18. Berdua Di Lorong Sepi

1124 Words
“Kenapa kau tidak membawaku ke kamarmu saja?” celetuk Arienne spontan. Ia menutup mulut saat menyadari apa yang dikatakannya. Kata-kata itu seakan terngiang di kepala Pangeran. Langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia menoleh pada Arienne dengan tatapan elangnya. “Jadi sekarang kau ingin pergi ke kamarku, hm?” Langkahnya perlahan mendekati Arienne. Tatapan pria itu sendu nan tajam, membuat mau tak mau Arienne mundur perlahan. Tiba-tiba pangeran meraih lengannya, menekan tubuh Arienne ke dinding lorong. Wajah Pangeran semakin mendekat, hingga Arienne bisa merasakan napas pria itu di telinganya. “Coba kau katakan sekali lagi apa yang kau katakan tadi. Aku tidak mendengarnya.” Pangeran tersenyum lembut, sorot matanya tertuju pada bibir gadis itu. “Aku tidak sengaja mengatakannya, Yang Mulia. Tolong, menjauh sedikit saja dariku.” Pangeran hanya membalas dengan tatapan mata yang tajam. “Kuberi kau dua pilihan, Arienne. Kau ingin aku membawamu ke luar dari istana atau ke dalam kamarku? Pilih salah satu saja.” Mata Arienne seketika berbinar mendengar ia akan dibawa ke luar istana. Senyum manis perlahan mengembang. “Ke luar! Aku ingin keluar dari istana yang membosankan ini!” kata Arienne penuh semangat. Pangeran tersenyum lembut melihat kebahagiaan terukir di wajah gadis itu. “Kupikir sejak awal pikiran kita memang sama.” “Ayo kita bersenang-senang dan pulang besok sore!” “Ayo!” sahut Arienne begitu bersemangat. Akhirnya mereka sampai di bagian belakang istana—tempat kerajaan menyimpan kuda-kuda medan tempur. Aroma jerami kering dan besi mulai tercium. Saat menginjakkan kaki di tempat itu, Arienne menutup mulutnya yang menganga, menatap barisan kuda besar dengan takjub. “Ini luar biasa, Pangeran. Mereka tampak tinggi dan kekar.” Arienne melangkah sambil terus memperhatikan kuda-kuda itu. “Kuda memang seperti ini. Apa ini pertama kalinya kau melihat kuda?” Arienne menundukkan tatapannya—tampak seperti sedang bingung. “Dulu aku pernah dibelikan kuda oleh ayahku, tapi kudanya tak sebesar ini.” Pangeran tersenyum tipis mendengarnya. “Mungkin itu karena kau perempuan. Tinggimu juga tak seberapa.” “Sedangkan kuda-kuda di sini milik para prajurit hebat. Mereka adalah kuda-kuda perang.” Ia melangkah mendekat ke deretan kandang, jemarinya menyusuri surai seekor kuda besar berwarna putih sejenak. Sorot matanya lalu beralih kembali pada Arienne. “Ngomong-ngomong, kau suka kuda yang mana?” “Yang itu saja. Aku suka kuda putih. Dia tampak cantik.” Pangeran berbalik menuju sudut bangunan tempat beberapa perlengkapan digantung rapi. Ia mengambil dua jubah berwarna gelap dari gantungan kayu—cukup panjang untuk menutupi kepala dan pakaian mereka. “Pakai ini,” katanya sambil menyerahkan satu pada Arienne. Jubah itu jelas terlalu besar bagi tubuh Arienne. Kainnya menjuntai longgar, membuat bahunya tampak tenggelam dan lengannya hampir tak terlihat. Saat ia memakai tudungnya, kain gelap itu menutup hingga setengah wajahnya, menyisakan celah sempit untuk melihat ke depan. Melihat pemandangan itu, Pangeran tak kuasa menahan tawa ringan. Ia mendekat dan, dengan gerakan santai, menarik sedikit tudung jubah Arienne ke belakang hingga gadis itu menoleh. “Pangeran, apa kau tidak punya yang lebih kecil?” Gadis itu menunduk. “Bahkan kainnya hampir menyentuh lantai.” Pangeran terkekeh pelan. “Kalau kau tidak suka, nanti aku akan meminjamkan kain kerudung dari seseorang di istana.” Ia hendak mengambil jubah itu, tetapi Arienne segera menjauh. “Tidak! Aku tidak mau bertemu siapa pun di istana, karena dia bisa melaporkanku pada Permaisuri.” “Bahkan jika aku berada di sampingmu?” Arienne terdiam, memikirkannya. “Iya. Itu juga mungkin.” Senyum kecil terukir di wajah Pangeran. “Apa kau tahu? Sebenarnya jubah itu tak terlalu besar, tapi tubuhmu saja yang terlalu kecil.” “Sepertinya… kau kurang gizi.” Pangeran tampak menahan tawa setelah mengatakannya, tetapi Arienne jelas tidak menyukai candaannya. “Apa kau bilang, hah? Aku kecil?” sentaknya tak terima. “Asal kau tahu, ya, di antara teman-temanku di desa, akulah yang paling tinggi!” Pangeran menatap datar perempuan yang sedang marah itu. “Memangnya berapa umur teman-temanmu?” “Eum…” Arienne menundukkan wajah hingga batang hidungnya tak terlihat. Jika ia mengatakannya, pangeran pasti akan menertawakannya lebih keras. Namun ia teringat pesan ibunya: para pembohong akan digantung di neraka seperti daging asap. Di sisi lain, Alistair menatapnya dengan ekspresi datar namun penuh rasa ingin tahu, seolah telah menebak bahwa gadis itu akan mengarang cerita. “Sebelas sampai empat belas tahun,” jawabnya akhirnya dengan jujur. Pangeran terkekeh pelan, senyum manis tak mau enyah dari bibirnya. “Ah, pantas saja,” gumamnya. Ia melangkah ke sisi kuda, meraih tali kekang yang tergantung di palang kayu. Ia memasangkannya pada kepala kuda, lalu memasang pelananya. Alistair mengelus surai kuda putih itu dengan tenang, sementara di sampingnya Arienne terus melontarkan protes. “…Dan kau tahu? Tinggiku itu seratus enam puluh lima senti. Di antara teman-temanku, akulah yang paling tinggi…” Tanpa menanggapi ocehan Arienne, Pangeran menuntun kuda putih itu keluar dari kandang. Derap langkah hewan itu menggema pelan di atas tanah kering. Alistair melangkah santai. Tangannya meraih lengan gadis itu, menuntunnya keluar. “Jika boleh jujur, menurutku seratus enam puluh lima senti adalah tinggi yang sempurna untukmu.” Arienne menghela napas. “Ah, terserah kau saja.” “Yah, hanya untukmu. Tidak untuk calon permaisuriku—Helena.” Pangeran mencoba membuatnya cemburu. Namun Arienne tampak tak peduli. “Oh,” katanya tanpa ekspresi. Ia menikmati pemandangan hijau istana. Walau tak seindah halaman belakang rumahnya, itu cukup mengobati rindu. Langkah Alistair terhenti. Dengan tangan yang masih menggenggam tali kendali, ia menoleh pada Arienne. “Kuda ini terlalu tinggi untukmu,” katanya sambil mengamati postur Arienne. “Apa kau yakin bisa menaikinya?” “Tentu saja. Aku bisa,” jawab Arienne penuh percaya diri. Dengan pengalaman dua tahun lalu, ia akan mencobanya lagi, meski kuda ini jauh lebih besar. Arienne mendekat, menggenggam pelana, lalu menjejakkan kaki kiri ke sanggurdi. Ia naik perlahan, mengandalkan keseimbangan dan kekuatan lengannya—cara lama yang dulu ia gunakan. Kuda itu bergeser setapak. Arienne menahan napas, mengeratkan pegangan, lalu mendorong tubuhnya lebih kuat. Gerakannya tak sehalus penunggang terlatih, tetapi akhirnya ia berhasil duduk di pelana dengan seimbang. Ia mengembuskan napas lega, mengangkat dagu sedikit. “Lihat. Aku bisa juga, kan?” Alistair tersenyum tipis melihat keberhasilannya. Tanpa berkata apa-apa, Pangeran mendekat dan mengelus surai kuda, menenangkan hewan itu. “Duduklah sedikit lebih ke depan,” ucapnya rendah. Arienne menurut. Setelah dirasa cukup, Alistair menaiki kuda dari sisi lain. Tubuhnya yang tinggi mengisi ruang di belakang Arienne. Jarak mereka menyempit—terlalu dekat untuk diabaikan. Alistair menyadari kehangatan tubuh Arienne, aroma rambutnya, dan perubahan napasnya. Ada dorongan naluriah yang muncul, tetapi ia menahannya. Tangannya mengambil tali kekang, cukup dekat hingga lengannya seolah mengurung Arienne, tanpa menyentuh lebih dari yang perlu. “Kita berangkat,” ujarnya akhirnya. Dan kuda itu pun melangkah, membawa mereka maju—bersama jarak yang terlalu sempit dan perasaan yang sengaja disangkal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD