PART 23

1637 Words
“Bukankah kita harus bicara?”, balas Jonael yang disambut pandangan berat dari Aleta. Wanita itu sudah mengalihkan pandangan dari ponsel pada wajah serius Jonael Sagha. Ucapan mereka terputus dengan kehadiran tamu tak diundang. Isaac Baktijaya mengetuk pintu beberapa kali sebelum dipersilahkan masuk oleh Aleta. Begitu masuk ruangan, Isaac terkejut. Dia tidak percaya pada apa yang dilihat. Aleta dan Jonael bertukar tempat. Jonael menyambut Isaac dengan datar sementara raut terkejut masih tersirat di wajah Aleta. Pasalnya dia tidak memberi kabar kecuali Mr. Frenzy si driver tadi malam tentang lokasinya saat ini. “Waahhh… kukira Aleta yang sakit. Mengejutkan, justru kau yang terbaring lemah, Jo…”, sapa Isaac membawa sebuket mawar merah. Jonael menujukan kalimatnya pada Jonael. “Kau tahu dari siapa?” tanya Aleta cepat. Isaac justu menyodorkan buket bunga itu pada Aleta yang berjalan menujunya. “Bunga untukmu, Jonael tidak cocok kuberi ini.” Aleta menerima dan langsung menaruh bunga itu di atas sebuah nakas. “Katakan, darimana kau tahu kami disini !!”, Aleta penasaran sekaligus merasa aneh. “Oh-itu…. Aku punya koneksi tinggi dimanapun, jadi aku bisa tahu dimana kau berada.” Aleta bergeleng tak habis pikir, “Dengar, Isaac yang terhormat… Pertama aku tidak suka kau masuk ranah privasiku sesuka hati. Lokasiku bukan untuk konsumsimu. Kedua, jangan membanggakan koneksimu karena jelas itu tidak valid, bukan aku yang dirawat inap. Dan terakhir, aku tidak percaya semua omonganmu. Bisakah kau bisa pergi sekarang?” “Kenapa kau emosi sekali, Aleta? Aku memiliki niat baik kesini.” Aleta hanya menghembuskan nafas kasar dan berjalan ke arah pintu, membukanya, dan berdiri di tepi, “Keluarlah selagi aku minta baik-baik.” “Haah, kau ini kenapa? Jonael bahkan tidak masalah aku disini, benar brother?”, Isaac mengarahkan pandangannya pada Jonael yang hanya diam menyaksikan adegan di hadapannya. “Terserah kalian.”, jawabnya tenang. “Ahh, lihatlah. Jonael tidak menyuruhku pergi. Lagipula ada informasi penting untukmu. Mr. Izora mencoba take over penawaran perusahaanmu. Dia mencoba di level bawah dengan program semula.” “Berani sekali dia?”, Jonael menanggapi. Mr. Izora adalah lawan bisnisnya. “Mungkin sedikit rugi tidak masalah untuknya, yang terpenting adalah promosi.”, terang Isaac. Jonael menimbang pendapat itu. Memang Mr. Izora ini terkenal licik dan penuh strategi yang tidak bisa ditebak. “Baiklah, terimakasih atas informasinya. Akan kuurus nanti.” Aleta memandang aneh pada Jonael. Lelaki itu tampak santai dengan kehadiran Isaac. Ya, mungkin memang karena informasi tadi, tapi ini bukan dia biasanya. “Jangan berdiri disana, Aleta. Masuklah, kita bisa berbincang sebentar.”, Isaac melebarkan senyum karena merasa di suasana aman. “Aku lebih baik pergi. Kalian bisa lanjutkan.”, ucap Aleta yang melangkahkan kakinya keluar. “Tunggu.”, cegah Jonael. Aleta berbalik. “Aku bilang jangan kemana-mana. Tidak dengan baju itu, tidak juga karena kondisimu.”, pinta Jonael. “Ah ya, kau masih menggunakan gaunmu tadi malam. Apa perlu kubantu mencari baju ganti? Tak masalah—” “Diam kau Isaac. Kau bisa membantu dengan pergi sekarang juga.”, ucap Aleta kesal. “Kadar amarahmu berat sekali sepertinya. Apa karena tadi malam? Aku kan sudah bilang-“ “Hentikan…”, potong Aleta dan berjalan cepat ke arah Isaac. “Apa yang terjadi?”, Jonael menyahut penasaran. “Tidak ada apa-apa. Isaac akan pergi.”, Aleta yang menjawab. “Aku bertanya padamu, Isaac.”, ulang Jonael dengan tenang. “Oh, sebenarnya hanya ada kesalahpahaman—” “Cukup. Aku yang akan menjelaskan. Kau pergilah.”, Aleta memotong. “Tidak. Biarkan dia bicara.”, pinta Jonael. “Ahh… jika kau ingin tahu, ya mungkin bukan hal besar. Aku hanya terbawa suasana semalam saat aku dan Aleta di luar venue. Kami hampir…. mmhh yaa itulah. Hanya hampir berciuman.”, ungkapnya dengan percaya diri. Maksud Isaac adalah menunjukkan bahwa dia selangkah lebih maju daripada Jonael. Sial. Aleta melotot tak percaya karena kalimat itu benar-benar keluar di hadapan Jonael. Aleta melirik ekspresi Jonael dengan waspada. Dia takut. Isaac berdiri dengan memainkan ekspresi bahagia yang dibuat-buat. Dia mungkin merasa sedikit menang. “Ohh… begitu?”, Jonael mengeluarkan suara setelah hening yang menerpa ruangan itu. “Kurasa Aleta malu bercerita padamu, jadi aku jelaskan agar kau tahu kami—” “Cukup dengan omong kosongmu, Isaac.”, sergah Aleta dengan wajah memerah. “Kurasa asistenku memiliki hak untuk memilih dan berpendapat. Jika memang dia tertarik padamu, aku tak masalah.”, ucapan Jonael menusuk hati Aleta. Apa ini? d**a Aleta begitu sakit. Ini bukan karena Isaac tapi karena ucapan Jonael. “Kau begitu bijaksana, Jo.”, puji Isaac. Aleta terpaku di tempatnya berdiri. Jonael benar-benar………. “Iya, jika dan hanya jika hal itu menjadi nyata, Isaac. Tapi aku melihat tidak ada penerimaan di mata Aleta untukmu. Aku berpikir mungkin kau terlalu percaya diri. Kau bahkan lupa bagaimana membaca situasi.”, telak Jonael berucap. Aleta melebarkan mata mendengar kalimat itu. Isaac bergerak aneh karena terpancing emosi. Dia membuang senyum, kini wajahnya mulai merah padam. “Hah, aku memakan semua peluang, Jo. Kau juga begitu, bukan? Hey Aleta, kau tahu… Bosmu ini tidak sebaik yang kau pikir. Dia mengaku menyukaimu. Sungguh, kau bisa saja dimanfaatkan olehnya karena alasan pekerjaan. Sebaiknya kau lupakan tentang bekerja dengannya dan kembali padaku.” “Kalimatmu terlalu panjang, Isaac. Aleta lebih tahu. Jangan buang tenaga dan bagaimana jika kau belajar mempertahankan harga diri? Ditolak berkali-kali sepertinya bukan berita bagus.”, tambah Jonael. “Jangan mengguruiku.” “Aku bicara apa adanya, bukan? Karena aku tahu situasinya.” “Tapi tadi malam dia mau berciuman denganku, huh….” “Hampir, Isaac. Aku dengar kau mengucapkan kata itu di awal.”, kini Jonael menoleh pada wajah Aleta. “Apa kau sukarela untuk mendekatinya, Aleta?”, tanya Jonael. Aleta menggeleng dengan mata mendelik. “Bagus. Jadi apa ada yang mau kau sampaikan lagi? Kurasa niatan utamamu memang ini, dan sudah tersampaikan. Aku terima dengan baik, Isaac. Kau bisa pergi.”, Jonael menunjuk pintu keluar. Isaac terdiam, dia mengepalkan tangan menahan emosi karena dipermalukan. Sebenarnya dia sendiri yang meyerahkan diri ke kandang singa. Jonael bangkit dari ranjang. Dia berdiri dengan cepat dan menenteng biusnya ke arah pintu. Aleta bahkan tidak bisa menahan kejadian itu. Jonael sudah berdiri seperti posisi Aleta sebelumnya. Di depan pintu yang terbuka dia memberi arah bagi Isaac. “Sebelah sini, Isaac. Terimakasih atas kunjungannya.” Dengan langkah berat, Isaac menuju pintu. Dia menunjukkan ekspresi yang sangat buruk. Jonael tidak mengindahkannya dan menutup pintu begitu Isaac melangkah keluar. ‘Boom…’ Satu dentuman keras menggelegar di lorong rumah sakit akibat sentakan Jonael saat menutup pintu. Aleta terkejut kaku. Jonael memandang Aleta lekat. Lelaki itu berdiri dengan satu tangan menahan botol infus. Aleta mendekat dan mencoba meraih botol itu dari tangan Jonael namun gagal. “Kau marah, Jo?”, tanya Aleta sedikit takut karena mata Jonael menusuk wajahnya. Jonael menghempas pelan tangan Aleta yang coba meraih lengannya. “Please, kau harus percaya kata-katamu sendiri.”, Aleta mengingatkan bagaimana tadi Jonael berbicara pada Isaac. Jonael mengacuhkan kalimat Aleta dan melangkah maju. Aleta segera menghadannya. “Bicaralah, padaku. Jangan diam.”, Aleta memohon dengan nada gusar. Jonael kembali bergerak maju dan menubruk tubuh Aleta di depannya. Sedikit bergeser ke samping, Jonael bermaksud mencari celah namun Aleta bergerak cepat dengan menangkup tubuh Jonael dan memeluknya. Aleta memeluk tubuh Jonael yang kaku, satu tangan Jonael masih terangkat karena botol infus sementara tangan Aleta melingkupi punggungnya dengan erat. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di d**a Jonael. Mereka terdiam di posisi itu selama beberapa waktu. Hanya hembusan nafas yang keluar dari Jonael. Tanpa diduga, satu senyum kecil keluar dari bibir lelaki itu. Ini bukan candaan, tapi sedikit strategi agar Aleta menghilangkan keras kepalanya. Jonael mengharapkan kedekatan ini sejak kemarin. Kebodohan Isaac secara tidak langsung justru membantunya. Jonael merasa hangat oleh pelukan Aleta. Sial, dia bahkan merinding karena wanita itu yang memulai duluan. “Lihat aku.”, pinta Jonael. Aleta secara pelan mengangkat wajahnya. Tangan Jonael yang bebas bergerak ke arah bibir Aleta. Bibir merekah yang meski tanpa makeup tetap merona bagi Jonael. “Katakan, apa b******n itu berhasil menyentuh ini?”, tanya Jonael dengan mengelus bibir Aleta. Ibu jarinya bergerak lembut disana. Aleta menggeleng. “Oke, good.” “Kejadian itu sangat cepat, aku tidak sengaja-“ ‘Cuup’…… Jonael mencium Aeta dengan cepat, bibir mereka menyatu dan langsung saling melumat. Sungguh ini spontanitas yang tidak perlu keterkejutan. Aleta bahkan merasa ini memang akan terjadi. Aleta menaikkan tangannya ke arah leher Jonael sementara satu tangan lelaki itu setia membawa botol infus dan satu lainnya sudah menekan kuat pinggang Aleta agar tubuh mereka tak berjarak. Tidak peduli bagaimana selang infus itu berputar tak beraturan. Jonael terus menikmati bibir Aleta begitu sebaliknya. Sudah beberapa menit hingga tarikan nafas ketigapun mereka masih berlanjut. Aleta melayang kehilangan logikanya untuk menghindari Jonael. Yang ada di pikiran dia saat ini adalah Jonael tidak membencinya gara-gara ucapan Isaac. Selain itu, jujur Aleta merindukan momen mereka berdua seperti ini. Intens, tenang, dan penuh penghayatan. Bibir mereka enggan berpisah hingga Jonael merasa tangannya tak lagi mampu menahan botol infus di atas kepala. “Awh… aku lelah dengan infus sialan ini.”, ucapnya setelah memundurkan wajah. Aleta menoleh ke atas dan segera mengambil alih pegangan botol infus itu. Jonael mengibaskan tangannya yang kelelahan. Dalam posisi itu, dia mengambil keuntungan dengan kembali mencium Aleta. Kali ini dia beralih pada pipi. Sesekali dia menggesekkan pipinya ke pipi Aleta kemudian bergerak ke telinga. Beberapa kecupan dia berikan untuk daun telinga Aleta hingga sebuah bisikan keluar. “I miss you, I miss this, here, us, I remember.” Aleta tercekat hebat. Dia mengurai tubuh mereka dan melotot pada Jonael. Ingatannya kembali?????
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD