BAB 1

737 Words
Pergerakan kecil di sampingnya membuat perempuan cantik yang tengah terlelap itu terbangun dari tidurnya. Sambil mengumpulkan kesadarannya perlahan ia mendudukkan tubuhnya, menatap ke sekelilingnya dengan perasaan asing bercampur was-was. Dia tidak mengenali kamar yang saat ini ditempatinya, terlebih saat dia melihat ke arah kirinya dan mendapati sosok tubuh laki-laki yang menutupi tubuh bagian atasnya dengan selimut. Perasaannya kalut, pikiran yang aneh-aneh bermunculan di kepalannya. Dengan cepat dia memeriksa pakaiannya. “Masih lengkap,” ujarnya seperti bisikan. Helaan napas leganya seolah terdengar keras sehingga membangunkan sosok yang terbaring di sampingnya. Sepasang mata berwarna hitam pekat itu terbelalak, menyadari ada sosok lain di dalam kamar pribadinya yang seumur hidupnya tidak pernah dimasuki oleh siapapun selain dirinya dan orang terdekatnya. “Siapa kau?” Suaranya terasa berat saat mengeluarkan dua kata tersebut, pengaruh minuman semalam membuat kepalanya terasa pening. Kembali ia memejamkan kedua matanya demi menetralkan rasa tidak nyaman di kepalanya. “Aku bertanya siapa kau?” Kembali dia bertanya pada sosok perempuan di hadapannya yang seolah enggan menjawab pertanyaannya. Kinan terpaku, bibirnya terasa kaku bahkan hanya untuk sekadar menjawab pertanyaan mudah seperti itu. Dirinya sama terkejutnya dengan laki-laki di hadapannya, kemudian sekelebat bayangan adegan demi adegan yang terjadi semalam kembali muncul dalam ingatannya. Kedua matanya tertutup rapat, sangat menyesali apa yang terjadi sebelumnya. Dia baru ingat, setelah acara makan malam di luar bersama rekan kerjanya yang lain, dia tidak sengaja bertemu dengan laki-laki tampan di sampingnya itu yang sedang dalam pengaruh minuman. Niatnya hanya ingin berbaik hati membantu dan mengantarkan atasannya pulang ke rumah dengan selamat malah membawa masalah besar untuknya. “Seharusnya aku tidak melakukan itu,” gumamnya. Perempuan cantik berusia 27 tahun dengan tinggi semampai, badan ramping dan rambut hitam bergelombang itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri, melupakan sosok yang sejak tadi melihatnya dengan tatapan tajam yang menusuk. “Aku bertanya siapa kau?” Pertanyaan yang diiringi bentakan itu membuat Kinan kembali tersadar, dia menoleh ke samping kirinya yang seketika membuat pandangan mereka beradu. Tanpa sadar dia malah mengamati jengkal demi jengkal wajah laki-laki tampan di hadapannya. Raka Wira Pratama, laki-laki tampan berusia 30 tahun. Memiliki karir yang cemerlang di usia yang cukup muda, fisik yang sempurna dan kekayaan yang melimpah. Siapapun wanita yang mengenalnya pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Setidaklah itulah yang dia tahu. Jemari Raka yang besar menyisir rambut hitam legamnya, bibirnya sesekali mengucapkan sumpah serapah. Rasa kesal memenuhi dirinya saat ini, terlebih saat menyadari ada orang yang dengan lancang berani masuk ke dalam apartemennya bahkan tidur di atas ranjangnya. “Astaga, apa yang sedang terjadi di sini?” Suara yang sangat familiar di telinga Raka membuat bulu kuduknya berdiri. Di depan sana berdiri sosok yang telah berjasa melahirkannya ke dunia ini, dengan wajah terkejut luar biasa melihat anak laki-laki yang dia banggakan melakukan perbuatan yang tidak bermartabat. Raka gelagapan, perasaan takut memenuhi rongga dadanya. Dalam pikirannya hanya ada satu hal. Kesalah pahaman ini harus diluruskan. “Mah, ini tidak seperti yang mama pikirkan.” Perlahan tubuhnya bangkit menghampiri sosok wanita yang sangat dia hormati itu. Berusaha menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa membuat karirnya rusak di masa depan. Amanda Pratama, perempuan paruh baya berusia 58 tahun itu mengelus dadanya dengan pelan. Tak menyangka niatnya hanya berkunjung melihat anak laki-lakinya, berakhir membuatnya terkejut saat melihatnya berbaring di ranjang bersama perempuan lainnya. Sang suami yang berdiri di sampingnya sama terkejutnya dengan dirinya. Pandangannya menyapu wajah tampan anak laki-laki yang sangat dia sayangi itu. “Mama tidak pernah menyangka anak mama bisa melakukan hal seperti ini.” Dia melirik sejenak pada perempuan yang masih tidak beranjak dari posisinya di atas ranjang sebelum berjalan keluar dari kamar. “Tidak bisa dibiarkan seperti ini, kami harus bertemu dengan orang tuamu.” Suara berat yang berasal dari laki-laki yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah menginjak usia 60 tahun itu terasa seperti sambaran petir di siang bolong. Kinan menundukkan wajahnya, merasa tak mampu untuk mengatakan apa-apa saat ini. Lagipula ini adalah kebodohan yang dia lakukan sendiri dengan sadar. Andai dia tidak keluar dari restoran malam itu dan melihat Raka, maka hidupnya yang tenang tidak akan mendapat badai seperti saat ini. “Tapi, Pah.” Raka masih berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, walau di dalam hatinya dia sendiri merasa ragu. “Cukup.” Bagaskara menghela napas panjang sebelum mengeluarkan sebuah kalimat yang terasa seperti panah yang menusuk jantung kedua anak muda di dahadapannya. “Kalian harus menikah apa pun yang terjadi.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD