Rowan menundukkan wajahnya, menampilkan raut seolah diliputi keraguan. Ia menghela napas singkat.
“Maafkan saya, Baginda..."
"Saya tidak bisa menerima jabatan itu.”
Dada Raja Edric seketika memanas mendengarnya. Itu bukan pertama kalinya ia ditolak oleh orang-orang yang ahli di bidangnya.
“Baiklah jika begitu. Tapi, bolehkah aku tahu alasannya?”
“Usia saya tak lagi muda, dan saya berpikir saya harus beristirahat di sisa umur ini setelah sekian lama mengabdi pada ilmu pengetahuan.
Saya lebih memilih untuk mengabdikan hidup saya kepada Tuhan dengan memberi makan rakyat miskin. Saya pikir saya tidak membutuhkan apa pun lagi selain itu.”
Raja Edric terdiam cukup lama. Ia tersenyum, lalu mengangguk perlahan—memaksa dirinya menerima kenyataan itu.
“Aku menyukai kebaikan hatimu, Guru,” katanya lirih. “Dan aku tidak akan memaksamu.”
Senyum Raja memudar, sorot matanya meredup, seakan tak mampu menyembunyikan rasa gelisah yang telah mengiris perasaan dan harapannya.
Sebagai perdana menteri yang telah bertahun-tahun bekerja dengan Raja, Rowan bisa mengerti apa yang Raja Edric rasakan di posisi seperti itu. Rowan tidak benar-benar membunuh harapan Raja pada negerinya.
“Baginda…”
“Maafkan saya, mungkin saya tidak bisa. Tapi salah satu murid saya bisa menerima jabatan itu.”
John langsung menatap gurunya. Ia takut jika dirinya yang akan ditunjuk.
Pria itu berbisik, “Guru, tolong jangan aku.”
Sayangnya, Rowan tidak menanggapi apa pun. Perilakunya itu membuat John berkeringat dingin karena ia tidak begitu ahli dalam pertanian, walau ia adalah salah satu murid Rowan.
Raja Edric menatap dengan mata berbinar.
“Salah satu muridmu?”
“Benar, Yang Mulia. Salah satu muridku yang paling berbakat.”
Akhirnya John bisa bernapas lega karena ia tahu Rowan tak pernah menganggapnya sebagai orang yang berbakat.
Rowan melanjutkan, “Akhir-akhir ini, kudengar muridku itu dibawa paksa ke istana untuk dijadikan selir Putra Mahkota.
Sungguh, ilmu pengetahuannya tidak kalah luas dari saya. Ia juga belajar bukan hanya dari saya, tetapi dari banyak guru pertanian lain, guru perekonomian, hingga guru pengetahuan alam. Dialah yang membantu saya hingga ladang Windmer mampu bertahan di tengah serangan berbagai hama.”
Tak disangka, orang berbakat itu ternyata selir milik Putra Mahkota. Senyum tipis perlahan terukir di wajah Sang Raja. Namun ia merasa aneh—bagaimana seorang gadis desa bisa belajar dengan banyak guru?
“Eh…”
“Bisakah kau memberi tahuku siapa nama selir itu?”
Rowan menyunggingkan senyum tipis. Ia berkata jelas,
“Arienne Vale. Ia gadis yang sangat berbakat.”
Mendengar nama itu, raut wajah Sang Raja berubah. Tatapannya sejenak mengabur, seolah ingatannya ditarik ke masa lalu. Ia teringat sosok bayi mungil di pangkuan Lady Revelina yang ia beri nama Arienne Caelum.
Hanya sedikit dari keluarganya yang mengetahui nama gadis itu, karena Lady Revelina meminta Raja untuk merahasiakan identitas bayi perempuan itu agar tidak dibunuh seperti saudara laki-lakinya.
“Oh… Arienne…” gumamnya pelan.
Tanpa menunda lagi, Raja Edric mengangkat tangannya.
“Pelayan.”
Seorang pelayan istana segera mendekat dan membungkuk.
“Apa perintah-Mu, Yang Mulia?”
“Pergilah ke bangsal selir,” titah Raja Edric. “Panggil Selir Arienne Vale dan bawa gadis itu ke mari sekarang juga.”
Pelayan itu tampak sedikit terkejut, namun segera mengangguk.
“Baik, Yang Mulia.”
Di bangsal selir, Arienne masih duduk di kursi dekat jendela kamarnya. Buku terbuka di atas meja, namun pandangannya tertuju pada bulan purnama yang menggantung tenang di langit. Cahaya itu menyelinap masuk dengan sinar lembut.
Rembulan adalah satu-satunya teman baginya saat ia sendiri. Bahkan, terkadang ia merasa ruh ibunya juga telah menjadi bagian dari cahaya rembulan.
“Bu, andai saja kau berada di sini dan memelukku dengan hangat. Mungkin aku tak akan merasa kesepian.”
Setiap detik, pikirannya seakan beradu dengan dirinya sendiri. Ia bahkan tak pernah tahu kapan kebahagiaan sejati akan menjemputnya.
Arienne mulai memfokuskan kembali pikirannya pada buku yang ia baca. Entah kenapa, dari banyaknya ilmu di dunia ini, sekarang ia justru tertarik pada cara manusia berpikir dan merasakan sesuatu.
Ia pikir mungkin saja ilmu itu bisa menyelamatkannya dari intrik licik orang-orang yang menganggapnya sebagai pesaing. Ia menghela napas, mencoba menenangkan dadanya yang terasa gelisah.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan itu membuatnya menoleh. Ia menghela napas ringan.
“Siapa?” tanyanya.
“Pelayan istana,” jawab suara di balik pintu.
Entah kenapa, Arienne merasa ada yang tak biasa. Ia bangkit berdiri, jantungnya mulai berdegup tak karuan.
Dengan perlahan, ia membuka pintu.
“Ada apa?”
Pelayan itu menunduk hormat.
“Salam, Selir Arienne.
Aku mendapat perintah dari Baginda Raja. Engkau diperintahkan untuk menghadap-Nya sekarang di aula perjamuan.”
Alis Arienne mengerut, tatapannya menajam—seolah tak percaya.
“Kau jangan pernah bermain-main denganku.”
Pelayan itu menggeleng dengan raut panik.
“Tidak, Selir. Sungguh, aku tidak berani bermain-main dengan perintah Raja. Aku serius.”
Arienne tetap merasa aneh.
“Bukankah Raja sedang melakukan perjamuan dengan orang-orang penting?”
“Benar, Selir. Tapi aku tidak tahu mengapa Baginda tiba-tiba memintaku membawa engkau ke aula perjamuan.”
Arienne terdiam cukup lama. Perintah itu sangat tak masuk akal baginya. Ia tidak ingin terjebak dalam siasat orang-orang licik.
Dari arah selatan, terdengar suara langkah seorang prajurit yang berlari ke arahnya.
“Selir, Baginda Raja telah menunggu lama. Aku harap kau tidak menyepelekan perintah Baginda Raja.”
Arienne menelan ludah. Ada keraguan yang bergejolak di benaknya. Namun ia tahu, menolak panggilan Raja bukanlah pilihan.
“Tapi kalian akan mengantarkanku ke hadapan Baginda Raja, kan?”
“Iya, kami pasti akan mengantar,” balas prajurit itu dengan suara tegas.
“Baik,” ucapnya akhirnya pelan. “Tunggu sebentar.”
Ia mengganti pakaiannya dengan cepat, mengenakan gaun sederhana yang lebih layak untuk bertemu para bangsawan tanpa perhiasan mencolok. Setelah itu, ia keluar dan menutup pintu, mengikuti pelayan dan prajurit itu menyusuri koridor istana yang panjang dan sunyi.
Saat menginjakkan kaki di aula dansa, ia melihat ruangan itu jauh lebih luas dari yang ia kira—dipenuhi pilar-pilar tinggi berlapis ukiran dan langit-langit berkubah yang memantulkan cahaya lampu kristal.
Walau ia lahir di kerajaan ini, ia tak pernah menginjakkan kaki di tempat-tempat seperti ini. Keberadaannya selalu disembunyikan dari orang-orang istana, entah mengapa. Ibunya dulu hanya menjelaskan bahwa ia ingin putrinya tetap hidup.
Pintu besar menuju aula perjamuan dibuka lebar. Rasanya tubuh Arienne mengecil di antara bangunan megah itu. Saat menginjakkan kaki ke dalam, ia merasa seluruh mata tertuju padanya.
Ia menundukkan wajah dan terus melangkah bersama pelayan istana itu.
Langkah mereka terhenti. Arienne membungkuk hormat seraya sedikit mengangkat gaunnya.
“Salam, Yang Mulia.”
“Atas gerangan apa Yang Mulia memanggil hamba ke mari?” tanyanya dengan sopan.
Raja Edric tersenyum, lalu tertawa ringan.
“Guru Besar Hendrick, apakah ini gadis yang engkau maksud?”
“Iya, Yang Mulia. Dia adalah Arienne Vale.”
Mendengar suara yang terasa tak asing itu, Arienne langsung menoleh. Ia tak menyangka bahwa guru besar yang Raja maksud adalah ayahnya sendiri.