Kedua insan yang sedang dilanda asmara itu menelusuri jalanan desa dengan kuda putihnya yang gagah nan cantik.
Mentari perlahan meninggi. Sinarnya menumpahkan kehangatan lembut, menyentuh kulit dan menyelinap ke sela-sela pakaian mereka.
Saat itu, mereka sedang menuju ke Windmer. Di hadapan mereka, perbukitan hijau bergelombang terbentang luas, dihiasi hamparan bunga liar yang bermekaran bebas. Bagi Arienne, itu adalah pemandangannya sehari-hari saat akan pergi ke toko roti di Kota Oakfall untuk bekerja.
“Lihat pemandangannya, Arienne.” Ia menatap Arienne dengan senyum lembutnya. “Mereka cantik seperti dirimu.”
Gadis itu menoleh padanya dengan senyum manis. “Janganlah memujiku seperti itu, Pangeran.” Pandangannya begitu lembut pada hamparan perbukitan itu—mengingat akan masa lalunya. “Dulu ini pemandangan sehari-hariku saat akan kerja ke Kota Oakfall. Di sana aku bekerja sebagai pembuat roti.”
Pria itu terkekeh pelan. “Pantas saja roti buatanmu di perjamuan itu sangat lezat.”
Pujian kecil itu membuat Arienne tak bisa menyembunyikan senyumnya. “Terima kasih, Pangeran.”
Alistair masih mengingat bagaimana pertama kali ia bertemu dengan Arienne di toko roti tersebut. Kala itu, Arienne tampak begitu cantik. Wajahnya juga memiliki kemiripan dengan ibu Revelina. Namun, dirinya tak pernah menyangka jika gadis itu juga memiliki kecerdasan seperti Ibu Revelina.
“Apakah ini masih jauh dari rumahmu?”
“Iya.” Gadis itu menoleh padanya. “Apa kau tidak sabar untuk berkunjung ke rumahku?”
Pangeran menyunggingkan senyum. “Sepertinya... iya,” katanya. “Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ayahmu.”
“Memangnya apa yang ingin kau lakukan dengan ayahku?”
Alistair terdiam, memikirkannya. “Aku ingin meminta izin padanya untuk menjadikan putrinya permaisuri di Kerajaan Valoria.”
Arienne terkekeh kecil. Ia tahu itu hanyalah rayuan belaka yang tak bisa benar-benar dipercayai. “Bukankah Helena calon permaisurimu, Pangeran?”
Pertanyaan itu membuat Alistair teringat dengan apa yang ia janjikan pada Selir Helena malam itu.
“Sebenarnya... aku hanya ingin membuatmu cemburu,” katanya. “Aku tidak benar-benar serius mengatakan hal itu.”
Nada suara pangeran terdengar ragu di telinga Arienne. Ia bisa menebak kata itu tak sepenuhnya jujur.
“Oh, ya?”
“Iya, aku serius.”
Suaranya itu begitu tenang, seolah telah terbiasa membohongi orang-orang di sekitarnya. Menurut Arienne, pria itu memiliki sifat yang begitu buruk.
“Baiklah. Terserah kau saja,” gumam gadis itu.
Mereka sampai di perbatasan Desa Windmer. Pemandangan mereka perlahan berubah menjadi ladang gandum yang terbentang luas. Ladang gandum itu tampak begitu berbeda dengan ladang gandum yang kerajaan tanam. Alistair tidak melihat kerusakan sedikit pun pada tanamannya.
Bulir-bulirnya bergoyang lembut mengikuti irama angin. Burung-burung jalak beterbangan rendah di atas hamparan emas itu, seakan menjadi penjaga setia yang menghabisi para hama. Bahkan, sarang-sarang mereka tampak sengaja dibuat di tengah ladang itu oleh para petaninya.
Pangeran begitu takjub dengan apa yang ia lihat. “Apa yang kau jelaskan di balairung itu benar, Arienne.”
“Seharusnya sejak dulu kerajaanku belajar darimu.” Ia menunjukkan wajah kecewa. “Sayangnya, mereka hanya mengutamakan bisnis gilanya saja.”
Pangeran menatap kembali burung-burung yang berterbangan itu. Ia berpikir bagaimana Arienne bisa menjinakkan mereka semua. Mereka sangatlah banyak.
Saat itu, Arienne sedang menatap kawanan burung-burung tersebut yang berterbangan ke sana ke mari, seolah bangga dengan hasil kerja kerasnya.
“Bolehkah aku tahu bagaimana caramu mendidik mereka?”
Arienne menoleh padanya. “Aku merawat mereka sedari kecil dan membiasakan mereka untuk menyantap serangga seperti belalang dan lainnya,” ujarnya. “Itu karena populasi belalang membludak akhir-akhir ini.”
Senyum pria itu terukir lembut. Padahal, burung jalak biasanya juga menyantap biji-bijian. Namun, tak ia sangka, dengan kecerdasan gadis itu, burung-burung tersebut dapat diarahkan dengan baik.
“Bolehkah kau mengajariku tentang metode pertanianmu itu?”
“Boleh,” kata gadis itu. “Nanti kau akan kuajarkan tentang metode-metode pertanian dan juga cara menjinakkan berbagai jenis hewan.”
Pangeran terkekeh kecil. Ia seakan tak percaya. “Apa kau juga bisa menjinakkan beruang?”
Arienne tertawa kecil. “Kau mungkin takkan percaya, Pangeran,” ujarnya. “Sebenarnya aku juga pernah menjinakkan beruang.”
Senyum pangeran seketika menurun. Matanya membulat sempurna. “Kau sungguh serius, Arienne?”
Arienne spontan menoleh. “I-iya...” katanya, tampak bingung. “Kenapa kau terkejut?”
“Pantas saja burung-burung itu patuh padamu,” katanya dengan nada bersemangat. “Ternyata kau ini pawang hewan, ya?”
“Eh...” Arienne tampak bingung, lalu tertawa kecil.
“Sebenarnya aku bukan pawang hewan, Pangeran. Aku hanya belajar arti cinta dari alam ini.”
Arienne menunduk. Ingatannya melayang pada momen-momen bersama ibunya. “Ibuku yang telah mengajariku untuk mencintai semua makhluk hidup tanpa terkecuali.”
Namun, Alistair merasa aneh dengan hal itu. Saat berada di rumah Maire, gadis itu menangis karena teringat dengan ibunya. Padahal, ibunya hanya bercerai dengan ayahnya.
“Oh, iya,” katanya datar. “Sebelum ini, kau di rumah tinggal dengan siapa?”
“Ayahku.”
“Lalu ibumu berada di mana?”
Arienne terdiam sejenak. “Ibuku kembali ke rumah orang tuanya.”
Sebenarnya, Alistair masih penasaran, tetapi ia tak berani bertanya lebih jauh. Entah bagaimana orang tuanya bisa bercerai, itu bukanlah urusannya. Hanya saja, ia heran bagaimana Arienne bisa merasa nyaman hidup dengan ayahnya, padahal ayahnya telah menceraikan wanita yang sangat gadis itu cintai.
Hamparan ladang gandum itu perlahan berganti menjadi permukiman penduduk. Di saat itu, pangeran sudah yakin jika sebentar lagi mereka akan sampai.
“Apakah sebentar lagi kita akan sampai?”
Kepanikan kecil terlintas di wajah gadis itu. “Eh... tidak,” katanya seakan ragu. “Sebenarnya ini masih jauh.”
“Hm... ternyata rumahmu cukup jauh juga, ya, Arienne?”
“Iya, rumahku dekat dengan hutan,” ujarnya. “Itu karena ayahku menyukai ketenangan. Jadi, ia tidak suka bertetangga dengan orang-orang.”
Pangeran mulai lelah berada di atas kuda itu terus-menerus. Perjalanan terasa begitu panjang karena Arienne takut terjatuh saat kudanya berlari cepat.
“Arienne, aku sangat lelah berada di atas kuda terus-menerus. Bolehkah aku mengendalikan kudanya lebih cepat?”
“Tapi itu akan membuat tubuhku naik turun. Aku merasa seperti akan jatuh!” Jantung gadis itu mulai berdetak tak karuan. Ia masih trauma dengan apa yang terjadi saat itu.
Alistair sudah tak tahan. Ia tak mau mendengarkannya lagi. “Berpeganganlah dengan erat, Arienne. Aku akan mempercepat lajunya.”
Gadis itu spontan mematuhinya. Pria itu menundukkan kepala sedikit, memastikan pegangan Arienne cukup kuat sebelum jemarinya merapat pada kendali.
Dengan gerakan hati-hati, ia memberi isyarat ringan pada kuda di bawah mereka. Langkah yang semula tenang berubah lebih cepat, masih terukur, seolah Alistair sengaja memberi waktu agar gadis itu dapat menyesuaikan diri.
Tiba-tiba, suara derap kuda lain menggema dari belakang mereka. Suara itu terdengar keras dan terburu-buru, menandakan ada sesuatu yang tak beres di belakang mereka.
Pangeran menegang. Rahangnya mengeras, sorot matanya menggelap oleh kewaspadaan. Tanpa menoleh, Alistair mencondongkan tubuh ke depan dan menekan betisnya, membuat kuda di bawah mereka melaju semakin cepat.
“Pangeran—!” Arienne tersentak. Tubuhnya terayun lebih keras, napasnya tercekat ketika hentakan demi hentakan terasa kasar di bawahnya.
“Maafkan aku, Arienne,” katanya terdengar terengah-engah. “Seseorang sedang mengejarku saat ini.”
Pria itu merasa tidak bisa mengendalikan kudanya lebih cepat dari yang biasa ia lakukan. Itu karena ia sedang membawa seorang gadis di hadapannya.
Perlahan, ia meletakkan tali kendali kuda itu sepenuhnya di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya mendekap tubuh Arienne agar gadis itu merasa lebih aman.
“Berhentilah, Pangeran!”
“Cepat berikan perempuan cantik itu padaku!”