Cahaya pagi menembus tirai tipis jendela kamar pangeran. Sinar hangat itu menyentuh pipi Arienne, membuat kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka. Ia mengedip beberapa kali, membiarkan pandangannya menyesuaikan diri dengan ruangan yang asing dan sunyi itu.
Arienne memerhatikan sekeliling. Ternyata ia bangun sendirian.
Tidak ada Pangeran Alistair di dekatnya. Bahkan, ia tak terlihat di mana pun. Kamar itu terasa sunyi—terlalu luas dan terlalu mewah untuk ditempati seorang gadis biasa seperti Arienne.
Arienne mengangkat tubuhnya perlahan, masih diliputi kebingungan. Ia menatap kain tipis yang membalut tubuhnya serta selimut mewah milik pangeran yang menutupi pahanya.
Ia masih mengingat kejadian semalam. Pangeran bahkan tidak mau menatapnya dan lebih memilih meninggalkan kamar daripada harus tidur dengannya.
Hal yang mengganjal pikirannya adalah mengapa pangeran menyuruhnya mengenakan gaun yang menerawang.
“Apa pangeran ingin menjadikanku bahan pembicaraan di Bangsal Selir?”
Jika memang itu tujuannya, Arienne yakin ke depannya pria itu akan semakin memperlakukannya seperti anjing peliharaan. Semua itu hanya karena ia berasal dari desa—hal yang terasa sangat menjijikkan baginya.
“Aku benar-benar tidak tahan. Sepertinya aku harus membuat rencana untuk melarikan diri dari sini,” batinnya dengan gelisah, sembari menatap arsitektur ruangan tersebut.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Arienne yang panik segera turun dari ranjang. Ia cepat-cepat merapikan selimut yang sempat dikenakannya.
Pangeran Alistair masuk sambil membawa sebuah baki berisi mangkuk sup hangat, beberapa roti lembut, dan sebuah kendi air. Di lengannya terjulur sehelai kain panjang berwarna krem—lebih tebal dibanding kain yang kemarin Arienne kenakan.
Keduanya bertemu pandang dengan wajah yang sama-sama datar.
Pangeran tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya meletakkan baki di meja kecil dekat ranjang, lalu berdiri di hadapan Arienne dengan tatapan tajam. Sementara itu, Arienne hanya menunduk dengan raut wajah lelah.
“Kau bangun lebih lambat daripada yang kuduga.”
Arienne menghela napas singkat dan semakin menundukkan kepala. “Maafkan aku, Yang Mulia.”
Alistair tidak menanggapi permintaan maaf itu. Ia hanya menghela napas pendek, lalu membentangkan kain yang dibawanya dan menyelimutkannya di bahu Arienne.
“Gaunmu terlalu tipis. Sepertinya pelayan telah salah memberimu pakaian.”
Isi pikiran Arienne begitu ramai. Puluhan kata makian terucap di benaknya. Padahal, sudah sangat jelas bahwa dialah yang menyuruh pelayan memakaikannya gaun setipis itu.
Namun, Arienne tetap tersenyum tipis—meski tampak dipaksakan. “Terima kasih, Yang Mulia.”
Ia melihat wajah pangeran sedikit memerah. Arienne tahu, pangeran sedang menikmati permainan gilanya. Pria itu benar-benar menganggap Arienne bodoh dan terlalu patuh.
“Cepat makan,” ucapnya singkat.
“Aku tidak punya banyak waktu. Ada pertemuan penting dengan Menteri Pertanian. Kau harus kembali ke Bangsal Selir sebelum aku pergi.”
Nada itu membuat Arienne refleks mengangguk. Ia kembali duduk di ranjang dan menyantap sup hangat serta roti yang disediakan. Gadis itu makan dengan sangat cepat karena ingin segera enyah dari hadapan pria tersebut.
Pangeran memperhatikan gerak-geriknya, membuatnya khawatir Arienne akan tersedak karena makan terlalu terburu-buru. Alistair tidak mengatakan apa pun, tetapi seolah sudah menduga apa yang akan terjadi.
Dan benar saja, dalam waktu singkat hal itu terjadi.
“Uhuk! Uhuk! Uhuk!”
Arienne terbatuk-batuk, tersedak karena terlalu cepat menelan. Sup panas yang masih mengepul membuat dadanya terasa sesak.
Pangeran Alistair tak bisa hanya berdiam diri. Ia duduk di samping Arienne dan memijat tengkuk lehernya.
“Jangan ceroboh. Makanlah sewajarnya.”
Arienne meneguk air perlahan hingga kondisinya membaik. “Sudah, Yang Mulia. Aku sudah selesai.”
Pangeran tidak mengatakan apa-apa. Tangannya terangkat perlahan dari kulit Arienne, mengepal samar, seakan masih ingin menyentuhnya.
Ia menghela napas dan melirik makanan Arienne.
“Makanannya belum habis.”
Arienne menatapnya sekilas, lalu menundukkan wajah. “Maaf, Pangeran. Tapi aku takut Pangeran terlambat menghadiri pertemuan.”
Untuk sesaat, ruangan terasa sunyi. Pangeran tampak termenung.
“Kau… boleh pergi.”
Arienne bangkit dan membungkuk sopan di hadapan Pangeran. “Terima kasih atas makanannya, Yang Mulia.”
“Hm.” Alistair bahkan tak menoleh.
Tak menunggu lebih lama, gadis itu melangkah keluar dari kamar. Pandangan pangeran mengikutinya hingga bayangan Arienne lenyap di balik pintu.
“Apa gadis itu berpura-pura polos untuk menggodaku?” batin Alistair.
Ketakutannya, tangisannya, dan gerak-gerik tubuhnya benar-benar memanjakan emosi pangeran. Semua itu tampak seperti ekspresi yang dibuat-buat demi menarik perhatiannya.
Istana pagi itu dipenuhi para pelayan yang mulai membersihkan lorong-lorong panjang. Setiap langkah Arienne terasa berat akibat tatapan para pelayan—terutama karena pakaiannya seolah menyiratkan bahwa pangeran telah menyentuhnya.
Mereka menatapnya—beberapa dengan rasa penasaran, beberapa dengan bisik-bisik kecil, dan beberapa lainnya dengan senyum mengejek.
Saat akhirnya tiba di Bangsal Selir, suasana terasa jauh lebih menekan. Seluruh selir di koridor memperhatikannya dengan tatapan sinis. Iri dengki terpampang jelas di wajah mereka. Hampir semua menyindir tentang pakaiannya.
Pakaian tipis Arienne, yang sebelumnya hanya dikenakan atas perintah pangeran, kini justru tampak seperti pengumuman bahwa ia mendapat perlakuan khusus.
“Huh, sepertinya aku bakal jadi bahan rundungan di sini.”
Arienne menelan ludah. Ia tidak bisa menjelaskan apa pun, sehingga hanya membuka pintu kamarnya dan masuk dengan cepat.
Akhirnya, ia bisa bernapas lega. Terkadang, kamar adalah tempat perlindungan terbaik dari kerasnya dunia.
Arienne menjatuhkan diri ke ranjang, merasakan kelembutan kasur dan ketenangan saat sendirian.
Belum sampai semenit, suara langkah tiba-tiba terdengar dari luar pintu.
Duk! Duk! Duk!
“Buka pintunya!”
Arienne mengenali suara itu. Itu adalah Selir Helena—salah satu selir yang pernah menemuinya saat pertama kali tiba di bangsal.
“Padahal aku baru saja sampai di kamar, dan dia sudah mengganggu ketenanganku,” gerutu Arienne kesal.
“Sepertinya dia mengikutiku dari tadi.”
Meski malas, Arienne tak sanggup terus mendengar kebisingan itu. Akhirnya, dengan langkah berat, ia membuka kunci dan memutar kenop pintu perlahan.
Begitu pintu terbuka, Helena berdiri di hadapannya seperti badai. Rambut hitamnya tersisir rapi, dan sorot mata hijaunya tajam menusuk.
Tanpa berkata apa pun, Selir Helena masuk bersama dua pelayannya.
“Cepat! Geledah kamarnya!” titah Helena.
Kedua pelayan itu langsung bergerak, mengobrak-abrik kamar Arienne, mencari sesuatu yang bahkan Arienne sendiri tidak mengerti.
Arienne mencoba berbicara kepada perempuan itu. “Tunggu! Untuk apa kau menggeledah kamarku?”
Helena hanya menatapnya dengan sinis.
Arienne semakin tak memahami apa yang sedang terjadi. Ia bergegas mendekati salah satu pelayan.
“Hei! Jangan mengobrak-abrik kamarku! Aku tidak membawa apa pun ke sini selain tubuhku!”
Arienne berusaha menghentikan mereka, tetapi tak seorang pun menggubris. Sebaliknya, mereka malah mendorongnya hingga terjatuh.
Helena menatapnya dengan senyum licik. “Rasakan itu! Aku yakin kau telah menyihir pangeran hingga ia tunduk padamu.”
Pandangannya lalu jatuh pada pakaian Arienne—kain tipis dengan selendang sutra yang lebar.
“Hah? Penyihir?”