10. Teringat Masa Lalu

1093 Words
Bau yang menguar nikmat mengalihkan pandangan pangeran. Pangeran menatap sebuah roti pertama yang baru selesai dipanggang. Harum mentega dan bawang putihnya menguar, mengingatkannya pada saat beristirahat di toko roti yang berada di Kota Oakfall. Saat itu, ia baru kembali setelah menaklukkan Kerajaan Thaleon. Semua itu terjadi empat tahun yang lalu. Waktu itu, pangeran masih berusia delapan belas tahun. Itu adalah pertama kalinya ia melihat paras Arienne, salah satu pembuat roti yang saat itu mengantarkan rotinya kepada penjaga toko. Saat menatap roti itu dari dekat, bentuk dan baunya mirip dengan yang pernah ia makan di Oakfall. Sepertinya itu sama-sama buatan Arienne. Ingatannya kembali ke masa lalu; banyak hal yang terjadi pada masa itu. “Baunya sangat enak. Siapa yang membuat roti ini?” Seorang pelayan di antara mereka menjawab, “Nona cantik itu yang membuatnya, Yang Mulia,” seraya menunjuk sopan ke arah Arienne. Tanpa disadari, senyum pangeran mengembang tipis. Sudah ia duga, Arienne yang membuatnya. “Kalau begitu, sampaikan padanya. Buatkan khusus untukku yang versi kecil.” Pelayan itu tersenyum tipis. “Baik, Yang Mulia. Akan kusampaikan.” Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, pria itu melangkah keluar dari dapur istana. Hal yang tak bisa Pangeran Alistair lewati adalah belajar. Sebelum bertemu dengan para guru besar, ia harus mempersiapkan diri terlebih dahulu. Namun, saat itu pikiran pangeran melayang ke mana-mana. Akhirnya, ia melemaskan tubuhnya di kursi dengan mata terpejam. Buku yang telah ia baca diletakkan di wajahnya. Namun pikirannya tetap melayang; ia tak bisa tertidur. Sisa-sisa kalimat di buku itu tak lagi berada di kepalanya. Bayangan wajah itu kembali hadir tanpa diundang, menyelinap di sela-sela pikirannya yang lelah. Arienne. Alistair menghela napas pelan. Entah sejak kapan, pikirannya selalu berakhir pada gadis itu. Jika dipikirkan lebih saksama, wajah Arienne memang memiliki kemiripan dengan Ibu Revelina, wanita cerdas yang dulu menjadi guru filsafat dan matematika pribadinya. Perempuan dengan senyum lembut yang menghangatkan suasana, tatapan tenang yang membuat pangeran merasa aman, serta pengetahuan yang mampu membungkam satu ruangan penuh bangsawan dewasa. Ia mengajarkan angka-angka, pemikiran, logika, dan makna—bukan sekadar untuk dipahami, melainkan untuk dipertanyakan. Arienne… tidak seperti itu. Gadis itu tampak tidak secerdas Ibu Revelina. Arienne hanyalah gadis sederhana. Ia tak pernah menunjukkan ambisi apa pun. Bahkan kemewahan tampak tak berarti baginya jika disandingkan dengan kebebasan. Pangeran mengambil buku yang berada di wajahnya. Ia membuka mata, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran tak pantas itu dari benaknya. “Mengapa aku membandingkannya? Arienne hanya mirip secara wajah dengannya. Ia tak pantas dibandingkan dengan wanita secerdas Ibu Revelina.” Rindu yang seharusnya telah lama terkubur malah melonjak tanpa peringatan, menyesakkan d**a dengan cara yang tak ia mengerti. Kini wajah Arienne seakan menjadi jembatan rapuh yang menghubungkan rasa rindunya pada Ibu Revelina. Ia meletakkan buku itu di atas meja. Tatapannya menengadah ke langit-langit ruangan. Pikirannya melayang ke atas sana, membayangkan Ibu Revelina mungkin sedang mengenakan gaun indah dengan manik-manik berlian di surga. “Ah… dia pasti bahagia di atas sana. Dia orang baik.” Angan-angan itu membuat Alistair merasa sedikit lebih baik. Hingga kini, ia masih tak bisa menerima kematian Ibu Revelina. Kematian wanita yang telah ia anggap sebagai ibu sendiri itu terasa sangat tak adil baginya. Ibu Revelina dihukum mati atas tuduhan meracuni raja—tuduhan yang hingga kini masih terasa rapuh bila dipikirkan ulang. Seorang selir ayahnya bersumpah melihat Revelina meletakkan racun di dalam cangkir, dan kesaksian itu cukup untuk menggerakkan pengadilan. Tak ada pembelaan, tak ada penyelidikan lanjutan yang mendalam. Saat itu, semua orang berada di bawah pengaruh kebencian. Mereka mendesak agar Revelina segera dihukum mati, seolah kebenaran tak pernah diberi kesempatan untuk bernapas. Dua hari setelah kematian Ibu Revelina, beberapa pelayan yang tak sengaja mengintip kejadian itu mulai berani memberi tahu permaisuri bahwa bukan Revelina pelakunya, melainkan seorang pelayan baru yang merupakan penyusup. Setelah raja sembuh dari racun itu, mereka menyadari bahwa kerajaan telah kehilangan seorang wanita yang begitu berarti. Dialah satu-satunya wanita yang saat itu menjadi alasan kemajuan Kerajaan Valoria. Wanita yang mewajibkan semua orang belajar membaca. Wanita yang begitu berjasa bagi negerinya. Oleh karena itu, pangeran masih tak bisa melupakan jasanya, sekaligus dosa besar kerajaan ini. “Ya Tuhan, Kau telah membalas dengan setimpal apa yang telah negeri ini lakukan pada Ibu Revelina.” Ia memejamkan mata sesaat, mencoba menyingkirkan bayangan itu, berusaha mengalihkan pikiran yang membuat perasaannya begitu buruk. Namun, sebelum pikirannya benar-benar tenang, suara engsel pintu terdengar. Pintu kamarnya terbuka. Seorang pelayan masuk dengan langkah sopan, membawa sebuah piring besar berisi apa yang pangeran pesan. Aroma mentega dan bawang putih langsung menguar lembut, memenuhi ruangan yang tadinya sunyi. Pelayan itu menunduk. “Yang Mulia, roti yang Anda pesan.” Ia meletakkan piring itu di meja kecil di dekat sofa tempat Alistair biasa bersantai, lalu mundur dan keluar tanpa menunggu perintah lebih lanjut. Alistair bangkit dari kursinya dan melangkah ke arah sofa. Dengan satu gerakan pelan, ia membuka penutup hidangan itu. Matanya menyipit. Roti itu… tampak familiar. Bentuknya, warna kecokelatannya, bahkan retakan kecil di permukaannya—semuanya terlihat seperti potongan dari roti yang sebelumnya ia lihat di dapur. Roti pertama. Roti yang seharusnya disajikan untuk jamuan kerajaan. “Kenapa dia menyajikan ini untukku?” gumamnya. Tak mungkin roti ini benar-benar baru dipanggang. Waktu tak cukup untuk itu. Arienne pasti telah memanipulasi waktu—mengatur alur kerja dapur sedemikian rupa agar roti itu tetap hangat, agar tampak seolah-olah baru keluar dari panggangan. Sebuah pelanggaran kecil. Namun disengaja. Sudut bibir Alistair menegang, bukan dalam senyum. Berani sekali! batinnya, tangannya mulai mengepal. Pangeran berusaha mengatur napasnya, mengendalikan diri agar amarah tak membuatnya melakukan hal bodoh. Alisnya mengerut, membuat sorot matanya semakin tajam. Saat itu, pangeran telah merencanakan hukuman yang pantas untuk gadis tidak tahu diri itu. Gadis itu harus mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan. Bukan karena roti, melainkan karena keberanian untuk melanggar titahnya. Lonceng istana berdentang—pertanda jamuan kerajaan akan segera dimulai. Aula utama mulai dipenuhi langkah kaki dan bisik-bisik para bangsawan. Pelayan bergerak cepat, namun teratur. Di tengah kesibukan itu, Arienne berdiri sedikit ke samping, mengawasi dengan mata tajam namun tetap tenang. Dialah satu-satunya yang mengatur pembagian peralatan makan dan buah-buahan segar agar diletakkan sama rata di setiap sisi meja panjang. Tak ada yang lebih bagi bangsawan berpangkat tinggi, tak ada kekurangan bagi mereka yang dianggap remeh. Semua tampak setara di tangannya. “Buat semuanya tampak rapi,” ujarnya lembut pada seorang pelayan. “Dan pastikan jaraknya sama.” Tak ada nada perintah keras, namun semua patuh. Saat itulah Alistair melintas di depan barisan pelayan. Langkahnya mantap, sorot matanya lurus ke depan. Ia melewati Arienne tanpa menoleh sedikit pun, seolah gadis itu hanyalah bagian dari dinding istana—ada, namun tak layak diperhatikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD