Ummi adalah orang yang benar-benar keras kepala. Kalau sudah A ya tetap A, tidak bisa berubah menjadi B. Contohnya hari ini, Ummi benar-benar membuktikannya. Mas Izhar dan Adinda pergi bulan madu atas perintah Ummi. Ternyata Ummi sudah menyiapkan tiket dan paket bulan madu ke Lombok untuk keduanya.
"Hati-hati ya kalian, semoga dari bulan madu ini kalian bisa lebih mengenal satu sama lain," ucap Ummi pada Mas Izhar dan juga Adinda. "Syukur-syukur kalau kalian bisa kasih Ummi cucu secepatnya."
Adinda menunduk malu mendengar ucapan Ummi, sedangkan Mas Izhar bersikap tak acuh.
"Kami berangkat ya Mi," ujar Adinda. Ia memeluk Ummi dengan erat.
"Mbak, aku berangkat ya." Kali ini Adinda memelukku.
"Iya Din, hati-hati ya."
Adinda tersenyum, "Mbak mau oleh-oleh apa?" tanyanya.
"Oleh-oleh keponakan juga boleh," godaku. Lagi-lagi Adinda tersipu malu.
"Mi Izhar berangkat," kata Mas Izhar kepada Ummi. Ia mencium tangan Ummi serta memeluk Ummi erat.
"Iya hati-hati ya Nak. Jaga istri kamu dengan baik."
"Mbak, saya berangkat," kata Mas Izhar padaku.
"Iya Mas hati-hati ya."
Aku tidak berani menggoda Mas Izhar dengan memintanya memberikan keponakan. Karena sepertinya Mas Izhar dalam mode senggol bacok.
"Kami berangkat ya, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah," ucapku kompak dengan Ummi.
Mereka langsung menaiki taksi yang sudah dipesan untuk ke bandara, tidak lama taksi itu hilang di persimpangan jalan.
"Oh iya Mi, Nia boleh bicara sebentar dengan Ummi."
Aku rasa, ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya pada Ummi. Bismillah semoga Ummi tidak marah.
"Boleh, Ni. Ayo bicara di dalam saja."
Aku dan Ummi segera duduk di sofa. Aku duduk di samping Ummi. Dari ekspresi Ummi sepertinya Ummi sangat penasaran dengan apa yang ingin aku bicarakan.
"Ummi Nia ingin membuka usaha laundry, kios serta perlengkapan lainnya sudah Nia siapkan. Tinggal restu Ummi saja yang belum. Maaf Nia baru bilang sama Ummi, Nia takut kalau Ummi tidak mengizinkannya."
Ya Allah... Luluhkanlah hati Ummi.
"Nia janji Mi, akan bisa bagi waktu. Nia pasti akan membersihkan rumah Ummi terlebih dahulu, baru ke laundry. Ummi... Boleh nggak?"
Ummi diam, tidak bereaksi apapun. Aku jadi takut. Bagaimana ini kalau Ummi tidak mengizinkan?
"Tentu saja boleh dong Nia. Ummi nggak ada hak melarang kamu, toh kalaupun kamu tidak izin Ummi juga tidak masalah."
Kata-kata Ummi seperti angin segar untukku. Aku segera memeluk Ummi dan mengucapkan terima kasih. Dengan menyibukkan diri, aku harap aku bisa melupakan Mas Izhar.
"Terima kasih ya Mi."
"Iya Nia."
Hari ini aku sendiri di Rumah Baca. Mas Izhar sedang bulan madu, Anggun dan Yudi izin karena besok akan menghadapi Ulangan Akhir. Aku sedikit kewalahan menghandle sendirian.
"Ibuuu Abim nggak bolehin aku pinjem buku ceritanya," adu Dina.
Aku lihat Abim sedang memeletkan lidahnya menggoda Dina. Buku cerita yang ia pegang sengaja disembunyikam di balik badannya.
"Abim, sama-sama dong."
"Nggak mau Bu."
"Yaudah Dina baca cerita lain aja ya," rayuku.
"Nggak mau Bu, mau buku yang dipegang Abim."
Astagfirullah.. Sabar Ni sabar.
"Yasudah sini Abim, ibu mau lihat bukunya. Biar sama-sama kita baca."
"Abim nggak mau!"
"Kalau dokter Jo boleh nggak?"
Tiba-tiba Jo datang, aku tidak tahu sejak kapan ia berdiri di sana.
"Dokter Jo!"
"Dokteeeerrr."
"Ye ye yeeee dokter Jo dateng!"
Aku tidak habis pikir kenapa anak-anak begitu menyukai Jo.
"Kok dokter nggak dateng-dateng sih ke sini?" tanya Abim. Anak itu melupakan buku cerita yang sedang dibawanya.
"Iya, dokter banyak pekerjaan di rumah sakit."
"Dokter kerjanya nyuntikkin orang ya?" tanya Desti.
Jo tertawa. "Dokter kerjanya membantu melahirkan."
"Oh nanti kalau Mamaku melahirkan dibantu dokter Jo ya?" tanya Dina. Mamanya memang sedang hamil.
"Iya," jawab Jo sambil mengusap kepala Dina. Ia menoleh ke arahku, aku segera membuang muka.
"Hari ini kalian mau dibacakan cerita apa?" tanya Jo.
"Buku yang sama Abim dok!" seru Dina. Abim segera mengambil buku yang tadi ditinggalkannya dan memberikannya pada Jo. Anak-anak pun segera mengerubungi Jo.
"Ibu, Fikri sudah bisa berhitung dong."
Fikri mendekatiku, sambil membawa buku berhitung matematika untuk anak-anak. Dari segi umur, memang ia lebih besar dari yang lain.
"Oh ya? Coba Ibu lihat."
Ia memberikan aku buku itu, aku memeriksa semua jawabannya dan diluar dugaanku bahwa jawabannya benar semua.
"Fikri pintar, teruskan ya Nak. Ibu yakin Fikri akan menjadi orang sukses."
"Tapi kan Fikri nggak sekolah Bu."
Aku miris mendengarnya. Fikri tipe anak yang cerdas dan semangat dalam mempelajari hal-hal yang baru. Hanya saja keadaan yang membuatnya tidak bisa sekolah.
Andai aku ada rezeki lebih, aku ingin menyekolahkan Fikri.
"FIKRI... KELUAR KAMU FIKRI!!"
Aku mendengar suara perempuan berteriak memanggil nama Fikri.
"Ibu... Itu pasti Ibunya Fikri." Fikri ketakutan, ia bersembunyi di balik tubuhku. "Fikri nggak boleh ke sini lagi sama Ibu. Padahal Fikri suka. Ibu Nia tolong bantu Fikri."
"Iya... Ibu akan bantu kamu, kamu tenang dulu ya."
"FIKRIIII."
Ibu itu sudah memasuki gerbang, kedua tangannya berada di pinggang, matanya melotot sempurna. Guratan marah sangat kentara sekali.
Anak-anak yang lain ikut ketakutan melihat ibunya Fikri.
"Jo tolong bawa anak-anak ke dalam."
Untunglah Jo langsung memasukkan anak-anak ke dalam rumah. Ia menutup pintunya agar anak-anak tidak keluar.
Aku menghampiri ibunya Fikri yang masih bertolak pinggang.
"Oh pantas saja beberapa hari ini pendapatan mulung Fikri berkurang, kamu ya penyebabnya." Ibu itu berkata sambil menunjuk-nunjuk wajahku.
"Ibu saya bisa jelaskan. Fikri itu anak yang cerdas Bu. Dia harus dimasukkan sekolah—"
"Sekolah kamu bilang? Sekolah itu cuma buat orang-orang kaya! Orang seperti Fikri nggak pantes sekolah! Bisa makan satu kali sehari saja sudah syukur!"
"Ibu tapi–"
Plak!
Pipiku memanas dan terasa kebas. Ibu tadi menampar pipiku.
"Kamu denger ya, jangan paksa anak saya lagi buat ke sini. Fikri harus cari uang buat makan. Memangnya kamu pikir uang bisa turun dari langit. IYA?! Kalau kami nggak pontang-panting cari uang juga kami nggak makan! Fikri ayo pulang!"
Ibu itu menarik tangan Fikri dengan kasar, Fikri mencoba melepaskan namun tetap tidak bisa.
"Ibuuuu Fikri mau belajar! Ibuuuuu Nia tolong Fikri."
Aku tidak bisa menahan air mataku lagi, bukan karena tamparan dari ibu Fikri. Akan tetapi melihat Fikri yang ingin belajar, namun tidak bisa. Hatiku miris. Dulu sewaktu sekolah, aku punya kesempatan, diberikan fasilitas enak oleh kedua orang tuaku, namun aku menyia-nyiakan kesempatan itu. Sedangkan Fikri, anak sekecil itu harus mencari uang demi bisa menyambung hidup dan melawan kekejaman dunia.
"Aku nggak boleh diam saja, aku harus melakukan sesuatu!"
"Mau kemana kamu?"
Jo menahan lenganku, "aku pengen ke rumah Fikri. Lepasin!"
"Waktunya nggak tepat kalau sekarang Ni. Ibunya Fikri masih marah. Percuma kalau kamu bicara pun pasti nggak akan didengar."
"Tapi Jo, kita nggak bisa diam aja. Fikri itu anak yang cerdas, masa depannya dia masih panjang. Sayang kalau dia nggak diberi kesempatan."
"Aku tau Ni, dengerin aku!" Jo memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya, "kita harus pikirin cara yang ampuh supaya Fikri bisa belajar lagi. Mengubah cara pandang orang lain, nggak semudah membalikkan telapak tangan Ni. Ya ampun Ni, pipi sama bibir kamu kenapa?"
Aku mengelus pipiku yang masih kebas, kemudian turun ke bibir yang terasa perih. Ternyata ujung bibirku berdarah.
"Ngga papa."
"Ibunya Fikri nampar kamu?"
Aku mengangguk ragu.
"Masuk, biar aku obatin!"
***
"Jo aku bisa sendiri."
"Diem, itu nanti bisa infeksi kalau nggak dikasih obat."
Lebay. Hanya luka kecil saja juga. Lagi pula rasanya seperti sariawan saja.
Anak-anak sudah pulang sejak lima menit yang lalu. Kalau belum bisa bahaya melihat aku yang seperti ini. Pasti mereka bertanya yang macam-macam.
Aku melihat pipi kiriku sendiri dari cermin, tercetak jelas bekas gambar tangan di sana. Dan berwarna kemerahan.
Jo masih menotol-notolkan kapas yang sudah diberi obat ke ujung bibirku. Rasanya perih sekali.
"Pelan-pelan, sakit," rintihku.
"Ehm, diem bawel!"
Aku baru sadar kalau posisi kami begitu dekat. Astagfirullah, ya Allah maafin aku. Aku segera menjauhkan diri darinya. Ia terlihat kebingungan.
"Kenapa?"
"Maaf Jo, terlalu dekat. Sini biar aku aja yang obatin sendiri," kataku. Aku segera mengambil kapas yang ada di tangannya.
"Kalau mau bicara ke ibunya Fikri jangan sendiri, aku ikut," gumamnya. Namun aku masih bisa mendengar suaranya itu.
"Iya."
"Kamu udah maafin aku kan?" tanyanya.
Oh iya aku sampai lupa, kalau sedang marah padanya. Duh, kenapa bisa sampai lupa sih?
"Belum lah!"
"Ni aku nggak bermaksud menghina kamu. Aku nggak suka aja kamu didekatin cowok-cowok aneh itu!"
"Eh maksud kamu apa Jo?"
"Eh maksudku, aku nggak suka aja punya temen macam janda gatel kayak kamu itu."
"Aku maafin... Tapi jangan bahas masalah anak lagi."
Jo mengangguk, " I promise." Jo menunjukkan kelingkingnya agar ditautkan pada kelingkingku. Aku terkekeh, seperti anak kecil saja. Namun aku tak bisa menautkan jari kelingkingku, karena kami bukan mahram.
"Maaf Jo," ucapku sambil menangkupkan tangan ke d**a. Ia mengangguk mengerti.
Aku harus memutar otakku agar bisa menarik Fikri lagi untuk belajar.
Ya Allah... Yang Maha membolak-balikkan hati, luluhkanlah hati Ibu Fikri agar bisa memberikan izin pada Fikri untuk belajar. Karena biar bagaimanapun juga ridhanya Allah tergantung pada keridhaan orang tua.
"Bagaimana Bang, kira-kira spanduknya kapan jadi?" tanyaku pada Abang pembuat spanduk ini. Persiapan usaha laundry sudah memasuki 90%, tinggal menyiapkan beberapa pelengkap saja seperti plastik berlabel dan juga alat tulis kantor untuk administrasi.
"Besok jadi Mbak. Maaf ya Mbak, mulur dari waktunya. Pesenan lagi banyak Mbak minggu-minggu ini."
"Tapi bener ya Bang, besok."
"Iya Mbak."
"Makasih Bang."
Aku segera pergi dari tempat itu, berjalan kaki untuk bisa sampai ke rumah Ummi. Sampai hari ini aku masih mencari cara agar ibunya Fikri bisa memberi izin. Kira-kira apa ya?
Ah aku tahu!
Bismillah, semoga cara ini berhasil.
Aku segera mengeluarkan handphone dari saku gamis untuk memberi tahu Jo. Tapi... Aku baru ingat kalau aku tidak menyimpan nomornya di handphoneku.
Tidak sama Jo, tidak apa-apa kali ya. Semoga ibunya Fikri tidak menamparku lagi.
Aku membalikkan badan, karena rumah Fikri berada di belakang kompleks. Sedikit jauh memang, namun ya sudahlah. Semoga lelahku ini menjadi lillah.
Tin! Tin!
Sebuah mobil Pajero Sport mendekatiku dari arah berlawanan. Mobil itu berhenti, kemudian seseorang membuka kaca mobil. Kepala si pemilik penyembul dari kaca mobil yang terbuka.
"Mau ke mana kamu?!"
"Ehm... Mau ke rumah Fikri, Jo."
"Aku kan udah bilang kalau ke sana sama aku!"
"Gimana mau bilang, aku nggak tau nomor kamu."
"Yaudah masuk!"
Aku segera masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi belakang.
"Hai Nia..." sapa seseorang.
"Dokter Natasha?"
Sejak kapan dokter cantik itu di samping Jo? "Hai dok..." sapaku balik.
"Cha, kamu mau ikut apa nunggu di rumah aku?" tanya Jo pada dokter Natasha.
"Memang kalian mau ke mana? Mau kencan ya? Hayo ngaku..."
"Apasih, kami cuma mau ke rumah anak–"
"Anak? Jo Nia kalian punya anak?"
"Anak di Rumah Baca dok," aku segera menimpali.
"Ooohh..." dokter Natasha memanjangkan suaranya dan mengangguk mengerti.
"Kamu udah tau caranya gimana?" tanyanya padaku. Ia melihatku dari kaca spion mobilnya.
"Udah Jo."
"Gimana caranya?"
Aku segera menceritakan semua pada Jo, "gimana? Menurut kamu berhasil nggak?"
"Kita coba aja nanti."
"Ih kalian ini kayak suami istri aja deh, gemessss," seru dokter Natasha.
"Cha..."
"Dok..."
"Cieeeee barengan," goda dokter Natasha. Sepertinya ia tidak tahu bagaimana hubunganku dengan Jo, kalau tahu pasti ia tidak akan seperti itu.
"Nggak usah salting gitu kali Jo," dokter Natasha terkekeh. "I know why you love her, because she's a gorgeous woman."