“Apa dia benar-benar ayahku?”
Pertanyaan itu terngiang di pikiran Arienne. Letak duduk pria tua itu begitu jauh sehingga membuatnya ragu karena tak bisa menatapnya dengan jelas.
Arienne kembali melirik pria tua itu. Ia terlalu mengenal suara ayahnya—cara bicaranya yang tenang, gaya berpakaiannya yang sederhana, hingga energinya yang bisa Arienne rasakan. Nalurinya mengatakan bahwa pria itu adalah ayahnya.
Namun, mengapa Raja memanggilnya dengan sebutan Guru Besar Hendrick? Sepertinya ada sesuatu yang tidak ia ketahui di sini.
“Jadi bagaimana, Arienne? Apa kau bersedia menjadi menteri pertanian di Kerajaan Valoria?” tawar Raja tiba-tiba saat Arienne sibuk melamun, membuat gadis itu sedikit tersentak. Permintaan itu begitu aneh dan membuatnya bingung.
“Maaf, Raja. Tapi mengapa engkau tiba-tiba memintaku menjadi menteri pertanian? Hamba hanyalah seorang gadis desa dari Windmer.”
Raja Edric hanya tersenyum. Ia menatap seseorang yang ia sebut Guru Besar Hendrick itu. “Guru Hendrick telah menjelaskan padaku bahwa kau adalah muridnya yang memiliki ilmu pertanian yang sebanding dengannya. Ia juga menjelaskan bahwa kau memiliki kemampuan menjinakkan binatang, seperti burung dan hewan lainnya.”
“Oleh karena itu, aku menawarkanmu menjadi menteri pertanian karena aku percaya pada Guru Besar Hendrick dan demi masa depan Kerajaan yang lebih baik.”
“Kuharap kau mau menerima jabatan yang kutawarkan, Selir.”
Arienne sebenarnya tidak siap dengan jabatan itu. Ia tidak memiliki pengalaman di pemerintahan. Namun, di sisi lain, ia tak bisa berbohong tentang pengetahuan dan pengalamannya di bidang pertanian, karena hal itu sama saja dengan mencoreng nama ayahnya di hadapan Kerajaan.
“Tentu, Raja. Hamba tak bisa menolak keinginan Baginda Raja,” kata Arienne sambil menunduk hormat.
Senyum sang Raja seketika merekah. Raut wajahnya memancarkan kepuasan, disertai tawa kebahagiaan. Ia bertepuk tangan, lalu orang-orang mengikutinya dengan tepuk tangan yang bergema di aula istana.
Mungkin semua orang di sana berbahagia, memandang Arienne sebagai harapan baru Kerajaan. Namun, di benaknya tak tumbuh rasa bahagia sedikit pun, sebab ia tahu bahwa memiliki jabatan di Kerajaan berarti memikul tanggung jawab besar.
Raja Edric mengangkat tangannya, memberi isyarat agar tepuk tangan mereda. Ia menatap Arienne dengan sorot mata yang hangat.
“Terima kasih, Selir Arienne,” ucapnya tulus. “Keinginanku malam ini mengangkatmu sebagai menteri pertanian bukanlah keputusan kecil. Aku harap Kerajaan Valoria akan berjaya di masa depan dengan bantuanmu.”
Arienne membungkuk hormat. “Hamba harap hamba mampu menjalankan amanah Baginda dengan sebaik-baiknya.”
Raja tersenyum lembut. Ia menyukai respons yang penuh hormat itu.
“Besok pagi, datanglah ke Balairung Agung. Aku ingin mengonsultasikan masalah pertanian kami denganmu dan para pejabat lainnya.”
Jantung Arienne kembali berdegup kencang. Ia mengangguk pelan. “Baik, Yang Mulia.”
“Sekarang kau boleh meninggalkan aula perjamuan ini.”
Arienne membungkuk hormat sambil sedikit mengangkat gaunnya. “Terima kasih, Yang Mulia. Hamba pamit.”
Gadis itu lalu berbalik, melangkah pergi dengan kepala tertunduk. Ia merasakan tatapan beberapa orang masih tertuju padanya—tatapan yang seolah menghakimi.
Suara yang sangat tak asing bagi Arienne tiba-tiba memanggilnya lirih.
“Arienne.”
Langkahnya terhenti.
Ia menoleh sedikit dan melihat bahwa pria yang dipanggil Raja sebagai Guru Besar Hendrick itu memanglah ayahnya. Pria itu menyelipkan secarik kertas kecil ke tangan Arienne.
“Pergilah, Nak,” ucapnya sambil tersenyum lembut.
Tanpa mengatakan apa pun, Arienne pergi begitu saja.
Jantung Arienne masih berdetak tak karuan. Ia tak percaya ayahnya melakukan ini padanya. Padahal dahulu pria itu pernah berkata bahwa ia tak akan terlibat lagi dalam politik Kerajaan. Namun, apa yang ia lakukan sekarang? Ia justru menyeret putrinya sendiri ke dalam pusaran kekuasaan.
Aula perjamuan kini telah cukup jauh di belakangnya. Langkah Arienne terhenti. Ia menoleh ke belakang, menatap mereka yang kembali larut dalam agenda politik.
Arienne teringat secarik kertas yang diberikan ayahnya. Ia membuka lipatan kertas itu dan membacanya sambil terus melangkah, menjauhi aula dansa.
Maafkan Ayah atas apa yang Ayah lakukan hari ini. Setelah perjamuan ini berakhir, tolong temui Ayah di perpustakaan istana.
Gadis itu terhenti. Ia menghela napas singkat, matanya memutar malas. Jemarinya bergerak hendak menyobek kertas itu, namun tiba-tiba ia terhenti sebelum kertas tersebut benar-benar sobek. Ia mulai berpikir ulang.
“Aku tak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus tahu apa alasan Ayah memberiku tanggung jawab ini,” batinnya.
Ia kemudian menyimpan kertas itu. Langkahnya pun berbelok menuju perpustakaan. Lagi pula, jika ia kembali ke bangsal, para selir pasti akan mengerubunginya dan bertanya serentak tentang apa yang telah terjadi.
Saat itu, koridor lantai atas istana terasa lebih ramai daripada biasanya, dipenuhi suara, gelak tawa, dan canda para selir.
Selir Helena melangkah menyusuri koridor bersama kedua dayangnya. Gaun gelap yang membalut tubuhnya berdesir pelan, seirama dengan ketukan sepatunya di lantai marmer.
Dari balik pintu-pintu kaca tinggi di sisi koridor, ia melihat beberapa selir berdiri berjejer, bersandar pada pagar pembatas, menatap ke arah aula perjamuan di bawah sana dengan penuh rasa ingin tahu.
Sebenarnya Helena berniat melewati mereka begitu saja, namun percakapan sederhana yang terdengar membuatnya terhenti.
“Kira-kira apa alasan Baginda Raja memanggil Arienne ke aula perjamuan itu, ya?”
“Entahlah. Mungkin saja roti yang dia buat tidak enak.”
“Tidak, Miera. Raja tidak pernah memanggil sembarang orang dalam situasi sepenting itu.”
Percakapan itu cukup menusuk telinganya.
Alis Helena mengerut dan sorot matanya menajam. Dengan gerakan tetap anggun, ia berbelok mendekati para selir. Seketika, bisik-bisik yang tadi ramai berubah menjadi keheningan canggung. Beberapa selir menunduk, yang lain berpura-pura sibuk menatap aula.
Helena menatap mereka satu per satu sebelum bersuara.
“Kalian bilang apa tadi? Arienne dipanggil ke aula perjamuan?” tanyanya datar, namun nadanya mengandung tekanan.
Tanpa menunggu jawaban, Helena melangkah maju. “Minggir.”
Para selir segera berpindah. Helena menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas, mengarahkan pandangan ke aula perjamuan di bawah. Matanya menyapu setiap sudut dengan teliti—meja kehormatan, para bangsawan, para guru, bahkan jalur keluar-masuk aula.
Ia memperhatikan setiap orang dengan saksama. Namun, sosok yang ia cari tak juga ia temukan.
Helena menyipitkan mata. “Di mana Arienne? Aku tak bisa menemukannya.”
Dari belakangnya, Selir Rafaela melangkah anggun. Rambut pirangnya tergerai rapi, wajahnya tenang meski sorot matanya tajam.
“Dia sudah pergi, Selir Helena.”
Suara itu membuat Helena menoleh.
“Bagaimanapun kau mencarinya, Arienne sudah tidak ada di aula perjamuan.”
Helena berbalik perlahan, tatapannya mengeras.
“Kalau begitu… artinya kalian berbohong. Bagaimana mungkin seorang gadis desa tanpa pendidikan dipanggil ke perjamuan sepenting itu?”
Rafaela tidak mundur. Ia mengangkat dagunya sedikit. “Maaf, Selir Helena.”
“Jangan sembarangan merendahkan orang.”
Helena hendak menyela, namun Rafaela lebih dulu melanjutkan, “Permaisuri Aurelia tidak pernah mengambil sembarang gadis untuk dijadikan selir. Tidak ada satu pun wanita di bangsal selir yang tak tersentuh pendidikan.”
Keheningan kembali menyelimuti koridor.
Helena menatap Rafaela beberapa detik lebih lama, rahangnya mengeras. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia memutar tubuh dan melangkah pergi menyusuri koridor, meninggalkan para selir dalam diam yang menegang.