“Apa yang terjadi dengan wajahmu?”
Shinta Prameswari, perempuan cantik berusia 27 tahun, tubuhnya lebih tinggi dari Kinan, rambutnya lurus sebahu. Sahabat yang sudah mengenali Kinan sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Memperhatikan dengan lekat wajah sahabatnya yang baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.
Kinan tidak langsung menjawab, setelah meminta izin secara mendadak kemarin hari ini dia terpaksa harus tetap masuk bekerja dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu kemarin.
“Apa wajahku terlihat bengkak?” tanyanya sembari kedua tangannya menyentuh kedua pipinya. Bisa dibilang kemarin adalah hari di mana air matanya tidak pernah berhenti mengalir, bahkan saat malam tiba. Jadi wajar jika hari ini wajahnya terutama kedua matanya membengkak dan menimbulkan pertanyaan dari orang-orang yang melihatnya.
“Kau masih bertanya?” Shinta memutar matanya. “Wajahmu bukan hanya sekadar bengkak tapi terlihat sangat memprihatinkan. Karena khawatir aku berkunjung ke rumahmu tapi ternyata kau tidak ada, di sana hanya ada ibumu dan adikmu.”
Shinta memicingkan kedua matanya saat menyadari raut wajah sahabanya mulai berubah. “Cepat katakan kau kemana kemarin?” Dia melihat sekeliling sebentar sebelum berbisik di telinga Kinan. “Kau berpura-pura sakit, ‘kan?”
Tertawa pelan, Kinan menjawab, “tentu saja tidak.” Sejenak dia terdiam untuk mencari alasan yang pas dan tidak menimbulkan kecurigaan dari sahabat yang sangat mengenali dirinya itu. “Kepalaku sangat sakit jadi aku meminta kepada ayahku untuk menemaniku membeli obat di Apotek tidak jauh dari rumah.”
Kinan tahu bahwa jawabannya tersebut cukup masuk akal walau terdengar sedikit tidak meyakinkan, terlebih saat melihat raut wajah sahabatnya yang masih terlihat ragu namun tidak bisa menyangkalnya.
Mereka berdua tak pernah sadar bahwa sejak beberapa saat yang lalu ada sepasang mata yang senantiasa memperhatikan gerak-gerik mereka dalam diam.
***
“Ada hubungan apa kau dengan Pak Raka?”
Pertanyaan tiba-tiba yang bahkan tidak pernah disangka-sangka oleh Kinan membuat perempuan cantik itu hampir saja menyemburkan minuman di dalam mulutnya. Beruntung dia bisa menahannya dengan kedua tangannya.
“Apa maksudmu?” Kinan menatap sekelilingnya, beruntung saat itu hanya ada dirinya sendiri di meja. Shinta sedang ke toilet sebentar dan meninggalkannya sendirian di kantin.
Perempuan cantik yang berdiri di hadapannya perlahan mendudukkan tubuhnya. Adelia Maharani. Usianya 28 tahun, tingginya tidak jauh dari tinggi Kinan, memiliki kulit putih dan rambut hitam legam sepanjang punggungnya. Orang baru sama seperti dirinya yang baru saja mulai bekerja di perusahaan milik Raka.
“Kau pasti tahu maksudku.” Adelia melingkarkan kedua lengannya di perut. “Kau pikir tidak ada yang melihatmu keluar dari mobil Pak Raka pagi ini?”
Pikirannya kembali ke saat di mana dia terpaksa harus kembali ke parkiran untuk mengambil barangnya yang tertinggal, tapi kemudian disuguhkan oleh pemandangan yang tak pernah ingin dia lihat. Raka yang terkenal tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang perempuan, hari itu berangkat ke kantor bersama seseorang.
Kinan kelabakan, pandangannya dengan cepat menyisir area kantin yang perlahan-lahan mulai dipenuhi oleh para manusia yang sedang lapar. “Mungkin kau salah lihat,” sangkalnya.
Adelia mendengkus. “Kau pikir aku bodoh? Jelas-jelas aku melihatmu keluar dari mobil Pak Raka. Di parkiran sebesar itu kau tidak berpikir tidak ada yang akan melihat kalian?”
“Aku mohon apa pun yang kau lihat jangan pernah mengatakannya pada siapa pun.” Kinan tahu apapun alasan yang berusaha dia buat tidak akan membuat perempuan di hadapannya percaya begitu saja padanya. Jadi yang bisa dia lakukan saat ini adalah berusaha membuat Adelia menutup rapat-rapat apa yang telah dia lihat.
Dia tidak tahu bahwa dengan berangkat bersama Raka pagi ini akan menimbulkan kecurigaan orang-orang yang melihatnya. Ini semua karena permintaan ibu Raka yang menginginkan agar mereka selalu berangkat dan pulang bersama.
Adelia tidak mengatakan apapun, respon yang diberikan oleh perempuan di hadapannya itu cukup membuatnya semakin yakin ada sesuatu yang sudah terjadi tanpa sepengetahuannya.
Rasa kecewanya karena tidak berhasil membuat Raka menjadi miliknya malam itu membuat perasaannya semakin tidak karuan.
Saat melihat Raka mulai linglung setelah meneguk minuman yang dia sajikan pada laki-laki tampan itu, dia merasa sudah berhasil melakukan rencananya. Namun saat sibuk berbicara dengan laki-laki yang berusaha menarik perhatiannya malam itu membuat perhatiannya pada Raka teralihkan, sehingga dia tidak menyadari bahwa sosok itu telah menghilang dari pandangannya.
Tentu saja saat dia sadar semuanya sudah terlambat, Raka sudah menghilang tanpa jejak dan dia tidak bisa melakukan apa pun.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
Tubuh Kinan menegang, dia tidak menyadari bahwa Shinta sudah kembali dari toilet dan kini duduk di sampingnya. Tatapannya kembali mengarah pada sosok Adelia yang terlihat tidak ingin melakukan kesepakatan dengannya.
Adelia mengangkat bahunya acuh tak acuh, dia beranjak. “Aku harap apapun hubungan kalian berdua bukanlah sesuatu yang bisa membuatku menghancurkan karirmu yang baru saja kau mulai itu.”
***