terengah-engah di depan meja perawat. “Dimana dia? Wanita yang pingsan di jalan.”, tanyanya dengan nada rendah yang dalam. Dia tengah mengatur nafas, lebih dari itu kondisinya juga sedang tidak baik. “Tenanglah, dia baik-baik saja. Kita hanya menunggu hingga biusnya hilang.” “Wait, bius???” “Iya, sepertinya dia pingsan karena menghirup obat bius. Sekarang bisa kau tandatangani berkas-berkasnya?”, tanya perawat sambil menyodorkan beberapa kertas. Jonael mengernyit lalu mengisi beberapa hal dan menambahkan tanda tangan. “….. tadi ada beberapa orang yang menolong membawa dia kesini. Untuk kronologi maaf kami tidak tahu. Kau bisa menghubungi polisi jika merasa ada keanehan, kami akan kooperatif. Tapi jika tidak, kau bisa membawanya pulang setelah dia sadar.” Jonael tampak memutar otak. Dia merasa risih dengan kenyataan bahwa Aleta terbius. Tidak mungkin secara sengaja membawa lalu mencium obat bius, lagipula untuk apa dia membeli obat bius? Tapi bagaimana jika ada orang asing yang coba mencelakainya? Jonael bingung, dia akan mencari pembenaran dengan menunggu penjelasan Aleta saat dia sadar nanti. Jonael pergi dari meja resepsionis dan memilih untuk menunggu di samping ranjang putih Aleta. Wanita itu tampak tertidur tenang. Jonael mendekat dan membenahi beberapa helai anak rambut Aleta yang menghambur ke pipi. “Apa yang terjadi padamu, Ale? Segeralah bangun…”, Jonael mendudukkan tubuhnya yang mulai lemah. Karena terasa berat, Jonael menumpu kepalanya di ranjang Aleta. Wajah pucat pasi miliknya menyalurkan rasa dingin ke sekujur tubuh. Kepalanya mulai berdenyut lagi, dia meringis kesakitan dalam diam. Aleta tak kunjung sadar hingga menit berganti jam. ***** Keesokan paginya. Aleta mengerjap mencari kesadaran di sela-sela cahaya matahari Paris. Cuaca nampak cerah. Lima detik kemudian dia teringat kejadian tadi malam. Aleta bangun dari sofa yang menjadi tempat tidurnya itu. Sedikit meregangkan lehernya yang kaku, Aleta lalu memaku tatapannya pada satu tubuh yang sedang terkulai di ranjang rumah sakit. Jonael disana. Aleta berjalan mendekat ke arahnya, memeriksa aliran infus yang terlihat normal, lalu mencari dimana ponselnya berada. Aleta harus menunda agenda Jonael hari ini. Jonael tidak mungkin bisa pulih hanya dalam beberapa jam. Seorang Dokter datang bersama perawat. Mereka masuk setelah memberi salam. Aleta mempersilahkannya untuk memeriksa Jonael. “Maaf, sebenarnya apa yang terjadi padanya, Dok?”, tanya Aleta. Sang Dokter selesai memeriksa beberapa berkas dan tubuh Jonael lalu menoleh pada Aleta, “Hasil CT scan dan lainnya tidak masalah. Hanya ada reaksi saraf pada otak yang membuat tubuhnya sedikit terkejut dan tidak stabil. Semoga dia segera sadar dan jika sore nanti membaik, dia boleh pulang.” “Syukurlah…”, Aleta lega mendengar penjelasan itu. “Dan bagaimana keadaanmu, Nona?”, tanya sang Dokter. “Ahh—saya baik. Maaf tadi malam kami membuat drama di rumah sakit ini.” “Semua bisa terjadi, tak apa. Bagus kalau anda sudah baikan. Saya harap anda tidak trauma dan bisa membantu pasien ini menjaga pola makan dan kestabilan emosi. Ada hal yang perlu diketahui, reaksi di kepalanya mungkin dipengaruhi oleh amnesia parsial yang dia alami. Tapi tenang, hal ini menunjukkan gejala positif. Semoga ada beberapa hal yang mulai dia ingat.” Aleta tercekat kali ini. Jonael sakit kepala itu… apa mungkin dia menerima ingatan? Aleta takut. “Iy-iya Dokter, terima kasih.” Tim Dokter pergi setelah memberi suntikan pada Jonael. Aleta menatap lekat lelaki yang belum sadarkan diri itu. Hati kecil Aleta tercubit saat membayangkan lelaki ini lemah, dia merasa tidak rela. Jonael masih belum sadar, mungkin dokter memberi obat penenang agar dia bisa beristirahat. Aleta bergerak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak ada baju ganti, dia setia memakai gaun maroon yang sejak tadi malam dikenakan, sementara Jonael tampak bersih dengan setelan pasien ala rumah sakit. Saat Aleta keluar kamar mandi, Jonael sudah bangun dari tidurnya. Lelaki itu terkejut mendapati Aleta yang membulatkan mata menatapnya. Jonael merasa lega karena wanita yang dia khawatirkan tadi malam sudah terlihat lebih bugar. Aleta juga merasa lega karena lelaki yang dia khawatirkan tadi malam sudah sadar. Jonael duduk bersandar pada kepala ranjang. Dia menatap lekat mata Aleta, wanita itu masih menggunakan gaun berarti dia tidak meninggalkan Jonael sejak tadi malam. Lelaki itu mencoba percaya diri. “Akhirnya kau bangun. Apa yang kau rasakan? Dokter baru saja dari sini.”, sapa Aleta dengan wajah bersih sehabis cuci muka. Jonael meneliti wajah Aleta, sebenarnya dia mencari kekhawatiran disana. Beberapa detik kemudian dia sadar jika sekarang kondisinya terbalik. Dia yang sedang tertahan infus di ranjang rumah sakit, bukan Aleta. Dia merutuki kebodohannya dengan menghela nafas panjang. Aleta melihat itu. “Kau, oke, Jo?”, tanya Aleta lagi. Jonael sekarang memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke belakang. Aleta mendekat pelan. Dalam mata tertutup Jonael berkata, “Maaf…” Aleta kini berdiri di samping ranjang, “Untuk apa?” “Entahlah.” Kening Aleta berkerut, “Kau mungkin belum sadar. Kembalilah berbaring, akan kusiapkan sarapan.” “Aku tidak ingin makanan rumah sakit.” “Kau tidak punya pilihan lain.” “Aku serius, Ale.” Aleta menghela nafas dan berpikir sejenak, “Oke, tapi nanti untuk makan siang. Aku harus mencarinya dulu, sekalian aku butuh baju ganti.” “Jangan kemana-mana. Panggil seseorang untuk mengurus itu.”, pinta Jonael. “Aku sebenarnya bisa sendiri asal kau mau ditinggal sebentar.” “Kali ini dengarkan aku.”, Jonael kini menatap Aleta lekat-lekat. Ada rasa berdesir di d**a Aleta. Dia selalu tidak tahan dengan tatapan Jonael. “Oke, aku akan menyuruh seseorang, mungkin driver tadi malam bisa membantu.” “Namanya Mr. Frenzy.” “Iya aku tahu.”, Aleta bergerak ke meja seberang dan menyiapkan sarapan untuk Jonael. setelah menyerahkannya, Aleta kembali bergerak kesana kemari untuk merapikan ruangan masih dengan gaunnya. Setelah itu Aleta duduk di sofa sambil membuka ponsel, dia menghubungi seseorang untuk membantu mendapatkan barang-barang tadi. Jonael menyaksikan dengan seksama. Dia terpseona dengan ketelitian dan perhatian Aleta. Selalu istimewa baginya, meski itu hanya hal kecil. “Jangan memandangku terus, habiskan makananmu.”, ucap Aleta tanpa menoleh. Wanita itu masih sibuk dengan layar ponselnya sementara Jonael yang seharusnya makan justru lebih banyak melamun memandang posisi Aleta. Jonael tersentak namun tidak berpaling dan tidak mengelak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD