“Apa yang terjadi?” Raden Prakoso, ayah Kinan yang berusia 62 tahun memasuki ruangan dengan wajah panik, saat pandangannya beradu dengan anak perempuannya langkah kakinya segera menuju putrinya tersebut dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Ayah.” Kinan memeluk ayahnya dengan erat, air mata yang sejak tadi ditahannya kini mengalir dengan deras membasahi pipinya. “Maafkan Kinan, Ayah,” ujarnya dengan wajah terbenam di d**a ayahnya.
“Maaf karena menghubungi anda secara tiba-tiba seperti ini.” Bagaskara bergerak maju mendekati sosok ayah dan anak yang masih belum mau melepaskan pelukan mereka. “Tapi ini bukan sesuatu yang bisa ditunda lebih lama lagi.”
Raden menoleh, memandangi wajah teduh laki-laki yang berbicara di belakangnya. “Maaf tapi saya masih belum bisa mengerti dengan situasi ini.” Pelukannya dilepas, namun tangan kanannya tidak lepas dari punggung putrinya dan menepuknya dengan pelan demi membuatnya tenang.
“Anak saya tidur dengan seorang laki-laki?” Raden tidak bisa menahan raut tidak percayanya, kepalanya menggeleng dengan keras. “Itu tidak mungkin terjadi, Pak. Maaf, tapi anak saya anak baik-baik.”
Kinan semakin menundukkan kepalanya, rasa kecewa karena telah merusak kepercayaan ayahnya membuat dadanya semakin sesak. Bahkan setelah dijelaskan melalui telepon, sang ayah masih tetap berusaha mempercayainya.
Baskara melirik sejenak pada putranya yang hanya terdiam di kursinya. “Tapi kenyataannya mereka berdua telah melakukan hal yang memalukan itu hari ini.” Dia mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan sebuah foto yang sempat diambilnya saat memergoki putra sulungnya berada di kamar bersama seorang perempuan.
Raden memandangi foto di tangannya sebelum memandangi wajah putrinya. “Apa yang sebenarnya terjadi, Nak? Kenapa bisa seperti ini?”
“Maafkan aku, Ayah. Ini hanya sebuah kecelakaan.” Kinan menggenggam jemari ayahnya dengan erat.
“Maaf, apa pernikahannya bisa dilaksanakan secepatnya? Saya ada jadwal lain di luar.” Seorang laki-laki yang sudah tampak sepuh mengeluarkan suaranya, sosok itu sudah hadir di sana sejak sejam yang lalu.
“Maaf sudah membuat menunggu lama, Pak, acara akan segera berlangsung.” Baskara berdehem, dia hampir saja melupakan sosok Pak Penghulu yang dipanggilnya sejak tadi. Pandangannya menuju putranya yang tetap bungkam walau dia tahu sedang ada perang batin di dalam kepalanya, sebelum kembali menatap wajah Kinan yang semakin banjir air mata.
“Pak Raden, kuharap Bapak tidak keberatan dengan keputusan ini. Tapi demi menjaga nama baik kedua keluarga, kami dengan terpaksa harus menikahkan Kinan dan Raka saat ini juga.”
***
“Saya terima nikah dan kawinnya Kinanti Mahendra Binti Raden Prakoso dengan mas kawin berupa satu set berlian dibayar tunai.”
“Bagaimana para saksi, sah?” Bapak penghulu memperhatikan setiap wajah yang hadir di pernikahan tertutup tersebut.
“Sah!” Baskara menjawab dengan tegas, perasaan haru bercampur rasa sedikit sedih mengingat putra yang dia banggakan itu akhirnya menikah di usianya yang masih tergolong muda.
Kinan yang sejak tadi terdiam di samping Raka memandangi wajah ayahnya, sejak tadi rasanya dadanya seperti akan meledak. Seolah tidak percaya bahwa statusnya sudah berubah menjadi seseorang yang sudah menikah di usia yang masih muda.
Raden memeluk putrinya dengan lembut, walau terasa sulit tapi tetap harus dia terima bahwa putrinya kini telah menikah. Setidaknya dia merasa senang karena anaknya bisa menikahi putra orang terkaya di kota itu. “Apa yang terjadi biarlah berlalu, jadikan ini sebagai pelajaran untuk menjadi lebih baik di masa depan.”
***
“Meskipun sekarang kau sudah menjadi istriku, tapi ingat ... jangan harap aku akan memperlakukanmu dengan baik.”
Raka melepas jasnya dengan emosi, statusnya sebagai suami orang yang bahkan tidak dia kenali itu membuat perasaannya semakin tidak karuan.
Mengingat kejadian semalam membuatnya yakin rasa pusing yang dia alami setelah meneguk segelas minuman pasti ada sangkut pautnya dengan kejadian ini. Dia yakin ada yang berusaha menjebaknya dan tentu saja orang itu adalah perempuan yang sekarang sudah menjadi istrinya.
“Pernikahan ini sama sekali tidak kuinginkan, jadi anggap saja kita sedang menikah pura-pura. Jadi jangan pernah berharap ada sentuhan fisik atau perlakuan yang manis dariku.”
Kinan memandangi wajah laki-laki tampan di hadapannya yang masih sibuk dengan pakaiannya, sementara dirinya sendiri masih berdiri diam di depan pintu dengan memakai kebaya putih yang dipinjamkan oleh ibu mertuanya. Kini hanya ada mereka berdua di apartemen milik Raka setelah ayah dan mertuanya meninggalkan mereka setelah prosesi ijab kabul.
“Kau mau ke mana?” tanyanya setelah terdiam cukup lama. Pandangannya tak lepas dari sosok Raka yang kini mengambil tas kerja dan ponselnya di atas meja.
Raka menatapnya dengan tajam, dendam yang membara dan perasaan emosi yang tak terbendung tampak jelas dari raut wajahnya. “Tentu saja kerja, kau pikir aku akan diam di sini dan memberimu sentuhan hangat seperti yang kau dambakan itu?”
“Apa? Kau salah paham, apa yang terjadi semalam, ...”
“Cukup.” Raka berjalan menuju pintu. “Ingat, jangan pernah mengatakan kepada siapa pun tentang status kita apalagi pada orang-orang di kantor.” Dia berbalik. “Bagiku kau tetap orang asing yang menumpang hidup di rumahku, jadi jaga sikapmu.”
Tangannya memutar kenop pintu. “Dan satu lagi, apa pun yang kulakukan di luar sana bahkan meskipun aku mendekati seorang wanita itu tidak ada hubungannya denganmu. Aku bebas melakukan apa pun begitupun dengan dirimu. Lakukan apa yang kau mau.” Kemudian tubuhnya benar-benar menghilang di balik pintu.
Kedua lutut Kinan terasa lemas, tubuhnya merosot ke lantai. Rasa sedih, sakit dan kecewa bercampur menjadi satu membuat tubuhnya terasa semakin tidak berdaya.
***