Kisah yang Tidak Pernah Dimulai

1662 Words
Ya Allah jika aku jatuh cinta, jatuhkanlah hatiku pada seseorang yang akan menjadi jodohku saja. Aku lelah mencintai orang yang salah. "Jo boleh aku bertanya sesuatu?" "Apa?" Aku menghela napas dalam. Pertanyaan ini adalah pertanyaan pamungkas yang akan menentukan dugaanku selama ini. "Waktu kami menikah, kenapa kamu nggak datang?" Dia diam. Keheningan melanda kami cukup lama. Hanya ada suara daun-daunan yang diterbangkan oleh angin serta suara ranting yang saling bergesekan. "Mama aku meninggal." "Maaf Jo aku nggak tau," ucapku merasa bersalah. "Aku turut berduka cita sedalam-dalamnya Jo." "Hhm..." "Jadi, bukan karena kamu benci aku kan Jo?" tanyaku. Ia menggelengkan kepalanya ragu. Syukurlah, kupikir karena dia membenciku maka dari itu ia tidak datang. Aku juga jadi tahu satu hal kalau pernikahanku dan dokter Natasha di hari yang sama. Bedanya ia masih langgeng sampai sekarang sedangkan aku kandas di tengah jalan. Semoga pernikahan dokter cantik itu akan terus bertahan sampai maut memisahkan. Aku dan Jo terdiam, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Entahlah apa yang sedang Jo pikirkan aku tak tahu. Sedangkan aku hanya memerhatikan semut yang berjalan begitu rapi di atas tanah merah yang melingkari pohon. Lihatlah, semut tidak pernah membenci angin yang telah merusak sarangnya. Mereka tidak pernah mencelanya, karena angin bergerak atas perintah Tuhan. Mereka berusaha menyelamatkan yang ada dengan sabar dan tawakal. Bukankah hidup juga harusnya seperti itu? Kisah yang digubah oleh Sang Pencipta sangatlah luas. Dan kita semua hanya sepenggal kisah kecil dalam kisah itu. Dia–Penulis Kehidupan telah menyiapkan skenario terbaiknya untuk masing-masing hamba. Dan kita hanya bisa berperan sebagai pemain terbaik. Sebuah penerimaan, sebuah keikhlasan dalam guratan takdir yang sudah ditulis adalah jalan yang harus dipilih. Semoga Dia merihoi langkah-langkah bagi setiap jalan hamba-Nya yang lemah ini. Kedua tanganku menggenggam sapu tangan merah marun milik Jo. Di setiap sudutnya terdapat rajutan berwarna putih pola bunga mawar. Kok lucu sih Jo memiliki sapu tangan cantik ini. "Ini." Aku mengulurkan tanganku dengan sapu tangan yang ia kasih. "Makasih." Jo mengendikkan bahunya, menatapku jijik. "Simpan saja, aku nggak butuh." "Ih Jo, aku malas nyimpen barang milik orang!" "Terus aku harus nerima sapu tangan itu yang dipenuhi sama ingus kamu?" Aku mengangguk. "No! Jorok tau nggak! Buang aja kalau gitu!" pekik Jo. Ia menggerakkan tangannya agar aku menjauhkan benda itu dari tubunya. "Sayang kalau dibuang, sapu tangan ini cantik." "Yaudah buat kamu aja kalau gitu." Aku mengerutkan kening, sapu tangan ini pasti dari seseorang. Mana mungkin Jo membeli sapu tangan dengan warna dan motif yang ''kecewek'an". Kecuali kalau memang dia seperti apa yang ditakutkan oleh nCim Meilin. Belok. Astagfirullah... Berhenti membully Jo dalam hati Ni. "Yaudah aku cuci dulu ya, Jo." Akhirnya aku mengalah. Jo hanya berdehem sebagai respons. Allahu Akbar! Allahu Akbar! "Alhamdulillah, sudah adzan Zuhur. Aku salat dulu." Aku segera bangkit dari kursi panjang menuju ke rumah calon besan Ummi. Sepertinya Jo juga mengikuti dari belakang karena aku merasakan ada langkah kaki lain. Setelah sampai ternyata para laki-laki sedang bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Termasuk Mas Izhar yang berpapasan denganku. "Ayo pergi ke masjid." Ajak paman Hamid pada seseorang di belakangku. Ummi pernah cerita kalau Paman Hamid merupakan adik dari Almarhum suaminya. Aku langsung menolehkan kepala dan ternyata yang diajak adalah Jo. Ah, mungkin paman tidak tahu kalau Jo itu... "Dia tidak pergi ke masjid Paman," kata Mas Izhar. Untunglah Paman Hamid langsung mengerti. "Oh maaf ya saya tidak tahu." "Iya Paman." Jo berucap. Aku segera pergi menemui Ummi. "Yaampun Nia kamu kemana saja sih?" tanya Ummi setelah aku muncul di hadapannya. "Hehe cari angin Mi." Tidak mungkin kan  aku berkata yang sejujurnya. Kalau aku merasa sesak berada di sini karena melihat Mas Izhar melamar gadis lain. "Kamu belum kenalan ya sama calon menantu Ummi." Pandanganku beralih pada gadis yang berada di samping Ummi. Ia mengenakan gamis berwarna merah muda dengan jilbab putih. Wajahnya cantik, putih, dan juga memiliki bibir yang kecil. Bisa dibilang ia baby face. "Oh iya Mi. Hai aku Nia," kataku seraya mengulurkan tangan kepadanya. Ia langsung membalas uluran tanganku dengan senyum mengembang di wajahnya yang cantik. "Adinda. Ternyata Mbak lebih cantik dari apa yang aku pikirkan." Aku tertawa mendengar ucapannya. Dari mana ia tahu tentangku, kalau hari ini adalah pertama kalinya kami bertemu. "Ummi cerita ke aku, kalau anak perempuannya cantik. Kulitnya bersinar, hidungnya mancung, matanya bulat dengan iris mata hitam pekat, bibirnya ranum. Ah pokoknya aku iri saat Ummi bercerita tentang Mbak Nia. Dan ternyata aslinya memang sangat cantik." "Ummi ini kalau sudah memuji ya seperti itu. Padahal Ummi sendiri lebih cantik." Aku memeluk Ummi dari samping. Ummi balas memeluk pinggangku. "Ummi senang sekali nanti di rumah Ummi punya dua bidadari cantik." "Dan Ummi ratu bidadarinya," kataku. Kami segera melaksanakan salat Zuhur berjamaah dengan para wanita di sini termasuk dengan Ummi Masitoh–calon besan Ummi, Ulya dan Dini–anak Paman Hamid, bibi Hindun, dan bibi Naura. Pernikahan akan dilangsungkan dua bulan lagi. Untuk itu mulai hari ini sampai dua bulan ke depan kami harus siap-siap untuk menyiapkan segala acaranya. Beruntung, Ummi memilih jasa Wedding Organizer untuk mengurus segalanya, sehingga calon pengantin tidak begitu repot. Mengingat jadwal Mas Izhar yang semakin hari semakin padat, kurasa itu cukup membantu. Pada ibu-ibu yang sibuk mengurus ini itu sejak tadi. Bapak-bapak seperti Abi Faiz–calon mertua Mas Izhar, Paman Hamid, dan Paman Saman malah membicarakan pekerjaannya. Sedangkan Mas Izhar terlihat tak acuh, ia malah berbincang dengan Jo entah membicarakan hal apa. Tersisa aku dan nCim Meilin yang sedang menggoda Adinda. "Dua bulan lagi Din. Siap-siap jadi Nyonya Izhar," godaku. Yang digoda tersenyum malu-malu sambil menggelung ujung jilbab dengan jarinya. "Ih Mbak... Jangan begitu, aku malu." Aku dan nCim Meilin tertawa melihat wajahnya yang memerah. "Kamu bisa masak nggak Din?" tanya nCim Meilin. "Bisa nCim, tapi sedikit." "Waaah harus kursus masak sama Nia kalau gitu, calon suami kamu itu suka pilih-pilih makanan." "NCim jangan nakut-nakutin Dinda gitu, kasihan Dinda nCim." Aku melihat Dinda yang wajahnya berubah ngeri. "Kamu tenang aja Din, nanti aku kasih kamu resep masakan kesukaan Mas Izhar. Biar dia makin cinta sama kamu." Wajah Dinda berubah merekah, "terima kasih Mbak." Mulai hari ini hingga seterusnya aku tidak ingin lagi menggantung kebahagiaan kepada makhluk. Biarlah semua harapan dan doa kugantungkan pada Zat yang Maha Tinggi, agar tak ada lagi sakit yang teramat perih karena berhadap kepada selain-Nya. Hal ini juga mengajarkan padaku bahwa jangan mudah memberikan hati kepada seseorang. Jadilah wanita yang tidak mudah ditaklukkan, wanita terhormat yang hatinya selalu terisi dengan zikir kepada Allah dan kecintaannya pada Sang Nabi. Kalaupun ada seorang makhluk yang akan mengisi ruang kosong di dalam hatiku, aku ingin yang mengisinya adalah seseorang yang telah menghalalkanku. Sehingga cinta ini berlabuh hanya kepada-Nya. Ya Allah jika aku jatuh cinta, jatuhkanlah hatiku pada seseorang yang akan menjadi jodohku saja. Aku lelah jatuh cinta pada orang yang salah. "Semoga dari pernikahan ini hubungan dua keluarga semakin dekat ya, Mas." Itu suara Hamid kepada Abi Faiz. Kemudian keduanya saling berpelukan. Acara lamaran sudah selesai, kami semua siap meninggalkan rumah ini. Namun sebelum meninggalkan rumah Adinda sempat berbicara padaku. "Aku senang bertemu Mbak Nia. Semoga Mbak mau ya menganggap aku sebagai adik Mbak sendiri." Aku tersenyum mendengar perkataannya. Sungguh suatu kehormatan untukku kalau dia menganggap aku sebagai kakaknya sendiri. "Iya cantik. Mbak yang terima kasih kamu mau menganggap Mbak sebagai kakak kamu." Kami saling berpelukan. Pelukan hangat dari seorang kakak adik yang tidak ada hubungan darah sedikitpun, namun mempunyai satu kesamaan. Dia merupakan takdir dari seseorang yang sedang aku kagumi. Seperti keberangkatan, aku menaiki mobil Jo. Jo berada di kursi pengemudi, dan nCim Meilin berada di sampingku. Tidak lama kemudian Mas Izhar masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Jo. Pelan-pelan mobil mulai berjalan meninggalkan rumah ini. Aku hanya bisa melihat punggung Mas Izhar dari belakang. Ternyata laki-laki itu hanya bisa aku kagumi tanpa bisa kumiliki. Yang hanya bisa dilihat dari kejauhan, tanpa bisa bersambut tangan. Yang datangnya hanya seperkian detik, namun meninggalkan jejak yang begitu dalam. Dan diakhir kisah, semua pengharapan-pengharapan yang telah aku susun satu persatu harus ku redam dan ku kubur dalam-dalam hingga tak berbekas sampai ke akar. Ternyata memang benar, jodoh adalah cerminan diri. Mas Izhar yang hafidz berjodoh dengan Adinda yang juga merupakan seorang hafidzah. Keduanya sama-sama pantas mendampingi satu sama lain. Laki-laki sebaik Mas Izhar tidak mungkin melirik wanita seperti aku ini, apalagi untuk dijadikan seorang istri. "Ekhem..." Deheman Jo membuyarkan semuanya. Ia sedang menatapku dari kaca spion mobil. Aku melihatnya sekilas dan langsung membuang muka. Mobil semakin menjauh dari kediaman Adinda, kulihat juga nCim Meilin sudah tertidur. Mungkin karena kelelahan. "Zhar saya boleh tanya sesuatu?" tanya Jo. "Tanya saja Mas, masih soal yang tadi?" "Iya." Jo diam sejenak. "Kenapa Islam melarang wanita salaman kepada sembarang laki-laki? Kenapa nggak diberi kebebasan para wanita boleh bersalaman dengan siapa saja." Aku diam menunggu jawaban dari Mas Izhar. "Mas tahu siapa ratu Inggris?" Mas Izhar menimpali dengan pertanyaan lagi. "Ratu Elisabeth," jawab Jo. "Bisa nggak rakyat biasa bersalaman dengan Ratu Elisabeth?" "Nggak bisa lah, Zhar. Cuma orang-orang tertentu saja yang bisa berjabat tangan dengan ratu." "Semua wanita muslimah seperti Elisabeth. Nggak boleh sembarangan orang salaman." "Lalu kenapa wanita muslimah diharuskan menutup aurat?" tanya Jo lagi, lagi-lagi ia melihat ke arahku dari kaca spion. Dulu waktu aku SMA memang belum menutup aurat seperti sekarang ini. Mas Izhar mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung celananya. Ternyata dua buah permen. Kemudian ia membuka salah satu permen itu dan menaruh kedua permen di atas dashbord. "Kalau Mas suruh pilih, Mas pilih permen yang mana?" "Yang masih dibungkus lah Zhar," jawab Jo lagi. "Kenapa nggak pilih yang sudah terbuka saja Mas? Gampang, tinggal dimakan saja." "Nggak lah Zhar, kotor sudah kena dashbord." "Itulah perumpamaan wanita muslimah. Yang terbungkus ini adalah wanita muslimah. Yang bisa membuka hanyalah pemiliknya saja, suaminya. Yang lain tidak boleh. Begitulah cara kami memperlakukan dan melihat wanita dari golongan kami, Mas." * Masya Allah... Aku tidak mengira bahwa jawaban Mas Izhar bisa seperti itu. Mas Izhar tidak memberikan dalil apapun pada Jo, tetapi lebih menggunakan logika. Kalau aku yang ditanya seperti itu, mungkin aku tidak akan bisa menjawabnya. Dari cara bicaranya Mas Izhar terlihat jelas sangat berilmu. Mas Izhar menjelaskan dengan tegas, namun tetap lembut. Ehm, berwibawa. Ya Allah... Bagaimana caranya melupakan dia? Tolong jelaskan padaku, bagaimana caranya merelakan disaat aku tidak pernah menjadi miliknya? Bagaimana caranya ikhlas, disaat hanya aku yang berharap? Dan bagaimana caranya mengakhiri kisah yang tidak pernah dimulai ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD