Terdiam, saat itu Arienne masih duduk di tepi ranjang. Pikirannya penuh, berisi berbagai kekhawatiran yang belum tentu terjadi.
“Kira-kira pangeran membawaku keluar istana ini berapa lama, ya?” pikirnya, terselipkan rasa risau. Ia menoleh ke belakang, memerhatikan pangeran yang telah terlelap di ranjang. Sepertinya pria itu telah berada di alam mimpi.
Arienne menghela napas, mencoba menenangkan diri. “Padahal aku baru saja dilantik menjadi Menteri Pertanian.”
Mata gadis itu seketika hampir bulat sempurna. “Bagaimana jika raja tiba-tiba membutuhkanku?” Rautnya yang gelisah tak bisa disembunyikan. Akhirnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, seolah berusaha menahan gelisah yang ingin meledak.
“Habislah nyawaku. Apa yang akan kukatakan saat ia bertanya?”
Ia mengangkat wajahnya kembali, lalu terdiam sejenak. Di pikirannya tertulis, jika semua ini karena Pangeran Alistair. Lantas, salahkah dia jika nanti ia akan mengarahkan semua masalahnya pada pangeran? Namun, meski begitu, ia akan tetap terlibat di dalamnya.
Bahunya mengendur. “Semua pasti akan sia-sia.”
Arienne tak bisa membohongi diri. Sebenarnya, ia juga lelah dan ingin berbaring di ranjang tersebut. Tapi entah mengapa, ia merasa dirinya tak pantas seranjang dengan pangeran.
Gadis itu masih ingat apa yang pria tersebut katakan waktu pertama kali ia menyentuh ranjangnya.
“Aku ingin menghukummu dengan kedinginan malam ini, agar kau tahu di mana posisimu.”
Bayangkan bagaimana jika saat itu ayahnya tidak menyebut nama Arienne di perjamuan istana? Mungkin sifat pangeran akan tetap begitu pada Arienne. Oleh karena itu, ia tak bisa jatuh hati pada pangeran meskipun pangeran telah mengungkapkan cintanya.
Sebagai seseorang yang memahami filsafat, Arienne mengerti jika itu bukan cinta, tapi perasaan kagum. Namun, meski begitu, ia tak pernah mengharapkan cinta dari siapa pun. Ia merasa tak begitu pantas untuk dicintai. Lagi pula, ia tak punya keinginan untuk memiliki anak.
Yang tidak ia ketahui, sebenarnya Alistair tidak benar-benar tidur. Sejak tadi, pria itu memperhatikannya yang hanya terdiam di tepi ranjang dan sesekali menoleh pada dirinya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, ia tampak begitu gelisah.
Hal itu cukup menimbulkan rasa curiga pada gadis itu. Alistair mulai berpikir yang tidak-tidak padanya. Apakah dia sebenarnya mata-mata dari kerajaan lain? Atau apakah dia adalah penyusup yang hendak membunuh seseorang di kerajaannya?
Tak lama kemudian, gadis itu menoleh kembali pada Alistair. Sorot matanya terdiam—terkejut menatap Alistair yang sedang memandangnya.
“Kau... mengapa bangun?” tanya Arienne. Ia tampak heran. Padahal, pria itu baru saja terlelap.
“Aku... hanya tak sengaja terbangun,” katanya. “Tapi mengapa kau tetap duduk di situ? Apa kau tak sudi berbaring denganku?”
Gerak Arienne tampak risau. Ia menggeleng dengan raut panik. “Eh... tidak, Pangeran.” Sorot matanya menari ke sana ke mari, seolah mencari alasan. “Aku hanya... tidak lelah.”
Matanya tak bisa berbohong. Pangeran tak bisa tertipu sedikit pun. Ia mengerti jika ada yang membebani perasaan gadis itu.
Pria itu bangun dari posisinya. Perlahan, ia mendekati Arienne. “Jujur saja. Apa yang membuatmu tidak bisa tidur?”
Pertanyaan itu membuat Arienne tak berani menatap. Ia tampak bimbang, sorot matanya seakan sedang merangkai kata-kata.
“Jangan berpikir terlalu lama, Arienne. Jawab saja pertanyaanku.” Tatapan pria itu seakan tertahan padanya.
Akhirnya, Arienne menghela napas. “Baiklah, aku akan mengatakannya.”
Sebenarnya, ia masih ragu. Akankah pria itu memiliki niat baik padanya?
“Aku... sebenarnya khawatir raja akan memanggilku untuk sebuah kepentingan, sedangkan aku malah tidak ada di sana,” jelasnya. “Jika begitu, mungkin aku akan dianggap tidak bertanggung jawab.”
Alistair menyunggingkan senyum lembut. Ternyata, gadis itu memiliki rasa tanggung jawab tinggi. “Dengarkan aku, Arienne. Di kerajaanku, Menteri Pertanian itu tidak berurusan dengan raja, tapi berurusan denganku. Jadi, tenanglah. Kupastikan kau tidak akan terkena masalah saat bersamaku.”
Gadis itu mengerti. Ia menyunggingkan senyum tipis. “Terima kasih. Aku merasa lebih tenang sekarang.”
Ia kembali mengalihkan wajahnya, lalu menunduk seperti sedang gelisah. Tapi entah mengapa, gerak-geriknya itu malah membangunkan hasrat liar sang pangeran.
“Mendekatlah padaku, Arienne.” Pria itu mengulurkan tangannya.
Arienne hanya diam, tidak menerima uluran tangan itu. Ia khawatir pria itu akan melakukan yang tidak-tidak padanya. Meski dirinya adalah selir milik pangeran, ia tak ingin memiliki anak dari pria itu.
Sorot mata pria itu menajam. Alistair tak suka dengan hamba yang tak mau patuh padanya. Namun, di samping itu, ia berusaha untuk tidak kasar.
“Aku hanya ingin berbincang lebih dekat denganmu. Ke marilah.”
Gadis itu mulai merenung. Apakah pikirannya terlalu kotor untuk sang pangeran? Tetapi ia juga penasaran, apakah perasaannya itu benar atau tidak. Ia ingin mencobanya. Gadis itu seakan sedang menantang maut.
Ia kembali menatap padanya. “Baiklah.”
Senyum lembut terukir di wajah pangeran. Ia kembali mengulurkan tangannya. Dengan senang hati, Arienne menerima uluran tangan itu. Namun ternyata, ia dijebak oleh rayuannya.
Laki-laki itu menariknya sekuat tenaga, membiarkan tubuh mungil itu jatuh ke pelukannya. Tubuh ramping gadis itu dipeluk erat olehnya. Ia mulai menangis, namun tanpa perkataan apa pun, Alistair mulai mengulum bibirnya.
Entah apa yang terjadi pada pria itu. Ia tiba-tiba menggila. Tidak peduli lagi dengan tangisan gadis malang itu, Alistair hanya memedulikan nafsunya sendiri.
Tangannya perlahan meraba kaki jenjang Arienne. Rabaan demi rabaan perlahan merambat hingga ke atas. Gadis itu bahkan mulai merasakan tangannya berada di kaki bagian atasnya.
Tangannya terus meraba, jemarinya bergerak mengelus lembut. Ia tak peduli apa pun. Namun perlahan, Arienne malah mulai menikmatinya. Ia semakin terlena oleh hasrat liar pangeran.
Namun, tangan pangeran bergerak semakin jauh. Ia merambat semakin ke dalam hingga sampai di bagian utamanya. Dengan lihai, jemari pria itu mulai menggesek perlahan.
Arienne akhirnya tersadar. Dengan cepat, ia menghempas tangan nakal pria itu. Mata birunya menatap geram pada pria yang masih berada di sampingnya itu.
“Apa yang kau lakukan, Pangeran? Kau benar-benar melampaui batas.”
Senyum lelaki itu terukir perlahan. “Kau sangat nikmat, Arienne. Aku tak menyangka.”
Arienne semakin menatap tajam. Ia sangat tak menyukainya, tapi bagaimanapun juga, ia tetaplah selir milik pangeran.
Ia tidak tahu harus bagaimana. Matanya mulai berkaca-kaca. Setetes demi setetes mulai jatuh membasahi pipinya.
Darah di jantung Alistair seakan memanas. Dadanya serasa disetrum. Seketika, ia merasa sangat bersalah telah melakukan hal itu tanpa izinnya.
Jemarinya bergerak, mengusap air mata gadis itu. “Maafkan aku, Arienne. Aku telah melakukannya tanpa seizinmu.”
Kata-kata itu tidak berpengaruh untuk Arienne. Arienne membalikkan tubuhnya ke samping, membelakangi lelaki itu.
Itu cukup membuat Alistair semakin merasa bersalah. Ia memohon, “Aku minta maaf. Tolong jangan menangis lagi.”
“Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”
Arienne menghapus air matanya sendiri. “Sebenarnya kau tidak salah, Pangeran. Akulah yang bersalah,” ujarnya. “Aku adalah selirmu, tapi aku tidak mau melakukan tugasku sebagai selir.”
“Saat itu, kau pernah bilang aku ini bodoh. Dan ya... benar, aku ini bodoh.”
“Aku tidak mau menjalankan tugasku sebagai selir, bukan karena aku tidak ingin melakukan itu, tapi karena aku tidak ingin memiliki anak. Aku hanya khawatir aku akan hamil.”
Penjelasan sederhana itu tidak membuat Alistair merasa sedih lagi. Ia malah terkekeh pelan. “Jangan khawatir. Aku akan melakukannya tanpa menghamilimu.”
“Sekarang, cukup diam dan nikmatilah. Aku tahu jika kau juga menyukainya.”