23. Keinginan Nanti Malam

1161 Words
Arienne melangkah masuk ke dapur dengan wajah tertunduk lesu. Pandangannya jatuh pada Maire. Dari belakang, wanita tua itu tampak sibuk. Gadis itu mendekat. Kini ia berada di samping Maire. Neneknya itu tengah membulatkan adonan kukis dengan sabar, menatanya rapi ke dalam loyang. Raut wajah Arienne begitu lesu. Darah di tubuhnya seakan memanas—membuatnya tampak lemas. “Nenek,” panggilnya. Maire menoleh dengan gerakan tenang, senyum tipis terukir di wajah tuanya. “Ada apa, Arienne?” “Aku sudah lama tidak bertemu dengan Nenek,” ujarnya lirih. “Aku ingin menceritakan banyak hal aneh yang baru saja kualami.” Maire mengangguk seolah sudah menduga. Ia mengangkat loyang yang telah terisi penuh, lalu memasukkannya ke dalam oven. “Ceritakanlah, Arienne. Aku akan mendengarkanmu.” Ari menghela napas panjang, wajahnya sedikit bercemberut lesu. “Raja telah mengangkatku sebagai Menteri Pertanian.” Maire yang tengah sibuk di meja dapur seketika menoleh. Gerakannya berhenti, matanya membulat penuh takjub. “Sungguh? Kau telah diangkat menjadi Menteri Pertanian?” Dengan panik, Arienne mengangkat telunjuk ke bibir, memberi isyarat agar Maire merendahkan suara. “Nek,” ucapnya dengan nada rendah, nyaris berbisik, “tolong jangan terlalu kencang. Dia bisa mendengarnya.” Maire segera mengangguk, senyumnya melebar meski suaranya kini tertahan. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan di wajah tuanya. “Maaf, Sayang.” Tangannya kembali bekerja, membulatkan adonan kukis dengan sabar, menatanya satu per satu ke dalam loyang. “Nenek ingin tahu,” lanjutnya pelan, “bagaimana caramu bisa menjadi Menteri Pertanian di Kerajaan?” Arienne menyandarkan pinggulnya ke meja, menarik napas sebelum menjawab. “Ini semua karena Ayah, Nek. Ia tiba-tiba muncul di perjamuan kerajaan. Entah bagaimana caranya, ia bisa meyakinkan Raja.” Ia tersenyum kecut. “Saat itu aku sedang membaca buku di kamar, tiba-tiba seorang pelayan mengetuk pintu. Aku pun segera membukanya. Dia mengatakan padaku jika aku harus segera menemui Raja Edric di saat itu juga.” Arienne terkekeh pelan, ia teringat dengan perasaan tak percayanya saat itu. “Padahal Raja saat itu masih di aula perjamuan.” Ia terdiam sejenak, mengingat kembali keramaian aula, sorot mata orang-orang yang menilainya. “Aku dilantik langsung di tengah acara perjamuan itu. Bahkan, tanpa dipersilakan untuk duduk.” Sembari terus melakukan pekerjaannya, Maire bertanya, “Jadi, apa yang bermasalah untuk itu? Bukannya bagus jika punya jabatan di istana?” Arienne menggeleng. “Tidak, itu tidak bagus. Aku tidak punya pengalaman untuk itu.” “Bagaimana jika kerajaan nanti malah rugi besar karena aku?” Maire tersenyum penuh pengertian. Tangannya tetap lincah, adonan-adonan itu tersusun rapi. “Kau adalah gadis yang cerdas, Arienne. Aku yakin itu tak akan terjadi,” katanya lembut. “Dan menurutku, Ayahmu itu cerdas. Ia bisa memberimu jabatan agar orang-orang di kerajaan tidak berani menyepelekanmu.” Arienne terdiam, mencerna kata-kata itu. Di dapur yang hangat, di antara aroma adonan kukis, kegelisahannya perlahan mereda—digantikan keyakinan kecil bahwa ia tak sendirian melangkah ke dunia politik kerajaan. Terdiam di ruang tamu, melamun. Alistair memperhatikan ke luar jendela, menatap rumput yang bergoyang terkena angin. Sudah lama ia menunggu Arienne, tetapi gadis itu tak kunjung kembali. Alistair tampak semakin gelisah. Ia tak tahan lagi duduk di sana. “Apa jangan-jangan dia membuat alasan untuk kabur, ya?” gumamnya dalam hati. “Lagi pula gadis itu selalu tampak tak suka denganku.” Rasa takut kehilangan membuatnya beranjak. Langkahnya menuju ruang tamu, dengan harapan Arienne masih tak jauh dari sini. Namun begitu tiba, ternyata Arienne hanya sedang berbincang dengan Maire. Gadis itu seketika menoleh padanya. Ada perasaan lega sekaligus juga getir. Dia teringat dengan apa yang dikatakan Arienne. “Sepertinya kau terlalu sensitif.” Mungkin apa yang dia katakan memang benar, dirinya terlalu sensitif. Tanpa mengucapkan apa pun, Alistair pergi, kembali ke ruang tamu. Melihatnya begitu, Arienne menjadi khawatir ia akan marah. “Nek, aku ingin ke Alistair dulu.” Tanpa menunggu tanggapan apa pun, Arienne beranjak meninggalkannya. Gadis itu berlari kecil ke arah ruang tamu. Ia melihat Alistair telah duduk di sana dan kembali membaca buku. Tiba-tiba, pandangan Alistair beralih pada Arienne. Gadis itu memandangnya dengan tatapan polos. “Kenapa kau ke mari, Arienne? Berbincanglah dengan nenekku, selagi kau berada di sini,” ucapnya datar, lalu kembali menurunkan pandangan pada buku di tangannya. Arienne terdiam sejenak. “Maaf,” katanya pelan. “Kupikir tadi kau sedang membutuhkanku.” Ia pun berbalik, melangkah kembali ke dapur. Mendengar itu, tiba-tiba Alistair terpikirkan sesuatu. “Tunggu!” Gadis itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh. “Iya, aku memang membutuhkanmu. Ke marilah.” Arienne mendekat, ia duduk di sisi Alistair. Saat mencoba mengangkat pandangan, ia melihat sorot mata pria itu memperhatikan matanya. Seketika Arienne mengalihkan pandangan. Rasa canggung menyelimuti dirinya. “Kau... butuh apa denganku?” Sudut bibir pria itu perlahan terangkat. “Aku mungkin membutuhkanmu, tapi tidak sekarang.” Arienne mulai merasa aneh. “Lalu kapan?” “Nanti malam.” Perlahan, Alistair tiba-tiba meraih tangannya. Dengan sentuhan hangat, ibu jarinya mengusap punggung tangan Arienne dengan gerakan lembut yang membuatnya menegang. “Apa kau bisa melakukannya?” tanya Alistair lirih. Arienne menelan ludah. Perlahan, ia mulai memahami arah pembicaraan itu, dan dadanya terasa sesak oleh perasaan yang sulit dijelaskan. “Melakukan apa maksudmu?” Ia menatap Alistair, mencoba mencari kejelasan. “Aku tidak mengerti.” Dari sorot mata gadis itu, Alistair tahu—jika ia mengatakannya, Arienne mungkin semakin tak nyaman dengannya. Ia menghela napas singkat, lalu menyunggingkan senyum manis. “Nanti di kota ada pasar malam,” ucapnya akhirnya, lebih tenang. “Kita jalan-jalan, membeli makanan. Setelah itu… menginap di hotel. Bagaimana?” Arienne menatap Alistair beberapa detik, seolah menimbang perasaannya sendiri. Lalu senyum tipis terukir di wajahnya. “Aku akan selalu menemanimu, Yang Mulia.” Senyum Arienne begitu manis, hingga Alistair tak bisa menyembunyikan ekspresinya. Ia memalingkan wajahnya, berusaha menahan ekspresinya agar tidak tampak terlalu berlebihan. “Sebenarnya aku juga ingin mengatakan padamu.” Pria itu berusaha mengatur napasnya agar lebih tenang. “Aku sering melihatmu di perpustakaan istana. Kau suka membaca buku juga, kan?” “Benar, Pangeran,” jawab Arienne tenang. “Aku suka membaca buku.” Pandangan mata pria itu begitu dalam pada Arienne. “Nanti akan kubelikan banyak buku,” ucapnya. “Akan kubelikan buku-buku yang tidak ada di perpustakaan istana untukmu.” Aroma manis tiba-tiba menyusup ke ruang tamu. Maire muncul dari arah dapur sambil membawa sebuah nampan. Di atasnya terletak teko susuu hangat, beberapa cangkir kecil, dan sepiring kukis yang baru matang. “Kukis cokelatnya sudah jadi,” katanya dengan senyum yang menghangatkan suasana. Wanita tua itu meletakkannya di atas meja. Kukis cokelat itu tampak menggoda, permukaannya sedikit retak dengan lelehan cokelat di beberapa bagian. Maire menuangkan susuu ke dalam cangkir. “Tidak perlu repot-repot, Nenek. Biar aku saja.” Dia lalu menuangkan susuu untuk Arienne. “Kau tahu, Nek? Sebelum sampai ke mari, Arienne marah-marah kepadaku karena lapar.” Alistair melirik Arienne seakan meledeknya. “Oleh karena itu, aku memintamu untuk membuatkan kukis agar dia tidak kelaparan lagi.” Dahi Arienne mengerut. “Tidak, Nek. Dia menuduhku! Padahal aku sama sekali tidak marah padanya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD