Peristiwa Pangeran tanpa darah Naga

1127 Words

“Apa?! dia tidak lahir dengan Anugerah??” tanya Szam, kedua matanya kini menoleh menatap Raja Abraham yang menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu. Menyetujui bahwa sang Pangeran tidak lahir dengan sebuah Anugerah yang biasanya di dapat ketika mereka lahir dan hal itu membuat ESA menatap sang Pangeran kecil dengan cukup tajam.

“Bakar dia!” sebuah perintah yang terlontar dari ESA saat itu mengejutkan Szam dan bahkan sang Raja.

“Apa?! kenapa kita harus melakukannya?!” protes Szam kepada ESA, dan hal itu membuat ESA menatap tajam ke arah sang wakil dan segera berucap,

“Kita harus memancing naga lahirnya datang!” terang ESA kepada Szam yang kini terlihat ragu dan memilih untuk kembali mempertanyakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kepada ESA,

“Dan jika dia memang tidak memiliki naga lahir, bagaimana??!” tanya Szam kepada ESA, dan dengan entengnya ESA menjawab dengan berucap,

“Maka dia akan mati terpanggang.”  

Ucapan yang dilontarkan oleh ESA terdengar seolah dirinya memandang remeh putra kerajaan ini, dan ia juga menganggap enteng sebuah nyawa. Meskipun Szam tidak menyetujuinya, ia tidak bisa melarang sepenuhnya, yang pada akhirnya ia beralih menoleh menatap Raja Abraham di sana. Pandangan Raja Abraham saat ini terlihat begitu bimbang, Szam tahu bahwa Raja tengah memikirkan semuanya secara matang.

Meski pun bodoh, dia tahu bahwa tindakan ini bisa sangat berbahaya, tapi ia juga harus memastikan dan memancing naga lahir tersebut untuk keluar.

“Kau tidak mungkin melakukannya bukan??” tanya Szam kepada Raja Abraham, namun ketika sang Raja kini menoleh membalas tatapan Szam, sang naga pembimbing dirinya itu kini mengetahui bahwa sang Raja akan mengikuti saran dari ESA, dan Szam tidak pernah menyangka bahwa Raja Abraham akan menuruti ucapan ESA.

“Kau gila?!!” tanya Szam seraya membentak dan memprotes sang Raja yang kini meletakan Pangeran kecilnya di atas lantai ruangan tersebut,

“Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya” sambung Raja Abraham kepada Szam, dan saat itu Szam hanya bisa menatap sang Raja dan juga ESA dengan cukup tajam karena tidak menerima hal tersebut, namun ia tidak bisa bertindak apapun. Tidak boleh ada kontak fisik antara Naga petinggi dan juga para keturunan kerajaan, itulah yang ada di dalam buku peraturan, yang akhirnya membuat Szam tidak bisa bertindak banyak.

Bahkan ketika ESA mengeluarkan apinya dan menyemburkannya kepada Pangeran kecil yang kini menjerit kesakitan, Szam hanya bisa menutup kedua matanya dan begitu ragu untuk menolong Pangeran yang menjerit-jerit di sana.

BRAKK!!

“BERHENTI!!”

Sebuah teriakan keras yang dilontarkan oleh Rezen, membuat ketiganya kini menoleh menatapnya yang dengan cepat berlari dan segera memadamkan api yang membakar tubuh sang Pangeran dengan menggunakan kedua tangannya serta jubah miliknya yang sudah basah, dengan cepat Rezen menggendong sang Pangeran dan menatap tajam ketiganya yang tengah berdiri di sana. Pandangan tajam itu kini berhenti tepat di hadapan sang Raja, yang kemudian membuat Rezen pun berucap,

“Kau gila karena menurutinya melakukan hal ini, Ab!” ucap Rezen, sebelum akhirnya berjalan untuk meninggalkan ruangan tersebut,

“LANCAAANG!! kau berani menghentikan tradisi!!!” bentak ESA dengan keras seraya menunjuk kepada Rezen yang kini menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah ketiganya,

“Tak ada satu pun tradisi tertulis yang membahas mengenai pembakaran Putra naga, ESA! Jika kau menahanku hanya untuk membuat Pangeran mati, maka itu tidak akan terjadi” balas Rezen kepada ESA sebelum akhirnya membuka sebuah portal dan segera meninggalkan ruangan tersebut dengan cepat dan menghiraukan ESA yang mengamuk di sana.

Rezen pergi menuju sungai Issen, dan berupaya untuk menyembuhkan sang Pangeran kecil dengan menggunakan Guarne*.  Dengan langkah kaki yang cepat, Rezen masuk ke dalam sungai Issen sambil menggendong Pangeran yang masih menangis dengan histeris karena kesakitan di sana, membuat Rezen harus melakukannya secepat dan setenang mungkin. Rezen pun dengan perlahan merendam seluruh tubuh sang Pangeran hingga menyisakan wajahnya saja yang memerah matang, yang membuat Rezen dengan lembut membasuh wajahnya juga dengan air Issen itu.

“Huft … “ dengan pelan, Rezen menghembuskan napasnya dan kemudian memejamkan kedua mata untuk beberapa saat, dan setelah ia merasa bahwa tangisan sang Pangeran sudah berhenti, kedua pandangannya pun kini menoleh menatap sang Pangeran yang juga menatapnya dengan isakan pelan, dan hal itu membuat Rezen pun meniup permukaan wajah sang Pangeran dengan lembut bersamaan dengan cahaya kemilau berwarna silver dan biru yang datang bersamaan dari sana dan kemudian menyembuhkan semua luka yang di dera oleh sang Pangeran kecil.

Namun, untuk beberapa saat Rezen menyadari bahwa ada sebuah lapisan lain yang menyelubungi sang Pangeran di sana, yang membuat bekas luka bakar yang di dera oleh sang Pangeran pun menghilang begitu saja. Hal itu tentu membuat Rezen dengan cepat menolehkan pandangannya ke arah hutan Inanis yang kala itu membuat sebuah suara yang cukup aneh, yang akhirnya membuat Rezen teralihkan di sana.

Ada seseorang yang melindungi sang Pangeran. Itulah kata yang ada di dalam pikiran Rezen malam itu. Kedua pandangan Rezen kembali teralih menatap sang Pangeran yang kini tersenyum dengan manis kearahnya, hal itu membuat Rezen pun ikut tersenyum dengan sedih menatap sang Pangeran yang kala itu sudah basah diselimuti oleh air dari sungai Issen.

“Pangeran … Saya akan melindungi anda mulai dari detik ini, dan tidak akan pernah berhenti meski hukuman akan saya dapati” ucap Rezen kepada sang Pangeran, bersamaan dengan itu Salju lembut turun dan saat itu lah yang menjadi saksinya, pelindung sejati dari Pangeran kecil yang tidak diberikan dua anugerah bukanlah sang Raja, melainkan seorang kepercayaan yang setia.

Karenanya, karena peristiwa malam kelahiran Pangeran terakhir dan tindakan yang dilakukan oleh Raja Abraham. Membuat sang Raja kembali memiliki nama sebutan baru yang menurut orang tidak pantas dilakukan oleh sang Ayah kepada anaknya. Itu adalah Raja yang kejam atau Raja tanpa perasaan, Raja Bodoh yang begitu saja menuruti ucapan sang Petinggi yang menjadikannya seorang Raja tanpa Hati, itulah kabar yang beredar di luar kerajaan yang membuat Raja Abraham sempat mengalami masalah dengan beberapa pihak seperti para Raja dari kerajaan yang lainnya.

Ilyash Muller, adalah nama dari Pangeran terakhir yang diberikan oleh sang Ratu atas saran dari Ray sang penjaga Kerajaan. Bahkan Raja Abraham pun enggan untuk memberi nama kepada sang anak, yang kala itu kembali membuat dirinya dipandang kejam oleh banyak pihak, , tanpa banyak orang yang mau mengetahui kenapa dia tidak mau melakukannya (memberi nama kepada sang Pangeran).

Dan malam ketika sang Raja membakar Pangeran Ilyash dengan kejam, Rezen menyadari jika api yang dikeluarkan oleh sang Raja tidak besar, seolah sang Raja menunggu kedatangan Rezen untuk menyelamatkan sang Putra dari kekejaman dirinya sendiri di hadapan ESA. 

… 

*(Diambil dari kata guarigione [italian] yang artinya adalah penyembuhan.

Guarne adalah keahlian penyembuhan yang dimiliki oleh kaum Nium, dengan air dari sungai Issen lah yang menjadi kunci dasarnya, air itu akan berubah menjadi berkilauan berwarna silver kebiruan yang indah, dan mereka dapat menyembuhkan luka apapun dan tidak terkecuali. (namun mereka tidak dapat menghidupkan orang yang telah tiada.)) 

To be continue. 

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd