Pengkhianatan dan Pengorbanan Pahit
"Aku hamil, Ma."
Kalimat itu meluncur lirih dari bibir Lia. Gadis itu terduduk lemas di tepi kasur, tangannya gemetar memegang alat tes kehamilan. Di layar kecil benda itu, dua garis merah terlihat begitu jelas, seolah mengejek keadaan.
"Apa?! Kamu hamil?!" pekik Siska, suara wanita itu melengking tinggi memecah keheningan pagi.
Siska menatap putri semata wayangnya dari pernikahan pertamanya dengan pandangan tak percaya bercampur amarah. "Bisa-bisanya kamu melakukan hal sebodoh ini! Mau dibawa ke mana muka Mama di hadapan suamiku, hah?!" teriaknya, membuat suasana rumah yang tadinya tenang seketika menjadi runyam.
"Jawab Mama, Lia! Siapa laki-laki b******k yang menghamili kamu?!"
Lia menunduk dalam, air matanya mulai jatuh membasahi pipi. Ia diam saja, tak berani menatap mata ibunya.
"Jawab!" bentak Siska semakin keras.
"Giovanni, Ma..." jawab Lia akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar.
"Giovanni siapa?! Bicara yang jelas!"
"Giovanni... Calon suami Aurora."
BRUK!
Sebuah suara dentuman keras terdengar dari arah pintu kamar. Seolah disambar petir, tubuh seseorang ambruk jatuh ke lantai.
Itu Aurora.
Adik tiri Lia yang hanya berselang empat hari lagi akan melangsungkan pernikahannya dengan pujaan hatinya, Giovanni.
Kakinya mendadak lemas. Tulang-tulang dan otot di sekujur tubuhnya seolah tak lagi sanggup menopang berat badannya. Dunia di depan matanya berputar hebat. Bagaimana mungkin lelaki yang ia cintai, lelaki yang berjanji akan menjaganya seumur hidup, lelaki yang akan menikahinya sebentar lagi, mampu menghancurkan hatinya sedalam ini?
Siska dan Lia sontak menoleh serentak. Wajah Siska memucat. Ia buru-buru berlari membuka pintu kamar anak tirinya itu lebar-lebar.
"Krieeet..."
Matanya terbelalak saat melihat Aurora sudah tergeletak tak berdaya di lantai, wajahnya pucat pasi.
"Bukannya Aurora tadi sudah berangkat kerja?" gumam Siska panik, tak percaya anak tirinya masih ada di rumah. "Lia! Sini cepat!" teriaknya histeris. "Bantu Mama angkat tubuh adikmu ini ke atas ranjang! Bagaimana ini... Papa kamu pasti akan sangat murka kalau tahu hal ini. Bisa-bisanya kamu bermain api dengan calon suami saudaramu sendiri, Lia!" omel Siska sambil berusaha membaringkan Aurora.
Lia bergerak membantu, namun di balik gerak-geriknya yang tampak khawatir, ada kilatan licik di matanya.
"Ma, bagaimana ini, Ma... Tolong aku," rengek Lia, suaranya penuh kepura-puraan. "Masa Mama mau melihat aku hamil besar tanpa suami? Apa Mama rela aku jadi bahan gunjingan tetangga?"
Siska mengacak rambutnya frustasi. Ia pun hidup dalam ketakutan besar pada suami keduanya, ayah kandung Aurora. Ia tahu betapa kerasnya hati pria itu jika mengetahui putri kesayangannya dirugikan oleh anak tirinya sendiri.
"Akhh, Mama pusing! Kenapa kamu bisa sebodoh ini, Lia?!" geram Siska. Ia menatap tubuh Aurora yang diam tak bergerak dengan rasa kesal. "Dasar anak manja, pingsan segala lagi cuma karena dengar kebenaran."
Senyum tipis tersungging di bibir Lia saat menatap Aurora yang terbaring. Sesungguhnya, Lia memang menginginkan semua ini terjadi. Ia memang sengaja mendekati Giovanni. Ia memang sengaja hamil. Dan ia memang berharap posisi Aurora hancur.
"Ma," panggil Lia dengan nada memancing. "Bagaimana kalau aku saja yang menggantikan posisi Aurora? Lagian, setelah tahu Giovanni sudah menodai aku, mana mungkin Aurora mau menikah dengan dia, kan? Dia pasti jijik dan sudah tak mau lagi sama Giovanni."
"Tapi masalahnya... Bagaimana cara kita jelaskan sama Papa? Mama takut dia marah besar kalau tahu kamu yang merusak pernikahan Aurora," jawab Siska ragu, meski dalam hati rencana itu terdengar masuk akal baginya demi menyelamatkan masa depan Lia.
Keduanya pun bergegas keluar dari kamar Aurora untuk merencanakan langkah selanjutnya, meninggalkan Aurora sendirian di dalam sana.
Padahal, Aurora sama sekali tidak pingsan. Ia hanya lemas, sangat lemas hingga tak sanggup bergerak. Ia mendengar setiap kata yang terucap oleh ibu tirinya dan kakak tirinya itu. Setiap kalimat, setiap rencana licik mereka, semuanya menusuk hatinya lebih tajam dari pisau.
Di balik selimut, Aurora menekan bantal sekuat tenaga agar isak tangisnya tak terdengar keluar. Hatinya hancur lebur. Ia tak menyangka wanita yang ia anggap ibu, dan wanita yang ia anggap kakak, tega berbuat sejahat ini padanya. Namun yang lebih menyakitkan... adalah pengkhianatan Giovanni.
Perlahan-lahan, Aurora bangkit dari tidurnya. Air mata masih membasahi pipinya. Ia meraih ponsel di meja samping tempat tidur, mencoba menelepon calon suaminya itu. Berkali-kali ia tekan tombol panggil, namun selalu saja tak diangkat. Hanya nada sambung panjang yang mengejek kesabarannya.
"Cowok pengecut..." batinnya getir.
Tanpa pikir panjang lagi, Aurora meraih tas dan kunci motornya. Ia tak akan diam saja. Ia harus tahu kebenaran. Ia harus menatap mata lelaki yang telah menghianati cintanya itu.
Aurora melangkah keluar rumah, tak mempedulikan Lia dan Siska yang entah sedang sibuk mengurusi rencana busuk mereka di mana. Ia menyalakan mesin motornya dan melaju kencang menuju apartemen Giovanni. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit, namun rasanya seperti berjam-jam baginya.
Sesampainya di depan pintu apartemen itu, tangan Aurora bergetar hebat saat mengeluarkan kunci cadangan yang dulu diberikan Giovanni. Kunci yang dikatakan lelaki itu sebagai tanda kepercayaan dan kasih sayang.
Dengan napas tertahan, Aurora memutar kunci itu. Pintu terbuka.
Langkah kakinya terhenti tepat di ambang pintu. Napasnya tercekat.
"Apa-apaan ini...?" batinnya bergidik ngeri.
Di lantai terhampar pakaian berantakan—kemeja, celana, hingga pakaian dalam wanita yang bukan miliknya. Perasaannya yang sudah buruk kini berubah menjadi ketakutan dan kemarahan membara. Ia melangkah masuk lebih dalam, mengikuti suara desahan dan tawa yang samar-samar terdengar dari arah kamar tidur.
Pintu kamar itu tak tertutup rapat, menyisakan celah kecil.
Dan apa yang terlihat oleh matanya, sungguh membunuh harapannya sepenuhnya.
Di atas ranjang itu, Giovanni sedang bergelut dalam keintiman panas dengan seorang wanita. Wanita yang sangat dikenal oleh Aurora.
Agnes. Sahabat baiknya di kantor.
Suara erangan dan desahan itu terdengar begitu jelas, menusuk telinga dan merobek hati Aurora berkali-kali lipat lebih sakit dibandingkan berita kehamilan Lia tadi.
Rasa mual dan jijik naik ke kerongkongannya. Ia menutup mulutnya yang menganga, berusaha menahan jeritan yang ingin meledak.
Cukup!
"BINATANG! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!"
Teriakannya meledak sekeras-kerasnya, memecah suasana m***m di ruangan itu.
Sontak Giovanni dan Agnes tersentak kaget. Mereka berdua menoleh serentak ke arah pintu. Wajah Agnes memerah karena malu sekaligus kemenangan, sementara wajah Giovanni berubah pucat pasi seolah melihat hantu.
"Aurora..." gumam Giovanni terbata-bata, buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya.
Aurora tertawa. Tawa yang kering, sumbang, dan penuh kepahitan. Ia menatap lelaki yang dulu sangat ia puja dengan pandangan jijik.
"Haha... Ternyata begini asli tabiatmu, ya?" ucapnya dingin, suaranya bergetar menahan emosi yang meluap. "Pernikahan kita? Batalkan saja! Aku sudah sangat jijik melihatmu, melihat nafsu rendahanmu, melihat betapa rendahnya kamu di mataku sekarang!"
Tanpa menunggu jawaban, Aurora berbalik badan hendak pergi. Agnes tersenyum puas di balik selimutnya, sementara Giovanni panik bukan main. Ia segera meraih celana pendeknya, memakainya dengan tergesa, lalu berlari mengejar Aurora hingga ke ruang tamu.
"Aurora, tunggu! Tunggu aku!" seru Giovanni. Ia berhasil menangkap pergelangan tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. "Kamu mau ke mana? Aku mencintaimu, Aurora! Jangan batalkan pernikahan kita, tolong! Semua ini salah paham!"
"Lepaskan!" Aurora menyentak tangannya dengan sekuat tenaga. "Jangan sentuh aku sedikit pun, dasar b******n!"
Karena genggaman Giovanni terlalu kuat, Aurora tak berpikir panjang. Ia membungkam lengan lelaki itu dengan gigitan yang sangat keras, penuh kemarahan dan rasa sakit hati.
"AKHHHH!" pekik Giovanni kesakitan, refleks melepaskan tangannya. Bekas gigi Aurora tertanam jelas di kulit lengannya.
"Jangan pernah kau tampakkan wajahmu di depanku lagi!" umpat Aurora dengan mata yang menyala penuh amarah. "Aku tak sudi melihatmu! Cukup sudah! Ternyata kamu bukan hanya menghamili Lia kakak tiriku, tapi kamu juga bermain dengan sahabatku sendiri di belakangku! Kamu bukan manusia! Kamu binatang!"
Giovanni menatapnya dengan wajah memelas. "Aurora, dengar aku... Mereka yang menyerahkan diri mereka padaku! Aku tidak mencintai mereka, aku hanya mencintaimu saja! Aku tak berdaya!" rengeknya mencari pembenaran.
Aurora tersenyum sinis, air matanya akhirnya jatuh juga.
"Jadi... Apa yang dikatakan Lia tadi itu benar, ya?" tanyanya pelan namun tajam. "Kamu benar-benar sudah meniduri kakak tiriku dan membuatnya hamil? Sungguh luar biasa, Giovanni... Sungguh di luar dugaan."
Prok... Prokk... Prokk...
Aurora bertepuk tangan pelan, suaranya terdengar dingin dan penuh ejekan di ruangan yang mendadak hening itu. Senyum getir terukir di bibirnya, meski hatinya sedang hancur berkeping-keping.
"Bagus... Sangat bagus," ucapnya lirih, lalu berbalik badan memunggung lelaki yang pernah ia puja itu. Ia meraih tas kecilnya yang tergeletak di kursi, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
BRAAAKKK!!
Pintu apartemen itu ditutup sekuat tenaga, menghasilkan bunyi dentuman keras yang bergema, seolah menjadi penutup terakhir bagi segala harapan dan cinta yang pernah Aurora miliki untuk Giovanni.
Sepanjang perjalanan pulang, air matanya tak henti mengalir. Di depan Giovanni tadi ia berusaha terlihat tegar, berusaha menyembunyikan rasa sakit agar tidak terlihat lemah. Namun kini, di balik kemudi motornya yang melaju membelah jalanan kota, ia menangis sejadi-jadinya. Hatinya terasa perih, dikoyak habis oleh dua orang yang paling ia percayai: kekasihnya dan saudara tirinya sendiri.
Aurora memacu motornya lebih cepat, ingin segera sampai ke rumah, ingin bersembunyi di kamarnya dan melupakan semua mimpi buruk hari ini. Namun, saat ia sampai di halaman rumahnya, langkah kakinya terhenti kaku.
Ada sesuatu yang salah.
Halaman rumahnya yang biasanya sepi, kini dipenuhi oleh beberapa mobil besar berwarna hitam pekat. Puluhan pria berpakaian serba hitam, berbadan tegap dengan sorot mata tajam, berdiri berbaris di depan pintu masuk. Suasana rumah itu berubah menjadi mencekam, seolah ada kabar duka yang sangat besar.
Dengan perasaan cemas yang membuncah, Aurora memarkirkan motornya dan berjalan masuk melewati celah di antara para pria itu. Jantungnya berdebar kencang, sebuah firasat buruk mulai merayap di benaknya.
Begitu masuk ke ruang tamu, matanya langsung menangkap sosok ayahnya yang duduk tertunduk lemas di kursi utama. Di sampingnya ada Siska dan Lia. Wajah mereka tampak lega, bahkan Lia tak mampu menyembunyikan senyum kemenangannya.
"Ada apa ini?" tanya Aurora ragu, suaranya serak sisa tangisan tadi. "Siapa orang-orang ini, Pa? Ma?"
Semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Tatapan mereka penuh arti, membuat bulu kuduk Aurora meremang.
"Itu dia, Pak. Itu anak gadisnya," ucap Siska dengan nada cepat, lalu menoleh ke arah seorang pria paruh baya yang tampak berwibawa berdiri di sebelah ayahnya. "Ambillah dia. Saya jamin, Aurora masih gadis. Bersih, tidak seperti anak saya yang lain."
DEG!
Jantung Aurora seakan berhenti berdetak seketika. Darah di seluruh tubuhnya terasa mengalir deras ke kepala, membuatnya pening. Ia menatap ibunya tiri itu tak percaya, lalu beralih menatap ayahnya yang masih menunduk dalam, tak berani menatap matanya.
"Pa..." panggil Aurora gemetar. "Ada apa ini, Pa? Katakan padaku..."
Ayahnya mengangkat wajah perlahan. Mata lelaki itu merah, namun tak ada pembelaan di sana. Hanya rasa malu dan kepasrahan.
"Maafkan Papa, Aurora..." suaranya terdengar sangat lemah dan patah-patah.
"Maaf untuk apa, Pa?" Aurora mulai melangkah mendekat, air matanya kembali menetes. "Maaf karena apa? Karena Lia merusak hidupku? Karena calon suamiku ternyata penghianat? Atau karena apa lagi, Pa? Apa yang lebih buruk dari semua ini?"
Siska yang tak sabar lagi, langsung menyahut dengan nada tinggi dan penuh emosi, seolah-olah semua masalah ini adalah kesalahan ayah Aurora.
"Papamu punya hutang! Hutang ratusan juta rupiah pada bos mereka ini!" seru Siska sambil menunjuk ke arah pria berjas hitam itu. "Papamu tak mampu membayarnya. Uang habis tak tahu dipakai apa saja! Dan sekarang... satu-satunya jalan keluar agar rumah ini dan nyawa kami selamat, hanyalah kamu, Aurora!"
Aurora mundur selangkah, kakinya terasa lemas luar biasa.
"Ya Allah... Apa-apaan lagi ini..." gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Dunianya rasanya runtuh sepenuhnya hari ini.
Di sudut ruangan, Lia tersenyum puas. Di balik wajah sedih yang dibuat-buat, matanya berkilat bahagia. Ternyata mendepak Aurora semudah membalikkan telapak tangan, batinnya girang. Kekasih adik tirinya sudah berhasil ia rampas, dan sekarang Aurora akan pergi entah ke mana. Tak ada lagi saingan, tak ada lagi Aurora yang selalu dianggap lebih baik darinya oleh ayah tirinya.
Sayangnya, Lia sama sekali tidak tahu bahwa lelaki yang ia banggakan itu, Giovanni, ternyata juga bermain kotor dengan wanita lain di belakangnya.
"Puas, Pa?!" teriak Aurora akhirnya. Ia tak tahan lagi. Semua rasa sakit, kecewa, dan amarah yang menumpuk meledak seketika. Ia menatap ayahnya dengan pandangan tajam nan perih. "Puas papa menghancurkan hidupku? Kenapa papa setega ini padaku, hah? Aku ini anakmu, Pa! Anak kandungmu! Darah dagingmu sendiri!"
"Aurora... Maafkan Papa, Nak..." Ayah Aurora bangkit berdiri, mencoba mendekat namun Aurora mundur menjauh. "Hanya kamulah yang bisa menyelamatkan Papa sekarang. Kamu kan sudah tahu... Lia sudah mengandung anak orang. Papa tidak mungkin menyerahkan Lia pada mereka. Lia harus menikah dengan Giovanni untuk menggantikan posisimu. Demi kebaikan semua..."
Hati Aurora terasa membeku mendengar alasan itu.
Ia menatap ayahnya dengan senyum yang makin miris. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang di rumah ini. Sejak ibunya meninggal dunia, hidupnya memang tak pernah lagi adil. Ia selalu dipinggirkan, selalu disuruh mengalah demi Lia, selalu dianggap asing. Padahal rumah mewah dan segala harta yang ada di sini, semuanya adalah peninggalan dari ibu kandungnya sendiri.
"Kebaikan semua..." ulang Aurora pelan dengan nada mengejek. "Kebaikan kalian... dengan cara mengorbankanku."
"Sudah cukup bicara."
Seorang pria berbadan tegap melangkah maju, memotong pembicaraan mereka. Wajahnya dingin, tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Ayo, Nona. Ikut kami. Bos kami sudah menunggu."
Aurora diam saja. Ia tak berdaya. Tak ada lagi tempat untuk meminta perlindungan. Ia menatap ayahnya terakhir kali, menatap raut wajah yang dulu sangat ia hormati namun kini hanya menyisakan rasa kecewa yang mendalam, rasa kecewa yang mungkin tak akan pernah bisa ia hapus seumur hidupnya.
Tanpa perlawanan lagi, Aurora membiarkan dirinya digiring keluar rumah. Matanya masih menatap tajam ke arah ayahnya, ke arah Siska, dan ke arah Lia yang tersenyum penuh kemenangan.
Ia masuk ke dalam mobil hitam besar yang terparkir di halaman. Di dalam sana sudah ada beberapa pria berwajah sangar yang duduk diam. Salah satu dari mereka melirik Aurora sekilas dengan tatapan mengerikan, namun Aurora tak peduli. Ia merapatkan dirinya di sudut jok, memeluk lututnya, dan menundukkan kepala.
Pintu mobil ditutup rapat. Mesin pun dinyalakan, membawa Aurora pergi menjauh dari rumahnya—menjauh dari segala kenangan manis, menjauh dari orang-orang yang ia cintai, dan membawa gadis itu menuju nasib baru yang gelap : dijual dan dipersunting oleh sang Arogan yang bahkan belum ia ketahui wajahnya.