11. Rowan Menghadiri Perjamuan Istana

1152 Words
Kala itu, langit tampak jingga keemasan. Mentari telah terbenam di ufuk barat. Angin yang berembus dingin membuat panji kerajaan berkibar pelan. Cahaya obor mulai dinyalakan di sepanjang dinding istana, memantulkan bayangan keemasan pada batu-batu tua yang telah berdiri selama ratusan tahun. Gerbang utama terbuka lebar, menyambut para tamu yang berdatangan satu per satu dengan kereta. Suara roda besi yang beradu dengan jalan batu, derap kaki kuda, serta sapaan para penjaga menciptakan irama khas yang hanya muncul pada malam-malam perjamuan besar. Para bangsawan turun dari kereta, wajah-wajah mereka penuh senyum yang disusun rapi. Di antara kereta-kereta mewah itu, sebuah kereta sederhana berhenti tanpa banyak menarik perhatian. Tak ada lambang apa pun, tak pula ukiran emas di sisinya. Dari dalamnya turun dua pria. Yang pertama adalah seorang pria dengan jubah cokelat tua yang tampak compang-camping. Jenggot dan kumisnya dibiarkan tumbuh lebat, menutupi sebagian wajah yang menyimpan banyak pengalaman dan pengetahuan. Sorot matanya tenang, namun tajam—menatap orang-orang yang melangkah ke sana kemari. Sejak mengasingkan diri, pria tua itu tak merasa nyaman berada di antara para bangsawan. Ia adalah Rowan Vale, pria yang membuat para petani Windmer berjaya dengan ilmu pengetahuannya. Di samping Rowan adalah murid terfavoritnya, seorang petani dermawan yang memiliki lahan pertanian berhektar-hektar di Windmer. Ia jauh lebih muda, bertubuh besar, dan mengenakan pakaian indah yang terbuat dari sutra. Pria itu menatap istana dengan mata berbinar, kagum sekaligus gugup. “Sebelumnya, aku tak pernah menginjakkan kaki di sini.” Rowan terkekeh kecil. Ia melirik geli ke arah muridnya. “Percayalah, menjadi bangsawan tidak seindah bayanganmu.” Pria itu menoleh ringan pada gurunya. “Memangnya Guru sendiri pernah menjadi bangsawan?” Rowan terdiam. Wajahnya tampak termenung, bukan karena tersinggung oleh pertanyaan itu, melainkan karena ingatannya melayang ke masa lalu. “John, apa kau ingat tentang para bangsawan yang kepalanya dipenggal karena gagal memimpin negerinya?” John terdiam sejenak memikirkan hal itu. “Kupikir… kau benar juga.” Mereka melangkah bersama. Pandangan Rowan menyapu halaman istana, menara-menara tinggi, dan dinding batu yang masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Sudah bertahun-tahun ia tak kembali ke tempat ini. Kerajaan yang dulu ia layani dengan segenap jiwa dan raga kini terasa asing. Mereka masuk bersama arus tamu lain. Di dalam aula dansa, suasana telah ramai. Para bangsawan berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, berbincang sambil menikmati bir yang disajikan para pelayan. Tawa ringan terdengar di sana-sini, bercampur dengan diskusi singkat tentang cuaca, panen, dan isu-isu istana yang tak pernah benar-benar jauh dari kepentingan pribadi. Musik lembut mengalun di latar belakang, cukup untuk mengisi ruang tanpa mengganggu percakapan. Di sana, perbedaan begitu mencolok terlihat antara para guru besar dan para bangsawan. Para bangsawan mengenakan gaun-gaun sutra yang berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal. Perhiasan mereka berkilat, memantulkan cahaya seolah berlomba mencuri perhatian. Sebaliknya, para guru besar mengenakan pakaian sederhana yang terbuat dari katun putih yang mulai kusam. Beberapa dari mereka memakai selendang cokelat sebagai pelengkap. Sorot mata Rowan menajam, menatap ke arah para bangsawan yang sedang menari dengan gembira. Ia memanggil John dengan sedikit tepukan jari di lengannya. John menoleh dengan bingung. “Lihat, mereka sedang berbahagia di tengah penderitaan rakyat.” Para guru besar lainnya juga menatap pemandangan itu dengan miris. Batin mereka mulai menduga-duga adanya praktik korupsi. Para guru dan petani besar pun mulai membicarakan keganjilan yang mereka lihat. Rowan menoleh pada muridnya. “John, apa kau tahu? Gaun sutra mewah dan perhiasan yang mereka pakai itu adalah hasil dari praktik korupsi.” John terheran. Bagaimana gurunya bisa begitu yakin? “Memangnya kerajaan tidak membayar mereka dengan mahal?” tanyanya tak percaya. Rowan terkekeh kecil. Ia menjelaskan, “Saat kerajaan mengalami kegagalan panen atau krisis ekonomi, gaji para bangsawan langsung dipotong setengah.” “Beberapa tahun lalu, saat kerajaan masih berjaya, mereka digaji empat ribu koin emas setiap bulan. Namun setelah kegagalan panen pertama, gaji mereka dipotong lima puluh persen. Jadi, menurutmu, berapa gaji bangsawan saat ini?” John berpikir keras. Kerajaan telah mengalami gagal panen enam kali berturut-turut setelah penetapan hukuman mati pada Revelina. Hal itu terasa janggal—seolah kematian Revelina menjadi awal kehancuran kerajaan. “Mereka digaji enam puluh dua koin emas dan lima koin perak?” Rowan tersenyum tipis. “Benar sekali.” “Dan kau tahu berapa harga gaun-gaun mewah mereka?” “Berapa?” tanya John penasaran. Rowan mendekat ke telinga muridnya. “Enam ribu sampai delapan ribu koin emas,” bisiknya, lalu sedikit menyunggingkan senyum. John merenungkan hal itu, meski ia masih berusaha berpikir positif. “Tapi mereka bisa saja memakai pakaian lama,” bantahnya, membuat gurunya menatap datar padanya. Rowan mengalihkan pandangan ke arah seorang bangsawan wanita yang mengenakan gaun merah kirmizi—salah satu warna yang terkenal paling mahal. Ia adalah gubernur Kota Valencia, salah satu kota yang mengalami gagal panen berturut-turut seperti Valoria. “John, lihat bangsawan wanita yang memakai gaun merah kirmizi itu. Apa kau tahu berapa harganya?” John tahu betul. Ia sering berada di butik kelas atas. Harga gaun itu bisa mencapai 10.500 koin emas—seperempat dari laba hasil panen gandumnya yang sangat besar. “Itu warna keluaran terbaru dari butik kelas atas, dirancang khusus oleh desainer ternama. Harganya sekitar sepuluh ribu lima ratus koin emas.” “Seseorang dengan gaji enam puluh dua koin emas tak mungkin mampu membelinya, kecuali jika ia seorang pebisnis atau bekerja sama dengan pebisnis.” Rowan mengangguk ringan. “Nah, itu yang kumaksud.” Saat memasuki aula perjamuan, mereka menyaksikan tiga meja besar raksasa. Meja kehormatan berada di tengah, menghadap langsung ke kursi tempat raja duduk. Meja itu diperuntukkan bagi para tamu penting—guru-guru pertanian, pemilik lahan besar, dan tokoh-tokoh yang memegang peran penting dalam kehidupan pangan kerajaan. Dua meja lainnya diperuntukkan bagi para bangsawan yang hadir untuk mendengarkan hasil diskusi para guru demi memperoleh ilmu baru yang berguna bagi pemerintahan mereka. Rowan Vale dan muridnya duduk di meja tengah. Mereka memilih kursi yang terletak paling jauh dari raja—hampir di ujung meja, sesuai dengan petunjuk pada undangan. Menatap para bangsawan yang duduk di meja sebelah, Rowan merasa tak pantas berada di sana. Ia mendekat ke telinga muridnya. “Kau yakin kita duduk di sini?” bisiknya. “Iya, sesuai petunjuk undangan. Mereka memang menyuruh kita duduk di sini.” Rowan pun merasa lebih tenang. Sorot matanya menyapu ke penjuru ruangan, mengamati sekeliling dengan cermat. Tak ada yang mengenalinya. Jenggot dan kumis panjang itu telah menghapus bayangan mantan Perdana Menteri dari ingatan mereka. Nama Rowan Caelum seolah benar-benar terkubur oleh waktu. Rowan menatap para guru dan petani yang ditempatkan di meja khusus, sama seperti dirinya. Mereka adalah tokoh-tokoh utama dalam perjamuan kali ini. Jika raja-raja lain selalu mengutamakan para bangsawan dalam perjamuan kerajaan, Raja Edric justru berbeda. Ia lebih mengutamakan rakyat biasa. “Raja Edric sepertinya tetap bijak, ya? Ia selalu peduli pada rakyat miskin dan tak pernah memandang kasta.” John tersenyum. “Iya. Dia satu-satunya raja yang pernah kutemui yang tak pernah membiarkan rakyatnya kelaparan, meski berada di tengah krisis ekonomi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD