Di atas punggung kuda, Arienne duduk di hadapan Alistair dengan berpegangan erat pada pelana, sementara pria itu di belakangnya mengendalikan laju kuda.
Langit saat itu mulai meredup. Surai kuda berkilau tertimpa cahaya senja, langkahnya tenang menyusuri jalan tanah yang perlahan berubah menjadi jalur berbatu menuju kota.
Angin sore berembus lembut, membawa aroma rumput kering dan tanah hangat, namun Arienne sama sekali tak menikmatinya.
Wajah gadis itu terus cemberut sejak meninggalkan rumah Maire. Ia bahkan tak mengucap sepatah apa pun pada Alistair sedari duduk di atas Kuda.
Alistair menatap padanya. Walau ia tak bisa memandang wajahnya, tetapi ia bisa merasakan perasaan gadis itu.
"Apa kau masih marah padaku, Arienne?"
Perempuan itu berdecak sebal. "Menurutmu, bagaimana?" Gadis itu menghela nafas, berusaha menurunkan emosinya. "Bukankah aku tadi sudah bilang padamu agar menyisakannya untuk nenek?"
"Tapi, menurutku dia tidak menyukai kukis coklat. Makanya dia memberikan semuanya untuk kita," balas Alistair begitu saja. Ia tak berpikir yang aneh-aneh tentang Arienne. Hanya saja bingung, mengapa dia tampak begitu marah?
Namun, Arienne terdiam. Mungkin, ia masih mengenang apa yang terjadi di masa lalu—neneknya sangat menyukai kukis coklat, hingga ia merelakan banyak waktu di dapur hanya demi menciptakan kukis coklat yang sempurna itu. Tapi di lain sisi, ia tidak boleh menjelaskannya karena amanah ayahnya untuk selalu menyembunyikan identitas dari orang-orang kerajaan.
Entah mengapa perasaannya seakan gelisah, rasanya ia tak punya semangat untuk menjelaskan apa pun.
"Kau... benar," kata gadis itu akhirnya. "Aku minta maaf."
Alistair malah terkekeh pelan. "Untuk apa meminta maaf, Arienne?" katanya terdengar lembut. "Bahkan jika kau tidak marah lagi padaku, aku akan sangat bersyukur."
Tanggapan itu membuat Arienne merasa berharga. Namun, di lain itu ia merasa seakan bersalah.
Gadis itu menoleh ke belakang. "Apa menurutmu aku selalu mencari-cari masalah?"
Sudut bibir Alistair mengembang tipis. "Eum..." Dia seakan bingung. "Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya."
"Biar kutanya balik," ucapnya. "Menurutmu, kau ini suka mencari masalah atau tidak?"
Arienne menundukkan pandangan, ia menyadari jika itu mungkin cara Pangeran untuk mengenalnya lebih dalam.
"Tolong jangan memperbalikan pertanyaan. Jawab saja yang aku tanyakan."
Nada bicara Arienne sangat datar, membuat Alistair mulai mengerti sifat asli gadis itu.
"Kita baru kenal kemarin. Jika aku menjawabnya, aku yakin pasti akan salah."
Arienne terkekeh singkat. "Itu artinya... menurutmu aku suka mencari masalah, bukan?"
Pria itu tertawa pelan, ia seakan tak percaya Arienne mengatakannya. "Selain cerdas, kau ternyata bisa baca pikiran juga, ya, Arienne?"
Tidak.” Arienne menggeleng ringan. “Aku bukan pembaca pikiran, dan aku juga tidak menyukai ilmu-ilmu semacam itu.”
Jawaban itu membuat Alistair mengernyit samar. Baginya, itu terdengar aneh. “Kenapa?” tanyanya. “Menurutku, itu bukan ilmu hitam.”
"Aku tidak peduli dengan ilmu hitam. Hanya saja, aku tidak suka dibaca seperti itu."
Dari kejauhan, mentari tampak hampir sepenuhnya tenggelam, meninggalkan langit berbalut jingga kemerahan yang perlahan memudar.
Arienne mulai merasakan ada sesuatu yang tak beres. Langkah kuda itu terlampau pelan, seolah sengaja ditahan.
Perasaan itu membuatnya menoleh sedikit, nada suaranya tak mampu menyembunyikan kekesalan. “Mengapa kudanya begitu lambat? Apa kau sengaja ingin aku berlama-lama di atas punggung kuda?”
Alistair terkekeh ringan, suaranya terdengar santai di balik punggungnya. “Tenang saja, Manisku. Aku sebenarnya lebih suka jika cepat.”
Ia mengencangkan cengkeraman pada tali kekang, tumitnya menekan sisi tubuh kuda dengan isyarat tegas.
Derap kakinya kini terdengar lebih tegas, menyusuri jalan berbatu dengan laju yang lebih cepat. Angin senja mulai menerpa wajah Arienne, membuat ujung rambutnya bergetar.
Bukannya puas, gadis itu malah ketakutan. "Tidak, Alistair! Ini terlalu kencang!"
Setelah beberapa menit kemudian, Alistair akhirnya mengendurkan kendali, membuat kuda itu lebih tenang dan lajunya lebih teratur.
Akhirnya Arienne bisa bernafas lega, walau ia sudah dibuat cukup trauma karenanya. "Ah... terima kasih."
Senja perlahan berubah menjadi malam, dan lampu-lampu kota mulai tampak di kejauhan, berkelip seperti gugusan bintang yang jatuh ke bumi. Arienne akhirnya menyerah pada kelelahan. Kekesalannya mereda, digantikan perasaan asing—campuran gugup dan hangat—karena punggung Alistair yang kokoh tepat di belakangnya.
Ia menyadari betapa stabil pria itu menunggang kuda, betapa tenangnya ia menghadapi jalan gelap tanpa lentera.
Alistair merasakannya. “Kita hampir sampai,” katanya pelan, seolah menenangkan.
Rumah makan itu berdiri di sudut jalan utama kota, bangunan kayu tua dengan jendela lebar dan cahaya kuning hangat dari dalam. Aroma sup mengepul begitu mereka turun dari kuda.
“Mengapa kita berada di sini?” tanyanya, ragu.
“Di sini ada hidangan istimewa sup burung puyuh. Hidangan itu cukup terkenal, kau pasti akan menyukainya," jelas Alistair.
Arienne mengangguk. Ia mengikuti langkah pria itu tanpa banyak tertanya.
Mereka duduk berhadapan. Alistair memesan dua mangkuk tanpa bertanya dulu pada Arienne.
Padahal sebenarnya Arienne tidak suka segala jenis olahan makanan yang mengandung daging burung, namun pelayan sudah berlalu. Ia menatap ke sekeliling rumah makan itu, menghindari tatapan Alistair.
Mangkuk sup datang. Uap hangat menyentuh wajah Arienne, dan aromanya—ringan namun kaya—membuatnya menelan ludah. Entah mengapa untuk pertama kalinya, ia malah ingin menikmati olahan daging burung.
“Cicipi,” ucap Alistair singkat.
Arienne mengambil sendok dengan perasaan ragu. Sendok pertama membuat bahunya mengendur tanpa ia sadari. Hangatnya menyebar perlahan, mengisi ruang kosong di dadanya.
Semakin lama, gadis itu malah terlena dengan sensasinya. Hingga tanpa sadar, mangkuknya hampir kosong.
Alistair tersenyum kecil. “Bagaimana? Enak, bukan?"
Arienne mengangguk dengan senyum lembut. "Iya. Ini cukup menghangatkan di kala udara terasa dingin seperti ini."
Malam kian larut ketika mereka tiba di hotel di pusat kota. Bangunannya megah namun tidak mencolok, dengan marmer pucat dan lampu gantung sederhana. Alistair mengurus kamar, sementara Arienne berdiri di sampingnya, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang. Ia merasa asing, sekaligus aman.
Kamar itu luas dan tenang. Tirai tebal menutup jendela, menahan suara kota. Arienne melepaskan mantel dan meletakkannya di kursi, lalu duduk di tepi ranjang. Kelelahan akhirnya menangkapnya sepenuhnya. Ia menghela napas panjang, pundaknya turun.
Alistair menutup pintu dan mendekat. “Berbaringlah,” katanya lembut.
“Aku hanya ingin duduk sebentar.”
Namun ketika ia mencoba berdiri, kakinya goyah. Alistair sigap menangkapnya, satu tangan di pinggang Arienne, satu lagi menopang punggungnya. Jarak mereka seketika menyempit. Arienne bisa merasakan napasnya, hangat dan teratur.
“Pelan,” bisik Alistair.
Ia menuntunnya duduk kembali, lalu berlutut di depan Arienne untuk melepaskan sepatunya. Gerakannya hati-hati, membuat suasana terasa romantis. Arienne menatapnya, ia tak mengerti mengapa jantungnya berdegup lebih cepat.
“Kau tidak perlu melakukan ini,” katanya pelan.
“Aku ingin,” jawab Alistair tanpa menoleh.
Setelah sepatu terlepas, Alistair berdiri. Ia merapikan rambut Arienne yang kusut oleh angin, menyelipkan helai-helai liar ke belakang telinganya. Sentuhan itu lembut, namun sarat makna.