Apa yang terjadi sebenarnya?
Harusnya malam pertama merupakan saat-saat terindah bagi pengantin. Kalaupun Mas Izhar belum mencintai Adinda, ia bisa saja melakukan pendekatan terlebih dahulu kepada istrinya. Bukan malah seperti ini.
Ah, hal itu bukanlah urusanku. Aku tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga orang. Masalahku sendiri saja sudah berat, aku tidak ingin menambah beban pikiran.
Aku tetap melanjutkan niat awalku mencari obat maag. Syukurlah ada, dan aku langsung meminumnya. Aku juga sekalian mengambil wudu untuk salat malam.
"Mbak Nia..."
Suara Mas Izhar menginterupsiku dari belakang, saat ini aku memang sedang berada di dapur setelah dari kamar mandi. Aku menoleh ke arah sumber suara. Mas Izhar menatapku cukup lama. Pandangannya mengarah ke kedua mataku langsung, saat itu waktu seakan terhenti.
Mata Mas Izhar memerah. Pendaran matanya tidak secerah biasanya. Seperti ada kesakitan yang ia pancarkan dari matanya. Dan aku tidak tahu penyebabnya karena apa.
"Iya ada apa Mas? Mas mau dibuatkan sesuatu?"
Mas Izhar terdiam cukup lama. Namun pandangannya tidak lepas dariku. Aku bingung sebenarnya apa yang sedang terjadi?
"Mbak Nia..." Mas Izhar memanggil namaku dengan lirih, "salahkah saya kalau sebenarnya saya men–"
"Nia Izhar kenapa ada di sini?"
Ummi tiba-tiba saja datang dari arah kamarnya dan memutus pembicaraan Mas Izhar.
"Nia mau salat malam Mi," jawabku. Aku melihat Mas Izhar yang masih terdiam. "Mungkin Mas Izhar mau dibuatkan sesuatu."
"Buatkan saya kopi hitam Mbak."
"Iya Mas, tunggu sebentar ya."
Aku segera membuat kopi untuk Mas Izhar. Ummi mendekatiku dan berbisik, "Anas gimana?"
"Anas? Baik Mi."
Andai Ummi tahu kalau kemarin perkenalanku dengan Anas berakhir di ganggu oleh Jo.
"Cocok nggak sama kamu."
"Maksudnya cocok Mi?" tanyaku. Aku mengambil air panas, kemudian ku tuangkan ke dalam cangkir berisi kopi.
"Cocok nggak kalau dijadiin suami?"
"Anas masih terlalu muda buat Nia, Mi."
Entahlah, meskipun Anas tipe pria baik namun hatiku tidak ada kecocokan dengannya.
Jika nanti aku menikah, artinya itu adalah pernikahan kedua aku. Aku tidak boleh sembarangan memilih calon imam. Ia harus mencintai Allah dan Rasul-Nya, tentunya harus bisa berdamai dengan masa laluku.
Ummi mendengus kecewa karena rencananya yang batal. "Yaaaaa padahal Ummi mau banget liat kamu menikah."
Aku tersenyum ke arah Ummi sambil mengaduk kopi, "Ummi tenang saja, Insya Allah Ummi akan melihat Nia menikah nantinya. Nia mau antar kopi ini dulu ke Mas Izhar Mi."
Aku mengantarkan kopi ke Mas Izhar yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia sedang melamun, bahkan ia tidak sadar akan kedatanganku.
"Harusnya pengantin baru itu bahagaia loh Mas, bukan malah melamun terus."
Mas Izhar tersenyum getir, senyuman itu tidak lepas seperti biasanya. "Mbak Nia boleh saya bertanya sesuatu?"
"Boleh, asalkan jangan susah-susah ya Mas. Apalagi soal trigonometri," jawabku asal. Niatnya ingin menghibur Mas Izhar supaya tertawa, eh ternyata garing. Yasudah lah.
"Kalau misalkan Mbak Nia mencintai seseorang tapi orang itu nggak bisa Mbak Nia miliki apa yang Mbak Nia lakukan?"
Duuuh soal percintaan lagi. Percintaan aku saja kandas di tengah jalan.
"Ehm, gimana ya Mas. Saya juga bingung jawabnya. Kalau saya menjawab saya harus melepaskan dia dan bilang saya bahagia melihat dia bahagia, itu adalah hal termunafik yang pernah saya lakukan. Tapi saya juga sadar Mas, ada hal yang nggak bisa dipertahankan meski sudah diperjuangkan berkali-kali. Dan ada 'tangan' tak kasat mata yang sudah mengatur semuanya. Cara saya menghadapai hal itu, mungkin dengan jatuh cinta lagi. Yaitu jatuh cinta kepada Sang Pemilik cinta."
Duuuuuh kok aku malah curhat sih?
"Memangnya Mas Izhar sedang merasakan hal itu?"
Lagi-lagi Mas Izhar terdiam. Berkali-kali ia menarik napasnya dalam. "Iya, saya mencintai seseorang yang tidak mungkin saya miliki. Dia adalah perempuan sehebat Khadijah dan sekuat Maryam."
Hatiku benar-benar tertohok. Siapakah gerangan perempuan yang Mas Izhar maksud? Sampai-sampai Mas Izhar berhasil dibuatnya seperti ini.
"Cinta tidak pernah salah, Mas. Ia bisa datang kapan dan dimana saja tanpa tahu tempat." seperti saya yang tidak tahu diri diam-diam mencintai Mas Izhar. "Tapi kita juga bisa mengendalikan semua itu. Kita harus bisa mengatur hati, bukan hati yang mengatur kita. Apalagi Mas sekarang sudah punya bidadari cantik yang siap menemani Mas dalam keadaan apapun. Tugas Mas sekarang adalah merelakan hal yang sudah terjadi, dan berbalik arah untuk mencintai istri Mas. Percaya lah Mas, dia adalah jodoh terbaik yang sudah digariskan Allah dalam untaian takdir Mas."
"Saya nggak yakin bisa melakukannya."
"Mas pasti bisa. Ya pasti bisa, semangat Mas!" seruku sambil mengepalkan tangan ke udara.
Sisi diriku yang lain ikut berteriak, dasar munafik kau Nia!
Setelah salat Subuh aku ke dapur untuk memeriksa bahan makanan yang nanti akan dimasak untuk sarapan dan makan siang. Ternyata sudah banyak yang habis, dan harus segera dibeli lagi.
"Pagi Mbak," sapa Adinda.
"Eh Din, pagi."
"Mbak lagi ngapain?"
"Ini Mbak lagi cek bahan makanan, ternyata sudah pada habis nih."
"Mbak yang biasa nyiapin makanan?"
Aku mengangguk.
"Makanan kesukaan Abangda apa Mbak?" tanya Dinda dengan malu-malu. Kedua tangannya saling bertautan.
"Mas Izhar itu suka sup iga, sambal goreng ati, sama perkedel, Din."
Adinda mengangguk.
"Oh ya, Mbak mau ke tukang sayur depan dulu ya. Mau beli bahan masakan."
"Dinda ikut ya Mbak," serunya.
Aku tersenyum dan mengangguk, "ayo."
"Eh Bu tau nggak, masa suaminya Bu Lela itu selingkuh loh."
"Oh ya? Masa sih Bu? Kok bisa ya?"
"Ya bisa lah Bu. Bu Lela itu kan kerja nih , dari pagi sampe malem. Mungkin suaminya itu kurang jatahnya, jadi selingkuh."
Astagfirullah... Pagi-pagi seperti ini para ibu-ibu sudah nyumbang pahala dengan Bu Lela.
"Masak apa ya Din?" tanyaku pada Adinda. Aku bingung harus memasak apa hari ini.
"Masak kesukaan Abangda saja Mbak."
"Oh kamu mau masak buat Mas Izhar?"
Adinda mengangguk malu. Pipinya sampai memerah.
"Pak Darmo ada tulang iga nggak?" tanyaku pada Pak Darmo. Bapak usia tengah baya itu nampak mencari sesuatu, kemudian berkata "Yah Mbak saya lagi nggak bawa tulang iganya."
Aku melirik Adinda yang sedikit kecewa.
"Kalau ati ampelanya ada nggak?"
"Ada Mbak kalau itu."
"Tenang Din, masih ada menu satunya lagi."
Dinda tersenyum, wajahnya sudah tidak kecewa lagi.
"Memangnya suaminya Bu Lela itu selingkuh sama siapa sih Bu?"
Ternyata ibu-ibu itu masih meneruskan gosipnya.
"Itu Bu sama janda kampung sebelah. Duuuh yang satu gatel, yang satu lagi pengen ngegaruk. Ya udah deh terjadi."
"Untung di kompleks kita nggak ada janda ya Bu. Jadi kita nggak usah khawatir kalau suami kita bakal digoda."
"Iya Bu, tapi harus tetap hati-hati lah. Kompleks kita memang nggak ada janda, tapi bisa aja kan janda di belakang kompleks. Kayak kasusnya Bu Lela ini."
Ya Allah... Segitu jeleknya kah image janda di mata mereka? Tidak semua janda di dunia ini suka menggoda.
"Eh Bu liat tuh, si Indri pasti lagi ngasih sarapan buat dokter Jo."
Mendengar nama Jo disebut, darahku langsung naik karena mengingat kejadian semalam.
"Duuuh maaf ya Indri, saya nggak bisa nerima masakan kamu. Saya lagi mau masak– Nia?"
Aku melirik ke arah samping, sudah ada Jo di dekatku.
"Dokter Jo nggak usah masak lagi, ini saya udah bawa makanan," seru wanita yang ku ketahui bernama Indri itu. Ia menyodorkan rantang kepada Jo.
"Pak saya beli ati ampela, sambelan, kentang, cepetan ya Pak dibungkusnya," ucapku pada pak Darmo. Sepertinya Pak Darmo menuruti permintaanku. Syukurlah, aku muak melihat muka Jo.
"Ni..." panggil Jo dengan lirih. "Maaf ya..."
Aku hanya diam. Dinda kebingungan sampai keningnya mengerut.
"Ini Neng Nia, belanjaannya sudah," Pak Darmo memberikan kantung plastik kepadaku. Aku segera membayarnya kemudian langsung pergi dari tempat itu.
Aku menarik tangan Dinda, agar ia berjalan cepat. Jo masih mengikutiku, dan Indri mengikuti Jo dari belakang. Ini benar-benar membuatku risih. Di sana sedang ada ibu-ibu julit tukang gosip, aku tidak ingin jadi bahan gosipan mereka.
"Nia tunggu Nia! Aku nggak bermaksud menghina kamu!" pekik Jo. Namun aku tetap berjalan cepat tanpa memedulikan teriakannya.
"Mbak laki-laki itu siapa?" tanya Dinda.
"Orang gila Din."
"Kok orang gila rapi banget Mbak? Ganteng lagi."
"Jangan hanya melihat seseorang dari luarnya saja Din. Bisa jadi dalamnya busuk kayak dia!"
Setelah itu Dinda tak banyak bicara lagi, ia diam. Dan Jo juga sepertinya tidak lagi mengikuti sampai ke rumah.
Aku membiarkan Adinda yang memasak pagi ini. Karena Mas Izhar masih cuti mengajar, alhasil sarapanya tidak sepagi biasanya. Aku, Ummi, Mas Izhar dan Adinda sudah berada di meja makan.
"Sini Abangda, biar Dinda yang ambilkan nasinya." Dinda mengambil piring Mas Izhar, dan mengambilkan nasi serta lauk yang pagi ini dibuatnya. Senyum merekah terbit dari bibirnya, senang sekali bisa melayani sang suami. "Ini dimakan ya Abangda."
Ummi hanya tersenyum saja melihatnya, sambil memberi kode kepadaku agar memerhatikan tingkah Dinda. Aku pun ikut terseyum.
Aku segera mengambil nasi serta lauk pauk ke piringku. Namun tiba-tiba...
"Kok rasanya beda sih? Nggak enak!"
Gerakanku tiba-tiba terhenti, yang berbicara adalah Mas Izhar. Aku tidak mengira kalau Mas Izhar bisa bicara sekencang itu.
"Maaf Abang, Dinda baru belajar masak," ucap Adinda merasa bersalah. Aku kasihan melihatnya.
"Izhar istigfar Nak. Maklum saja istri kamu baru belajar masak," tegur Ummi.
"Harusnya kalau nggak bisa masak ya jangan masak lah Mi, biar Mbak Nia saja yang masak."
"Kalau nggak belajar bagaimana istri kamu bisa. Ayo lah Zhar, kamu harus belajar ngga boleh pilih-pilih makanan lagi."
"Mbak Nia tolong buatkan saya roti bakar saja, seperti biasa."
"Iya Mas."
Aku segera meletakkan piringku, dan langsung melaksanakan perintahnya.
"Zhar kamu harus ingat, sebaik-baiknya laki-laki adalah dia yang paling baik terhadap istrinya. Ummi rasa kamu tahu akan hal itu. Islam adalah agama yang sangat memuliakan wanita. Nabi Muhammad SAW memerintahkan seorang suami agar menyayangi istrinya seperti apa yang sudah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah SAW. Kalau bukan Rasulullah yang kamu ikuti, lalu kamu akan mengikuti siapa, Nak?"
"Izhar nggak bermaksud bersikap seperti itu Mi, Izhar..." Mas Izhar menyugar rambutnya serta mengusap wajahnya frustasi.
"Sepertinya kalian harus bulan madu, agar satu sama lain saling mengenal."
"Tapi Mi..."
"Nggak ada tapi-tapian, besok kalian harus pergi. Titik."
Mas Izhar hanya pasrah, karena tidak bisa melawan Ummi.