Jam dinding yang berdetak pelan menjadi hiburan tersendiri di dalam ruangan yang hanya dihuni oleh seorang laki-laki. Laki-laki tampan yang terlihat menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dengan mata terpejam.
Ingatannya kembali pada beberapa jam yang lalu, di mana dia selalu menghentikan mobilnya tidak jauh dari kantor demi keinginan perempuan cantik yang beberapa hari ini telah menjadi istrinya.
Tidak ada perasaan cinta di antara keduanya, pernikahan berlangsung hanya karena mereka telah melakukan sesuatu yang telah melanggar norma agama. Perbuatan yang dilakukan tanpa sadar karena pengaruh obat-obatan yang hingga saat ini masih belum dia temui pelaku utamanya.
Suara pintu yang terbuka refleks membuat kedua matanya terbuka, memandang ke arah pintu memperhatikan sosok laki-laki muda yang perlahan berjalan ke arahnya.
“Apa kau sudah menemukan pelakunya?”
Gilang Abraham, laki-laki tampan berusia 30 tahun yang merupakan sekretaris kepercayaannya itu membungkukkan tubuhnya sedikit. “Maaf, Pak. Timku masih melakukan penyelidikan tapi masih belum bisa menemukan pelakunya.” Ucapannya terhenti hanya untuk sekadar mengamati raut wajah sang atasan sebelum melanjutkannya kembali.
“Tapi setidaknya kami sudah menemukan jenis obat apa yang ada di dalam minuman anda malam itu.” Laki-laki tampan berbalut jas hitam yang rapi itu menyerahkan sebuah map berwarna cokelat. “kami berhasil mengamankannya dari tempat kejadian sebelum pelakunya sempat menyingkirkan barang bukti.”
Raka menerima map coklat di depannya dan segera membukanya. Di dalam map tersebut terdapat sebuah dokumen dan sebungkus obat. Matanya dengan saksama membaca kata demi kata yang tertulis di dalam kertas yang ada di tangannya, sebelum kembali meraih sebungkus obat sejenis sedatif itu dan mengamatinya.
“Pada dosis tinggi dapat menyebabkan tidur pulas hingga kehilangan kesadaran,” gumamnya dengan mata yang tak lepas dari sebungkus obat di tangannya. Sudut bibirnya melengkung sedikit. “Ternyata begini cara kerjamu.”
“Maaf, apa anda mengatakan sesuatu?”
Raka menggeleng, tangan kanannya terangkat memberikan gerakan mengusir sekretarisnya tersebut. “Apa hari ini ada jadwal penting?”
Gilang membuka buku catatan kecil yang selalu dia bawa di dalam saku jasnya. “Untuk hari ini tidak ada, Pak.”
“Baiklah, kau boleh pergi sekarang.”
Laki-laki tampan yang selalu menampilkan wajah tanpa ekspresi itu membungkuk sejenak demi menunjukkan rasa hormatnya sebelum beranjak keluar dari ruangan.
Mendengar suara pintu yang kembali tertutup dan meninggalkannya kembali sendirian di dalam ruang kerjanya, Raka kembali menyandarkan punggungnya yang terasa berat. Meskipun pelaku sebenarnya belum terungkap, namun pikirannya tertap tertuju pada Kinan yang kemungkinan menjadi pelaku utama dari kejadian ini.
Sepanjang karirnya yang gemilang, sudah beberapa kali kejadian seperti ini hampir terjadi pada dirinya namun selalu berhasil digagalkannya. Akan tetapi malam itu dia terlalu lengah dan tak begitu memperhatikan sekitarnya sehingga tak sadar meminum minuman yang tidak dia ketahui kandungannya dan siapa pemberinya.
***
Kinan bangun dari tidurnya sambil meregangkan kedua tangannya ke atas, perasaannya begitu bahagia menyambut pagi yang cerah di hari libur yang hanya terjadi sekali dalam seminggu itu. “Hari Minggu yang meneyenangkan,” ujarnya.
Dia beranjak dari kasur dan membersihkan ranjang yang telah memberinya rasa nyaman selama tinggal di sana beberapa hari ini, hal yang tidak mungkin dia dapatkan di rumahnya dulu. Di mana dia dibiarkan tidur di ruangan bekas gudang dengan hanya beralaskan kasur lapuk yang terasa keras dan selalu berhasil membuat badannya pegal setiap pagi.
“Selesai.” Pandangannya mengarah ke setiap sudut kamar yang dia tempati, sementara senyum tak pernah lepas dari bibir tipisnya. “Ternyata menikah dengannya tidak buruk juga.”
Meskipun pada awalnya dia menganggap pernikahannya bersama Raka adalah awal dari neraka di hidupnya, namun pada kenyataannya dia berhasil keluar dari rumah yang lebih cocok disebut neraka itu dan hidup tenang di apartemen Raka.
Sudah sejak lama dia ingin keluar dari rumah yang menjadi saksi perjalanan hidupnya itu, dengan niat bekerja di perusahaan besar dengan gaji tinggi sehingga bisa menabung dan pindah rumah. Impiannya sejak kecil yang terasa jauh dan susah untuk dia gapai ternyata bisa dia dapatkan melalui takdir pernikahan yang awalnya dia anggap buruk.
“Tapi aku tetap tidak boleh lengah.” Dia menghela napas. “Cepat atau lambat, satu hari nanti Raka pasti akan mengusirku dari sini. Jadi sebelum itu terjadi aku harus menabung lebih banyak uang.”
Kinan yakin sikap Raka yang tetap terlihat tenang dan seolah tak berani mengusirnya itu tampak seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja, dan sebelum hal itu terjadi dia harus mempersiapkan diri lebih dulu. Karena kembali ke keluarga yang selalu menganggapnya sebagai pembantu adalah satu-satunya hal yang tidak ingin dia lakukan di masa depan.
Saat dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Kinan bisa mendengar suara pintu yang dibuka dari luar. Keningnya mengernyit sedikit, padahal dia sangat yakin di apartemen itu hanya ada dirinya. Raka selalu berangkat dini hari walau di hari minggu sekalipun meski hanya sekadar jogging di sekitar kompelks.
Hal itulah yang membuatnya sadar perbedaan antara si kaya dan si miskin. Orang dengan kekayaan melimpah tak pernah membuang-buang waktu, meski di hari libur seklipun pikiran mereka tetap berjalan demi memikirkan bagaimana caranya agar bisnis mereka tetap berkembang. Sementara untuk orang-orang miskin sepertinya lebih memilih menikmati waktu di hari libur tanpa melakukan apa pun.
Daripada menebak-nebak sendirian, Kinan lebih memilih untuk keluar dari kamarnya dan mencari tahu siapa orang yang memasuki apartemen Raka.
Saat dia membuka pintu, jantungnya berdebar dengan kencang saat tatapannya beradu dengan seorang perempuan muda yang berdiri hanya berjarak tiga langkah dengannya. Perasaannya mulai tidak karuan dengan berbagai spekulasi bermunculan di kepalanya.
“Apakah Raka memiliki seorang kekasih?” batinnya. Lagipula tidak mungkin seorang laki-laki tampan yang sukses seperti Raka tak memiliki seseorang yang istimewa di hidupnya. Ucapan Raka di hari pernikahan mereka kembali terngiang di telinganya.
Dia menebak mungkin inilah alasan mengapa Raka menyuruhnya untuk tak mengurusi hubungan asmaranya dengan siapa pun, begitupun dengan dirinya yang diberi kebebasan oleh Raka untuk dekat dengan siapa pun.
Sama dengan Kinan, perempuan muda yang baru saja masuk ke dalam rumah itu jauh lebih terkejut lagi. Dia tidak pernah tahu bahwa ada perempuan yang akan tinggal di apartemen Raka yang selama ini dia ketahui tak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun.
“Kau siapa? Apa yang kau lakukan di rumah Raka?” Perempuan muda dengan tubuh sedikit berisi itu melotot, tampak menggertak sosok perempuan di hadapannya yang baru pertama kali ini dilihatnya.
Anehnya Kinan justru merasa seperti maling yang tertangkap basah di rumah suaminya sendiri. Dia tampak bingung, entah harus menjawab jujur atau tetap merahasiakan hubungan pernikahannya dengan Raka.
“Saya karyawan yang bekerja di perusahaan Raka.” Akhirnya Kinan lebih memilih untuk merahasiakan hubungannya dengan Raka, terlebih dia masih belum mengetahui siapa sosok di hadapannya itu.
Perempuan muda di depannya yang pada awalnya merasa was-was kini memandangnya dengan tatapan remeh. “Apa? Ternyata cuma karyawan biasa tapi berani sekali masuk ke dalam apartemen Raka.” Pandangannya lurus ke depan melewati tubuh Kinan di mana terdapat sebuah pintu di sana. “Dan dengan lancangnya masuk ke dalam kamar.”
Alis Kinan bertaut, perasaan marah membuatnya ingin sekali membalas ucapan menyakitkan sosok perempuan di hadapannya. Meskipun dia hanya berasal dari keluarga menengah ke bawah bukan berarti dia akan diam saja saat harga dirinya diinjak-injak. Namun dirinya belum mengetahui sosok di hadapannya sehingga memaksanya untuk tetap bersikap hati-hati.
“Apa yang kalian lakukan berdiri di tengah jalan?”
Suara maskulin yang terasa seperti penyelamat itu membuat perasaan Kinan terasa lega, dia tersenyum memandangi sosok suaminya yang baru saja selesai jogging di pagi hari. Keringat yang mengalir di pelipisnya memberi kesan seksi alami yang secara tak sengaja membuatnya terpana sejenak.
“Astaga, kamu baru pulang?” Perempuan muda di depan Kinan bergerak mendekati Raka, merangkul lengan laki-laki tampan itu dengan manja. “Aku kangen.”
Kinan yang melihat pemandangan di hadapannya hanya mampu terdiam, terlebih saat melihat Raka seolah tak keberatan dengan sikap perempuan yang merangkulnya dengan manja itu.
***