Bangsal Selir siang itu terasa lebih ramai dari biasanya. Suara langkah kaki beradu di lantai marmer, bisik-bisik halus terdengar di balik tirai sutra yang bergoyang pelan tertiup angin. Beberapa selir duduk berkelompok, sementara sebagian lainnya berdiri di koridor, saling bertukar pandang dengan ekspresi ingin tahu.
Keramaian itu seketika mereda ketika sosok Permaisuri muncul di ambang bangsal. Tanpa perlu perintah keras, seluruh selir langsung berdiri. Gaun-gaun panjang berdesir pelan saat mereka menunduk bersamaan, kepala tertunduk penuh hormat.
Permaisuri melangkah masuk dengan anggun. Sorot matanya tenang, namun memancarkan wibawa yang membuat suasana terasa lebih menekan. Ia berhenti sejenak, lalu menoleh kepada kedua dayangnya.
“Kumpulkan seluruh selir di Aula Pembinaan,” titahnya singkat.
Kedua dayang segera memerintahkan seluruh selir di sana untuk berkumpul di Aula Pembinaan. Setelah itu, mereka menyusuri bangsal, mengetuk pintu-pintu kamar, memanggil mereka yang masih berdiam diri agar segera menuju aula.
Di saat yang sama, Arienne sedang duduk di ranjangnya. Ia membaca sebuah buku tentang bercocok tanam yang dipinjamnya dari perpustakaan istana. Beberapa waktu lalu, ia mendengar dari para selir bahwa kerajaan mengalami kerugian besar akibat panen gandum yang gagal tahun ini.
“Apa yang membuat mereka gagal panen, ya?” batin Arienne saat membaca bagian penyebab tumbuhan rusak.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar mendesak. Arienne beranjak dan segera membukanya.
“Arienne, Permaisuri memerintahkan seluruh selir untuk berkumpul di aula.”
“Oh, iya. Sebentar,” jawab Arienne.
Ia segera meletakkan bukunya kembali ke rak dan meninggalkan kamar itu.
Aula Pembinaan dipenuhi para selir yang berdiri berjajar rapi. Mereka saling berbisik, menebak apa yang akan disampaikan Permaisuri. Di antara mereka, Arienne hanya terdiam, menundukkan kepala, dan memainkan jemarinya sambil mendengarkan percakapan di sekitarnya.
“Permaisuri akan mengumumkan kedatangan para guru pertanian itu, ya?”
“Mungkin. Sepertinya kita disuruh tidak keluar dari bangsal agar tidak menimbulkan kegaduhan.”
“Tapi kita kan jarang keluar. Yang sering keluar cuma selir baru itu. Menurutku dia sangat berani.”
Arienne tahu mereka sedang menyindirnya, tetapi ia memilih diam.
Tak lama kemudian, Permaisuri melangkah masuk. Seluruh ruangan langsung sunyi. Ia berhenti di tengah aula, menghadap mereka semua. Wanita itu memerhatikan wajah para selir yang tertunduk.
“Di sini aku hanya ingin mengumumkan bahwa Raja hari ini akan mengadakan jamuan besar bersama para ahli pertanian dari negeri seberang untuk membahas gagal panen besar-besaran akibat serangan belalang. Kurasa kalian sudah mendengar kabar itu.”
Suasana terasa hening.
Permaisuri kemudian melanjutkan, “Adakah di antara kalian yang mahir membuat roti?”
Semua selir tampak panik. Tak satu pun tangan terangkat. Beberapa selir saling melirik dengan ragu—sebagian bahkan tampak enggan. Kebanyakan dari mereka adalah anak pedagang kaya dan keturunan bangsawan; gadis-gadis yang terbiasa dimanjakan harta dan tak pernah membuat makanan sendiri.
Arienne pun heran melihat tak seorang pun mengajukan diri. Ia sadar betul perbedaan asal-usul di antara mereka.
“Kalau—”
“Yang Mulia,” Arienne mengangkat tangan.
Senyum kecil mengembang di bibir Permaisuri. “Oh, selir baru. Silakan maju.”
Dengan perintah itu, Arienne melangkah ke depan. Beberapa pasang mata langsung menatapnya—sebagian terkejut, sebagian mencibir. Permaisuri memerhatikannya sejenak, lalu kembali bersikap tegas.
“Jadi, kau sungguh mahir membuat roti?”
“Sungguh, Yang Mulia. Dulu aku pernah bekerja di toko roti,” jawab Arienne dengan kepala tertunduk.
Permaisuri tersenyum dan menyentuh dagu Arienne. “Tatap aku, gadis manis.”
Jantung Arienne berdetak tak karuan saat ia mengangkat wajah. Namun ia segera merasa tenang ketika melihat senyum Permaisuri.
“Kau ternyata berbakat juga. Kuharap kau kelak menjadi permaisuri raja berikutnya.”
Arienne tak mampu menahan senyum. Itu sebuah kebanggaan baginya, meski ia sendiri merasa Pangeran tak mungkin menginginkannya.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
“Sekarang kau akan ditugaskan ke dapur istana. Siapkan roti terbaik untuk jamuan para tamu Raja.”
Arienne menunduk hormat. “Hamba laksanakan, Yang Mulia.”
---
Dapur istana dipenuhi aroma gandum hangat dan mentega cair yang menguar lembut. Arienne berdiri di depan meja kayu panjang, jemarinya berbalut tepung saat menguleni adonan dengan gerakan tenang dan terampil. Ingatannya melayang ke masa lalu—hari-hari panjang di kedai roti, saat tangannya belajar mengenali tekstur adonan dan panas tungku.
Selir Mirella—selir yang jadwalnya pernah ditunda—datang ke dapur bersama beberapa selir lainnya. Ia melangkah dengan lenggak-lenggok, lalu berhenti tepat di hadapan Arienne. Tangannya menyilang di d**a, tatapannya sinis. Namun Arienne tak menoleh sedikit pun; ia tetap fokus pada pekerjaannya.
“Ekhm!”
Beberapa pelayan menoleh penasaran, tetapi Arienne tetap tak peduli. Ia tahu Mirella hanya ingin mengusiknya. Sikap itu membuat Mirella semakin kesal.
Dengan sombong, Mirella mengangkat dagu. “Tak kusangka seorang gadis miskin—mantan pelayan toko roti—kini berdiri di dapur istana seolah pemimpinnya.”
“Tapi kurasa itu lebih pantas bagimu daripada pergi ke kamar pangeran dengan gaun menerawang.”
Teman-teman di belakangnya tertawa mengejek. Tawa Mirella terdengar paling nyaring.
“Dasar gadis rendahan!” makinya.
Namun Arienne tetap tak bereaksi. Ia terus bekerja seolah tak mendengar apa pun.
Darah Mirella terasa mendidih. Sikap Arienne dianggapnya sangat tidak sopan.
“Gadis tuli! Apa kau tidak mendengar ucapanku?!”
Arienne tetap tak menoleh.
“Arienne!”
Seruan itu membuat beberapa orang menoleh, termasuk Arienne. Namun setelah melirik sebentar, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
“Oh, kau berbicara denganku?” tanyanya ringan sambil menguleni adonan lain.
Mirella semakin murka. “Jadi menurutmu aku berbicara dengan siapa, hm?!”
“Tidak tahu,” jawab Arienne singkat.
Mirella dan teman-temannya menatapnya dengan sinis. Pikiran Mirella dipenuhi caci maki.
“Kau begitu belagu hanya karena bisa membuat roti. Apa kau pikir kau bisa menyaingi Selir Helena hanya dengan satu bakat?”
Arienne menatapnya tajam. “Jadi kau pikir aku ingin berada di posisi Selir Helena?”
Mirella terdiam, kebingungan.
“Kau tidak ingin menjadi selir favorit?”
Arienne menghela napas berat. “Tidak. Aku lebih ingin hidup bebas di desaku.”
Suasana dapur mendadak hening ketika pintu utama terbuka. Seorang prajurit mengumumkan kedatangan Putra Mahkota.
Pangeran memasuki ruangan.
Semua selir langsung menunduk dalam. Melihat pelayan lain tetap bekerja, Arienne tanpa ragu melanjutkan pekerjaannya, menguleni adonan hingga kalis. Pangeran melangkah di antara meja-meja, memperhatikan setiap orang.
Begitu melihat Arienne, ia mendekat. Selir Mirella dan teman-temannya mundur memberi jalan. Pangeran berhenti tepat di hadapan Arienne.
“Dari sekian banyak selir, mengapa hanya kau yang berada di sini?”
Arienne spontan menunduk. “Iya, Yang Mulia.”
“Tapi mereka juga berdiri di sini,” lanjut Arienne sambil melirik Mirella dan yang lain.
Saat Pangeran menatap mereka, jantung Mirella serasa tersambar petir. Ia dan teman-temannya menunduk lebih dalam, menahan malu.
“Oh, Mirella. Kau tidak membuat roti juga?” tanya Pangeran.
Perlahan Mirella mengangkat wajahnya dengan senyum canggung. “Eh… hehehe. Saya tidak bisa, Yang Mulia.”
Tatapan Pangeran mendadak tajam. Mirella kembali menunduk, jantungnya berdegup kencang.
“Jika tidak bisa membuat roti, lalu untuk apa kalian ke mari?”
Mirella menelan ludah. Perutnya terasa melilit. “Aku hanya ingin belajar.”
Arienne berdecak pelan dan memutar bola matanya ke samping.
Pangeran menoleh padanya. “Kenapa?”
“Tadi dia datang mengejekku,” jawab Arienne ringan.
Mata Mirella membelalak. Ia menggeleng panik. “Tidak, Pangeran! Dia memfitnahku!”
Arienne tetap bekerja, tak peduli pada drama itu.
Pangeran tak ingin memancing keributan. “Kalau begitu, keluarlah dari dapur. Jangan mengganggu siapa pun di sini.”
Hati Mirella terasa tergores. Ia ingin menjambak rambut Arienne, tetapi tak berdaya. Dengan berat hati, ia menunduk. “Baik, Yang Mulia.”
Ia dan teman-temannya segera meninggalkan dapur.
Sementara itu, Arienne tetap sibuk. Ia dikejar target yang ditetapkan Permaisuri, karena jamuan hari ini adalah jamuan terbesar kerajaan. Para sarjana pertanian dan petani besar dari berbagai wilayah turut diundang dalam acara tersebut.