Mentari telah terbit di ufuk timur. Langitnya tampak berwarna keemasan dengan gradasi ungu serta biru muda. Pemandangan itu bisa Arienne nikmati dari balik jendela penginapannya. Saat itu, ia masih terdiam di ranjang dengan posisi terjaga. Rautnya begitu lesu, seakan menyesali semua yang terjadi pada malam itu.
Perasaan gadis itu terus menggerutu sejak akhir dari saat itu. Ia tak bisa tidur dengan tenang karena merasakan bagian bawahnya sakit. Pangeran Alistair benar-benar menggila pada malam itu, seolah ia tak memiliki batasan apa pun lagi dengannya.
Di sampingnya, pria itu masih tertidur. Ia tak memakai atasan, berbaring menghadap Arienne.
Entah mengapa, menatap wajah pangeran yang sedang lelap seperti itu membuat Arienne kesal. Padahal, pria itu telah berusaha keras untuk membahagiakannya. Bahkan, saat itu ia telah berusaha menahan untuk tidak memasukkan miliknya, walau Arienne tahu ia sangat ingin.
Dengan alasan itu, Arienne tak pantas melampiaskan emosi sedikit pun pada pangeran.
Saat menatap kembali wajah Pangeran, gadis itu menyunggingkan senyum lembut. Ia terbaring di sampingnya, menghadap ke arahnya. Mata Arienne berbinar—entah mengapa, sesuatu mulai tumbuh di hatinya.
Sebenarnya, Arienne berniat menunggu pria itu hingga terbangun. Namun, tanpa disadarinya, kehangatan ranjang justru membuat matanya terpejam.
Beberapa saat setelah Arienne terpejam, Alistair tanpa sengaja terbangun. Ia langsung tersuguhi oleh pemandangan memukau di depan matanya. Jemarinya bergerak pelan, mengelus lembut pipi gadis itu.
Sentuhan lembut itu membuat Arienne membuka mata. Tatapan mereka bertemu. Senyum tipis seketika terukir di wajah pangeran. “Kau sudah bangun, Arienne?”
Gadis itu terdiam sejenak. Ia menjawab, “Sebenarnya... aku sudah bangun sejak tadi, Pangeran.”
“Di sini aku hanya sedang menunggumu bangun.”
Alistair tertawa pelan. Ia bangun dari posisinya. “Jadi, kau menungguku dengan tidur di sampingku, Arienne?”
“Iya, aku tak sengaja ketiduran tadi.”
Pria itu hanya menertawakannya. “Itu artinya kau baru saja bangun, Arienne.”
Arienne bangun dari posisinya. Ia tak paham. “Mengapa begitu?”
“Karena kau... tertidur kembali.” Pria itu tersenyum setelahnya. Ia menaik-turunkan alisnya, seakan mengejek Arienne.
Gadis itu hanya menatap datar. “Terserah kau saja.”
Ia kembali terdiam—memalingkan pandangannya ke jendela, memerhatikan mentari yang perlahan bersinar terang.
Alistair tak mengerti dengan sifat gadis itu. Apakah ia sedang merajuk padanya? Ataukah sedang lapar?
“Apa kau marah padaku, Arienne?”
Dengan raut yang biasa saja, Arienne menoleh. “Tidak. Aku tidak marah padamu.”
Gadis itu kembali memalingkan wajahnya. Mungkin Alistair bingung, tapi ia yakin sepiring makanan akan menyelesaikan semuanya.
“Apa kau sedang lapar, Arienne?”
Arienne terdiam sejenak. Ia menjawab, “Sedikit, tapi tidak terlalu.”
Senyum lembut terukir di wajah sang pangeran. Ia memahami bahasa seorang wanita—terkadang, yang sedikit justru berarti sangat. Mungkin saat ini Arienne sebenarnya tengah menahan lapar.
Tiba-tiba, perut gadis itu berbunyi. Dugaan Alistair memang tak pernah salah.
“Ayo kita pergi dari penginapan ini,” ajaknya. “Sekalian cari makan di luar.”
Perempuan itu tersenyum manis. “Ayo.”
Setelah membayar harga penginapannya, mereka keluar santai sembari berbincang-bincang.
Di halaman penginapan, Alistair menuntun kudanya dengan tenang. Jubah gelap yang dikenakannya menutupi sebagian besar ciri kebangsawanannya, membuatnya tampak seperti pria biasa yang tengah menikmati hari. Tak seorang pun mengenali bahwa dia adalah putra mahkota Kerajaan Valoria.
Arienne berjalan di sisinya. Langkahnya santai, sesekali melirik ke sekeliling dengan mata berbinar. Jalanan kota perlahan dipenuhi orang-orang—pedagang membuka lapak, anak-anak berlarian, dan suara tawar-menawar mulai terdengar.
“Ngomong-ngomong, kita akan makan di mana?” tanya gadis itu.
Alistair menatapnya dengan senyum manis. “Terserah kau saja,” ujarnya. “Di kotaku ini, banyak yang menjual makanan lezat. Kau tinggal memilihnya.”
“Aku tidak bisa memilih. Tolong pilihkan saja, Pangeran.”
Perutnya tiba-tiba berbunyi. Itu sudah kedua kalinya. Dengan perasaan malu dan raut yang panik, ia memalingkan wajahnya. Arienne begitu malu. Ia berharap pangeran tidak mendengarnya.
Alistair menoleh padanya. Ia hendak membuka suara, “Eh...”
“Tidak! Itu suara dari kakiku,” sahut Arienne tiba-tiba.
Pria itu tidak begitu mengerti. “Maksudnya? Suara apa, Arienne?”
Ia mengalihkan wajahnya dengan begitu kaku. Arienne merasa begitu malu. Ternyata, pangeran tak mendengarnya.
“Tadi, derap kakiku terdengar seperti kentut,” jelasnya dengan kaku. “Jadi, kupikir kau akan mengiraku kentut.”
Laki-laki itu terkekeh pelan. “Oh, jadi kau sedang kentut, ya?” Ia tampak berusaha menahan tawa. “Pantas saja sejak tadi aku mencium bau yang tidak enak.”
Mata Arienne semakin membulat mendengar hal itu. Ia semakin malu. “Tidak. Aku tidak kentut!”
Alistair hanya tersenyum padanya. Ia mulai mengerti sifat asli gadis itu.
Karena kesal, Arienne menghela napas berat. “Baiklah, aku akan jujur kepadamu!”
“Sebenarnya, tadi perutku berbunyi. Aku sangat malu, jadi dengan spontan berkata seperti itu padamu.”
Alistair tidak peduli dengan penjelasannya. Ia kembali tertawa pelan. “Halah, jujur saja kalau kau kentut, Arienne. Sejak tadi, aku mencium bau yang tidak enak.”
Arienne melirik dengan tajam. “Itu mungkin karena kau jarang mandi, Pangeran,” katanya. “Tolong jangan menuduhku.”
Pria itu hanya tersenyum. Ia melirik kepada Arienne yang sedang marah. Gadis itu menatapnya dengan begitu sinis.
Langkah mereka mendekat pada sebuah rumah makan yang menjual daging domba panggang dan juga kentang tumbuk yang lezat. Aroma gurih dari rumah makan itu menguar ke hidung Arienne. Langkahnya seketika terhenti.
“Apa kau juga menciumnya, Pangeran?” tanyanya. “Baunya begitu nikmat.”
Pria itu menghadap Arienne. “Kau ingin makan di sana?”
Gadis itu mengangguk.
“Kalau begitu, baiklah,” katanya. “Ayo kita ke sana.”
Begitu masuk ke rumah makan tersebut, mereka sudah disambut oleh aroma daging domba panggang yang dapat membuat air liur menetes.
Setelah memesan dua piring makanan pada kasir, mereka mencari meja yang masih kosong. Untungnya, saat itu rumah makan tersebut masih belum ramai, sehingga mereka bisa memilih ingin duduk di mana saja.
Dari kaca besar rumah makan tersebut, Arienne dapat melihat orang-orang yang semakin ramai melangkah ke sana ke mari. Mereka berlalu-lalang, entah ingin pergi ke mana.
“Orang-orang di kota ternyata sangat sibuk, ya, Pangeran?”
“Iya, mereka pergi untuk bekerja.” Alistair menatap gadis itu yang sibuk memperhatikan orang-orang di luar ruangan. Sepertinya, gadis itu tak pernah pergi ke Kota Valoria.
“Apa kau tidak pernah pergi ke kota ini?”
Arienne seketika teringat dengan masa lalunya. Masa-masa ketika ibunya masih hidup, ia pergi mengelilingi Kota Valoria dengan kereta sederhana bersama ibu tercintanya, Revelina.
“Aku pernah, tapi itu sudah sangat lama,” katanya. “Lagi pula, untuk apa pergi ke kota ini sering-sering?”
Senyum pria itu terukir tipis. “Iya. Kau benar.”
Keheningan menyelimuti sejenak di antara mereka. Di saat itu, Alistair tiba-tiba teringat dengan metode pertanian yang Arienne jelaskan di balairung kerajaan. Sebenarnya, Alistair sudah sangat sering mengunjungi ladang gandum di Windmer. Dia terkadang hanya mengawasi ataupun sekadar belajar dengan para petani yang mengelolanya. Namun, hari ini ia diberi kesempatan langsung untuk belajar dari ahlinya, yaitu Arienne Vale.
“Arienne, bolehkah setelah ini kita berkunjung ke ladang pertanian di Windmer?”
Gadis itu menatapnya. Ia tampak terkekeh pelan. “Untuk apa?”
“Aku sedang ingin belajar dari ahlinya langsung,” kata pria itu dengan tatapan yang seolah tak ingin berpaling darinya. “Apakah boleh?”
Arienne seakan sedang berpikir untuk menjawabnya. Ia menyunggingkan senyum lembut. “Boleh.”
Pangeran tampak bahagia mendengar jawaban itu. “Kuharap, ke depannya kerja sama kita menjadi lebih baik.”