“Ibu, di mana jaketku?”
Teriakan yang nyaring di pagi hari itu seolah dapat menembus dinding tiap rumah yang ada di sana. Perempuan cantik dengan tubuh tinggi berlari menuruni anak tangga dengan cepat. Saat atensinya menangkap sosok perempuan paruh baya yang sibuk menyeruput tehnya di depan televisi, amarahnya semakin memuncak.
“Ibu!” teriaknya sembari berjalan mendekat. “Ibu taruh di mana jaketku? Aku sudah terlambat masuk kampus gara-gara ini.”
Niken Dewantara, perempuan berusia 60 tahun yang sedang menikmati waktu indahnya di pagi hari itu menoleh pada putri kesayangannya. Dia mendelik tajam. “Mana ibu tahu, itu, kan jaketmu. Cari saja di dalam lemarimu.” Kembali dia menyeruput tehnya yang masih mengepulkan asap.
Sang putri Larasati Pratama, perempuan berusia 23 tahun dan masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah itu menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras. “Tidak ada, aku sudah mencarinya berulang kali tapi tetap saja tidak ada.”
“Pakai saja dulu apa yang ada, jangan bikin masalah pagi-pagi begini.” Pandangan mata Niken menuju kamar anak angkatnya yang berada tak jauh dari ruang tamu. “Lagipula Kinan kemana, sih? Rumah sudah sekotor ini butuh dibersihkan dia malah menghilang.”
Laras menyilangkan kedua tangannya. “Tidak tahu, pakaian kotorku juga menumpuk butuh dicuci tapi dia malah kabur entah ke mana.” Sejenak dia melirik jam dinding yang menempel di atas televisi, sebelum mulai berlari menuju kamarnya di lantai atas. “Astaga, aku sudah terlambat.”
“Hati-hati, jangan berlarian seperti itu.” Niken memperingati putrinya, dia paling tidak suka saat ada lecet sedikitpun di tubuh putri semata wayangnya yang menjadi aset berharganya itu.
Meskipun Kinan sudah mereka angkat sebagai anak sejak dua puluh tahun yang lalu. Tak sedikitpun perasaan sayangnya dia limpahkan pada gadis kecil yang malang itu, baginya Kinan hanyalah sebagai pemancing agar dia yang memang belum dikaruniai seorang anak itu bisa memiliki anak secepatnya. Berbeda dengan suaminya yang selalu berusaha memanjakan anak angkatnya itu yang terkadang membuat anak kandungnya sendiri merasa cemburu.
“Ada apa pagi-pagi begini kalian sudah ribut?” Raden muncul dari ambang pintu utama, dia yang sejak tadi sibuk membersihkan halaman depan rumah sekaligus memanaskan mobil tuanya merasa sedikit terkejut mendengar suara ribut dari dalam rumah. Hal yang beberapa hari ini menjadi rutinitas harian dalam keluarganya setelah pernikahan Kinan dan Raka yang hanya dirinya yang tahu.
“Papa jujur saja, Kinan di mana? Anak itu kabur ke mana?” Niken menghujani suaminya yang baru muncul di hadapannya dengan rentetan pertanyaan. Suasana hatinya yang sudah jelek selama beberapa hari ini menjadi semakin buruk, terlebih saat suaminya selalu berusaha mengalihkan pembicaraan tiap kali dia bertanya tentang keberadaan anak angkatnya yang memang bertugas membersihkan rumah selama ini.
Raden menghela napasnya, perempuan yang sudah menjadi istrinya selama lebih 30 tahun itu tidak pernah berubah sejak dulu. “Kinan tidak kabur, ma. Dia di rumah kerabatnya, sesekali dia akan datang mengunjungi kita jika dia ada waktu.”
“Siapa kerabatnya? Bukannya dia tidak punya keluarga? Satu-satunya keluarganya cuma kita, pa.” Niken mendengkus, kembali mendaratkan bokongnya ke atas sofa yang empuk setelah berdiri beberapa menit yang lalu. Tubuhnya yang berisi menjadi lebih mudah lelah karena jarang digerakkan.
“Pokoknya mama mau anak itu pulang sekarang juga, rumah ini sudah butuh untuk dibersihkan.” Dia menyampirkan rambut ikalnya ke belakang. “Kebiasaan anak itu, suka kabur dari pekerjaannya. Sangat tidak bersyukur padahal selama ini kita yang biayai hidupnya.”
“Kinan tidak akan pulang dalam waktu dekat, jadi sebaiknya mama mencoba bersihkan rumah sendiri dulu.” Raden beranjak dari posisinya, lelah berdebat dengan sang istri yang memang tidak pernah ada habisnya.
Niken menggeleng dengan tegas. “Tidak mau, pekerjaan itu sangat tidak cocok denganku.” Dia memandangi punggung suaminya yang baru saja akan melewati pintu. “Atau setidaknya sewa pembantu untuk bersih-bersih di rumah, itu ‘kan tugasmu sebagai suami.”
Raden lebih memilih untuk tidak menjawab, hatinya akan semakin sakit jika mereka berdebat lebih jauh dari ini. Sejak kepindahan Kinan dari rumah itu, dapat dia rasakan kehangatan sebuah keluarga turut menghilang. Satu-satunya yang menganggapnya keluarga hanya sang anak angkat yang jauh lebih tahu cara menghargainya ketimbang sang istri dan putri kandungnya.
***
“Eh, Laras, itu bukannya kakakmu?” Perempuan denga kuncir kuda menunjuk pada satu arah, di mana sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan cafe yang mereka datangi sebelum memasuki jam kuliah yang baru akan dimulai setengah jam lagi.
Larasati yang selalu setia dengan kacamata hitamnya menoleh, kacamatanya sedikit dia turunkan demi bisa melihat dengan jelas sosok kakak angkatnya yang sudah beberapa hari ini belum pernah dia lihat lagi. Kaca jendela yang berada tepat di samping meja mereka tak menghalangi sosok Kinan yang bergerak turun dari mobil dengan tergesa-gesa.
Mulutnya terbuka sedikit, terkejut. “Astaga apa yang terjadi di sini?” Dia berdiri, bermaksud mendekati sosok yang terlihat terburu-buru meninggalkan tempatnya.
“Wah, enak, ya. Kabur dari rumah dan sekarang malah asyik pacaran.” Pandangan Laras menuju kaca mobil yang tertutup rapat, tak mengizinkannya untuk sekadar melihat masuk ke dalam demi melihat siapa sosok di balik kemudi. Namun hal itu cukup membuatnya yakin bahwa Kinan saat ini sudah menjadi seorang perempuan simpanan laki-laki kaya demi mendapatkan uang.
Tubuh Kinan menegang saat melihat sosok adik angkatnya yang kini berdiri di hadapannya bersama dengan teman kuliahnya yang lain. Tak menyangka akan ketahuan secepat ini, meskipun mereka keluarga tapi dia tidak pernah berharap pernikahannya diketahui oleh adik dan ibunya yang tidak bisa menjaga rahasia. Terlebih saat mereka tahu bahwa suaminya adalah orang terkaya di kota itu, bisa-bisa dia akan dijadikan perantara untuk meminta uang pada Raka di masa depan.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan, mengulur waktu adalah pilihan yang tepat dia lakukan saat ini. Sambil diam-diam berharap Raka segera pergi dari sana, namun tampaknya laki-laki tampan itu lebih memilih untuk diam di sana dan menonton pertunjukkan yang tengah berlangsung.
“Jangan mengalihkan pertanyaan.” Laras menyampirkan kacamata hitamnya di atas kepalanya, sesekali terus melirik ke arah mobil berharap siapa pun yang ada di dalam sana keluar untuk sekadar menampakkan wajahnya. “Pasti cuma laki-laki tua,” batinnya.
“Jawab saja kau sedang apa di sini? Dan apa yang kau lakukan dengan pemilik mobil mewah ini?” Laras memicingkan matanya. “Jangan bilang sekarang kau menjadi perempuan pemuas nafsu para laki-laki tua?”
Tiga orang perempuan yang sebaya dengan Laras menutup mulutnya dengan gerakan berlebihan. Mereka kompak memandangi Kinan dengan tatapan seolah-olah sedang melihat kotoran.
“Apa?” Kinan tersentak. “Aku tidak mungkin melakukan hal itu.” Dia tidak habis pikir dengan pemikiran adik angkatnya yang dia sayangi itu, sebutuh-butuhnya dia uang tapi tidak pernah terbesit sedikitpun dalam pikirannya untuk melakukan hal yang menjijikkan seperti itu.
“Apa pun yang kalian lihat hari ini, itu tidak seperti yang kalian pikirkan.” Dia mengibaskan tangannya. “Sudahlah, sebaiknya kalian berangkat ke kampus sekarang sebelum terlambat. Aku juga harus ke kantor sekarang.”
Laras berteriak saat melihat kakak angkatnya beranjak dari sana. “Ibu mencarimu, kau tahu tidak ada yang membersihkan rumah jika kau tidak ada.”
Akan tetapi Kinan lebih memilih untuk mengabaikannya dan tetap berjalan dengan langkah cepat. Meskipun sebenarnya rasa malu mulai menyerangnya terlebih saat beberapa orang yang berada di trotoar mulai melihat ke arahnya akibat teriakan sang adik.
“Mau sampai kapan kalian memperlakukanku seperti pembantu?” lirihnya.
***