6. Kau Siap Menjadi Mainanku?

1137 Words
“Jadi… apakah kau siap menjadi mainanku?” Arienne terdiam, keraguannya tampak jelas. Dia tak mengerti dengan apa yang sedang pangeran lakukan padanya. Pangeran seperti sedang mempermainkan emosi dan perasaannya. Alistair mengangkat dagu Arienne, memaksa agar dia menatapnya. “Arienne?” Gadis itu seketika mengangguk. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tatapan pangeran semakin tajam padanya. Arienne tak mengerti apa pun. Tangan pangeran tiba-tiba mencekik leher Arienne. Itu membuat Arienne sontak kaget hingga nafasnya begitu cepat. Tapi sebenarnya genggaman tangan pangeran di lehernya tidak terlalu kuat, hanya membuat Arienne mendongak—memperlihatkan wajahnya. Pangeran tahu yang dia lakukan hanyalah perundungan tanpa sebab dan tujuan. Tapi dia sangat menikmati ekspresi ketakutan dari gadis itu, seakan melampiaskan kekesalan pada hidup dengan cara lain. Perlahan, pangeran mendekatkan wajahnya… Hidungnya menyentuh hidung gadis itu. Dia memejamkan mata, menikmati setiap aroma melati yang manis di penciumannya. “Bagaimana kau bisa segampang itu setuju, hm?” Suaranya nyaris berbisik, cukup membuat Arienne merinding di sekujur tubuhnya. Arienne tergagap. Napasnya terdengar pendek karena panik, bukan karena kesakitan. “A–aku… hanya budakmu, Yang Mulia. Aku harus menaati setiap perintahmu.” Alistair memandangi wajahnya lama sekali. Tatapan itu membuat Arienne semakin gemetar, seolah pangeran sedang menimbang apakah ia harus tersenyum atau menghancurkan sesuatu. Akhirnya, genggaman di lehernya itu dilepaskan. “Begitu,” gumamnya tenang. Dia sedikit menjauhkan wajahnya. “Kau benar-benar akan menaati perintahku, kan?” Dengan perasaan ragu nan bimbang, Arienne mengangguk. “Sekarang aku perintahkan kamu berada di halaman istana, lalu lepaskan pakaianmu di sana.” Rasanya seperti ada panah yang menusuk jantungnya. Gadis itu menjatuhkan diri, wajahnya menunduk dengan begitu gelisah. “Pangeran… kau boleh menghukumku, tapi aku tidak bisa melakukan itu….” Alistair menunduk menatapnya. Ekspresi pria itu tetap datar. “Lebih baik aku melepaskan pakaianku di hadapanmu saja daripada di hadapan mereka.” Arienne begitu memohon. Dia menatap pangeran dengan mata yang berkaca-kaca. “Kalau begitu, itu artinya kau membangkang dari perintahku.” Pangeran mengalihkan pandangannya. Ia tak sanggup menatap mata melasnya itu. “Berdirilah.” Arienne bangkit perlahan. Ia masih menunduk. Berada di dekat pangeran baginya terasa seperti di neraka. Pangeran mungkin tidak akan paham dengan trauma yang ia derita. Pangeran mendekat. Tatapannya tajam, namun bukan seperti seseorang yang sedang marah. Lebih seperti seorang pemahat yang sedang memeriksa retakan kecil pada patung yang baru setengah jadi. Telapak tangannya terangkat dan menyentuh dagu Arienne, membuat gadis itu menatap wajahnya. “Tadi… kau bilang akan melepas pakaianmu untukku. Jadi apa yang kau tunggu?” Hening. Mata mereka saling menatap dalam. “Lakukan sekarang.” Pangeran melepaskan dagunya. Ia mundur beberapa langkah untuk memerhatikan apa yang akan terjadi. Arienne tak bisa menolak. Ia takut dengan hukuman kerajaan. Ia mulai meraih gaunnya, menyingkapnya ke atas dengan perlahan. Namun bukan itu yang pangeran lihat. Pria itu malah memerhatikan raut wajah Arienne yang begitu gelisah. Gerakannya juga begitu perlahan. Pangeran mengerti jika gadis itu tak mau melakukannya. “Berhenti,” perintahnya tiba-tiba. Seketika Arienne merasa begitu lega. Padahal ia tahu tugasnya adalah melayani pangeran. Arienne menatapnya dengan heran, seakan ingin bertanya mengapa. Bibir Alistair mengembang tipis. “Kurasa kau benar-benar gadis yang bodoh.” “Padahal selir yang lain selalu berebut untuk mendapat giliran bermalam denganku. Mereka semua ingin mendapat hierarki tertinggi di Bangsal Selir, sedangkan kau?” “Sepertinya kau hanya ingin menjadi b***k di istana ini.” Air mata mulai mengumpul. Ia tidak bisa menahannya kali ini. Segala ketegangan sejak ia memasuki ruangan itu menumpuk di dadanya, dan air mata itu pun turun. Sebenarnya Arienne memang tak menginginkan semua ini. Dia tak pernah meminta untuk berada di sini. Arienne terus menunduk hingga wajahnya tertutupi rambut. Dia seakan ingin menyembunyikan air matanya. Namun sia-sia, pangeran melihat tetesan air matanya jatuh ke lantai. Pangeran melangkah menjauhinya. Ia kembali duduk di kursi meja kerja. Ia tak mau menatap wajah melas gadis itu. Pangeran membuka kembali buku-bukunya dan mengangkat pena. Dia berusaha fokus pada pekerjaannya. Tapi entah kenapa, kehadiran selir baru itu seakan menyerap isi otaknya. Gadis itu masih berada di belakangnya. Dia bahkan tak berani bergerak sedikit pun sebelum ada perintah. Semakin lama, pangeran merasa bersalah. Ada sedikit perasaan tak tega di dadanya. “Arienne, pergilah ke ranjangku. Beristirahatlah di sana.” Arienne mengangkat wajah pelan, memastikan ia tidak salah dengar. Perintah itu terdengar jauh lebih lembut dibanding sebelumnya. “Baik, Yang Mulia….” Ia melangkah menuju ranjang besar itu perlahan, seolah setiap langkah harus ia pikirkan dulu. Ranjang itu terlihat terlalu mewah untuk disentuh seorang b***k—bahkan untuk sekadar duduk. Arienne berhenti di tepinya dan kembali menoleh kepada pangeran. Alistair tidak melihatnya. Pria itu tampak sibuk memeriksa gulungan kertas. “Tidurlah,” katanya tanpa menoleh. Arienne menurut. Ia naik ke atas ranjang dengan hati-hati lalu duduk, kedua tangannya saling menggenggam. Ia merasa seakan tubuhnya akan mengotori kasur itu. Belum sempat ia berbaring, suara pangeran menyusul, pelan namun jelas terdengar. “Jangan gunakan selimutku.” Arienne langsung menarik tangan yang hampir menyentuh lipatan selimut. “Baik, Yang Mulia.” Pangeran memang tak menoleh, tapi ia seperti bisa merasakan kebingungan gadis itu. “Aku ingin menghukummu dengan kedinginan malam ini, agar kau tahu di mana posisimu,” katanya, masih dengan nada yang datar namun menusuk. Arienne mengangguk meski tahu pangeran tidak melihatnya. Ia memeluk kedua kakinya. Itu tidak menghangatkan tubuhnya, tetapi cukup untuk membuatnya merasa tidak sepenuhnya kosong. Udara di luar begitu dingin. Jendela besarnya terbuka sangat lebar. Kedua kakinya tidak mampu menutupi udara malam yang menusuk. Pangeran terus menulis, tetapi suara gesekan pena itu berhenti semenit kemudian. Alistair menoleh pada Arienne yang berbaring dengan memeluk kedua kakinya. Jujur, dia tidak begitu tega. Sebenarnya Alistair hanya ingin menekan mental Arienne sehingga dia bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan istana. Pikiran Pangeran Alistair berulang kali buyar setiap mencoba fokus pada berkas-berkas di mejanya. Pikirannya justru mengarah ke ranjang tempat Arienne terbaring. Ia menoleh ke belakang, memandangnya yang tertidur pulas. Melihat Arienne yang memeluk kedua kakinya karena kedinginan membuatnya merasa iba. Alistair tak bisa menenangkan perasaannya, karena udara luar memang sangat dingin. Alistair bangkit dari kursinya. Ia melangkah, menutup jendela besar yang mendinginkan kamarnya. Pangeran menatap Arienne dengan tatapan sendu. Perlahan, dia mendekati gadis itu. Walau pelan, suara decak kakinya terdengar jelas. Itu membuat Arienne membuka mata. Gadis itu menatap padanya. Ia segera bangun, duduk di pinggiran ranjang. Sorot mata Arienne basah dan sayu, membuat pangeran memalingkan wajahnya—tak mau menjadi luluh. “Kenapa kau bangun?” tanyanya. “Udaranya sangat dingin. Aku tak sanggup.” Arienne memasang wajah semelas mungkin. Dia berharap pangeran menatapnya. Arienne mulai kesal karena pria itu tidak mau menatap padanya. “Pangeran, kenapa kau begitu tega padaku? Aku ingin tidur dengan selimut, kumohon….” Pangeran mencoba menatapnya. “Jadi sekarang kau pikir aku jahat padamu?” “Iya,” balas Arienne tanpa pikir panjang. “Kalau begitu, pakailah selimut itu. Aku tidak akan tidur di sini. Aku akan pergi ke luar.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD