"Jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi."
Perempuan cantik berambut sebahu itu menyilangkan kedua tangannya, tatapan matanya lekat memandangi wajah yang sedari tadi berusaha menghindari tatapannya.
"Tidak ada apa-apa." Kinan, perempuan cantik dengan rambut hitam bergelombang masih berusaha menghabiskan sisa makanannya, walau tenggorokannya terasa sulit untuk menelan apapun yang masuk. Sejak kepergian Adellia beberapa saat yang lalu, sahabatnya tak pernah berhenti memandanginya dengan tatapan penuh curiga.
Shinta menghela napas panjang. "Jika memang tidak terjadi sesuatu, lalu kenapa perempuan licik itu datang menemuimu secara tiba-tiba?"
"Aku sudah kenyang, ayo kita kembali ke ruangan." Tangan Kinan dengan sigap meraih ponselnya yang dia letakkan di samping piringnya, berusaha pergi dari sana sebelum rentetan pertanyaan yang sulit dia hindari kembali terlontarkan.
"Kinanti Mahendra, kau pikir sudah berapa lama aku mengenalmu?" Shinta beranjak dari duduknya, tubuhnya kini menjulang di hadapan sahabatnya yang terlihat lebih kecil dibanding dirinya. Memandang lekat kedua obsidian yang menatapnya dengan tatapan sedikit ragu.
Kinan menatap ke sekeliling, takut perhatian berpusat pada mereka berdua. Dia meraih tangan sahabatnya dan menyeretnya keluar dari sana. "Ayo kita kembali dulu."
Shinta tak menjawab pun menolak saat tangannya ditarik oleh Kinan keluar dari kantin, walau sebenarnya makanan yang sudah dia pesan beberapa saat lalu belum ada yang masuk ke dalam perutnya walau hanya sesuap.
Sementara itu Kinan sedang bergelut dengan pikirannya, antara ingin mengatakan semuanya atau tetap menutupinya seperti perintah Raka padanya. Kendati demikian dia sangat tahu bagaimana sikap sahabatnya yang lebih paham tentang dirinya ketimbang orang tuanya sendiri.
***
"Jadi?" Satu alis Shinta terangkat, seolah meminta penjelasan dari perempuan cantik di hadapannya yang sejak tadi berusaha mengulur waktu. Saat ini mereka sudah berada di meja kerja mereka masing-masing.
Kinan mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya, wajah cantik yang senantiasa membuat para laki-laki terkagum-kagum itu terlihat begitu memelas. "Tolong maafkan aku, tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu sekarang." Dia meraih lengan Shinta yang berusaha menghindarinya. "Aku butuh waktu dan sekarang bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semua. Aku harap kamu bisa mengerti."
"Kamu berharap aku mengerti untuk sesuatu yang bahkan aku tidak paham situasinya." Kini berbalik Shinta yang menggenggam tangan Kinan. "Kinan, kamu tahu sendiri, 'kan kalau aku sudah menganggapmu sebagai keluargaku, jadi kalau ada sesuatu tolong jangan sembunyikan dariku. Aku akan membantumu semampuku."
Perkataan yang baru saja terlontar itu sempat membuat pertahanan Kinan runtuh sekejap, ingin rasanya dia mengatakan semuanya pada sahabatnya sambil meminta saran apa yang harus dia lakukan ke depannya. Namun dia tahu betul bahwa masalah yang sedang dia hadapi saat ini bukanlah perkara biasa yang bisa dia ceritakan secara gamblang pada orang lain bahkan meskipun itu sahabatnya sekaligus. Lagipula yang mengetahui tentang pernikahannya dengan Raka hanya ayahnya, bapak penghulu dan kedua orang tua Raka yang sekarang menjadi orang tuanya juga.
"Aku tahu." Kinan melepaskan tangannya dari genggaman sahabatnya, punggungnya yang terasa tegang dia sandarkan pada sandaran kursinya kerjanya yang nyaman. "Tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang."
Shinta tidak memaksa lebih lanjut, melihat bagaimana sikap sahabatnya membuatnya urung memaksanya untuk mengatakan semuanya. Dia paham apapun yang terjadi pada sahabatnya itu adalah sesuatu yang tidak bisa dengan mudah dikatakan pada orang lain meskipun itu dirinya sendiri.
***
"Kau pulanglah lebih dulu, aku akan pulang nanti."
Ucapan Kinan terasa aneh di telinganya, Shinta sangat yakin bahwa sahabatnya sendiri yang memaksa dirinya agar senantiasa berangkat dan pulang dari tempat kerja bersama-sama. Lagipula dia sangat paham tentang Kinan yang buta arah dan sering tersesat jika dibiarkan bepergian sendirian. Ingatannya kembali berputar saat pagi tadi dia berencana menjemput Kinan di rumahnya, namun sahabatnya itu justru menyuruhnya untuk berangkat lebih dulu.
"Kau yakin? Kita, 'kan sudah janjian akan berangkat dan pulang bersama setiap harinya?" Tatapannya mengarah pada layar komputer milik Kinan yang masih menyala. "Kau masih punya pekerjaan yang harus diselesaikan? Aku akan menunggumu kalau begitu."
"Tidak perlu." Kinan buru-buru menghentikan pergerakan Shinta yang baru saja ingin mendaratkan bokongnya pada kursi. Dia tidak ingin sahabatnya itu menunggunya di saat dia sendiri tidak memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Lagipula dia akan pulang saat itu juga namun bersama Raka dan dia tidak ingin Shinta melihatnya
"Astaga, Kinan. Akhir-akhir ini kau bersikap aneh." Shinta menggelengkan kepalanya, raut wajah tak percaya memenuhi wajah cantiknya. "Kalau memang kau punya pekerjaan tambahan aku bisa membantumu."
Kinan menggeleng dengan tegas. "Tidak perlu, sungguh aku bisa melakukannya sendiri. Lagipula aku tidak mau menyusahkanmu."
Menghela napas, Shinta menjawab, "baiklah, aku akan membiarkannya saat ini." Dia meraih tas miliknya. "Aku pulang dulu, kalau kau butuh sesuatu telepon saja aku."
"Baiklah." Kinan tersenyum, terlebih saat punggung sahabatnya kini menghilang dari pandangannya.
Perasaan lega yang baru saja dia rasakan kini menghilang, tergantikan oleh perasaan cemas saat melihat sosok Adellia yang berjalan melewatinya. Bibir perempuan cantik itu terkatup rapat, namun tatapan matanya seolah mengatakan padanya untuk tidak melakukan sesuatu yang akan membuatnya menyesalinya.
Melihat di ruangan tersebut hanya tersisa dirinya seorang, Kinan segera membereskan barang-barangnya sebelum menyusul rekan kerjanya yang lain untuk pulang ke rumah.
Di parkiran dia sibuk mencari mobil yang sudah membawanya ke tempat itu tadi pagi, namun berapa kali pun dia berusaha mencarinya tapi apa yang dia cari tetap tidak terlihat di mana pun.
Perasaannya mulai kalut. "Apa Raka meninggalkanku?" Kepalanya menggeleng dengan keras. "Tidak mungkin, dia sudah berjanji pada ibunya."
Kembali langkahnya membawanya menyusuri area parkiran, sekali lagi mencari sebuah mobil yang cukup familiar di matanya namun selama beberapa menit mencari, apa yang dia cari tak kunjung dia temukan.
Perasaannya mulai semakin yakin bahwa Raka benar-benar meninggalkannya. Dia mengambil ponselnya, berniat untuk menelepon laki-laki yang sudah menjadi suami sahnya itu, akan tetapi gerakannya terdiam saat menyadari bahwa dia sama sekali tidak memiliki nomor ponsel laki-laki tersebut.
"Astaga, aku lupa meminta nomor teleponnya." Kinan menggigit bibir bawahnya, suaranya sudah mulai bergetar. "Andai aku tahu akan seperti ini jadinya, seharusnya aku ikut dengan Shinta saja tadi."
Sesaat dia berniat untuk menelepon sahabatnya yang dia yakin tidak akan keberatan jika disuruh untuk menjemputnya sekarang, akan tetapi perasaan tidak enak menyergapnya dia tidak ingin menyusahkan orang lain. Lalu jemarinya menggulir layar ponselnya dan menemukan nama ayahnya di sana. Tak menunggu lama dia segera melakukan panggilan dan berharap ayahnya tidak sibuk untuk menjemputnya saat ini.
***
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa pulang sendirian? Bukannya kau harus bersama nak Raka?" Rentetan pertanyaan diutarakan oleh Raden yang baru saja tiba, di lobi kantor dia melihat putri sulungnya berdiri sendirian tanpa ada yang menemaninya. Melihat situasi kantor yang sepi, dia sangat yakin bahwa anaknya adalah orang terakhir yang tertinggal di sana.
Perasaan lega sekaligus tidak enak menyergap Kinan, beruntung ayahnya masih bisa meluangkan sedikit waktunya untuk menjemputnya.
"Seharusnya memang seperti itu." Perempuan cantik itu melangkah masuk ke dalam mobil tua milik ayahnya. "Tapi Raka meninggalkanku," lanjutnya.
Raden menghela napasnya, perasaannya mulai tidak nyaman. Sejak pertama kali melihat wajah menantunya itu, ada sedikit perasaan aneh yang menyergap di relung hatinya. Dia tahu pernikahan putrinya dan menantunya itu disebabkan oleh sebuah insiden yang tidak dapat dihindari, namun keyakinannya bahwa Kinan dan Raka mungkin memiliki hubungan yang mereka berdua rahasiakan sebelumnya. Tidak mungkin mereka bisa berakhir di ranjang yang sama tanpa ada suatu sebab.
"Kau tidak menghubunginya?"
"Tidak." Kinan menggeleng ragu, merasa sangat malu mengakui bahwa dia tidak memiliki nomor ponsel suaminya sendiri.
Raden menatapnya tidak percaya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia salah mendengar jawaban putrinya tersebut. "Tidak punya?" tanyanya ulang demi memastikan dan kembali putrinya menggelengkan kepalanya.
Tangan kanannya mengusap wajahnya dengan kasar. "Bagaimana mungkin kau tidak memiliki nomor ponsel suamimu sendiri?"
Kinan tidak menjawab apapun, perasaan malunya sudah cukup membuatnya ingin menghilang dari hadapan ayahnya saat itu juga.
***
Kinan menatap pintu di hadapannya dengan perasaan gugup, itu adalah pintu apartemen milik Raka suaminya. Sejak benerapa saat yang lalu setelah ayahnya meninggalkannya di sana, dia tak pernah beranjak dari posisinya apalagi berusaha untuk membuka pintu dan masuk ke dalam.
"Aku tidak tahu pin kamarnya," gumamnya. Rasanya dia akan menangis sebentar lagi sebelum suara pintu yang terbuka membuat wajahnya yang semula menunduk kembali tegak.
Di depan sana Raka sedang menatapnya dengan tatapan dinginnya, laki-laki tampan itu tak mengatakan apapun sebelum memperlihatkan punggungnya dan meninggalkan sang istri dalam diam. Sejak tadi laki-laki tampan itu tak sanggup melihat perempuan di hadapannya seperti orang bodoh yang berdiri di depan pintu sendirian.
Kinan tak membuang kesempatan dan segera masuk ke dalam apartemen milik Raka sebelum pintu kembali tertutup dan meninggalkannya seperti orang bodoh di depan apartemen.
Mulutnya sedikit terbuka saat matanya menangkap sosok Raka, namun laki-laki tampan itu seolah jijik padanya dan segera masuk ke dalam salah satu kamar. Terlihat sekali bahwa dia berusaha menghindari Kinan.
Kinan hanya menghela napas, dilangkahkannya kakinya menuju kamar yang disediakan Raka untuknya. Laki-laki tampan itu jelas sekali tidak ingin berbagi kamar dengannya dan menyuruhnya untuk menempati kamar tamu.
Di dalam kamar yang sudah menjadi miliknya itu, Kinan menemukan beberapa koper yang berisi pakaiannya. Tadi malam ayahnya menyempatkan untuk membawakannya pakaian yang sangat dia butuhkan untuk tinggal bersama suaminya.
"Suami." Dia tertawa sumbang. "Apakah kami masih pantas disebut suami istri jika keadaannya seperti ini?"