pindah rumah

707 Words
mata Yuna melirik kemudi di depannya,, Gus Fadil yang tau reaksi Yuna dari kaca kecil di depannya pun menjawab,, nanti aja bah takut Yuna belum siap,, jalanin aja dulu bah,, kita serahkan segala sesuatunya sama Allah,, sahut Fadil memberi pengertian terhadap istrinya,, Yuna pun yang dapat sautan dari suaminya hanya bisa tersenyum,,, hemmmm,, menghela nafas dengan lega,,, detik selanjutnya tidak ada percakapan diantara mereka,, sementara penumpang di dalam mobil lagi pada asik dengan mimpinya, tak termasuk Yuna,, ia terlelap di pangkuan umi Fatimah, dan kakinya berada di pangkuan kiyai abdulah,, sementara Gus Fadil fokus menyetir dan pandanganya tertuju ke depan jalan, sambil sesekali melirik kaca kecil di depannya, melihat gadis imut berbaring seperti bayi,, tak terusik sedikit pun, padahal berapa kali guncangan di dalam mobil, ta membuatnya bangun, serasa tidur di kasur yang empuk,, nyenyak bener tu bocah kaya gak ada beban, gumamnya fadil dalam hati sambil menyunggingkan senyum manis nya, di wajah nya yang tampan paripurna,, dan kemudian kembali fokus mengemudi mobil, sambil di iringi musik,, maher zean,, membuat penumpang makin larut dalam tidurnya,, begini kira kira lirik lagunya َيَا نَبِى سَلَامْ عَلَيْك ya nabi salam' alayka َيَارَسُولْ سَلَامْ عَلَيْك ya rasul salam' alaykaa يَا حَبِيبْ سَلَامْ عَلَيْك Ya habib salam 'alayka صَلَوَاتُ اللهْ عَلَيْك Salawatullah 'alayka. begitu lah kira kira lagunya,,, dan tak terasa waktu pukul setengah enam,, Gus Fadil pun membuka suara,,, ustadz Salman kita mampir ke masjid ya, bentar lagi azan magrib,, tanyanya pada kakak ipar yang baru bangun,,, iya Gus sambil mampir makan, jawab Salman,, dan ahirnya mobil pun menepi ke masjid, dan berhenti di halaman masjid, kiyai addulah juga umi Fatimah, berusaha bangun,, badan keduanya terasa keram kesemutan, karna di tindih sama Yuna, yang belum juga bangun semenjak tadi,, umi Fatimah pun menepuk pipi Yuna,, Yuna bangun, mau ke toilet gak, sekalian solat magrib,, ayo bangun nak,, Yuna pun menggeliat, dan mengerjapkan matanya beberapa kali, udah nyampe mi, tanyanya pada sang umi,, belum nak, kita mampir ke masjid dulu, bentar lagi magrib,, sekalian makan, yuna lapar gak, tanyanya kepada sang anak,,, Yuna pun terduduk dan menengok ke kiri dan ke kanan yang di depan kemudi, dan samping kemudi yang sudah kosong,, mereka sudah turun sahut nya pada sang umi,,, iya udah turun dari tadi,, tu ke masjid, ayo kita juga turun,,, ikut solat berjamaah,, ajaknya,, Yuna pun mengangguk dan turun dari mobil, bersama uminya, mereka pun melaksanakan solatnya,, selesai melaksanakan solat magrib, Yuna keluar dari masjid bersama uminya,,, yunnnaaaa,,, panggil Salman di samping masjid,, Yuna pun yang di panggil mengedarkan matanya, menyari sesosok orang yang memanggil nya tadi,, mata nya tepat menatap Salman yang berdiri di samping masjid, yang melambaikan tanganya untuk mendekatinya,,, Yuna dan umi Fatimah melangkah ke arah Salman yang berdiri menunggunya, setelah sampai di depan Salman,, Salman pun mengarahkan ke warung baso,, Yuna sama umi mau makan apa,, tanya Salman kepada keduanya,, mau baso apa mie ayam tanyanya lagi,,, Yuna mau mie ayam bakso bang,, kalu umi, tanya Salman kepada uminya, samain aja sama Yuna,, jawabnya, sesampainya di dalam, mereka pun duduk,, Salman pergi ke tempat penjual baso,, pak mie ayam bakso dua ya,, ujar Salman kepada tukang bakso,, iya mas tunggu ya, timpal tukang bakso,, pesanan pun datang,, mereka makan dalam diam, karna kalu lagi makan di larang bicara, kata orang tua jaman dulu, pamali,, suara dentingan sendok dan mangkok yang terdengar,, mereka telah selesai makan,, nanti Yuna pulang kerumah Gus Fadil ya, ujar kiyai abdulah kepada anak gadis nya,, lohh kenapa Yuna pulang kerumah Gus fadil, bukanya pulang kerumah Abah, timpal Yuna Yuna kamu tu sudah bersuami, sudah seharusnya ikut suami, ujar Salman memberi nasehat pada sang adik,, Yuna yang dapat tatapan tajam dari abahnya hanya bisa diam, dan pasrah,, iya,, iya,, Yuna ikut Gus Fadil, ngeliatin nya jangan kaya gitu donk bahh,, serem tau, seloroh Yuna kepada Abah nya, pinter,, ujar abahnya, sambil mengusap puncak kepala Yuna,, rumah Abah sama rumah kita tidak terlalu jauh, kamu bisa main ke rumah Abah, kapan pun kamu mau,, ujar Gus Fadil kepada sitrinya,, Yuna pun menatap Gus Fadil,, emang boleh Gus,, Fadil pun mengangguk sambil tersenyum,, yunapun yang dapet anggukan dari suaminya pun tersenyum menampil kan deretan gigi nya yang gingsul,, baginya gak di kekang aja udah bersukur.. bersambung tunggu kelanjutannya,, salam besty dari author, moga sehat sellu,?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD