Menuntut Jawaban

1402 Words
Aku malu jika mengingat saat itu. Mencintai seseorang yang akan menjadi milik orang lain bukanlah hal yang mudah. Mati-matian aku harus membabat habis rasa itu, jangan sampai benih-benih itu tumbuh lagi. Dari itu aku paham, bahwa cara paling ampuh menyembuhkan sakit hati yaitu jatuh cinta lagi. Jatuh cinta pada siapa? Tentunya pada Sang Pemilik cinta. Aku melanjutkan kisah ini lagi, tentunya saat anak-anakku dan dia sudah terlelap. Kalau mereka masih terjaga aku sepenuhnya milik mereka. Mereka adalah duniaku. Mereka adalah kebahagiaanku. Mereka adalah segala-galanya bagiku. Aku sangat berterima kasih pada-Nya yang sudah memberikan aku anugerah terindah dalam hidupku. Dan itu adalah sebuah keluarga. "Duuuuh pusing soal susah banget!" keluh Anggun. Di hadapannya terdapat buku paket matematika setebal balok kayu. Aku tersenyum miris melihatnya. "Kenapa sih berisik banget!" pekik Yudi yang tengah membantuku merapikan buku-buku cerita. Anak-anak sudah pulang 10 menit yang lalu. Aku hanya diam memerhatikan tingkah dua anak remaja itu. "Ini susah banget soalnya. Contoh sama latihannya nggak sesuai. Contohnya gampang banget, latihannya... Beuh bikin kepala mau pecah!" "Coba lihat!" Yudi mendekat mencoba melihat buku yang dipegang oleh Anggun. "Yaelah ini mah gampang kalik!" "Ajarin dong Yud," bujuk Anggun. Wajahnya sengaja di melas-melasin agar Yudi kasihan kepadanya. "Kalau tau gini mending masuk IPS aja!" "Memangnya kamu jurusan IPA?" tanyaku. Anggun mengangguk, "Iya Mbak. Mama yang nyuruh aku. Padahal aku nggak ada passion di IPA. Aku lebih suka Bahasa, tapi kata Mama jurusan Bahasa mau kerja apa. Sedih aku tuh." "Sebelumnya kamu udah coba bilang sama Mama kamu?" "Udah Mbak, Mama tuh maunya aku pintar di eksak. Di lesin matematika lah, les fisika lah, les kimia lah. Padahal nggak ada satu pelajaran yang masuk. Coba kalo bahasa, aku gampang nangkep materinya. Sekarang aku lagi coba belajar bahasa Jerman, cita-cita aku mau kuliah di Jerman soalnya." "Iya sih, kadang orang tua mikirnya anak yang bisa matematika lah yang pintar. Padahal kecerdasan seseorang itu ada delapan jenis loh. Yang IQ nya sama pun belum tentu punya jenis kecerdasan yang sama." "Maksudnya Mbak?" tanya Anggun. Sepertinya ia tertarik dengan apa yang aku sampaikan. "Jadi gini, misal kamu punya IQ 120, Yudi juga sama IQ nya 120. Tapi jenis kecerdasan kamu itu linguistik, sedangkan Yudi logical mathematic. Yaa jelas beda, kalian sama-sama cerdas sebenarnya. Tapi dibidang masing-masing. Dan parahnya lagi, orang yang nggak tau beranggapan kalau Yudi lah yang pintar, sedangkan kamu bodoh hanya karena jenis kecerdasan kamu bukan di matematika." Aku pernah baca mengenai jenis kecerdasan manusia di buku psikologi. Bahasa kerennya multiple intelligences atau kecerdasan ganda, yang mencetuskan adalah Howard Gardner. Delapan kecerdasan itu adalah linguistik, logical mathematic, Visual spatial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Linguistik itu orang yang pandai dalam berkata-kata, menulis, contohnya seperti MC, atau penulis novel. Logical Mathematic jelas yang pintar matematika, Visual-Spatial yang berkaitan dengan gambar dan ruang, contohnya arsitek. Kinestetik contohnya adalah atlet, musikal contohnya penyanyi dan komposer. Interpersonal yang berkaitan dengan orang lain, cenderung bisa belajar melalui kelompok. Intrapersonal yang berkaitan dengan diri sendiri, contohnya psikolog. Dan yang terakhir naturalis yang berkaitan dengan alam. Jadi setiap anak adalah cerdas. Tergantung dari jenis kecerdasannya masing-masing. Tidak ada anak bodoh sebenarnya, jika semua orang bisa melihat anak istimewa. "Yaaah sudah pulang ya anak-anak." Suara dari belakang mengagetkan. Aku tahu siapa pemilik suara itu. "Jo kalau dateng itu bilang-bilang dong. Jangan tiba-tiba muncul gitu aja!" "Yeeee kamunya aja Ni yang melamun. Aku udah salam tadi. Iya nggak Yud?" "Iya Mbak," kata Yudi membela Jo. Jo meletakkan plastik yang berisi sebuah kotak, kemudian duduk di samping Yudi yang sedang berhadapan denganku. Dari baunya, sepertinya yang dibawa Jo ini adalah makanan dari olahan pisang. Kalau sudah menyangkut pisang, hidungku sudah tidak bisa dibohongi. "Buka aja, dari pada kamu ngiler di sini!" "Beneran aku buka?" "Hmm." Aku langsung membuka kotak itu, dan benar saja. Di dalamnya ada roti bakar yang isinya pisang dan coklat ditambah keju parut di atasnya. Ya ampun perpaduan antara ketiganya pasti tidak pernah mengecewakan lidah. "Aku makan nih." Aku minta persetujuan Jo, ia hanya menganggukkan kepala. Sebodo amat deh, makan makanan manis malam-malam. Aku nggak lagi diet. "Yud, Nggun ayo dimakan. Anggap aja punya sendiri." "Boleh dok?" tanya Yudi ragu, begitupun dengan Anggun. "Ya saya beli buat dimakan, bukan buat diliatin aja!" ketus Jo. Benar-benar ini orang, tidak pernah bersikap manis sedikitpun. Yudi dan Anggun tersenyum, kemudian ikut menghabiskan roti bakar ini. "Gimana Yud? Mau kan bantuin aku?" tanya Anggun. Sepertinya ia sudah pasrah akan soal-soal itu. Wajahnya terlihat kusut sekali. "Males ah!" "Ih Yudi kamu mah pelit banget! Orang pelit itu kuburannya sempit tauk!" "Yeeee bodo!" "Sudah-sudah memangnya ada apa sih?" Jo menengahi mereka. "Ini dok, Yudi nggak mau ajarin Anggun isi soal ini." Adu Anggun pada Jo. Yudi misuh-misuh. "Minta ajarin Mbak Nia noh, dia pintar matematika." Oke itu bukan pujian, melainkan penghinaan. Dulu sewaktu SMA nasibku seperti Anggun yang tidak bisa pelajaran eksak, dan meminta bantuan Jo untuk mengajarkan. "Aku tahu kamu lagi menghinaku, Jo." Ia tertawa menyebalkan. Bahagia sekali bisa menghinaku. Untung saja aku sudah disogok oleh roti bakar pisang coklat di awal, kalau belum sudah aku hempas dia dari bumi ini. Kemudian Jo langsung mengajarkan Anggun materi itu. Hebat sekali dia masih ingat pelajaran trigonometri. Kalau aku ketika dijelaskan masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Tapi lebih banyak masuk kuping kanan keluar kuping kanan, alias langsung mental. Hehe. "Duuuh kalau kayak gini aku bisa setres diusia muda!" keluh Anggun. Soal-soalnya sudah diisi semuanya. "Belajar yang benar, Dek. Baru juga belajar matematika. Kamu belum pernah sih ditahap belajar melupakan jodoh orang. Iya kan Jo?" tanyaku pada Jo. "Lho kok aku?" "Iya, kok dokter Jo sih Mbak?" Aku mendekatkan wajah pada telinga Anggun seraya berbisik, namun sengaja aku besarkan volume suaraku. "Dokter Jo pernah ditinggal nikah sama gebetannya." Mata Jo langsung membulat, namun tetap saja terlihat kecil. "NIA KAMU TAU DARI MANA?!" Aku, Anggun dan Yudi tertawa melihat Jo yang misuh-misuh. Wajahnya memerah menahan amarah. "Tentunya dari sumber terpercaya dong..." Rahang Jo mengeras, wajahnya yang putih semakin merah padam seperti kepiting rebus. "Kamu tahu siapa orangnya?" tanyanya tertahan. "Tau!" Jo terkejut, tubuhnya terlihat kaku. "Siapa?" "Dokter Natasha kan?" Setelah itu Jo langsung bernapas lega, tubuhnnya tidak setegang tadi. Kalau aku tidak salah dengar ia bergumam, "syukurlah." Setelah itu Mas Izhar bergabung bersama kami. Ia tidak ikut di rumah baca tadi karena baru pulang. Entah pulang mengajar atau pulang mempersiapkan pernikahannya yang tinggal menghitung hari lagi, aku tidak tahu. "Gimana Zhar persiapan pernikahan kamu?" Tiba-tiba Jo bertanya. Tumben sekali ia peduli dengan urusan orang lain. "Sudah 85 persen, Mas. WO yang urus semuanya," jawab Mas Izhar. Nada bicaranya lemas, tidak bersemangat. Aneh sekali, biasanya orang yang ingin menikah pasti bahagia. Ah, mungkin Mas Izhar setres menuju hari-H. Dulu aku juga seperti itu, setres menjelang pernikahan. Karena setres otomatis aku jadi suka makan, yang membuat berat badanku bertambah. Alhasil ketika fitting baju pengantin untuk yang terakhir, bajunya jadi tidak muat. Beruntung aku bisa diet, dan berat badanku jadi normal lagi. "Mas Jo kenapa belum nikah? Padahal saya lihat Mas Jo ini sudah mapan loh. Itu si Indri mau dinikahin sama Mas." Indri itu rumahnya tidak jauh dari sini. Hanya berbeda lima rumah. Tapi aku baru tahu kalau dia mengincar Jo. "Belum move on dia Mas," celetukku. Anggun dan Yudi terkekeh karena tahu alasanku berbicara seperti itu, Mas Izhar terlihat bingung, sedangkan Jo terlihat kesal setengah mati. "Sok tau kamu!" Tuk! Jo melempar kepalaku dengan tutup pulpen milik Anggun. Ini k*******n! "Sakit Jo! Aku akan laporin kamu ke komnas HAM, liat aja nanti!" "Bodo amat Ni!" "jadi kenapa Mas?" Mas Izhar tetap menuntut jawaban Jo. Suasana jadi krik krik, dan aku tidak suka. "Nia benar, saya belum move on." Harusnya aku menertawakan jawaban itu, tapi mendengar nada bicara Jo aku jadi kasihan. Jika dihitung, sudah lebih dari delapan tahun yang lalu hal itu terjadi. "Dan yang lebih parah lagi, kami berbeda." Aku bangkit, tidak ingin lagi mendengar apapun. Aku masuk ke kamar, karena mengingat buku "Maryam" yang harus aku pulangkan ke Mas Izhar. Sekembalinya aku ke gazebo, syukurlah pembicaraannya sudah tidak semiris tadi. "Oh iya Mas, saya mau balikin buku ini." Aku mengulurkan buku itu, Mas Izhar tidak langsung menerimanya. Ia malah melihat ke arahku dengan lama. Aku yang dilihat seperti itu hanya menunduk. "Gimana Mbak?" tanyanya. "Gimana apanya Mas?" Aku balas bertanya. Pertanyaannya itu terlalu luas. "Gimana jawabannya?" "Jawaban apa Mas?" Aku tidak mengerti dengan arah pembicaraan Mas Izhar. "Oh maksud saya gimana isi bukunya?" Aku mengacungkan ibu jariku. "Bagus parah Mas. Bahasanya sederhana, apik, saya serasa masuk pada zaman itu. Doakan saya, semoga bisa menjadi wanita seperti Maryam." Mas Izhar tersenyum. Namun aku merasakan itu senyum terpaksa. Aku melirik Jo, Yudi, Anggun yang sedang memerhatikan kami. Aku tidak suka jadi pusat perhatian. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD