19. Arti 'Memuaskan Nafsu'

1092 Words
Langkah kuda yang perlahan membuat gerak tubuh mereka tak sepenuhnya selaras. Tanpa sengaja, d**a Alistair beberapa kali menyentuh punggung Arienne. Sentuhan singkat itu cukup membuatnya menegang. Alistair menurunkan pandangan sesaat—ingin tahu apa yang sedang Arienne rasakan sekarang. Apakah ia merasa nyaman atau tidak? Tubuhnya tampak menegang. “Eh…” “Kalau kau tak nyaman, bilang saja padaku.” Arienne menoleh, senyum puas terpancar di wajahnya. Tangannya menggenggam erat pelana karena takut terjatuh. “Tidak, Pangeran…” “Aku malah merasa sangat senang… hanya saja takut jatuh.” Keceriaannya itu membuat pangeran merasa lebih bahagia. Senyum tipis terukir pelan di bibirnya. “Apa kamu ingin lebih cepat?” “Iya! Aku ingin lebih cepat,” seru Arienne antusias. Alistair mengendurkan kendali sejenak, lalu menariknya kembali. Kuda itu meringkik, langkahnya berubah semakin cepat, menyusuri jalan setapak yang membentang jauh. Perubahan laju itu membuat Arienne menegang. Genggamannya pada pelana semakin erat, hingga tanpa sadar tubuhnya condong ke belakang sampai tak ada jarak di antara dirinya dan pangeran. Pangeran tertawa. “Apa kau takut, Arienne?” “Aku—” Jantung gadis itu berdetak cepat, hingga suaranya terasa menggema di telinga pangeran. “Aku sangat takut, Pangeran.” “Ini mengerikan… tubuhku terus bergoyang.” Bukannya menurunkan kecepatan, pangeran malah semakin menertawakannya. “Bisakah kau menurunkan lajunya?” pinta Arienne. Ia tidak main-main sekarang; tubuhnya semakin menegang. Nada suaranya yang datar membuat pangeran juga tak mau bermain-main. “Baik. Maafkan aku.” Alistair mengendurkan tali kekang, menenangkan kuda yang berlari cepat. Lajunya melambat, menjadi lebih teratur dan tenang. Gerak tubuh hewan itu memberi Arienne ruang untuk kembali mengatur napas. Arienne akhirnya bisa menghela napas. “Terima kasih.” Pangeran tersenyum lembut. “Iya.” “Kalau kau tak nyaman, bilang saja padaku,” ujarnya dengan nada lembut. Arienne menyadari sesuatu: pangeran telah mengatakan kalimat yang sama dua kali. Ia merasa pria itu sedang mengajarinya sesuatu. Laju kuda yang santai membuat Arienne bisa menikmati pemandangan di hadapannya. Bentangan pegunungan dan perbukitan tersaji dengan sempurna. Lereng-lereng hijau berlapis cahaya matahari membentang sejauh mata memandang, sementara hamparan bunga liar bermekaran di sisi jalan, menebar warna dan keharuman lembut. Angin menerpa wajah mereka. Aroma rumput dan tanah basah menguar, cukup menenangkan perasaan. “Sungguh… ini benar-benar indah, Pangeran.” Sebelumnya pangeran sudah menebak bahwa gadis itu akan menyukainya. “Kau benar-benar menyukainya?” Arienne menoleh pada pangeran. Ia mengangguk. Tanpa sadar, pangeran menyunggingkan senyum tipis. “Itu artinya aku sudah memuaskan nafsumu, bukan?” Kata-kata itu mengingatkan Arienne pada ucapan pangeran di kandang kuda. Berarti saat itu ia telah salah paham dan mengatakan hal yang negatif tentangnya. “Mengapa kau menyebutnya dengan kata nafsu, Pangeran?” tanya Arienne. Ia merasa malu mengingat perkataannya sendiri saat itu. “Memangnya kau sendiri tidak mengerti kata nafsu, Arienne?” balas pangeran dengan nada lembut di telinganya. Bibirnya begitu dekat, membuat bulu kuduk Arienne berdiri. “A-aku mengerti. Tapi—” Pangeran menyela. “Nafsu itu sama saja dengan hasrat. Hasratmu hanyalah kebebasan dan keindahan alam. Jadi pantaskah aku memberimu yang lain?” Menurut Arienne, semua yang ia katakan itu benar. Semakin meyakinkannya bahwa pangeran itu bisa membaca pikiran. “Kuakui, semua yang kau katakan itu benar…” “Sepertinya pikiranmu kotor, ya?” tanya pria itu tiba-tiba. Jantung Arienne seketika berdegup kencang. Pria itu hampir mengatakan apa yang ada di pikirannya, hanya saja dalam bentuk pertanyaan. “Menurutmu, bagaimana?” tanya Arienne bernada datar. “Menurutku kau tidak sengaja berpikir seperti itu.” Arienne terdiam. Pria itu sungguh tak bisa ditebak. Pemandangan perlahan berganti, digantikan hamparan ladang, ternak, dan rumah-rumah sederhana yang berdiri tenang di pedesaan. Jalan tanah memanjang di hadapan mereka. Perlahan Arienne mulai merasa tak asing dengan jalan itu—seperti jalan menuju rumah neneknya. “Kau ingin membawaku ke mana, Pangeran?” “Ke rumah seseorang.” Kerisauan mulai menyelimuti perasaan Arienne. Ia mulai ingat bahwa itu adalah jalan menuju rumah neneknya, Maire Hayward. “Apa dia akan membawaku ke rumah Nenek?” gumam Arienne dalam hati. Arienne menoleh pada pangeran. “Katakan padaku, seorang siapa?” Walau sekejap, Alistair bisa merasakan kegelisahan di sorot matanya. Entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang Arienne sembunyikan. “Kau tidak akan menjualku, kan, Pangeran?” Pertanyaan itu membuat pangeran menyingkirkan rasa curiganya. “Mana mungkin aku akan menjualmu?” Pangeran terkekeh pelan. Itu adalah kata-kata terkonyol yang pernah ia dengar. “Oh, syukurlah kalau begitu,” balas Arienne datar. Arienne bernapas lega. Ia sempat lupa bahwa pangeran bisa membaca pikiran seseorang. Untung saja ia mampu memutar kata-kata agar terdengar wajar. Dan benar saja, Alistair mengarahkan kuda itu ke sebuah rumah kayu tua yang berdiri kokoh di tengah hamparan rumput luas. Kandang-kandang ternaknya mengingatkan Arienne pada hari-hari saat ia bermain di sana ketika kecil. Tak perlu pertanyaan apa pun untuk mengetahui ke mana pangeran ingin membawanya. Sudah begitu jelas: ia membawanya ke rumah Maire Hayward—nenek Arienne sendiri. Arienne menghela napas singkat. Rasanya ia tak bisa berlari atau melakukan apa pun. Tiba-tiba tangan kanan Alistair melepas tali kendali. Ia mengelus rambut Arienne dengan lembut. “Apa kau tahu aku ingin membawamu ke mana?” “Ke mana?” tanya Arienne, meski sebenarnya ia sudah tahu. Pangeran tersenyum lembut. Sorot matanya hangat tertuju padanya. “Ke rumah ibu dari guru terfavoritku.” Sejak awal, tebakan Arienne memang tak meleset. Siapa lagi guru terfavorit pangeran kalau bukan ibunya sendiri? Ia hanya bisa menatap jalan di depan dengan wajah datar, sementara perasaannya berkecamuk dalam diam. Alistair menyadari Arienne mungkin tampak acuh. Ia tak ingin berpikir negatif, lalu melanjutkan pembicaraannya. “Namanya Maire Hayward,” ucapnya pelan. “Ia bekerja sebagai peternak ayam petelur dan sapi perah.” Pangeran teringat sesuatu dan terkekeh singkat. “Padahal dulu aku pernah menawarinya tinggal di istana. Ia tak perlu bekerja lagi, tapi ia menolaknya.” Senyumnya perlahan meredup. Ia tiba-tiba teringat hukuman mati yang dijatuhkan pada Ibu Revelina. Ketakutan di wajah wanita itu, tangisannya, dan semua yang terjadi saat itu seakan merajut trauma yang membekas hingga kini. Sepertinya itulah yang membuat Maire menolak tinggal di istana, walau dengan kata-kata yang begitu sopan. “Dan kalau kupikir-pikir,” lanjutnya lirih, “istana memang terlalu kotor untuk ditinggali seorang sebaik dia.” Arienne tiba-tiba bertanya, “Mengapa begitu?” Nadanya terdengar datar. “Kerajaan telah menjatuhkan hukuman mati pada anaknya yang tidak bersalah. Walau kerajaan sudah meminta maaf dan mengakui kesalahan, itu tak ada artinya baginya.” Nada suaranya terdengar sedih. Entah mengapa, Arienne justru merasa puas. “Memang apa yang terjadi pada gurumu itu hingga kerajaan harus menghukumnya?” tanya gadis itu, berpura-pura seakan tak mengetahui apa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD