28. Pertengkaran Mereka

1061 Words
Alistair tidak menggubris teriakan itu. Rahangnya mengeras, sorot matanya menajam. Dengan satu sentakan betis, ia memacu kudanya, membiarkan angin menghantam wajah mereka. Derap kuda di belakangnya semakin menyusul. Itu membuat penduduk setempat berteriak dan berlarian menjauhi jalan tersebut. Napas pria itu terdengar terengah-engah di telinga Arienne. "Maafkan aku, Arienne," katanya lirih. "Karena aku, kau malah terjebak di kondisi seperti ini." Arienne hanya terdiam, tetapi ia bisa mengerti keadaan pria itu. Tangan pangeran masih mendekap erat perut ramping miliknya. Ia merasa kehadirannya kini menjadi beban untuk pangeran. Di jauh sana, pangeran bisa melihat ada dua pria dengan kuda mereka. Mereka tampak seperti ingin menghadangnya. Sayangnya, saat ini ia dalam laju yang ekstrem. Dan benar saja, mereka dengan sigap menghadangnya—kedua kuda mereka tampak tak kalah besar. Kedua tangan Alistair seketika menarik kendali sekuat tenaga. Kuda yang ia tunggangi meringkik keras, kedua kaki depannya terangkat sebelum akhirnya terhenti. Hentakan itu membuat tubuh Arienne tersentak ke depan. Debu pun berterbangan. "Kau tak apa, Arienne?" Alistair berusaha membantunya. "Jangan pikirkan aku." Pangeran Alistair memiringkan posisi kudanya sehingga ia bisa menatap dari kedua sisi. Mata elang Alistair menatap tajam pada pria yang telah memburunya dari belakang itu. Begitu pula tatapan pria tersebut pada Alistair—kulit pucat dan rambut hitamnya yang berkilau menambah ketegasan wajah pangeran dari Antares tersebut. Alistair menghela napas singkat. "Kupikir kita sudah berdamai sejak perang itu, Lucien." Bibir pria di hadapannya itu terangkat miring. "Benar, Pangeran. Seharusnya kita sudah berdamai sejak itu." Rahang Alistair seketika mengeras. "Lalu, kenapa kau menggangguku lagi?" Dengan raut yang kembali menajam, pria itu berkata, "Karena aku telah melihatmu membawa gadis malang itu di atas kudamu." Dengan sekejap, tawa menghiasi wajah Alistair. Tawa itu pun sirna dalam hitungan detik. "Sudah kuduga. Kau hanya tertarik dengan kecantikan wanitaku." Tatapan pria itu kemudian semakin tajam pada Lucien. "Apa kau tahu, Pangeran? Suatu hari nanti, hasratmu pada wanita akan menghancurkan negerimu sendiri." "Dan itu... pasti akan terjadi jika kau tidak berhenti menggangguku. Camkan itu!" Alistair membelokkan kudanya, tetapi Lucien dengan cepat menghalaunya. "Jangan berlagak seperti korban seakan aku penjahatnya, Alistair," balas Lucien. "Aku telah melihat sendiri kejahatan apa yang kau lakukan pada gadis itu." Alistair menghela napas, berusaha untuk tidak meledakkan emosi. "Jelaskan, kejahatan apa yang telah kulakukan padanya." Lucien menghela napas. Emosi pria berkulit pucat itu seakan berada di ujung kepala. "Kau telah mengambil paksa gadis itu dari rumahnya, Pangeran!" Suaranya meninggi. "Dan itu kau lakukan hanya untuk menjadikannya selir!" Apa yang diucapkan pria itu benar adanya, meskipun semuanya telah berlalu. Sayangnya, ia begitu enggan mengakuinya pada siapa pun. Untuk sesaat, sudut bibir Alistair terangkat perlahan—membentuk senyum tipis yang terlihat menyebalkan. "Pangeran Lucien..." "Aku tidak pernah menyangka jika kau sebodoh itu, Pangeran." Dagu Alistair terangkat, senyum lebarnya tampak semakin menyebalkan. "Di kerajaanku, hanya Ibunda Permaisuri yang menentukan siapa yang akan menjadi selirku. Atau terkadang raja yang memilihkannya untukku." "Lalu, setelah itu aku hanya menjalankannya..." Tatapannya semakin menegas. "Atau... menikmati semua yang telah terjadi." Pria berkulit pucat itu terdiam—menunduk dengan penuh kegelisahan di benaknya. Tangannya telah menggenggam gagang pedang, seolah telah bersiap untuk memenggal kepala Pangeran Alistair. Lucien melepaskan gagang pedang itu. Ia menatap Arienne dengan raut melasnya. "Arienne, percayalah padaku. Dia itu pria yang sangat jahat." Arienne tidak tahu apa yang dikatakannya itu benar atau dusta. Yang ia herankan hanyalah bagaimana pria itu bisa mengetahui namanya, sedangkan dirinya tidak mengenali pria tersebut. Itu cukup mencurigakan. Namun, jika diperhatikan, pria itu mirip dengan Luca, yaitu teman semasa kecilnya. Dengan raut sendunya, gadis itu menoleh pada Alistair. "Benarkah begitu, Pangeran?" Senyum Alistair terukir lembut padanya. "Tidak, manisku," katanya. "Dia hanyalah pria gila yang ingin merebutmu dariku." Arienne menatap kembali pada Lucien. Mata birunya tampak semakin berkaca-kaca, entah mengapa. Ia tampak seakan hatinya telah dikhianati. "Arienne, percayalah padaku," katanya. "Aku akan membawamu kembali pulang ke rumahmu." Gadis itu sebenarnya tak tega, tetapi ia harus melakukannya. Senyumnya seketika terukir walau tampak kaku. "Jadi... kau pikir aku ingin pulang, begitu?" Tatapannya menajam. "Tidak, Pangeran. Aku lebih memilih untuk tinggal di Istana Valoria selamanya." Kata-kata itu seolah panah beracun yang menancap di d**a Lucien. "Apa kau tidak mengenalku, Arienne? Aku ini Luca. Aku ini sahabat masa kecilmu." Sebenarnya, Arienne masih ingat dengan teman masa lalunya yang bernama Luca. Anak lelaki itu selalu setia menemaninya saat dirinya masih berumur dua belas tahun. Kala itu, ia baru saja pindah ke Desa Windmer. "Tidak. Mungkin kau salah orang, Pangeran. Aku tidak mengenalmu sedikit pun." "Sekarang, menyingkirlah dari jalan Pangeran Alistair," titahnya tegas. "Kau hanya membuang waktuku saja. Aku ingin segera pulang." Pangeran Lucien terdiam, matanya semakin membasah. Setetes air pun jatuh membasahi pipi. "Baiklah... jika itu yang kau mau." Alistair hanya terkekeh pelan. Ia puas melihat semua yang terjadi. Karena Lucien telah memberi jalan, dengan perlahan ia membelokkan kudanya, membuat kuda putihnya itu melangkah ke arah yang berlawanan. Alistair terkekeh pelan. Kepuasan samar terpancar dari raut wajahnya saat menyaksikan akhir pertemuan itu. Ketika Lucien akhirnya menyingkir dan membuka jalan, Alistair membelokkan kuda putihnya—mengendalikan kuda itu melangkah jauh dari mereka. Ia masih tak mengerti mengapa Lucien bisa tiba-tiba mengaku sebagai sahabat masa kecil Arienne. Memang paras Arienne sangatlah menawan, tetapi ia masih tak percaya jika kecantikan gadis itu bisa membuat seorang pria tiba-tiba kehilangan akalnya. Di hadapannya, Arienne masih terdiam. Di mata Alistair, gadis itu tampak sedang memikirkan semua yang baru saja terjadi. "Tidak perlu dipikirkan, Arienne. Sejak dulu, pria itu memang berhidung belang." "Kau jangan pernah tertipu dengan rayuan gilanya. Karena pada dasarnya, dia itu musuhku." "Tapi berhati-hatilah juga dengan orang-orang di luar istana, Arienne. Tidak semua orang itu baik di dunia ini." "Pria itu bisa saja menculikmu suatu saat nanti. Atau... dia mungkin bisa melakukan kejahatan yang lebih parah dari itu." Arienne hanya menundukkan wajahnya. "Iya, Pangeran. Aku mengerti." Semua yang Pangeran Alistair katakan itu dusta bagi Arienne. Gadis itu sangat mengenal Luca sebagai teman masa kecilnya. Pria itu sama sekali bukan seseorang yang jahat, malah ia sangat baik pada Arienne. Namun, konflik kerajaan memang bisa mengubah sudut pandang seseorang tentang kebaikan. Ia bisa mengerti bagaimana sudut pandang Pangeran Alistair pada Luca. Pada dasarnya, Arienne terpaksa berpura-pura untuk tidak mengenali Lucien hanya agar tidak terjadi pertengkaran di antara dua pria itu. Sebenarnya, ia juga tak mau membuat Lucien sedih atas perilakunya. Namun, ia juga takut akan terjadi peperangan di antara kedua kerajaan jika ia tidak berpura-pura dan malah mengatakan yang sebenarnya. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia berkata, "Maafkan aku, Luca."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD