Cadar Sang Pengantin

1631 Words
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikannya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21) Suasana Masjid Nurul Huda sudah dipenuhi oleh para undangan yang hadir. Mereka semua ingin menyaksikan prosesi sakral di mana dua insan saling mengikatkan janji suci atas nama Tuhannya. Janji yang mana tidak hanya disaksikan oleh manusia saja, tetapi malaikat Allah pun ikut menyaksikan. 'Arsy Allah pun ikut bergetar, karena terlalu kuatnya perjanjian itu. Para hadirin di pisah, laki-laki berada di sebelah kanan, dan perempuan di sebelah kiri. Namun tetap bisa menyaksikan prosesi akad nanti. Sebuah meja dan beberapa kursi telah disiapkan untuk mempelai laki-laki, wali mempelai wanita, penghulu dan dua orang saksi. Kursi dan meja itu dilapisi oleh kain berwarna putih sebagai tanda kesucian jiwa. "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki), telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memilih memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa: 34) Sebelum ijab qabul, Mas Izhar membacakan ayat Al-Qur'an. Seperti biasa, dengan lantunan ayat suci yang keluar dari bibirnya mampu membuat semua yang hadir terdiam dan merenung akan suara serta bacaan Al-Qur'an yang indah. Ia lantunkan ayat Allah dengan penuh perasaan, penghayatan, serta syahdu yang dapat membuat hati menjadi tenteram dan bergetar seraya memuji Asma-Nya yang Maha Agung. Mas Izhar sudah siap menggenggam tangan wali mempelai wanita, yang nantinya akan menjadi ayah mertuanya. Sepertinya Mas Izhar sangat gerogi, karena sedari tadi ia tidak menampakkan senyum khasnya. Saat khutbah nikah selesai, terucaplah janji suci dari bibirnya itu.            "Izhar Syafawi bin Husein saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya sendiri, Adinda Islamy binti Faiz Ahmad dengan mahar 10 dinar tunai." Mas Izhar diam sejenak, menarik napas dalam kemudian mengucapkan, "saya terima nikah dan kawinnya Dania Ayu Pramesti–" Semuanya terhenti. Napasku pun ikut terhenti. Nama yang Mas Izhar sebut salah. Itu adalah namaku. "Nak Izhar, calon istrinya bernama Adinda Islamy," kata Pak penghulu. "Izhar ini gerogi, Pak." Paman Hasan menimpali. Semua tergelak tertawa. Kemudian ijab qabul kembali di teruskan. "Nak Izhar, saya ulang lagi ya ijab qabulnya." Mas Izhar mengangguk. "Izhar Syafawi bin Husein saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya sendiri, Adinda Islamy binti Faiz Ahmad dengan Mas kawin 10 dinar tunai." "Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Islamy binti Faiz Ahmad dengan mas kawin tersebut tunai." "Bagaimana saksi? Sah?" tanya Pa penghulu kepada para saksi. "Sah." "Sah." "Alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin... Barakallahu lakuma wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fi khoir," Ujar Pak Penghulu seraya menyudahi acara ijab qabul. Ummi memelukku erat sambil terisak menyaksikan putra semata wayang nya sudah sah menjadi seorang suami. Senyum bahagia mengembang di wajah Ummi, ia juga mencium pipiku  dengan penuh kasih sayang. "Alhamdulillah Ummi lega, Izhar sudah menemukan pendamping hidupnya." "Iya Ummi, Nia juga." Lihatlah betapa munafiknya diriku ini. Di dalam hatiku terasa sesak. Aku ingin sekali pergi dari sini tetapi tidak ingin membuat Ummi kecewa. "Sekarang Ummi tidak ingin apa-apa lagi. Ummi cuma ingin melihat kamu menyusul jejak Izhar." Aku tersenyum getir. Mungkinkah? Aku tidak yakin akan menikah lagi. Setelah semua kejadian buruk menimpaku. Master of Ceremony memanggil mempelai wanita untuk datang ke majelis akad. Memang awalnya mempelai wanita tidak bersanding dulu dengan mempelai laki-laki karena keduanya belum sah. Ummi ikut bangkit berdiri saat Adinda keluar dari tempat persembunyiannya. Hari ini ia terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang menutupi seluruh auratnya dengan indah. Mahkota kecil di atas kepalanya menambah kesan elegan dan terlihat anggun. Sungguh mereka adalah pasangan yang serasi. MC memberikan pengarahan agar Adinda mencium tangan Izhar yang sudah sah menjadi suaminya. Adinda mengulurkan tangannya, saat Mas Izhar ingin membalas uluran itu ia malah menarik tangannya lagi. Kemudian menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Maluuuu." Semua hadirin tertawa. Sungguh indah menikah tanpa pacaran. Keduanya masih nampak malu-malu karena baru pertama kali menyentuh pasangannya. Berbeda sekali yang lewat jalur pacaran apalagi sudah berpacaran selama bertahun-tahun. Pasti tidak akan merasakan malu-malu seperti itu. "Din ayo, udah sah ini," bujuk Ummi. Akhirnya Adinda berhasil mencium punggung tangan Mas Izhar dengan ta'dzim. Kemudian Mas Izhar memegang kepala Adinda dan merapalkan sesuatu setelah itu mencium puncak kepala Adinda yang tertutup jilbab. Ya Allah bahagiakanlah rumah tangga mereka. Jadikan pernikahan mereka sakinah, mawaddah, dan warahmah. Karuniakan mereka anak-anak yang salih dan salihah. Serta persatukanlah mereka hingga ke Jannah-Mu kelak. Dan juga, hapuskanlah rasa yang salah ini. Ku mohon, ya Allah... Resepsi dilakukan di hari yang sama. Dari masjid Nurul Huda, tidak jauh ada sebuah gedung yang biasa di sewa untuk acara-acara tertentu khususnya walimatul 'ursy. Aku tidak mengira kalau dekorasi tempat ini bertema merah marun. Mulai dari tenda, gaun pengantin, hingga bunga-bunga hias sebagai pelengkap kebahagian kedua mempelai. Begitu pun baju para anggota keluarga, yang saat ini sedang aku gunakan. Memang lah warna merah marun itu tidak pernah mengecewakan. Selalu terlihat elegan dan mahal. "Ummi cariin ternyata kamu di sini, Ni." Ummi datang menyenggol lenganku, kemudian Ummi membawa aku entah kemana. "Kita mau ke mana Mi?" tanyaku. "Udah kamu ikut aja." Aku dan Ummi memasuki sebuah ruangan. Di sini terdapat berbagai gaun pengantin, sepatu, alat make up serta sebuah kaca besar. Tidak lama setelah itu seorang laki-laki ehm–bukan, maksudku setengah laki-laki, duuuuh bagaimana menyebutnya? Hmm... Pokoknya laki-laki setengah perempuan. "Duuuh ini Mi yang mau di dandanin?" "Iya, tolong ya. Biar dia makin cantik," kata Ummi. "Ehm... Menurut eyke dia udah cantik Mi. Bentuk wajahnya bagus yes, matanya bulat besar, hidungnya mancung, perfecto! Tinggal dipoles dikit, tring! Jadi deh bidadari," ujar Mas itu sambil melambaikan tangan kanannya. Aku ingin tertawa, namun segera ku tahan. Aku takut kalau orang itu tersinggung. "Diana... Kamu kerjain nih si Mbak cantik. Eyke mau urus pengantin dulu!" teriak Mas itu kepada asistennya. Kemudian berlalu pergi. Yang di panggil Diana pun menghampiriku, sambil membawa kotak besar. "Mi kok Nia juga di dandanin sih?" "Iya Ni. Saudara-saudara Ummi mau datang. Siapa tahu ada yang kepincut sama kamu," ucap Ummi sambil tersenyum. Aku balas tersenyum pada Ummi. Padahal aku sudah kepincut dengan anaknya Ummi. Astagfirullah, sadar Ni dia sudah jadi laki orang. Aku digiring Mbak Diana duduk di depan meja rias, begitu pun Ummi. Ummi terlihat senang melihat aku di rias. Ummi sendiri sudah di rias, sehingga terlihat sepuluh tahun lebih muda. "Masya Allah cantik banget anak Ummi ini," puji Ummi saat aku sudah selesai di rias. Aku tersenyum, malu sekali rasanya di puji seperti itu. "Ummi ini bisa aja." "Iya Mbak Nia, cantik banget kayak boneka hidup," kata Mbak Diana. "Boneka Annabelle maksudnya Mbak?" Mbak Diana tertawa, kemudian berkata "Boneka barbie Mbak. Serius cantik banget." "Itu karena Mbak Diana yang sangat berbakat. Makasih ya Mbak." Mbak Diana tersenyum, kemudian pergi ke salah satu tempat penyimpanan sepatu. Tidak lama ia datang dengan membawa heels berwarna hitam setinggi 7 cm. "Ini Mbak dipakai sepatunya." "Apa? Saya harus pakai ini Mbak?" Mbak Diana mengangguk, "tapi saya nggak biasa pakai heels Mbak." Melihatnya saja aku sudah ngeri, takut terjatuh. Apalagi di suruh memakainya. "Nggak papa Mbak, nanti juga terbiasa. Baju yang Mbak pakai ngga cocok kalau sama flatshoes. Biar makin cantik juga." Ya Allah cobaan macam apa ini? Lindungilah aku agar tidak terjatuh. Aku dan Ummi keluar dari ruang wardrobe. Ummi berpisah ke ruang pengantin karena akan ikut mengiringi kedua mempelai menaiki pelaminan. Sedangkan aku ikut bergabung dengan tamu-tamu yang lain. "Kedua mempelai siap memasuki pelaminan." Semua orang menghentikan gerakannya. Mereka tidak sabar melihat kedua pengantin yang akan datang. Kamera handphone pun sudah dalam mode siap. Pintu terbuka dan muncullah kedua mempelai yang ditunggu-tunggu. Mas Izhar mengenakan jas berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja merah marun. Ia terlihat nampak gagah sekali. Sedangkan Adinda mengenakan gaun berwarna merah marun, senada dengan tema. Yang membuat aura kecantikannya semakin terlihat. Di samping kedua pengantin ada wali mereka yang menemani. Tidak lupa anak-anak di Rumah Baca juga ikut merayakan kebahagiaan Mas Izhar. Mereka semua berjalan di belakang pengantin sambil membawa bunga mawar merah di tangannya. Yang perempuan mengenakan gaun berwarna pink dengan hiasan flower crown di kepala, serta yang laki-laki menggunakan kemeja berwarna merah marun. Salah satu diantara mereka melihat ke arahku, tersenyum senang kemudian melambaikan tangan. Dia adalah Fikri. Fikri terhitung baru satu minggu di Rumah Baca. Anak usia 9 tahun itu aku temukan sedang mengambil sisa-sisa botol plastik bekas yang akan di jual ke pengepul. Saat itu aku sedang mencari tempat kosong untuk dijadikan usaha laundry, dan bertemulah dengannya. Fikri bercerita kalau ia belum sekolah. Oleh karena itu, aku menyuruhnya untuk datang ke Rumah Baca, hitung-hitung belajar baca tulis hitung untuknya. Setelah satu minggu, aku tahu kalau Fikri adalah anak yang pandai. Aku tersenyum juga ke arahnya sambil melambaikan tangan. Ia terlihat sangat bahagia sekali. "Kalau sudah jelek, mau dipakaikan baju bagus, make up mahal, tetep aja jelek." Seseorang berdiri di sampingku. Siapa lagi dia kalau bukan Jo. Ucapannya serasa de javu pada saat kami pentas drama waktu itu. "Yaudah kalau jelek nggak usah diliatin kali. Liat aja sana perempuan-perempuan cantik. Banyak kok di sini." Aku membalikkan badan, namun hak sepatuku menyangkut di karpet merah otomatis tubuhku jadi tidak seimbang dan... Semuanya terhenti. Bahkan seakan waktu ikut terhenti juga. Seluruh pandanganku tertuju pada satu fokus. Itu adalah iris hitam milik Jo yang juga melihat ke dalam dua mataku. Beberapa detik kemudian aku baru sadar bahwa posisi kami tidaklah bagus. Aku sedang mencengkeram kedua lengan atasnya sedangkan ia merangkul pinggangku. "Astagfirullah... Bisa-bisanya kamu pegang-pegang badan aku Jo!" pekikku setelah melepaskan diri darinya. "Yeee bukannya terima kasih udah ditolong. Tuh kamu bisa tersungkur ke kursi itu." "Alesan! "Aku juga nggak sudi kali pegang-pegang barang second." Jo benar-benar membuat moodku hancur seketika. Omongannya itu melebihi ibu-ibu julit tukang gosip di kompleks. Biar aku doakan, semoga ia menikahi janda sepertiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD