22. Pengungkapan Perasaan

1156 Words
Pria itu menghela napas, berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Arienne…” ucapnya lembut. “Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaanmu.” Arienne tak terpengaruh sedikit pun dengan kalimat lembutnya itu. Tangan Alistair masih menggenggam tangannya begitu kuat. Alistair tak menyadarinya, walau Arienne sedang kesakitan. “Lepaskan tanganmu... Itu sangat sakit.” Dengan spontan, Alistair melepaskan genggaman itu. Ia menunduk dengan rasa bersalah. “Maaf, aku tidak menyadarinya.” Maire tiba-tiba berkata, “Kemarilah, Nak. Akan kuberitahu apa yang terjadi padanya.” “Katakanlah, Nek. Tidak perlu berbisik-bisik. Biar dia juga mendengarkannya,” katanya sembari melirik tajam pada Arienne. “Aku benar-benar lelah. Gadis itu selalu menyembunyikan segalanya dariku.” Maire mengangguk, ia mengerti. “Ya sudah, kalau begitu. Nenek akan menjelaskannya di sini.” “Jelaskan, Nek,” katanya sembari menatap Arienne. “Tadi Arienne menangis karena rindu pada ibunya,” jelas Maire. “Kurasa campuran mentega dan gula itulah yang membuat dia teringat pada masa lalunya.” Darah yang mengalir di jantung Arienne seakan memanas—berdetak cepat saat mendengar kalimat itu. Maire menoleh pada gadis itu. Arienne tak lagi menutup wajahnya. “Apa benar begitu, Arienne?” Ia mengangguk, walau raut wajahnya tampak gelisah. “Iya, benar.” Arienne menghela napas, ia hanya bisa pasrah atas semuanya. Matanya yang tampak merah dan bengkak membuat Alistair percaya. “Oh, jadi kau rindu dengan ibumu?” Gadis itu mengangguk. Alistair perlahan menunduk, seolah merasa bersalah. Ia mulai mengerti apa yang dirasakan gadis itu. “Di mana makam ibumu itu?” tanyanya serius. “Kita akan pergi ke sana setelah menghabiskan kukis cokelat buatan Nenek.” Arienne perlahan memalingkan wajah. Kepanikan menyelinap di rautnya. Jangankan makam ibunya, bahkan tulangnya pun telah dimakan anjing-anjing liar. “Tapi... Ibuku tidak meninggal. Dia cerai dengan ayahku.” Sorot mata pangeran meredup, ia menunduk. Ada jeda canggung di antara mereka, seolah kata-katanya sendiri barusan melukai lebih dalam dari yang ia duga. “Maaf,” katanya penuh penyesalan. “Aku terlalu cepat menyimpulkan.” Bibir Arienne terangkat tipis—tampak canggung. “Tidak apa-apa, Pangeran.” “Aku bisa mengerti.” Detak waktu berjalan pelan, menciptakan rasa yang sama-sama enggan menatap. Maire melangkah mendekat. Gerakannya memutus keheningan di antara mereka. Ia tiba-tiba melepas celemek yang Arienne kenakan. Wajah tuanya dihiasi senyum kecil yang hangat. Setelah celemek itu terlepas, tanpa rasa bersalah ia memakainya di tubuhnya sendiri. “Kalian berdua pergi ke ruang tamu saja,” ujarnya ringan. “Duduklah dan mengobrol dengan tenang. Biar Nenek yang membuatkan kukis cokelat itu.” Arienne tampak ragu sejenak, sementara Alistair menoleh pada Maire dengan raut sedikit lesu. “Tapi... tadi Nenek meminta Arienne untuk membantu,” ucapnya. Maire terkekeh pelan. “Iya, itu tadi. Karena tanganku sempat sulit digerakkan.” “Biasa. Orang yang sudah tua sering kali menderita hal seperti ini.” Senyumnya kembali mengembang. “Tapi sekarang tidak apa-apa.” “Lihat ini,” katanya bangga. Perlahan, Maire menggerakkan jemarinya dengan lincah, bahkan memutarnya sedikit di udara. Arienne akhirnya tersenyum kecil. Kecanggungannya perlahan mencair. Alistair menghela napas lega, ia tampak menahan tawa. “Oh... begitu.” “Baiklah. Aku dan Arienne akan menunggu di ruang tamu.” Tanpa menunggu pendapat gadis itu, Alistair meraih tangan Arienne dan membawanya pergi. Sentuhan itu lembut, namun cukup tegas untuk membuat Arienne menurut. Gadis itu sempat menoleh ke arah Maire, padahal ia masih ingin menceritakan banyak hal padanya. Namun Arienne seakan tak bisa menghentikan genggaman tangan Alistair. Hasrat itu seolah tertahan di bibirnya. Duduk di ruang tamu dengan perasaan yang seolah hampa, Arienne sedang memikirkan cara untuk berbincang berdua dengan neneknya tanpa memberi kecurigaan terhadap Alistair. Di sampingnya, saat itu Alistair masih sibuk membaca buku. Arienne tidak mengerti mengapa pria itu seakan tak pernah bisa jauh dari buku. Dia benar-benar seorang kutu buku. Arienne kembali menunduk. Sebuah alasan terlintas di benaknya—cukup masuk akal untuk memberinya kesempatan menemui neneknya. “Pangeran, aku ingin air putih. Aku akan—” “Sebentar, biar aku ambilkan,” tukas Alistair. Dengan penuh inisiatif, pria itu langsung beranjak, melangkah menuju dapur. Hal itu membuat Arienne seketika cemberut. Ia berdecak kesal, lalu menyilangkan kedua tangannya. Di lain itu, Arienne juga heran. Padahal di desanya, orang-orang selalu menggambarkan Pangeran Alistair sebagai sosok dingin, nyaris tak berperasaan. Namun entah mengapa, semenjak dirinya diangkat menjadi Menteri Pertanian, seketika sifat Pangeran Alistair berubah. Ia menjadi lebih lembut dan perhatian, bahkan untuk sekadar menginginkan air putih. Saat mendengar derap kakinya, Arienne dengan spontan menoleh. Pria itu benar-benar membawa segelas air putih untuknya. Alistair berdiri di hadapannya dan menyodorkan gelas itu. Tatapan mereka bertemu. Arienne menatapnya seolah tak percaya jika pangeran benar-benar melakukannya. Laki-laki itu tampak bingung dengan tatapannya. “Ada apa, Arienne?” Ia terkekeh pelan. “Ini, ambillah. Tadi kau yang memintanya, bukan?” Arienne meraih gelas itu. “Iya,” ucapnya. “Terima kasih.” Ia meneguk air tersebut. Namun, ia masih merasa aneh dengan perubahan sifatnya yang begitu drastis. Menghela napas singkat, gadis itu menatapnya yang telah duduk di kursi dan kembali membaca buku. “Aku tidak mengerti, Pangeran. Mengapa sifatmu tiba-tiba sangat perhatian padaku setelah berada di rumah Maire?” “Kau mencari perhatian Nenek Maire, ya?” Pria itu menggeleng pelan, lalu tersenyum manis. Sorot matanya memandang Arienne dengan penuh arti. “Kau tahu, mengapa?” Gadis itu tampak bingung, ia menggeleng. Alistair tersenyum manis dengan tatapan sayunya itu. “Karena jujur saja, aku telah jatuh cinta padamu, Arienne.” Tak bisa percaya dengan ucapannya itu, Arienne mengernyitkan mata. “Kau sangat aneh, Pangeran.” “Aku tidak bisa percaya padamu.” Bukannya terdiam, Alistair malah tertawa. Tawa itu hampir tak terdengar, tapi cukup membuat Arienne menatap sinis padanya. “Kau senang bermain-main dengan perasaan perempuan, ya?” tanya Arienne dengan sorot tajamnya itu. Sorot mata Alistair tak teralihkan dari gadis itu. “Aku tidak pernah mempermainkan perasaan perempuan, Arienne,” ujarnya. “Aku—” “Kau hanya menyukai perempuan cerdas, bukan?” sela Arienne. Pria itu mengalihkan tatapannya sembari tersenyum. “Iya, benar. Kau tidak salah,” ujarnya pelan. “Tapi aku tidak semudah itu untuk jatuh cinta, Arienne.” Arienne masih tak percaya. “Benarkah?” Tanpa pikir panjang, Alistair menjawab, “Iya, benar.” “Bukannya kau hanya cinta pada Helena?” Kepanikan seketika terukir di wajah pria itu. Sorot matanya menari ke sana ke mari seakan mencari sesuatu. Alistair masih teringat dengan apa yang dirinya katakan pada gadis itu saat di kandang kuda. “Iya, aku mencintai Helena dan juga kamu, Arienne.” Arienne hanya menatap sinis. Seketika, keheningan menyelimuti mereka berdua. Alistair merasa begitu tak nyaman. Ia tersenyum malu sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia benar-benar bingung harus mengatakan apa padanya. Gadis itu menunjukkan pandangan. Rautnya seakan gelisah. Hal itu membuat Alistair merasa bersalah. “Wanitamu memang banyak.” Raut gadis itu tampak lesu. “Kau pantas mencintai semuanya, Pangeran.” “Aku ingin buang air kecil. Aku temui nenek dulu.” Arienne kemudian beranjak, langkahnya menuju dapur, meninggalkan Alistair sendirian di ruangan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD