Pagi itu, Arienne terbangun lebih awal dari biasanya. Pandangannya tertuju pada jendela kamar yang sebagian tertutup gorden. Di sana, ia melihat langit masih ungu kebiruan. Tampaknya mentari baru mulai terbit.
Ia meraih gagang lilin penerang di meja nakas, lalu melangkah menuju meja belajarnya. Di sela-sela itu, ia melamun, teringat buku pertanian yang belum ia kembalikan ke perpustakaan.
“Apa aku harus membaca buku itu lagi, ya?”
Arienne meletakkan lilin itu di pinggiran meja, sedikit jauh dari rak buku. Ia mengambil buku pertanian yang ia letakkan di salah satu raknya.
Ia membuka buku itu perlahan. “Padahal ilmuku masih belum cukup jika harus menjadi seorang menteri.”
Gadis itu tak pernah punya alasan untuk berhenti belajar. Ia tenggelam dalam kalimat demi kalimat hingga sinar mentari mulai mampu menghangatkan seisi kota.
Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi, memantulkan kilau keemasan pada lantai marmer dan pilar-pilar megah Balairung Agung. Suasana di dalam ruangan sudah ramai oleh kehadiran para pejabat kerajaan—menteri, penasihat, dan bangsawan—yang berdiri berkelompok sambil berbisik rendah.
Arienne melangkah masuk dengan anggun namun tetap sopan—ia tak mengangkat wajahnya seperti para bangsawan lain. Gaun sederhana berwarna hijau gelap membalut tubuhnya tanpa perhiasan. Rambutnya dikepang rapi ke belakang. Tampak sederhana, namun justru itulah yang membuat kehadirannya menonjol.
Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya—sebagian tampak penasaran, sebagian tampak meremehkan.
Ia menunduk hormat ketika berdiri di hadapan singgasana. “Salam, Baginda Raja.”
Raja Edric tersenyum lembut sambil sedikit mengangguk. Saat itu, ia duduk dengan tegap, mengenakan jubah kebesaran dan mahkota kerajaan. Sorot matanya hangat, namun tajam—tatapan seorang penguasa yang terbiasa menilai sebelum benar-benar mempercayai.
“Selir Arienne,” ucap Raja, “terima kasih telah datang tepat waktu.”
“Hamba juga berterima kasih atas kepercayaan Baginda kepada saya,” jawab Arienne tenang.
Raja mengangguk, lalu memberi isyarat agar penasihat kerajaan maju. Pria dengan jenggot yang hampir memutih itu membuka gulungan dokumen dan mulai menjelaskan masalah yang tengah dihadapi Valoria.
“Nona Arienne,” ucapnya dengan suara berat namun sopan, “izinkan saya, sebagai penasihat Kerajaan, menjelaskan keadaan yang saat ini sedang membebani Kerajaan Valoria.”
“Silakan, Tuan,” ujar Arienne tenang.
Ia mengangkat pandangan, menatap Arienne sejenak sebelum kembali pada dokumen di tangannya.
“Di wilayah utara, khususnya daerah ladang gandum Eldenmoor dan Karsell, panen tahun ini mengalami kegagalan besar. Hujan yang datang tidak menentu melemahkan tanah, sementara serangan hama semakin memperparah keadaan.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas.
“Namun, musibah ini tidak sepenuhnya datang dari alam semata,” lanjutnya pelan.
“Dalam beberapa tahun terakhir, rakyat kami—terutama di kota-kota besar—memburu burung-burung secara berlebihan. Burung-burung tersebut dijadikan hidangan istimewa dengan harga tinggi di restoran-restoran mewah. Permintaan yang terus meningkat membuat perburuan berlangsung tanpa kendali.”
“Akibatnya,” ia meneruskan, suaranya sedikit menegang, “populasi burung yang selama ini menjadi predator alami belalang menurun drastis. Seketika keseimbangan alam terganggu, belalang berkembang biak tanpa penghalang.”
Ia menunduk kembali pada dokumen.
“Belalang datang berkelompok dalam jumlah yang belum pernah kami catat sebelumnya. Racun yang biasa kami gunakan tak lagi efektif. Dalam hitungan hari, ladang gandum habis dilahap, menyisakan batang-batang kering yang tak bernilai.”
“Kerugian yang kami alami tidak hanya pada hasil panen, Selir,” lanjut penasihat itu. “Persediaan gandum kerajaan menurun drastis. Jika keadaan ini terus berlanjut, Valoria terancam kekurangan pangan sebelum musim dingin tiba.”
Ia menggulung kembali dokumennya dengan tangan sedikit gemetar.
“Oleh karena itu,” katanya lirih namun tegas, “kami membutuhkan solusi yang bukan hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan. Bukan sekadar untuk menyelamatkan panen tahun ini, melainkan untuk menjaga masa depan Kerajaan.”
“Jadi, Baginda Raja meminta pandanganmu terkait masalah ini, Selir Arienne.”
Arienne mengangguk pelan dan tersenyum lembut. Ia menghadapkan wajahnya kepada Sang Raja. “Sebelumnya, aku berterima kasih atas penjelasan masalah pertanian yang telah disampaikan dengan sangat jelas.”
“Pada tahun lalu, hamba memang mendengar bahwa di Kota Valoria berkembang hidangan ikonik yang terbuat dari burung hasil buruan, yang konon dianggap sebagai bentuk ekspresi terhadap kebiasaan berburu rakyat setempat.”
“Saat mengetahui hal itu, saya yang bekerja di bidang pertanian cukup terkejut, karena kebiasaan tersebut tidak memberi manfaat dan justru berdampak besar pada keberhasilan panen kami.”
“Namun, dari masalah itulah saya akhirnya mengembangkan metode bertani yang cukup efisien. Hasilnya, panen kami tetap melimpah di tengah maraknya krisis panen yang terjadi.”
Raja Edric menghela napas pendek. Kegelisahan terukir jelas di wajahnya saat mengingat jumlah kerugian kerajaan sejak tahun kemarin. “Mungkin karena itulah Guru Besar Hendrick memilihmu, Arienne.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Jelaskan padaku, bagaimana caramu mengatasi masalah tersebut dan metode apa yang kamu maksud dalam pertanian itu?”
Arienne tersenyum lembut, cukup untuk menghangatkan suasana hati Raja.
“Metode pertanian yang kulakukan sangat jarang diterapkan oleh petani lain. Bahkan, sepertinya belum ada yang melakukannya.”
Raja menatapnya dengan semakin penasaran.
“Di Windmer, kami menternakkan burung-burung pemakan serangga dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.”
“Ketika mereka merasa nyaman, mereka akan mengajak kawan-kawannya untuk melahap serangga di ladang kami dan tinggal di tempat yang kami sediakan.”
“Jenis burung yang biasa kami ternakkan adalah burung jalak. Dengan latihan tertentu, mereka akan selalu kembali ke kandangnya setelah dilepaskan di ladang untuk memangsa belalang dan hama lain secara alami.”
Hal itu membuat Raja semakin tertarik. “Arienne, bolehkah aku tahu bagaimana caramu melatih burung-burung itu jika mereka diadopsi bukan sejak kecil? Apa mereka tidak langsung pergi saat kamu melepaskannya?”
Arienne menggeleng singkat, senyum tipisnya tetap hangat. “Tentu saja tidak, Baginda. Aku mengikat kaki mereka dengan tali yang terbuat dari kain, sehingga mereka tidak bisa pergi melebihi jarak yang telah aku tentukan. Saat mereka lelah, mereka akan kembali sendiri ke kandangnya.”
Raja terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan itu. Kekaguman terukir jelas di wajahnya. Kecerdasan gadis itu mengingatkannya pada guru wanita yang telah berjasa besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan di negerinya.
Ia bangkit dari singgasananya, sebuah tindakan yang membuat seluruh balairung kembali senyap.
“Tolong dengarkan semuanya,” ucapnya lantang. “Aku ingin metode Windmer ini diuji di wilayah utara. Kita akan mulai dari satu distrik. Menteri pertanian baru kita yang akan mengatur semuanya.”
Raja tersenyum puas, lalu melangkah mendekati Arienne dengan wibawa yang membuat seluruh balairung menahan napas. “Selamat, Arienne,” ucapnya dengan suara hangat namun tegas.
Ia mengulurkan tangannya, dan setelah sesaat ragu, Arienne menyambutnya dengan hormat.
“Dengan pengetahuan dan kebijaksanaanmu, aku mengangkatmu sebagai Menteri Pertanian Kerajaan Valoria.”
Tepuk tangan meriah menggema di aula balairung. Itu pertama kalinya Arienne merasa idenya dirayakan oleh orang-orang yang paling berpengaruh di Valoria.
Gadis itu tidak menyadari, ada sepasang mata lain yang sejak tadi mengamatinya dengan perasaan campur aduk.
Di sana, Pangeran Alistair berdiri kaku, ikut bertepuk tangan bersama para pejabat lain. Setiap kata Raja terasa seperti tamparan halus atas penilaiannya terhadap Arienne sebelum semua ini terjadi.
Gadis yang ia anggap tak lebih dari perempuan desa biasa ternyata adalah tokoh di balik alasan mengapa lumbung kerajaan tidak sampai kosong. Kegelisahan menyelinap di dadanya—bukan hanya karena harga dirinya terusik, tetapi juga karena ia merasa bersalah telah meremehkan seorang perempuan yang begitu cerdas.