15. Rencana Rowan

1142 Words
Perpustakaan istana saat itu terasa lebih sunyi daripada biasanya. Hanya nyala lampu minyak yang menggantung di dinding menemani, memantulkan cahaya keemasan pada rak-rak kayu tua yang menjulang tinggi. Arienne duduk di salah satu meja panjang dekat jendela, sebuah buku terbuka di hadapannya. Namun, matanya lebih sering terpaku pada baris yang sama tanpa benar-benar membacanya. Ia menunggu. Waktu berjalan lambat. Langkah kaki pelan terdengar mendekat. Seorang wanita paruh baya, penjaga perpustakaan, berhenti di sisi meja Arienne. Wajahnya menyiratkan kekhawatiran. “Ini sudah malam, Selir,” ucapnya lirih. “Apa kau yakin akan menunggu di sini dan tidak kembali ke bangsal?” Arienne mengangkat wajahnya sedikit dan menoleh padanya. “Aku harus menunggu guruku,” jawabnya tenang. “Dia sudah membuat janji. Aku tidak bisa pergi sebelum dia datang.” Wanita itu mengangguk, lalu melangkah pergi, meninggalkan Arienne kembali dalam kesunyian. Sudah begitu lama Arienne duduk di sana, menunggu dengan tenang sambil menyibukkan diri membaca buku. Ayahnya tak kunjung datang entah mengapa. Arienne mulai gelisah; ia tak bisa semalaman berada di perpustakaan. “Aku lelah menunggu seperti ini. Jika dia tidak datang dalam beberapa waktu lagi, aku akan pergi.” Tak lama kemudian, langkah kaki kembali terdengar mendekat. Arienne tidak menoleh; ia tetap fokus pada buku yang dibacanya. Ia tahu siapa yang datang, bahkan tanpa melihatnya. Rowan duduk di kursi di sampingnya. Jarak mereka begitu dekat, namun Arienne tetap menunduk, berpura-pura tenggelam dalam buku di tangannya. Melihat hal itu, Rowan tersenyum—mengerti perasaan putrinya. “Apa kau marah padaku, Arienne?” Arienne melirik singkat, hanya sepersekian detik. “Tidak.” Nada suaranya terlalu datar untuk disebut jujur. Rowan tersenyum kecil—senyum seorang ayah yang memahami kemarahan anaknya. “Maaf,” katanya. “Karena aku, kau harus menjadi bagian dari sistem politik Kerajaan.” Tangan Arienne berhenti membalik halaman. Ia menutup buku itu dengan satu gerakan tegas, lalu menoleh menatap ayahnya. “Aku tidak bisa mengerti apa maksud Ayah yang sebenarnya,” ucapnya dingin. “Dulu Ayah pernah bilang tidak ingin terlibat dalam politik Kerajaan. Tapi apa yang Ayah lakukan sekarang? Ayah malah menghadiri perjamuan Kerajaan. Dan yang lebih parah—Ayah menawarkanku pada Raja sebagai menteri pertanian.” Napasnya sedikit memburu. “Apa Ayah sadar,” lanjutnya lirih namun menusuk, “bahwa apa yang Ayah lakukan ini benar-benar gila?” Rowan tidak langsung menjawab. Ia menatap lama wajah putrinya, membiarkan gadis itu melampiaskan semua kekesalannya. “Bukankah Ayah tahu,” suara Arienne bergetar, “aku trauma dengan segala hal yang berbau politik Kerajaan? Semua itu mengingatkanku pada kematian Ibu… kematiannya terjadi tanpa alasan yang seharusnya.” Rowan memeluk putrinya yang tak bisa menenangkan diri. Arienne menangis sesenggukan di pelukan ayahnya. “Nak, tenanglah,” ucap Rowan lembut. “Ayah melakukan ini untuk kebaikanmu. Mungkin sekarang kau tidak mengerti, tapi suatu saat kau akan mengerti.” Arienne melepaskan pelukan itu perlahan. Ia menatap mata ayahnya. “Kebaikan apa? Aku benar-benar tidak mengerti.” “Menjadi selir pangeran berarti seumur hidup berada di istana. Ayah tidak ingin ada yang semena-mena terhadapmu.” “Dengan memiliki jabatan di istana, semua orang akan lebih menghargaimu. Bahkan Raja pun tidak akan berperilaku sewenang-wenang padamu. Apa kau paham?” Gadis itu terdiam, merenungkannya, mencoba memahami maksud ayahnya. Sebelum Arienne sempat berkata apa pun, Rowan melirik sekeliling. Seorang pelayan melintas di ujung lorong rak buku, disusul dua penjaga yang bercakap pelan. Rowan menyadari sesuatu—perpustakaan tak lagi sepenuhnya aman. “Sepertinya di sini kurang nyaman. Lebih baik kita mencari udara segar.” Ia berdiri dan mengulurkan tangan. “Mari kita berjalan-jalan di taman istana.” Arienne terdiam sejenak, lalu menerima uluran tangan ayahnya. Mereka meninggalkan perpustakaan. Rembulan masih bersinar terang. Angin berembus pelan, menyelimuti taman dengan dingin yang lembut. Arienne melipat kedua tangannya, berusaha mencari kehangatan walau sedikit. Melihat itu, Rowan terkekeh pelan. Ia melepas selendang cokelat usang yang dikenakannya. “Pakai ini. Ayah tahu kau kedinginan.” Arienne mengangguk pelan. Raut wajahnya tetap datar, meski terselip sendu. “Sekarang jelaskan,” ucapnya sambil melangkah pelan dengan wajah tertunduk, “apa maksud Ayah menjadikanku seorang pejabat Kerajaan?” “Sebenarnya,” kata Rowan lirih, “Ayah hanya ingin kau tidak diperlakukan semena-mena di istana.” “Lagi pula, para pejabat Kerajaan banyak yang melakukan korupsi. Ayah masih ingin membantu rakyat Valoria. Di luar sana, banyak dari mereka yang mati kelaparan.” Langkah Arienne terhenti. Ia menghela napas singkat, matanya memutar malas. “Jadi Ayah masih memikirkan orang-orang yang jelas bukan tanggung jawab Ayah?” “Apa kau begitu egois dengan kenyamanan pribadi hingga tidak peduli pada orang lain, Nak?” timpal Rowan, suaranya menekan. Arienne tertegun. Ucapan itu membuatnya merasa seperti orang yang egois. “Oke, aku mengerti,” katanya lirih. Ia kembali melangkah, kali ini lebih cepat. “Arienne, jangan tinggalkan Ayah! Ayah belum selesai bicara denganmu!” Rowan mengejar dan meraih lengannya. Arienne menoleh tajam. “Lalu apa lagi yang ingin Ayah katakan? Aku sudah mengerti semuanya.” “Tolong jangan marah seperti itu.” “Ayah punya banyak alasan. Lupakan apa pun yang Ayah katakan dulu. Semuanya telah berubah. Kau bukan lagi gadis desa—kau adalah selir Putra Mahkota.” “Ayah lebih paham bagaimana cara bertahan di Kerajaan.” Arienne terdiam. Ia berusaha menenangkan pikirannya, menurunkan egonya, dan mempertimbangkan segalanya dengan kepala dingin. Lagipula, Kerajaan inilah yang telah merenggut nyawa ibunya. Apa salahnya jika ia mengambil kekuasaan itu ke tangannya? Dengan begitu, mungkin tak ada lagi rakyat yang menderita. Rowan melihat perubahan itu. Perlahan, ia melepaskan genggamannya. “Maaf, Ayah,” ucap Arienne lirih. “Sepertinya aku terlalu naif.” “Sekarang aku akan mendengarkan apa pun yang Ayah katakan dan menerima apa pun yang Ayah rencanakan.” “Apa Ayah memiliki ambisi tersembunyi untukku?” Kata-kata itu menggantung di udara. Rowan ingin menjawab, namun ragu. “Eh… aku—” “Apa Ayah hanya ingin aku menjadi pejabat Kerajaan,” sela Arienne tegas, “atau Ayah punya ambisi lain untukku?” Rowan terdiam. Suaranya seolah tersekat di tenggorokan. “Apakah kau benar-benar akan mendengarkan keinginanku yang sesungguhnya?” tanyanya ragu. “Iya. Aku akan mendengarkan semuanya. Bahkan jika Ayah memintaku merebut takhta Kerajaan Valoria, aku akan melakukannya.” Rowan tersenyum—tak menyangka respons putrinya sejauh ini. “Tidak,” katanya lembut. “Ayah hanya ingin kau menjadi gadis yang baik dan peduli pada orang lain.” Ia mengelus rambut Arienne dengan penuh kasih. Arienne menggeleng pelan. Ia meraih tangan ayahnya dan menggenggamnya erat. “Ayah, aku yakin Ayah punya rencana lain untukku. Katakan saja. Sekarang aku tidak akan menolaknya.” Rowan tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan putrinya. “Ayah ingin kau menarik perhatian Pangeran Alistair dan menjadi permaisuri Kerajaan Valoria.” Ia menatap Arienne dalam-dalam. “Sejak kecil, pangeran hanya menyukai wanita cerdas,” tambahnya pelan, “seperti ibumu.” Kata-kata itu menggantung di udara malam. Sejak awal, Arienne sudah menyadari—ayahnya memang menyimpan rencana lain di balik semua ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD