Aku Memang Pembawa s**l

2795 Words
"Astagfirullah! Mas stop Mas!!" Mas Izhar datang dengan berlari menuju Jo dan Wisnu yang masih bergelut. Ia menjauhkan tubuh Jo dari Wisnu yang sudah terkapar tak berdaya. "Awas lo Jo! Liat pembalasan gue!" "Mas stop Mas!" katanya pada Jo saat Jo ingin menerkam Wisnu lagi. "Mbak ada apa sih sebenarnya?" tanya Adinda. Aku menggeleng. Aku tidak bisa menceritakan semuanya karena begitu menyakitkan. Terkadang tidak semua masalah dapat dibagi, karena yang paling sakit bukanlah saat merasakan langsung kejadian itu, tetapi menceritakannya lagi saat semuanya sudah perlahan-lahan membaik. "Din bawa Mbak pulang, Din. Mbak takut." "Iya Mbak, iya..." Kemudian Adinda menggiring tubuhku menuju mobil. Aku tidak pernah mengira bahwa dahulu aku pernah mencintai laki-laki itu. Lihatlah, perangainya yang teramat buruk. Ia membuangku saat aku tak bisa memenuhi semua harapannya dan memperlakukan aku layaknya s****h. Aku tahu, aku bukanlah wanita yang sempurna. Tanpa ia mencelaku aku sudah sadar diri. Tidak ingatkah ia perjuanganku selama ini. Aku menerimanya saat ia bukanlah siapa-siapa. Aku menemaninya di masa-masa tersulit di dalam hidupnya. Aku mendampinginya saat ia masih menjadi karyawan biasa. Dan sekarang, ia sudah punya segala. Tidak bisakah ia menghargainya walau sedikit saja. Biar bagaimana pun juga, seburuk apapun diriku, setidaksempurnanya diriku, aku adalah orang yang pernah ada di hidupnya. Aku adalah orang yang pernah ia cintai dan pernah ia perjuangkan saat pertama kali mendekatiku dulu. "Mbak yang sabar, Mbak..." Adinda memelukku erat, aku pun mendekap tubuhnya. Saat ini aku ingin pulang, aku ingin menceritakannya pada Allah. Mas Izhar dan Jo masuk ke dalam mobil. Aku melirik Jo sekilas, rahangnya masih mengetat dan wajahnya merah padam. Tangannya pun terkepal dengan kuat. Aku takut kalau ia juga melakukan hal yang sama padaku. "Aku takut... Aku mau pulang..." Mas Izhar mulai menjalankan mobilnya. Di dalam mobil ini semuanya terdiam. Aku bersyukur baik Adinda maupun Mas Izhar tidak bertanya macam-macam. "Maaf Ni... Aku buat kamu takut..." lirih Jo. Aku meliriknya yang tengah menyugar rambut. Ruas-ruas jarinya terlihat lebam dan berdarah. Ya Allah jika semua ujian ini adalah jalan agar aku lebih dekat dengan-Mu aku ridha. Itu lebih baik dari kenikmatan yang menjauhkan aku dari-Mu. Aku ikhlas Kau memberikan aku cobaan seberat gunung, tapi aku mohon perluaskan sabarku seluas dunia dan seisinya. Sesampainya di rumah Ummi terlihat bingung dengan kondisiku yang sudah awut-awutan. Namun aku tidak bisa menjawab semua pertanyaannya malam ini. Yang aku inginkan saat ini hanyalah menyendiri di kamar tanpa ada seorang pun yang tahu bagaimana hancurnya aku malam ini. Nia masih menatap benda yang sama. Matanya tidak berpindah sedikitpun dari benda kecil dan pipih itu. Ini memang bukan hal pertama ia melakukannya, tapi sudah berkali-kali semenjak ia menikah. Dan lagi-lagi Nia harus menelan pil kekecewaan karena hasilnya selalu sama. Negatif. Nia keluar dari toilet sambil menggenggam benda itu. Di sana, tepat di depan ranjang seseorang tengah berdiri menanti kabar darinya. Ia berjalan ragu mendekati pria itu, lagi-lagi kabar yang sama harus ia ucapkan dari bibirnya itu. "Gimana Ni?" tanya pria itu. Nia diam, ia menggigit bibirnya sendiri karena takut. Karena tidak ingin membuat suaminya menunggu terlalu lama, akhirnya ia memberanikan diri mengucapkan berita yang sama. Lagi dan lagi. "Negatif, Wis." Wisnu mendengus kecewa. "Gimana sih?! Katanya kamu telat haid!" "Memang telat, Wis. Tapi belakangan ini aku lagi setres, mungkin itu penyebabnya," ucap Nia dengan lembut. "Kita masih bisa usaha Wis, mungkin Allah belum kasih kepercayaan kita punya anak," lanjutnya. "Arrgh! Dasar istri tidak berguna!!" Hardik Wisnu. Kemudian pria itu langsung pergi meninggalkan Nia sendiri di kamarnya. Nia mematung di tempatnya mendengar kalimat terakhir Wisnu. Label istri yang tidak berguna sungguh sangat menyakiti hatinya. Selama ini ia sudah berusaha menjadi sebaik-baiknya istri untuk Wisnu. Segala keperluan Wisnu dari ujung rambut hingga ujung kaki ia yang siapkan. Bahkan dirinya memutuskan berhenti kuliah hanya untuk menjadi ibu rumah tangga full time agar bisa merawat suami dan anak-anaknya kelak. Namun apa yang ia perbuat selama ini tidak dihargai sama sekali oleh suaminya. Tiga bulan lagi adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga. Nia berharap jika hari itu tiba, ada sesuatu yang mengisi rahimnya dan berkembang di sana. Sesuatu itu adalah buah cintanya dengan sang suami. Semoga saja, ia bisa memberikan kado terindah untuk pernikahan mereka. Segalanya sudah siap. Nia sudah menyulap ruang tamunya seperti candle light dinner. Malam ini ia sudah berdandan secantik mungkin, memakai gaun terbaiknya untuk menyambut kepulangan suami di ulang tahun pernikahannya yang ketiga. Nia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia sudah memberi tahu Wisnu, jangan sampai laki-laki itu lembur. Namun sepertinya suaminya itu sedang banyak kerjaan. Tiga puluh menit kemudian, senyum merekah tampak di wajah cantik Nia. Ia mendengar suara mobil suaminya yang memasuki pekarangan rumah mereka. Dengan hati berbunga, ia berjalan menuju pintu, seraya membukakannya untuk sang suami. "Happy Wedding Anniversary Yang yang ketiga tahun," Nia memeluk tubuh suaminya. "Tahun ini delapan tahun kita sama-sama kan? Aku harap kita bisa bersama selamanya sampai kakek nenek." Pelukan Nia melonggar, Nia tahu kalau suaminya itu tidak membalas pelukannya. Nia mempersilakan Wisnu masuk, tanpa melihat bahwa seorang wanita tengah membututi mereka dari belakang. "Surprise! Aku udah masak banyak banget buat kamu, Yang. Aku harap kamu..." "Aku mau ngomong sama kamu, Ni." "Kamu mau ngomong kalau kamu suka kan sama kejutan aku?" "Ni, aku serius. Aku mau ngomong." Nia terdiam. Pandangan mata Wisnu berubah serius. Nia menanti-nantikan ucapan apa yang akan keluar dari bibir sang suami. "Aku mau kita cerai!" Nia terdiam. Seluruh inderanya seakan terhenti. "Yaampun bercandanya nggak lucu banget sih! Nggak boleh tau, Yang bercanda pakai kata cerai." Nia memutari meja makan, mengambil piring, kemudian menyendok nasi ke piring untuk Wisnu. "Yaudah sekarang kamu makan dulu abis itu—" "Aku serius!" Nia menaruh piring itu di meja. "Kenapa? Kamu pasti bercanda kan? Haha aku tahu, kamu pasti lagi ngerjain aku." Nia tertawa, kemudian menangis. Bercandaan Wisnu membuat hatinya ketar-ketir tak keruan. "Aku nggak pernah bercanda. Keputusan aku udah bulat. Kita cerai!" Nia termangu bagai disambar petir di tengah hari. Segala logikanya tidak bisa berjalan. Tubuhnya kaku seketika tak bisa berkutik sama sekali. Air matanya sudah merebak membasahi pipinya yang putih. "Ke...kenapa?" tanya Nia lirih. "Aku rasa kamu tahu alasannya, Ni. Kamu nggak bisa kasih aku anak!" "Tapi kita masih bisa usaha, Wisnu! Kita masih sama-sama muda." "Usaha itu kalau membuahkan hasil. Ini nggak ada hasilnya sama sekali." seru Wisnu. "Beb sini..." Wisnu mengisyaratkan seseorang untuk segera menghampirinya. Saat orang itu sudah berada di dekatnya, ia merengkuh pinggang kecil perempuan itu, kemudian berkata dengan penuh jumawa. "Dia Dewi, pacar aku yang saat ini tengah mengandung anak aku. Kalau aku punya perempuan yang bisa kasih aku anak, nggak ada alasan untuk mempertahankan hubungan dengan kamu. Perempuan mandul!" Tangis Nia pecah. Ia meraung-raung memukul tubuh Wisnu. "Jahat kamu, Wis. Jahat!!" "Terserah kamu mau bilang aku apa. Aku pingin kamu cepet pergi dari sini! Dan satu lagi, rumah ini dan isinya adalah punya orang tuaku, jangan pernah kamu bawa sepeser pun harta dari sini, kecuali baju-baju kamu itu!" Nia pergi. Meninggalkan segala kenangan dan pengabdiaanya sebagai seorang istri. Seberapun usaha untuk mempertahankan rumah tangganya, tetap saja hal itu mustahil kalau hanya ia sendiri yang berjuang. Nia tidak pernah mengira, kalau laki-laki yang selama ini ia cintai dengan sepenuh hati, tega membuangnya seperti s****h. Kaki Nia berjalan tanpa arah. Kemana pun kakinya melangkah ia akan ikuti. Nia tidak tahu kemana ia harus pergi. Nia juga tidak tahu, kepada siapa ia harus berbagi kesakitan ini. Langit seakan runtuh menimpa tubuhnya. Hidupnya benar-benar hancur. Hatinya pun sudah berdarah-darah dan menganga tak berperih. "Ma... Pa... Kenapa kalian nggak ajak Nia pergi? Nia nggak punya siapa-siapa lagi sekarang..." Kaki Nia masih berjalan di atas trotoar. Sampai ketika ia mendengar gemericik air yang cukup kencang Nia melangkahkan kaki ke sana. Nia sudah berdiri di atas jembatan yang di bawahnya mengalir aliran air yang cukup deras. "Ma... Pa... Nia datang menyusul kalian." "Mbak Nia... Mbak... Bangun Mbak..." Aku membuka mata perlahan dan ku dapati wajah Adinda yang terlihat khawatir. Kepalaku terasa pening dan ketika aku sentuh ada sebuah handuk yang melingkar di keningku. "Mbak Nia kenapa? Dinda khawatir Mbak Nia tidur sambil menangis." "Mbak nggak papa, Din. Cuma mimpi buruk," ujarku seraya memberikan senyum agar Adinda tidak khawatir. Namun sepertinya cara itu gagal. Pertemuanku dengan Wisnu kemarin membuat mimpi buruk itu datang lagi. Ah, itu bukan mimpi buruk, melainkan kejadian pahit yang menimpaku dahulu. "Mbak... Makan dulu, Abangda sudah buatkan Mbak bubur setelah itu Mbak harus minum obat demam dari dokter Jo." Mendengar nama Jo disebut, aku kembali takut. Aku tidak pernah melihat Jo yang benar-benar seperti orang kesetanan kemarin malam. "Di makan dulu Mbak, sini Dinda bantu," ujar Adinda seraya memberikan mangkuk bubur itu. Aku menolak untuk disuapi, dan memilih memakannya sendiri. "Ummi kemana Din?" "Ummi sedang tidak ada di rumah Mbak, ada yang bisa Dinda bantu?" "Mbak mau mengunjungi Papa dan Mama Mbak di Bogor. Nanti tolong kamu sampaikan ke Ummi ya." "Tapi kan Mbak masih sakit, Dinda takut Mbak kenapa-napa." Aku tersenyum seraya mengelus tangannya, "kamu tenang aja Din. Mbak nggak papa kok." Sebelum aku pergi, aku mengunjungi kios laundry terlebih dahulu. Agar Bu Sati tidak menungguku datang dan sekalian menginfokan kepadanya kalau hari ini aku tidak bisa menemaninya di kios. Saat aku sampai, di sana sudah ada pelanggan yang ingin mencuci bajunya. "Mau diantar apa Ibu yang ambil sendiri?" Ku dengar Bu Sati berbicara kepada seorang Ibu-ibu. Dan baru ku ketahui kalau orang itu adalah Bu Lela. Aku jadi teringat obrolan Ibu-ibu julit di tukang sayur, kalau suami Bu Lela itu selingkuh dengan seorang janda. Astagfirullah... Aku jadi sensitif mendengar kata 'selingkuh'. "Di antar bisa, Bu?" tanya Bu Lela. "Bisa kok Bu," ujar Bu Sati pada Bu Lela. "Eh Mbak Nia sudah datang, toh." Aku tersenyum kepada Bu Sati dan juga Bu Lela. "Mbak Nia hebat ya, setiap hari pelanggannya makin banyak." "Alhamdulillah, Bu. Terima kasih ya Bu sudah jadi pelanggan di sini," ujarku kepada Bu Lela. "Iya Mbak... Di sini harganya lebih miring, dari pada laundry yang lain sih. Oh iya, saya permisi dulu ya Mbak. Jangan lupa diantar ya ke rumah saya." "Iya Bu Lela, terima kasih ya." Bu Lela langsung pergi meninggalkan kios ini. "Mbak Nia sakit? Kok mukanya pucat?" tanya Bu Sati. Aku senang Bu Sati mengkhawatirkan aku. Mengingat waktu itu Bu Sati sempat menamparku. Ke khawatiran Jo yang bilang kalau Bu Sati akan menyakitiku lagi tidaklah terbukti. "Nggak Bu, cuma nggak enak badan saja," ucapku sambil tersenyum. "Oh iya Bu, hari ini saya nggak bisa sampai sore di sini. Saya mau ke Bogor, ada keperluan. Dan ini," aku mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasku. "Gaji buat Ibu." Ibu Sati menerima amplop putih itu dengan tangan bergetar. Ia membawa amplop itu ke wajahnya seraya mengucapkan syukur. "Alhamdulillah, terima kasih Mbak Nia." Ibu Sati meraih tanganku, kemudian menciumnya. Aku tidak enak, biar bagaimana pun Ibu Sati lebih tua dariku. "Ya Allah Bu, tidak perlu sampai seperti ini. Itu adalah hasil kerja keras ibu." "Terima kasih banyak Mbak. Terima kasih. Maaf saya pernah menampar Mbak Nia. Saya menyesal, ternyata Mbak Nia ini orang baik. Saya malu Mbak..." "Kalau saya jadi Ibu, mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Orang lain kok bisa-bisanya ikut campur masalah orang. Semoga uang itu bermanfaat ya Bu, untuk Ibu dan juga Fikri." "Iya Mbak. Sekali lagi terima kasih..." Aku tersenyum, kemudian pamit pergi dari kios. Aku sampai di stasiun Bogor kemudian menaiki angkot untuk menuju tempat yang ingin aku kunjungi. Aku menyebut sebuah nama bendungan yang cukup terkenal di daerah Bogor dan supir angkot menurunkan aku di situ. Aku masih ingat kejadian beberapa tahun lalu di sini, sewaktu aku berniat bunuh diri. Allah masih sayang kepadaku sehingga ia mengirimkan Ummi Salamah untuk menolongku. Kalau tidak, mungkin aku sudah menjadi bahan bakar api neraka karena putus asa dari rahmatnya. Kakiku berjalan mengitari area sekitar. Aku begitu merindukan tempat ini. Cuacanya yang masih sejuk, membuat siapa saja merindukan tempat ini. Lima belas menit aku berjalan, tiba juga aku di sebuah tempat peristirahatan terakhir. Aku sadar, nantinya aku akan bernasib sama seperti mereka yaitu menjadi mayat. Di saat malaikat pencabut nyawa datang, di saat itu pulalah segala kenikmatan dunia terputus. Tidak ada lagi uang atau harta yang dapat membantu, hanya amal ibadah selama di dunia yang akan menjadi sahabat terbaik di alam kubur. Aku sampai di dua gundukkan tanah dengan nisan bertuliskan nama kedua orang tuaku. Sudah lama aku tidak mengunjungi mereka, bukan karena apa-apa, melainkan aku tidak ingin mereka mengkhawatirkan aku. Lagi pula Ummi pernah bilang kalau mendoakan seseorang itu akan sampai di mana pun kita berada. "Assalamu'alaikum Pa, Ma... Maaf Nia baru datang," sapaku kepada keduanya. Aku mengusap nisan yang mengukir nama mereka seraya mengusap wajah kedua orang tuaku. "Tapi Mama sama Papa tenang aja, doa Nia tidak pernah terputus untuk kalian." Ummi juga bilang kalau doa anak kepada orang tuanya merupakan hadiah terindah untuk mereka. Doa anak kepada orang tuanya merupakan amal jariyah yang akan terus mengalir walaupun kedua orang tua sudah tiada. "Mama sama Papa nggak usah khawatir ya. Alhamdulillah Nia baik-baik saja. Meskipun Nia tidak tinggal bersama Paman Surya, tapi Nia mendapatkan keluarga baru yang menerima Nia seperti keluarganya sendiri. Beliau Ummi Salamah Pa... Ma... Malaikat Nia selain kalian. Ma... Pa... Nia kangen... Nia pengen meluk kalian lagi. Nia kangen curhat sama kalian..." Semilir angin menerbangkan jilbabku ke sana ke mari. Gesekan ranting pohon terdengar bergelayut manja. Bunga kemboja terjatuh dari tangkainya. Aku tahu, kedua orang tuaku tidak bisa menjawab ucapanku. Hanya saja, aku merasa lega saat semuanya sudah aku keluarkan. "Ma... Pa... Baik-baik kalian di sana. Nanti, jika saatnya telah tiba Nia akan menyusul kalian. Insya Allah kita akan berkumpul kembali di surga-Nya kelak." Sebelum pulang tidak lupa aku mengirimkan doa kepada mereka. Menyiram peristirahatan mereka dengan air mawar dan juga aku menaburkan bunga di atasnya. "Nia pamit pulang Ma, Pa... Assalamu'alaikum..." Setelah dari makam, aku memutuskan kembali berjalan ke sebuah tempat yang menyimpan sejuta kenangan. Di tempat itulah aku dilahirkan serta dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuaku. Mereka memperlakukan aku layaknya putri raja. Mereka menyanyangi tanpa melihat kekurangan aku sedikitpun. Hanya mereka lah satu-satunya orang yang benar-benar tulus menyayangi aku tanpa meminta imbalan apapun. Aku sampai di sebuah rumah besar dengan gerbang berwarna hitam yang tinggi menjulang. Di sebelah kanan terdapat pos satpam aku segera menghapirinya, semoga saja Pak Irfan yang masih menjaga rumah ini. Senyumku mengembang saat mendapati Pak Irfan yang tertidur di meja satpam. Wajahnya sudah mulai menua, dan rambutnya sudah banyak yang memutih. Namun aku masih mengenalinya. "Permisi Pak..." Aku mencoba membangunkannya. "Pak Irfan..." "Saha maneh teh?" Pak Irfan terbangun dengan terkejut, tangannya sudah mengambil posisi kuda-kuda. Matanya memerah karena menahan kantuk. "Sepertinya wajah Neng nya nggak asing deh. Pernah melihat tapi dimana ya..." Pak Irfan berujar sambil setengah berpikir. Aku tertawa menatap ekspresinya yang lucu. "Bapak lupa sama saya ya?" "Non Nia! Ya ampun Non. Kumaha damang? Sudah lama tidak pulang si Non tuh," seru Pak Irfan dengan logat Sunda yang kental. Aku tertawa lagi, Pak Irfan ini merupakan Satpam sejak Papa dan Mamaku masih ada. Keluarganya juga bekerja di rumah ini, menjadi asisten rumah tangga. Itu pun jika belum diganti. "Paman Surya ada nggak Pak?" tanyaku. "Ada Non, di dalam. Baru saja pulang. Silakan masuk Non. Mari saya antar." "Nuhun, Pak." Paman Surya merupakan satu-satunya keluargaku dari Papa. Papa dua bersaudara, sedangkan Mama anak tunggal. Hanya keluarga Paman Surya yang aku punya. Kakiku melangkah menuju sebuah rumah dengan tiga lantai yang masih menjulang kokoh. Tidak ada yang berubah dari bangunannya, hanya warna catnya saja yang berubah. Di bagian sisi kanan juga masih terdapat kebun mungil yang ditanami tanaman hias. Aku jadi teringat Mama, dulu sewaktu Mama masih ada, Beliau sangat menyukai berkebun. Semua pohon hias ada di kebun milik Mama, dan aku bersyukur kalau Bibi Lisa masih merawatnya dengan baik. Setiap langkah yang ku lewati, setiap sudut dari rumah ini menyimpan berbagai kenangan yang tidak pernah bisa aku lupakan. Di tempat inilah aku pernah melewati hari-hari bahagiaku bersama Mama dan Papa. Pak Irfan benar, Paman Surya baru pulang. Di garasi aku bisa melihat ada tiga mobil yang terparkir. Aku tahu, siapa saja pemilik mobil itu. Pak Irfan membuka pintu utama, aku mengikutinya dari belakang. Aku mengedarkan pandang ke penjuru rumah. Furniture banyak yang diganti dan juga foto Mama dan Papa yang di pajang di ruang tengah sudah tidak ada. "Permisi Nyonya, ada Non Nia datang." Bibi Lisa nampak terkejut akan kedatanganku. Ia berdiri dari duduknya. Majalah fashion yang sedang ia baca ia jatuhkan ke meja dengan kasar. "Ngapain kamu ke sini, hah!" Bibi Lisa berteriak. "Nia cuma mau main, Bi. Nia kangen..." "Mau main? Hahaha... Oh, saya tahu kamu pasti mau merebut semuanya kan?!" Sama sekali tuduhannya salah besar. Aku hanya ingin bersilaturahmi dengan Paman Surya dan juga mengingat kenangan bersama orang tuaku dulu, di sini. "Bapak kenapa bawa dia masuk sih, Pak! Bawa dia pergi dari sini atau Bapak saya pecat!" hardiknya pada Pak Irfan. Pak Irfan nampak kebingungan antara menuruti Bi Lisa atau pun mengusirku dari sini. "Dia itu anak pembawa s**l, Pak! Orang tuanya meninggal karena dia, rumah tangganya hancur berantakan. Saya nggak mau kena s**l juga dekat-dekatan dengan dia!" "Ada apa sih Ma teriak-teriak?" Suara itu... Suara milik Paman Surya yang hampir sama dengan suara milik Papa. Aku merindukan suara itu, ya Allah... "Nia?" Paman Surya terkejut melihatku. "Arrrgghh!!" Paman Surya merintih sambil memegang d**a kirinya. Dan meringis kesakitan. "Pah..." Bi Lisa berteriak dan langsung berlari menuju Paman Surya. "Pergi kamu dari sini, pembawa s**l!" Ya... Aku memang pembawa s**l. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD