Arienne berdiri di depan cermin untuk terakhir kalinya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia masih bisa bernapas dengan gaun aneh yang menempel di tubuhnya. Keempat pelayan yang membantu sejak tadi tersenyum kecil, mencoba menenangkan kegugupannya.
Gadis itu mengambil kain untuk menutup tubuhnya dari salah satu pelayannya, dia memakainya seperti yang diperintahkan Putra Mahkota.
“Nona Arienne, sudah waktunya,” ujar salah satu dari mereka.
Arienne mengangguk pelan. “B–baik…”
Begitu pintu kamar dibuka, Arienne langsung menundukkan pandangan. Di luar, deretan selir sudah berdiri—entah sejak kapan mereka menunggu. Semua berpura-pura sibuk, tetapi jelas sekali mata mereka langsung tertuju padanya.
Dalam hitungan detik, mereka menatapnya dengan melongo.
Gaun yang ia kenakan benar-benar membuat beberapa di antara para selir itu menutup mulut. Ada yang saling menyikut, ada yang mendadak pura-pura batuk untuk menutupi keterkejutannya.
Desas-desus langsung beredar seperti api kecil yang menyambar jerami kering.
“Lihat, gaunnya menerawang sekali.”
“Dia benar-benar dipanggil malam ini?”
“Cepat sekali… bahkan belum dua hari.”
“Ini pertama kalinya pangeran memanggil selir baru secepat itu.”
Arienne menunduk begitu dalam hingga rambutnya hampir menutupi wajah. Ia mengikuti langkah para pelayan tanpa suara, berusaha tidak bertatap mata dengan siapa pun. Setiap kali ia melangkah, kain tipis itu bergerak dan membuat pipinya semakin panas.
Pelayan tua yang berjalan di paling depan melirik para selir sebentar—sekilas, tetapi cukup untuk membuat mereka menyingkir dari jalur dengan pura-pura elegan.
Rumor semakin menjadi saat Arienne melewati mereka. Ia bisa mendengar bisikan pelan bercampur decakan kagum dan iri. Sebagian selir hanya menatapnya sambil menahan ekspresi tak percaya.
Arienne ingin menghilang saja.
Setelah menempuh beberapa lorong panjang, mereka berhenti di depan pintu kamar Putra Mahkota. Pintu tinggi berukir lambang kerajaan itu terlihat begitu kokoh hingga membuat tenggorokannya mengering.
Pelayan tua menoleh padanya. “Masuklah. Putra Mahkota memerintahkan agar kau masuk seorang diri.”
Arienne meremas kain penutup yang menggantung di bahunya. “S–saya masuk… sekarang?”
“Ya, Nona. Beliau tidak menyukai keterlambatan.”
Arienne mengangguk—meski hatinya seperti merosot sampai ke kaki. Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu besar itu.
Ruangan di dalamnya sunyi.
Cahaya lilin memantul lembut di dinding batu dan meja besar di sudut ruangan. Di sana, Putra Mahkota Alistair duduk, masih menulis sesuatu. Ia tidak langsung melihat Arienne. Suara gesekan pena dan lembaran kertas adalah satu-satunya yang terdengar.
Arienne berdiri di depan pintu dengan tubuh kaku.
Lalu pangeran berhenti menulis, menutup pena, dan mengangkat kepalanya.
Ia menoleh, tatapannya langsung jatuh pada Arienne.
Mata itu tidak tajam atau menakutkan, hanya… menilai. Namun bagi Arienne, tatapan itu cukup untuk membuat lututnya melemas.
“Mendekat,” ucapnya pelan, tetapi jelas.
Jantung Arienne berdetak sangat kencang, rasanya seperti akan lepas. Ia berjalan beberapa langkah mendekat, kemudian berhenti tanpa sadar ketika jaraknya masih aman.
Pangeran menyandarkan tubuhnya sedikit, memperhatikan bagaimana Arienne menunduk dalam, menggenggam kain penutup erat-erat.
“Lebih dekat,” katanya.
Arienne tersentak kecil, tetapi mematuhi. Ia melangkah lagi, hingga jaraknya tinggal beberapa langkah dari meja.
Jantungnya berdebar kencang. Tangannya semakin kuat memegang kain itu, seolah-olah itu satu-satunya pelindung yang ia punya.
Pangeran menatapnya sebentar, lalu… terkekeh kecil.
Hanya sekilas, tetapi jelas.
“Kau tampak seperti akan dihukum mati,” komentarnya ringan.
Arienne langsung memerah. “M–maaf, Yang Mulia…”
“Aku belum memintamu meminta maaf,” jawabnya santai sambil menautkan jemarinya. “Aku hanya menyampaikan apa yang kulihat.”
Rasanya saat itu Arienne ingin menghilang saja.
Pangeran memiringkan kepala sedikit. “Lepaskan kain itu.”
Arienne menoleh kaget.
“A–apa…?” Lidahnya tercekat.
“Kain penutup itu,” ulang pangeran, nadanya tetap tenang. “Lepaskan.”
Arienne menelan ludah. Ia tahu ini akan terjadi, tetapi mendengarnya langsung tetap membuat napasnya tersengal.
“S–saya…” tetapi suaranya hilang.
Pangeran menatapnya, tidak marah, hanya menunggu. Itu justru membuat Arienne semakin gugup.
“Arienne,” ucap pangeran perlahan, “aku tidak mengulang perintah tanpa hukuman.”
Nadanya tidak keras, tetapi cukup tegas untuk tidak dilawan.
Arienne akhirnya merenggangkan genggamannya. Kain tipis itu jatuh perlahan dari bahunya. Walau dia masih mengenakan pakaian dalaman pendek yang cukup menutupi, tapi tetap saja rasanya seperti telanjang, wajahnya merah padam.
Keheningan turun.
Pangeran bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tetapi suara sepatunya di lantai marmer membuat jantung Arienne memukul-mukul tulang rusuknya.
Setiap langkah seperti tanda bahwa ia harus bersiap—meski ia tidak tahu untuk apa.
Pangeran berhenti tepat di hadapannya.
Arienne hampir lupa bagaimana caranya bernapas.
“Apa kau malu?” tanyanya, nada suaranya ringan, seperti seseorang yang bertanya apakah seseorang suka teh atau kopi.
Arienne mengangguk cepat, masih menutupi tubuhnya. “S–sangat…”
Pangeran tersenyum kecil. “Kelihatan.”
Senyum itu bukan mengejek, hanya… seolah heran dengan kepolosannya.
“Tidak ada yang salah dengan malu,” lanjutnya. “Hanya saja… biasanya para selir tidak setakut sepertimu.”
Arienne tidak tahu harus memasang ekspresi apa.
Alistair menyilangkan tangan, memandangnya seperti seseorang yang sedang mencoba memahami teka-teki.
“Jadi sebenarnya… apa yang kau takutkan?” tanyanya santai.
Arienne mengerjapkan mata. “S–saya… hanya takut… membuat kesalahan.”
Pangeran mengangguk pelan, seolah itu jawaban yang ia duga. “Kau bukan tahanan. Tidak ada yang akan menghukummu hanya karena kau berada di sini.”
Arienne menunduk lebih dalam. “Tetap saja… saya takut.”
“Hm,” pangeran mendekat setengah langkah sehingga jarak mereka makin sempit. “Kau pikir aku akan menyakitimu?”
Arienne terdiam.
Ia ingin bilang tidak… tetapi tubuhnya memberi jawaban sendiri.
Pangeran melihat hal itu.
“Ah,” gumamnya. “Kau benar-benar mudah dibaca.”
Ia berjalan mengitari Arienne perlahan, memperhatikannya dari sudut pandang berbeda. Tidak menakutkan, hanya terasa… membuat Arienne semakin canggung.
“Para selir membicarakanmu di luar sana,” katanya santai. “Mereka kagum sekaligus iri.”
Arienne mengepalkan jemarinya. “I–iri? Pada saya?”
“Kau dipanggil setelah sehari berada di sini. Tentu saja mereka iri,” jawab pangeran ringan. “Itu pencapaian besar bagi seorang selir baru.”
Arienne tidak tahu apakah itu hal baik atau buruk.
Setelah mengitari tubuhnya, pangeran kembali berdiri di hadapannya.
“Sekarang,” ucapnya sambil menatap mata Arienne, “aku ingin melihat sesuatu.”
Arienne berkedip. “M–melihat apa?”
“Seberapa berani dirimu ketika kau berhenti memikirkan rasa takut.”
Arienne menelan ludah, tidak mengerti, namun tidak berani bertanya lebih jauh.
Pangeran mengulurkan tangan—mengambil salah satu tangan Arienne.
“Tatap mataku,” katanya lembut.
Arienne ragu, tetapi saat melihat tatapannya… ia memejamkan mata, berusaha bernapas dengan teratur.
Pangeran menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum samar.
“Begitu saja,” katanya. “Apa kau tidak bisa?”
Arienne ingin protes bahwa itu sangat sulit, tetapi mulutnya tak bergerak.
“Mulai sekarang,” lanjutnya, “aku ingin kau mendengarkan setiap instruksiku tanpa terlalu banyak ketakutan. Aku tidak akan menyakitimu. Dan aku tidak mengharapkan apa pun darimu malam ini selain sedikit keberanian.”
Arienne mengangkat wajah sedikit. “K–keberanian?”
Pangeran menyentuh dagunya dengan ringan. “Ya, keberanian.”
Tatapan mereka bertemu lebih lama dari sebelumnya.
“Jadi katakan, Arienne…” suaranya turun menjadi lebih rendah, tetapi tetap tenang.
“…apakah kau masih takut padaku?”
Arienne membuka mulut, tetapi suaranya tidak keluar.
Namun dari wajahnya, jawabannya sudah jelas.
Pangeran tersenyum kecil. “Tidak apa.”
Ia melepaskan dagu Arienne perlahan.
“Kalau begitu, kau akan menjadi mainan terbaikku mulai malam ini.”