“Kau tinggal di Windmer,” ucap pangeran itu pelan. “Apa kau benar-benar tak pernah mendengar kisah tentang Ibu Revelina?”
Tanpa berpikir panjang, Arienne berkata, “Rumahku di hutan. Aku tidak pernah berbicara dengan siapa pun.”
Pangeran itu terdiam sesaat. Ia sulit mempercayainya, padahal dulu ia sempat mengira gadis itu memiliki trauma dengan kerajaan akibat kisah tragis Ibu Revelina.
“Aku sungguh tak percaya jika kau memang tidak mengetahui kisah itu.”
“Kisah itu bahkan terkenal di seluruh negeri.”
Arienne tersenyum tipis. “Kalau kau tidak percaya, ya sudah.” Nadanya terdengar datar. Ia tak punya tenaga untuk berdebat dengannya.
Entah mengapa, sifat Arienne yang menyebalkan itu malah membuat pangeran gemas.
Ia terkekeh pelan. “Aku tidak mengerti mengapa, Arienne. Kurasa…”
“Kau sedang marah padaku,” ujarnya pelan. “Benar, kan?”
Mata Arienne perlahan membulat sempurna. Dia lupa untuk mengontrol nada bicaranya. Padahal, dia tahu pangeran sangat peka terhadap perubahan sifatnya sekecil apa pun.
Arienne menghela napas singkat, ia menoleh dengan senyum manis. “Tidak, Pangeran. Aku bahkan tidak marah sedikit pun,” ujarnya dengan nada yang lebih berwarna. “Sepertinya kau terlalu sensitif.”
Tanpa sadar, pangeran menyunggingkan senyum tipis. Ia memalingkan wajahnya pada pemandangan di sampingnya.
Jarak rumah neneknya semakin dekat. Hati Arienne dipenuhi kegelisahan atas identitasnya yang mungkin akan terungkap. Ia pikir, neneknya mungkin tidak tahu apa-apa tentang permasalahannya.
Kuda itu berhenti di sebuah pohon dekat rumah kayu tua itu. Aroma tanah, jerami, dan kayu tua bercampur menjadi satu—aroma yang terasa begitu akrab bagi Arienne.
Alistair turun lebih dulu, ia lalu membantu Arienne turun dengan hati-hati.
Arienne melangkah perlahan, sorot matanya memperhatikan pada rumah tua itu. “Sepertinya… dia tinggal sendirian di sini.”
Saat itu pangeran sedang mengikat tali kuda itu pada dahan pohon. “Iya, dia memang tinggal sendiri.”
Merapikan ikatan tali itu hingga benar-benar kuat, akhirnya pangeran selesai. Dengan senyum tipis, ia menepuk leher kuda itu.
Langkahnya lalu menuju pada Arienne yang masih berdiri di tempatnya.
Pria itu menatap ke arahnya. Arienne masih berdiri diam, pandangannya kosong—masih khawatir jika neneknya akan mengungkap identitasnya.
Tanpa banyak bicara, Alistair meraih tangan gadis itu. Genggamannya mantap, menuntun Arienne menuju rumah Maire Hayward itu.
Mereka berhenti di depan pintu. Alistair mengangkat tangan dan mengetuk. “Nenek…”
Gadis itu segera memiringkan wajahnya, membiarkan rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah. Meski ia tahu itu tak akan berguna, tapi ia masih berharap neneknya tak akan mengenali.
Tak lama, pintu kayu itu terbuka. Seorang wanita tua berdiri di ambang pintu dengan senyum yang bahagia.
“Pangeran Alistair,” Maire seketika memeluknya dengan hangat. “Sudah lama aku tak bertemu denganmu.” Pelukan itu cukup lama dan terasa penuh cinta.
Perlahan Maire melepaskan pelukan itu. “Tadi kukira kau telah melupakanku, Pangeran.”
Pandangannya beralih pada Arienne. Senyumnya tak memudar—justru semakin lembut. Saat itu Arienne tampak semakin gelisah. Walau tanpa kata-kata, neneknya tahu apa yang dia risaukan.
“Pangeran, siapakah gadis ini?”
Hati Arienne seketika memanas. Pikirannya bertanya-tanya, apakah nenek sedang menyembunyikan identitasnya ataukah telah melupakannya, karena Arienne bahkan lupa kapan terakhir kali ia menemui neneknya itu.
Sorot mata pangeran tampak tenang dan berbinar—tertuju pada Arienne. “Eh… dia…”
“Calon istriku.”
Maire seketika menutup mulutnya yang menganga, terhenyak dengan apa yang ia dengar.
“Benarkah?” tanyanya seolah tak percaya.
“Itu artinya dia adalah calon permaisuri Valoria.”
Dengan antusias, ia membuka pintunya lebih lebar. “Silakan masuk, silakan masuk!”
Alistair menggenggam tangan Arienne, ia melangkah lebih dulu. Di belakangnya, Arienne mengikuti.
Ia duduk di kursi panjang yang terletak di antara dua kursi lainnya, sementara Arienne mengambil tempat di sampingnya.
Pandangan Arienne menyapu ruangan itu perlahan. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari yang ia ingat beberapa tahun lalu. Dinding-dindingnya tampak dicat ulang dengan pernis, perabot kayu lama telah diganti dengan yang lebih kokoh dan rapi.
“Kalian ingin minum apa? Biar nenek buatkan.”
“Air putih saja,” kata Alistair dan Arienne bersamaan. Mereka menoleh satu sama lain karena itu.
Mereka berdua memang tampak begitu serasi. Maire menyunggingkan senyum tipis. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia melangkah menuju dapur.
Arienne menghela napas, menundukkan pandangannya dengan perasaan gelisah. Apa benar jika neneknya sudah melupakan dia? Atau mungkin, dia sengaja ingin menyembunyikan identitas Arienne.
Tak lama kemudian, Maire kembali membawa dua gelas air putih dingin. Ia meletakkannya di atas meja kayu di hadapan mereka.
“Terima kasih, Nek,” ucap Arienne lembut. Ia meneguk air putih itu.
Maire duduk di kursi seberang, matanya bergantian memandangi Alistair dan Arienne dengan penuh perhatian.
“Jadi… kapan kalian menikah?”
Pertanyaan itu membuat Alistair tersentak halus, tangannya menurunkan gelas dengan gerakan tertahan. Arienne di sampingnya mendadak kaku, pipinya memanas saat ia menunduk, berpura-pura sibuk menatap air di gelasnya.
Hening sejenak menyelimuti ruang tamu, sementara Maire mengamati keduanya dengan senyum lembut.
“Jadi… kapan?”
Alistair menarik napas pelan, ia mengangkat wajahnya. “Dia… adalah selirku.”
“Tapi, jika aku diangkat sebagai raja, aku akan menjadikannya permaisuri.”
Maire mengerti hal tersebut. Senyum tipisnya adalah tanda jika dia senang dengan cucunya yang akan menjadi permaisuri Valoria.
Padahal sebelumnya dia tak pernah menyangka jika cucunya akan tetap menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Mungkin semua ini adalah takdir Tuhan untuk keturunan Revelina.
Maire baru saja mengingat sesuatu yang hampir ia lupakan. Sejak masih kecil, Pangeran Alistair selalu menunggu cookies cokelat buatnya kalian jika ia berkunjung.
“Oh, ya! Kalian mau cookies cokelat?”
Arienne membuka mulutnya, hendak menolak.
“Mau,” kata Alistair tanpa pikir panjang.
Ia menoleh pada Alistair dengan pandangan heran sekaligus kesal.
Saat itu Maire sudah bangkit dari kursinya.
“Sebentar, ya. Nenek akan buatkan,” katanya dengan senyum ramah. Ia berbalik, melangkah kembali menuju dapur.
Begitu langkah Maire menjauh, Arienne menoleh tajam ke arah Alistair. “Mengapa kau merepotkan orang tua seperti dia?!”
Alistair meliriknya singkat, lalu tersenyum kecil. “Kau tidak pernah punya nenek, ya?”
Arienne terdiam, jelas tak menyukai arah pembicaraan itu.
“Setiap cucu selalu mengharapkan cookies cokelat buatan neneknya saat berkunjung,” lanjut Alistair tenang, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Arienne mendengus pelan. “Memangnya dia itu nenek kandungmu?”
“Memang bukan,” jawab Alistair tanpa ragu. “Tapi dulu Ibu Revelina sering mengajakku ke sini. Sejak saat itu, Maire memperlakukanku seperti cucunya sendiri.”
Arienne terdiam. Ada rasa tak nyaman yang menyusup di dadanya—cemburu yang tak pantas ia akui, mendengar betapa dekatnya Alistair dengan ibunya di masa lalu.
Sejak kematian ibunya, dunia serasa terhenti. Rasanya api kecil seakan menyala diam-diam di balik tulang rusuknya. Ia menghela napas berat, kedua tangannya saling bertaut, menahan perasaan yang tak tahu harus ia letakkan di mana.
Derap kaki tiba-tiba terdengar, dengan spontan membuatnya menoleh.
“Selir, apa kau bisa membantu Nenek?”