"Siapa perempuan itu?'
Pertanyaan yang sejak tadi terngiang-ngiang di kepala Kinan akhirnya terlontar juga. Rasa penasarannya tak dapat dia bendung lebih lama lagi, sehingga tanpa sadar bibirnya berucap tanpa otaknya sempat menghentikannya.
Langkah kaki Raka yang berjalan melewatinya begitu saja terhenti, laki-laki tampan itu memutar badannya menghadap perempuan cantik yang duduk dengan tenang di sofa ruang tamu apartemennya.
Sorot matanya begitu tegas, terlebih saat melihat betapa perempuan yang menerobos masuk ke dalam hidupnya yang damai itu tampak lebih tenang dari perkiraannya. Dagunya terangkat sementara kedua tangannya menyeruak masuk ke dalam saku celana yang dia kenakan, tampak menantang dengan penuh percaya diri.
"Apa urusannya denganmu?"
Kinan tahu reaksi yang dia dapatkan akan seperti ini, namun pertanyaan yang sejak tadi ada di kepalanya telah terucap sehingga tidak ada kata mundur lagi untuknya. "Aku berhak tahu."
Sudut bibir Raka terangkat, sedikit tidak menduga ucapan yang terlontar dari mulut istrinya yang sudah sah secara agama itu. "Memangnya kau pikir siapa dirimu?"
Perasaan malu menyerang Kinan, secara tidak sadar dirinya telah mengatakan hal yang membuatnya terlihat memalukan di hadapan laki-laki tampan yang selalu memandang remeh dirinya. Dia berdiri, membalas tatapan penuh sorot kebencian laki-laki di hadapannya.
"Tidak sepantasnya seorang perempuan memasuki rumah seorang laki-laki seperti itu."
"Lalu kau sendiri bagaimana?" Raka melangkah dengan pelan, sedangkan tatapan matanya tak lepas dari wajah sang istri yang perlahan berjalan mundur seiring langkah kakinya yang semakin maju.
Saat jarak di antara mereka semakin menipis, Raka sedikit membungkukkan tubuh tingginya agar wajah mereka berdua bisa sejajar dan dia bisa melihat wajah cantik yang mulai panik di hadapannya secara jelas.
"Apa kau merasa dirimu pantas berada di rumah ini?"
Kinan membuang muka, sebisa mungkin menghindari tatapan mencemooh yang dilemparkan laki-laki tampan di hadapannya. Merasa tak bisa mundur karena ada sofa di belakangnya, dia lebih memilih untuk bergeser ke samping kirinya.
"Aku istrimu," ujarnya pelan nyaris seperti bisikan, jika bukan karena suasana di sekitar mereka yang terasa sepi sehingga mereka bisa mendengar deru napas mereka sendiri, maka Raka tak akan bisa mendengarnya dengan jelas.
Tubuh Raka mundur selangkah, tawanya terdengar menyakitkan di telinga Kinan. Perempuan itu jelas tak mengerti apa yang lucu dari perkataannya.
"Hanya status, tak lebih dari itu." Tawa Raka mereda, kembali sorot matanya yang tajam memandangi tiap inci wajah cantik di hadapannya yang baru kali ini dia perhatikan secara seksama. "Lagipula bukankah sudah pernah kukatakan sebelumnya, bahwa apa pun yang aku lakukan itu bukan urusanmu. Aku mau dekat dengan siapapun itu tidak ada hubungannya denganmu."
Kinan mengatupkan kedua bibirnya dengan rapat, ingin menjawab namun bibirnya terasa kaku. Dia tidak akan pernah lupa dengan kalimat yang diucapkan laki-laki tampan itu di hari pernikahan mereka.
"Tapi setidaknya secara agama kita resmi sebagai suami istri dan istri berhak tahu apa pun tentang suaminya," jawabnya pada akhirnya, walaupun merasa berat untuk mengakui status mereka yang seolah hanya candaan di mata suaminya itu. Setidaknya dia harus mempertegas status mereka yang tetap saja sah secara agama dan tidak dapat diganggu gugat.
Raka tak langsung memberi responnya, laki-laki tampan itu lebih memilih diam dan memperhatikan ekspresi wajah yang diperlihatkan oleh perempuan cantik di hadapannya. Kemudian matanya turun ke bawah memperhatikan lekuk tubuh yang tampak kurus namun tetap berisi di bagian tertentu.
Merasakan tatapan laki-laki di hadapannya membuat Kinan merasa risih, dia mempererat kardigan yang sedang dipakainya untuk menutupi dress putih tanpa lengan yang sedang dia kenakan. Perasaan menyesal menyeruak masuk ke relung hatinya karena memilih memakai baju yang agak transparan jika diperhatikan secara detail tersebut.
"Apa kau mau tahu bagaimana seharusnya suami istri berperilaku?"
Sebelum Kinan sempat bertanya dan menebak apa yang akan dilakukan oleh laki-laki tampan di hadapannya. Dapat dia rasakan tangan besar Raka meraih wajahnya dan menempelkan bibir mereka, hanya sepersekian detik namun Kinan bisa merasakan bibir Raka yang menyentuh miliknya.
Dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh jangkung di hadapannya, sorot matanya tajam rasa amarah membendung di hatinya. Tidak pernah seumur hidupnya dia merasa begitu direndahkan oleh orang lain.
"Apa yang kau lakukan?" bentaknya. Dengan kasar punggung tangannya mengusap bibir yang baru saja disentuh oleh laki-laki tampan di hadapannya. Dirinya merasa begitu kotor melakukan perbuatan yang selama ini tidak pernah terbesit di dalam pikirannya sedikitpun.
Tanpa menunggu respon yang diberikan oleh laki-laki di hadapannya, Kinan berlari menjauh dari sana memasuki kamar miliknya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Wajahnya terbenam di atas bantal yang empuk demi meredam tangisnya yang pecah, ini adalah kesekian kalinya laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu membuatnya menangis.
Meskipun perbuatan Raka baru saja bukanlah sesuatu yang salah untuk mereka berdua lakukan karena bagaimanapun mereka berdua telah terikat oleh pernikahan, namun tetap saja dia merasa mereka tak pantas untuk melakukannya karena tidak ada cinta di antara mereka. Bahkan dia selalu berpikir bahwa cepat atau lambat laki-laki tampan itu akan menceraikannya sehingga dia bisa kembali bebas dan mengejar mimpinya.
Diam-diam dia menyesali keputusannya untuk menunggu laki-laki itu pulang dan menanyakan pertanyaan yang sebenarnya tak pantas untuk dia ketahui jawabannya. Seharusnya dia tetap berpegang teguh pada ucapan Raka yang mengatakan padanya agar mereka tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Lagipula jika dipikir-pikir tidak ada yang salah jika Raka memiliki kekasih dan membawanya masuk ke dalam apartemennya.
Sementara Raka baru menyadari perbuatannya sendiri setelah kepergian Kinan, dirinya sendiri tak menyangka akan melakukan hal tak terpuji seperti itu. Meskipun status mereka sudah sah sebagai suami istri, namun perasaannya mengatakan bahwa dia tidak sepantasnya melakukan hal seperti yang baru saja terjadi.
Jemarinya menyisir rambutnya dengan kasar, u*****n-u*****n kecil berhasil lolos dari bibirnya. Tak menyangka dirinya akan bereaksi demikian setelah melihat tubuh istrinya yang terlihat menggoda di matanya, padahal dia yakin perempuan cantik itu tak pernah bermaksud untuk menggodanya.
"Apa yang kau lakukan, Raka? Kau sudah gila, ya?" tanyanya pada dirinya sendiri. Perasaan marah bercampur rasa malu membuat pikirannya tak karuan, terlebih saat mendengar suara tangisan samar yang terdengar dari arah kamar yang ditempati oleh Kinan. Kamar yang selama ini selalu kosong namun kini dihuni oleh orang asing yang tiba-tiba menjadi istrinya.
Dia mengusap wajahnya sebelum melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri, bukan hanya Kinan namun dirinya juga butuh untuk menenangkan diri agar bisa kembali berpikir lebih jernih.
***