Dengan balutan busana indah, para selir berdiri di lantai atas, memandang ke arah aula tempat para tamu jamuan telah duduk rapi.
Di sisi lain, Arienne masih berada di Bangsal Selir. Ia berdiam di kamarnya, duduk di meja belajar dekat jendela, membaca buku tentang watak para bangsawan.
Sombong serta merasa lebih baik secara pendidikan.
Kata-kata itu membuat Arienne termenung. Fokusnya buyar, melayang ke hal-hal yang tidak seharusnya.
Ia teringat bagaimana cara pangeran memperlakukannya. Pria itu telah menyuruhnya memakai gaun yang menerawang.
Mungkin Arienne masih mengenakan dalaman dan kain lebar yang menutupi tubuhnya saat melangkah menuju istana. Namun, ia tak bisa menutup mata orang-orang yang melihatnya dengan pakaian seperti itu.
Beberapa orang mungkin berpikir ia tidak memakai dalaman saat itu. Hal tersebut membuat Arienne merasa jijik.
Arienne masih yakin bahwa tujuan Pangeran menyuruhnya berpakaian demikian adalah untuk mempermalukannya di hadapan banyak orang dan menjadikannya topik hangat di Bangsal Selir. Perilaku pangeran memang sangat buruk. Seumur hidupnya, Arienne tak pernah melihat pria sejahat itu.
Dentang lonceng perjamuan terdengar tiga kali, memecah riuh rendah percakapan di aula perjamuan. Musik perlahan meredup, gelas-gelas diletakkan, dan para tamu berdiri dari kursi mereka.
Raja Edric melangkah masuk dengan jubah kerajaan berwarna biru tua, dihiasi benang perak yang membentuk simbol gandum dan burung—lambang kemakmuran Valoria. Mahkota emas sederhana bertengger di kepalanya, tanpa batu permata berlebihan. Di belakangnya, beberapa pengawal kerajaan berdiri tegap, menjaga jarak.
Para tamu membungkuk hormat.
Rowan ikut menunduk, sedikit lebih rendah dari yang lain. Jenggot dan kumisnya menutupi ekspresi wajahnya, namun matanya mengamati setiap detail dengan saksama. John menunduk di sampingnya, sedikit gugup namun penuh rasa hormat.
Raja Edric tidak langsung duduk. Pandangannya menyapu seluruh aula—para bangsawan di meja samping—lalu berhenti cukup lama pada meja tengah tempat para guru besar dan petani duduk.
Senyum tipis terbit di wajahnya.
“Para tamu kehormatan Valoria,” ucap Raja Edric dengan suara jernih dan tegas, tanpa perlu ditinggikan. “Saya ucapkan terima kasih kepada semua yang telah memenuhi undangan ini, terutama para guru yang saya hormati.”
“Malam ini adalah malam di mana saya ingin mendiskusikan masalah kerajaan saya dengan kalian semua. Ini mencakup masalah pertanian dan juga perekonomian.”
Aula mendadak hening.
Raja Edric akhirnya duduk di kursi kehormatan, lalu mengangkat tangannya sedikit—isyarat agar para tamu kembali duduk.
“Sebagian besar dari kalian sudah mengetahui bahwa ladang gandum di wilayah timur dan selatan Valoria mengalami kerusakan parah. Dalam satu musim saja, hampir sepertiga hasil panen kita musnah.”
“Penyebab utamanya bukan kekeringan,” lanjut Raja Edric. “Bukan pula tanah yang rusak, melainkan kawanan belalang—dalam jumlah yang sangat besar.”
Bisik-bisik kecil terdengar di antara para guru.
“Mereka datang seperti gelombang,” lanjut Raja Edric. “Menghabiskan daun, batang, bahkan sisa jerami. Dalam dua minggu, ladang yang seharusnya siap panen berubah menjadi tanah mati.”
Seorang guru tua berjubah katun putih mengangkat tangan. Wajahnya keriput, namun sorot matanya tajam.
“Yang Mulia,” ujarnya hormat, “izinkan saya bertanya. Belalang selalu ada di ladang, tetapi populasinya biasanya terkendali. Bagaimana mungkin jumlahnya melonjak sedemikian rupa?”
Suasana seketika sunyi. Raja Edric tampak seperti sedang menyesali sesuatu.
Ia menarik napas sebelum menjawab.
“Karena rakyatku telah merusak keseimbangan alam.”
Para tamu terdiam.
“Beberapa tahun terakhir, di Kota Valoria berkembang hidangan istimewa yang terbuat dari daging burung. Katanya, makanan itu dihargai sangat mahal karena rakyat Valoria memiliki hobi berburu dan menganggapnya sebagai bentuk seni.”
“Namun kini saya telah mengeluarkan kebijakan baru berupa pelarangan perburuan liar di hutan-hutan serta menutup seluruh restoran yang memiliki kaitan dengan perburuan burung liar,” jelas Raja Edric dengan suara yang terdengar lebih lelah.
Hening.
Beberapa bangsawan menunduk—entah karena paham, entah pura-pura tidak tahu.
“Karena burung-burung itu diburu tanpa kendali, alam kini menuntut keseimbangan, dan kita yang harus membayar harganya.”
John menundukkan wajahnya. Ia teringat saran seorang guru wanita cerdas yang pernah hidup di Kerajaan Valoria. Wanita itu selalu melarang perburuan liar dan menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Ia merasa bahwa apa yang terjadi sekarang adalah hukuman bagi Kerajaan Valoria karena telah menghukum mati seseorang yang tidak berdosa.
Raja melanjutkan, “Belalang sudah terlanjur berkembang pesat. Karena itulah aku mengundang para ahli malam ini untuk membantuku menyelesaikan masalah ini.”
Ia berhenti sejenak, tampak termenung atas kebodohannya dalam mengelola pertanian.
Minggu lalu, ia pergi ke Desa Windmer. Ia memperhatikan ladang gandum yang sehat dan subur milik John Granger, petani besar yang terkenal dermawan.
Raja Edric telah berbincang dengan pemilik ladang tersebut, dan John menjelaskan bahwa semua itu berkat gurunya, Hendrick Williams.
“Apakah Guru Besar Hendrick dari Windmer juga menghadiri perjamuan ini?” tanya Raja Edric lantang.
John refleks menoleh ke arah Rowan. Matanya membulat.
Beberapa guru lain ikut menoleh. Ada yang berbisik pelan.
Rowan menghela napas perlahan. Nama itu adalah nama samaran—untung John tidak menyebutkan nama aslinya saat itu.
Ia berdiri dari kursinya. “Saya hadir, Baginda.”
Raja tersenyum lega. “Syukurlah. Silakan duduk kembali.”
Aula kembali sunyi.
“Aku telah mendengar bagaimana Windmer bertahan di tengah enam kali gagal panen di wilayah lain. Ceritakan pada kami, Guru Hendrick, bagaimana kau melindungi ladangmu dari hama.”
Rowan tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Di Windmer, kami rutin menyemprotkan tanaman gandum dengan pestisida alami dari ekstrak daun mimba, bawang putih, atau tembakau.”
Ia melanjutkan, “Selain itu, kami juga rutin memantau ladang. Jika terjadi serangan hama besar-besaran, kami akan menangkapnya secara massal.”
“Untuk mencegah serangan tersebut, kami menanam gandum secara selang-seling dengan tanaman beraroma tajam, seperti bunga lavender dan marigold. Belalang tidak menyukainya.”
Raja Edric merenungkan hal itu. Ia telah melakukan semua cara tersebut, namun tetap tidak ampuh karena populasi burung telah menghilang.
“Guru, sebenarnya saya juga telah melakukan semua itu, tetapi tetap tidak berhasil. Populasi belalang terlalu banyak dan tidak terkendali di persawahan kami,” jelas Raja Edric.
“Maaf, Baginda,” jawab Rowan tenang, “sebenarnya kami tidak hanya melakukan itu. Kami juga menternakkan burung-burung pemakan serangga seperti burung jalak dan burung cendet, lalu melatihnya untuk memangsa hama di ladang.”
Raja Edric akhirnya memahami perbedaan cara bertani di Valoria dan di Windmer.
Sekretaris kerajaan yang berdiri di samping Rowan segera mencatat semuanya. Beberapa guru lain juga melakukan hal yang sama.
Raja bertepuk tangan. Para tamu di aula perjamuan pun ikut bertepuk tangan. Raja tampak begitu kagum dengan cara Guru Hendrick merawat ladangnya—sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.
“Aku pikir kau sangat hebat dalam menjaga tanaman, Guru Hendrick. Dahulu, kerajaan kami adalah produsen pangan terbesar di seluruh negeri.”
“Namun karena kesalahan masyarakat kami sendiri, semuanya menjadi rusak. Aku rasa aku masih kurang tegas dalam memimpin negeri ini.”
Pandangan Raja menurun, raut wajahnya tampak menyimpan kesedihan mendalam.
“Jadi… maukah kau menjadi Menteri Pertanian kami?”
Tawaran itu seakan menggantung di udara. Rowan tidak langsung menerima ataupun menolaknya.