Melihat ekspresi tidak biasa di wajah perempuan cantik di hadapannya, Raka merasakan kepuasan tersendiri. Sudut bibirnya sedikit terangkat, ingin melihat ekspresi itu semakin lama namun tangan lembut yang menyentuhnya tanpa izin tetap saja membuatnya risih.
Tangan kanannya terangkat, menyentuh punggung tangan perempuan cantik bertubuh sintal yang masih setia bermanja-manja dengannya. “Andini, kau masih punya pekerjaan yang harus kau selesaikan, bukan?”
Andini Amirah, perempuan cantik yang masih berusia 20 tahun itu menampakkan wajah cemberut. Dengan terpaksa dia harus melepaskan lengan kekar yang sejak tadi dipeluknya. Padahal itu adalah kesempatan yang bagus untuk memamerkan kedekatannya dengan laki-laki tampan itu pada perempuan asing yang berdiri di hadapan mereka.
“Aku baru saja sampai.” Matanya tertuju pada perempuan cantik yang sejak tadi seperti kehilangan kemampuannya untuk berbicara. “Siapa perempuan itu? Lancang sekali dia masuk ke dalam apartemenmu tanpa izin.”
Raka memandangi Kinan yang menatapnya dengan tatapan penuh tanya, dia sangat yakin perempuan cantik itu memiliki banyak sekali pertanyaan yang ingin dia lontarkan saat ini. Dia tersenyum, senyum yang tampak seperti mengejek dan merendahkan bagi perempuan yang memiliki status sebagai istrinya itu.
Dia berjalan melewati Kinan begitu saja, tak menoleh sedikitpun seolah tidak ada orang di sana. “Tidak perlu memikirkan soal dia. Kau lakukan saja pekerjaanmu dan anggap saja dia tidak ada di sini.”
Andini yang mendengar hal itu merasakan kepuasan tersendiri, berkat ucapan Raka membuatnya merasa yakin bahwa perempuan cantik di hadapannya bukanlah seseorang yang harus dia khawatirkan.
“Aku pikir perempuan itu adalah kekasihnya, untung saja bukan,” batinnya. Tanpa mengatakan apapun, Andini segera berlalu dari sana setelah sebelumnya memastikan Raka telah memasuki kamarnya.
Melihat kepergian dua sosok di hadapannya membuat Kinan tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri. “Sebegitu tidak pentingnya aku di matamu.” Tentu saja tidak ada yang mendengar ucapannya selain dirinya sendiri.
Merasa penasaran, Kinan melangkah menuju dapur di mana Andini sedang meraih celemek yang digantung tidak jauh dari kitchen sink. Kedua alisnya bertaut masih belum bisa menebak siapa sosok perempuan di hadapannya dan apa tujuannya untuk datang ke rumah ini.
Suara senandung yang lembut meluncur dari bibir perempuan bertubuh sintal di depannya, dengan hot pants yang memperlihatkan kaki putihnya dan baju kaos putih yang tampak pas ditubuh menggodanya.
Kinan melirik tubuhnya sejenak. “Tidak ada yang bisa dibanggakan,” ujarnya sambil menghela napasnya. Baru kali ini dirinya merasa rendah diri melihat aset yang dimiliki perempuan cantik di depannya yang kini mulai menyadari kehadirannya di sana.
Andini menoleh dengan wajah terkejut, tak menyangka kegiatannya sejak tadi ada yang memperhatikan. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Kinan kebingungan, matanya melirik kulkas dua pintu yang berada cuma tiga langkah dari posisinya berdiri. “Aku hanya mau mengambil air minum di dalam kulkas.” Tangan kanannya dengan cepat membuka pintu kulkas dan meraih satu botol air minum yang memang tersedia di dalam sana.
“Jangan ambil yang itu!” sergah Andini. Perempuan cantik itu melangkah cepat mendekati Kinan dan merebut botol air minum yang dipegangnya. “Ini milik Raka.” Sebelum Kinan tersadar dari rasa terkejutnya, Andini kembali memasukkan botol minum di tangannya ke dalam kulkas dan menutupnya kembali.
Tatapannya mengarah pada tubuh Kinan dari atas ke bawah berulang kali sebelum mendengkus. “Jangan sembarangan menyentuh barang yang bukan milikmu.” Kemudian kembali melanjutkan aktifitas yang sempat terjeda.
“Apa?” Kinan merasa tidak percaya atas perlakukan perempuan yang dia ketahui bernama Andini setelah Raka menyebut namanya tadi. Sudah hampir satu minggu dia tinggal satu atap bersama laki-laki tampan itu dan ini adalah pertama kalinya dia melihat ada orang lain yang masuk ke dalam apartemen Raka selain dia dan orang tua laki-laki tampan itu.
“Andini.”
Baru saja dia akan mengeluarkan pertanyaan, namun suara berat Raka terdengar dari arah belakangnya. Kinan menolah dan menemukan Raka yang bersandar pada dinding dengan kedua tangan yang menyilang, memandanginya dengan tatapan dinginnya yang khas.
“Andini, aku akan keluar sebentar. Kau tidak apa-apa kalau aku tinggal?”
Kinan merasa tidak terbiasa dengan nada suara Raka yang terdengar lembut di telinganya saat ini. Selama mengenal laki-laki tampan itu, hanya ada suara bentakan atau amarah yang meledak tiap kali mereka melakukan percakapan.
Andini yang menyadari kehadiran Raka di sana tersenyum lebar, tingkah lakunya yang kasar pada Kinan beberapa saat lalu berubah lembut dan manja seketika. “Tidak apa-apa, aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebelum kamu kembali nanti.”
Raka hanya tersenyum, namun ketika matanya menangkap sosok Kinan yang memandang ke arahnya senyum itu memudar. Laki-laki tampan itu beranjak dari sana tanpa mengatakan sepatah katapun pada istrinya tersebut.
***
“Tidak seperti biasanya kau datang ke rumahku?” Perempuan cantik dengan tinggi semampai itu membuka pintunya sedikit, penampilannya tampak acak-acakan menandakan bahwa dia baru saja beranjak dari atas kasurnya.
“Kebiasaanmu selalu bangun siang itu tidak pernah berubah, ya.” Kinan menyelonong masuk, melewati Shinta yang menguap lebar di belakangnya. Sudah terbiasa melihat penampilan sahabatnya yang memang tak terlalu memperhatikan penampilannya jika sedang berada di rumah terlebih di hari Minggu begini.
Dia mengambil selembar baju kotor dari atas lantai sebelum menyampirkannya di sandaran sofa. “Setidaknya bersihkan rumahmu, meskipun kau tinggal sendiri bukan berarti tidak akan ada tamu yang berjunjung, ‘kan?”
“Cerewet.” Shinta merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang selalu menjadi tempat favoritnya. “Kau sama cerewetnya dengan ibuku.” Dia kembali menguap dengan mata terpejam.
Kinan hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu. Niatnya ingin menjernihkan pikiran malah berakhir pusing melihat kamar kos sahabatnya yang seperti kapal pecah.
“Ngomong-ngomong, tumben sekali kau datang ke sini. Ada apa?” Setelah beberapa detik mengumpulkan nyawanya, Shinta kembali duduk dan memeluk boneka beruang kesayangannya. Dia merasa pasti ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya dan dia bersiap mendengarkan keluh kesah perempuan cantik itu walau dengan penampilannya yang belum mandi sekalipun.
Mendadak Kinan bingung, pernikahannya dengan Raka tidak boleh dia katakan pada siapa pun termasuk perempuan cantik di hadapannya. Akan tetapi di saat yang bersamaan dirinya butuh seseorang untuk memberinya saran atau sekadar mendengarkan keluh kesahnya.
“Entahlah, aku juga bingung mau cerita.”
Kedua alis Shinta bertaut. “Biar kutebak. Kau dimarahi ibumu lagi?”
Kedua mata Kinan melebar. “Apa? Bukan begitu.” Dia terdiam sejenak. “Anggap saja begitu,” lanjutnya. Setidaknya dia bisa bercerita dan sedikit mengeluarkan apa yang ada di kepalanya saat ini.
“Sudah kuduga. Nenek Lampir itu memang selalu menyusahkan.” Shinta berdiri masih sambil memeluk boneka beruangnya yang tampak tercekek oleh pelukannya yang kuat, kemudian mandaratkan bokongnya di samping Kinan yang terpaksa memberikan ruang sedikit untuk sahabatnya itu bisa duduk di sofa tunggal yang dia duduki.
“Yang sabar, ya sayangku. Andai kau mau kamu bisa tinggal denganku di sini.” Dia memeluk tubuh sahabatnya yang memang lebih pendek darinya dan menepuk pucuk kepalanya dengan pelan.
Kinan bergedik berusaha menjahkan tubuhnya dari sahabatnya, dia menutup hidungnya. “Mandi sana, kau bau.”
Shinta tak menghiraukan penolakan sahabatnya, senyumnya justru semakin lebar dan berusaha kembali memeluk tubuh Kinan demi menggodanya. “Ayolah, sayangku biarkan aku memelukmu sekali lagi.”
Kinan berhasil menjauh, sorot matanya seolah melihat sosok menyeramkan yang berusaha mendekatinya. Dia memeluk tubuhnya sendiri. “Berhenti. Kau membuatku merinding.”
Tawa Shinta meledak, merasa sangat puas karena berhasil mengerjai sahabatnya yang terlalu polos. “Iya, iya aku mandi,” ucapnya sambil berjalan menuju kamar mandi yang berada persis di samping dapur.
Baru saja Kinan bisa bernapas lega dan akan kembali duduk di sofa, suara menggelegar Shinta kembali terdengar.
“Kinan, aku lupa membawa handuk. Tolong ambilkan, ya!”
Kinan hanya bisa menggelengkan kepalanya, niatnya datang untuk melepaskan lelah di pikiran malah berakhir dengan menghadapi tingkah sahabatnya yang selalu berhasil membuatnya tak habis pikir dengan kelakuannya.
***