“Tunggu.”
Kinan mempercepat langkahnya, berusaha mengejar langkah kaki laki-laki tampan di hadapannya yang baru saja keluar dari kamarnya. Setelah kejadian kemarin sore di mana Raka meninggalkannya di kantor seorang diri, pagi ini dia bertekad untuk bisa berangkat bersama dengan suaminya tersebut walau harus menahan rasa malu meski harus ditolak mentah-mentah.
“Aku ikut denganmu,” ucapnya saat pandangan keduanya beradu.
Bibir Raka terkatup rapat, padahal dia ada meeting yang harus dihadiri pagi ini namun perempuan di hadapannya malah membuat suasana hatinya berantakan seketika.
“Apakah kejadian kemarin masih belum membuatmu sadar?”
“Aku tahu, tapi bukankah ibumu sendiri yang bilang agar kita selalu berangkat bersama.”
Raka mendengkus, rasanya ingin tertawa melihat kenaifan sosok yang sudah menjadi istrinya walau hanya sebatas status tersebut. “Kau bodoh, ya? Yang mengatakan itu ibuku, tapi aku sendiri tidak pernah menyetujuinya.”
Kinan terdiam, ucapan Raka memang ada benarnya. Hanya karena sang ibu mertua menyuruh suaminya untuk berangkat bersama bukan berarti Raka akan dengan suka rela melakukannya.
“Tapi ...”
Belum sempat Kinan menyelesaikan kalimatnya, suara pintu yang terbuka membuat kedua sosok yang sedang berhadapan itu menoleh bersamaan. Di balik pintu muncul sosok Amanda dengan sebuah paper bag di tangannya.
“Kalian sudah mau berangkat, ya?”
Raka dengan sigap mendekati ibunya, mengambil alih barang bawaan sang ibu dan menyimpannya di atas meja. Sementara Kinan hanya terdiam di posisinya, perasaannya masih canggung terhadap perempuan yang sudah menjadi sosok ibu mertua baginya itu.
“Ada apa mama datang pagi-pagi?”
Amanda mengerutkan keningnya. “Apa mama tidak boleh datang?” Pandangannya kemudian beralih pada sang menantu yang masih terdiam mematung. “Atau mama mengganggu momen kalian berdua?”
Raka melirik sejenak pada Kinan. “Sama sekali tidak.” Atensinya mengarah pada arloji yang melingkari pergelangan tangannya dengan sempurna. “Hari ini ada meeting penting yang harus Raka hadiri.”
“Kalau begitu kalian berangkat sekarang, jangan buang-buang waktu.” Amanda meraih paper bag yang sebelumnya berada di atas meja. “Ibu hanya datang membawa kue untuk kalian makan sebelum berangkat kerja, tapi sepertinya mama terlambat.”
“Simpan saja di dalam kulkas, mah. Aku akan memakannya setelah pulang dari kerja nanti.” Raka berbalik badan, hendak melangkah keluar dari apartemennya sebelum suara ibunya menginterupsi langkahnya.
“Kau tidak pergi bersama Kinan?”
Mendengar namanya disebut, Kinan seperti baru tersadar dari lamunannya. Dia menatap ibu mertuanya sebelum memandangi raut wajah sang suami yang menampilkan raut tidak suka namun juga tak bisa menolak. Dalam hati dia tersenyum, merasa bersyukur atas kehadiran Amanda di pagi hari itu.
“Saya berangkat dulu, Bu.” Kinan meraih tangan kanan perempuan paruh baya di hadapannya, mencium punggung tangannya dengan lembut. Dapat dia rasakan sentuhan hangat telapak tangan sang ibu mertua di atas kepalanya, membuatnya merasa tenang seketika.
“Hati-hati di jalan.”
***
“Turunkan aku di sini.”
Raka yang tak siap segera menginjak rem dengan keras. “Kau pikir aku supirmu yang bisa kau suruh-suruh?” Nada suaranya naik satu oktaf, fokusnya harus berantakan karena ucapan Kinan yang tidak dia sangka-sangka.
“Lagipula kantor tinggal beberapa meter dari sini,” lanjutnya sambil memandangi gedung yang menjulang tinggi di depan sana. Perusahaan yang menjadi pencapaiannya di usia muda berkat kemampuannya yang mumpuni.
Kinan seolah tak terganggu dengan kemarahan Raka, perempuan cantik itu lebih memilih membuka pintu dan keluar dari mobil setelah memastikan tidak ada orang yang akan melihatnya.
“Terima kasih,” ujarnya sebelum berlari menjauh, meninggalkan Raka yang seolah tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.
“Aman.” Kinan menghembuskan napas dengan lega sesaat setelah dirinya tiba di meja kerjanya. Berkat Raka yang selalu berangkat lebih pagi dari karyawan lainnya, dia jadi bisa menghindari tertangkap basah berangkat bersama. Terlebih dia tidak ingin Adellia kembali mencurigainya.
“Apanya yang aman?”
“Astaga.” Kemunculan Shinta yang secara tiba-tiba membuat Kinan mengusap dadanya, jantungnya terasa akan melompat dari tempatnya beberapa saat yang lalu.
“Kau aneh.” Meskipun mengatakan hal itu, Shinta tak mengatakan apa-apa lagi. Lagipula dia sadar bahwa sahabatnya itu memang sudah aneh sejak dulu.
***
Raka berjalan menuju area parkiran yang berada di lantai bawah gedung, langkah kakinya terasa ringan setelah meeting yang diadakannya bersama klien penting itu berakhir dengan baik. Beruntung dia bisa tiba beberapa menit sebelum tamu kehormatannya tiba.
“Pak Raka.”
Langkahnya terhenti saat sebuah suara yang lembut memanggil di balik punggungnya, dia menoleh hanya untuk mendapati sosok perempuan yang terasa asing di ingatannya. “Ada apa?”
Adellia berjalan mendekat dengan lengkungan di bibirnya, ini adalah momen yang selalu dia harapkan untuk terjadi di hari-hari sebelumnya. Berdua bersama sang pujaan hati yang sudah lama merebut hatinya.
Dia ingat saat pertama kali melihat wajah tampan di hadapannya itu, saat pamannya tidak sengaja meninggalkan dokumen penting di rumahnya yang kemudian membawanya menuju gedung tinggi yang dipimpin oleh laki-laki tampan itu. Lobi adalah tempat di mana cintanya tumbuh sesaat wajah tampan Raka muncul di hadapannya.
“Maaf mengganggu waktumu, tapi apa boleh aku menumpang di mobil Pak Raka?” Adellia melangkah semakin dekat, parfum yang baru saja dia semprotkan beberapa saat yang lalu terasa menyengat menyentuh hidung. “Lagipula rumah kita searah.”
“Apa kau tidak bisa pulang sendiri?” Kedua alis Raka terangkat, dia tidak mengenali perempuan itu tapi dengan lancangnya dia ingin menumpang di mobilnya. Bahkan untuk sekadar memberi tumpangan pada Kinan saja dia enggan jika bukan karena ibunya.
“Hari ini aku tidak membawa mobil karena mogok di tengah jalan.” Adellia tanpa rasa malu meraih tangan laki-laki tampan di hadapannya. “Boleh, kan, Pak?”
Raka bergidik saat tangan lembut Adellia menyentuhnya, dengan cepat dia menepisnya. “Singkirkan tanganmu dariku.” Raut wajahnya tampak seolah baru saja menyentuh kotoran beberapa saat yang lalu. “Aku yakin kau pasti tahu aku paling tidak suka disentuh oleh orang lain.”
Adellia yang diperlakukan seperti itu tampak terkejut, tak menyangka rayuannya tak mempan pada sosok laki-laki di hadapannya. Padahal itu adalah trick yang sudah biasa dia gunakan untuk menggoda laki-laki yang menjadi incarannya dan itu selalu berhasil.
“Maafkan aku.” Perasaan malu menyergapnya, dengan cepat dia mundur selangkah ke belakang membiarkan sosok Raka beranjak melangkah lebih jauh darinya. Tatapan Raka barusan sudah cukup membuatnya merasa terhina.
“Cari mobil lain, aku tidak suka ada yang menumpang di mobilku terlebih itu seorang perempuan.”
Raka mempercepat langkah kakinya saat mobil kesayangannya sudah tampak di depan mata, namun langkahnya sempat terhenti saat melihat sosok perempuan yang berdiri bersandar di pintu mobil.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Kinan yang sejak tadi menunggu di samping mobil menoleh, raut wajahnya tampak bahagia melihat sosok yang sejak tadi ditungguinya kini berdiri di hadapannya. “Akhirnya kau datang juga, aku sudah menunggumu sejak tadi.”
Raka memijit pelipisnya, baru saja dia berhadapan dengan perempuan yang menyusahkan dan sekarang dia harus menghadapi satu perempuan yang jauh lebih merepotkan lagi. “Masuklah,” perintahnya dengan nada dingin. Dia sudah cukup lelah untuk berdebat saat ini.
Kinan tak mempermasalahkan hal itu, dia buru-buru masuk ke dalam mobil sebelum Raka berubah pikiran dan kembali meninggalkannya. Rencananya untuk datang ke parkiran lebih dulu berhasil, bukan karena dia tidak punya rasa malu tapi pulang bersama Raka yang serumah dengannya jauh lebih baik dari pada harus meminta ayahnya menjemputnya seperti biasa. Lagipula dia tidak akan mungkin mememinta Shinta mengantarnya ke apartemen Raka yang berujung hubungan pernikahan mereka bisa ketahuan.
Kinan melirik wajah suaminya, laki-laki tampan itu terlihat sangat fokus pada jalanan di depannya. Satu yang Raka tidak tahu bahwa Kinan menyaksikan semuanya saat Adellia berusaha mendekatinya di parkiran tadi, namun dia lebih memilih untuk bungkam.
***