"Ni sudah siap?"
Ummi muncul dari balik pintu kamarku. Dengan menggunakan gamis berwarna cokelat, Ummi nampak terlihat cantik sekali di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Sebentar lagi, Mi."
Aku segera mencari bros kerudung di atas nakas. Duh, kemana ya? Jika dicari-cari bros itu tidak terlihat.
"Nyari apa sih, Ni?" tanya Ummi yang sepertinya melihat kegelisahanku.
"Nyari bros Mi," jawabku. Tanganku bergerak lincah menggeser barang-barang yang tergeletak di nakas. Hingga tanpa sengaja aku menjatuhkan sesuatu.
"Astagfirullah..."
Novel Maryam yang diberikan oleh Mas Izhar terjatuh, aku segera membungkuk untuk meraih benda itu dan langsung mengambilnya.
"Apa nih?" gumamku, seolah aku bicara sendiri. Di tanganku ada sebuah amplop putih yang terjatuh dari Novel itu. Aku tidak tahu amplop itu milik siapa.
"Ni ayo cepat! Nggak enak kalau sampai telat."
"Iya Ummi." Akhirnya aku tidak jadi memakai bros itu, dan menggantinya dengan jarum pentul. Kemudian kuletakkan amplop putih itu di laci nakas.
"Tuh kan sudah banyak orang," kata Ummi saat kami memasuki rumah Pak RT. Memang para warga sudah memenuhi rumah ini, terutama para ibu-ibu. Ya, karena hari ini penyuluhan kanker serviks, otomatis ibu-ibu yang datang. Satu-satunya laki-laki yang ada di ruangan ini adalah Jo yang sedang menyiapkan proyektor.
"Iya Mi, maaf."
Aku dan Ummi berada di barisan paling belakang. Karena kursi hanya tersisa satu, aku biarkan Ummi yang duduk di kursi itu. Ku lihat di depan sana Jo bersama dengan seorang dokter muda yang cantik. Ibu-ibu di sampingku bersuara.
"Dengar-dengar sih dia calon istrinya dokter Jo."
"Wah pantas ya kalau dokter Jo sama dokter itu. Yang satu tampan yang satu lagi cantik." Ibu di samping ibu pertama menimpali.
Calon istri Jo? Ku doakan semoga dokter cantik itu tidak terkena darah tinggi di usia muda.
"Selamat malam semua." Jo bersuara menggunakan mikrofon. Suara Jo terdengar bersahabat dan juga komunikatif sehingga para ibu-ibu menatap ke arahnya.
"Malam dokter Jo."
"Malam dokter ganteng."
Jo terkekeh mendengar celetukan salah satu ibu-ibu. Kemudian ia melanjutkan pembicaraannya lagi. "Di samping saya ini sudah ada dokter Natasha. Dia adalah teman saya yang akan memberikan materi tentang apa itu kanker serviks dan bagaimana cara pencegahannya."
"Kok bukan dokter aja yang kasih materinya?" tanya salah satu ibu-ibu yang memakai baju berwarna merah. Tampilannya paling mencolok dari ibu-ibu lainnya.
"Sebenarnya saya ingin, tapi takut ibu-ibu merasa risih. Agar ibu-ibu merasa nyaman saya ajak teman saya ini. Ibu-ibu bisa bertanya apa saja kepada dokter cantik ini."
Iya tahu dia itu calon istrinya, tapi nggak usah puji-puji di depan orang banyak kali. Norak.
Setelah berbicara kemudian Jo memberikan mikrofon kepada temannya. Dan meminta agar segera dimulai karena takut selesai terlalu malam. Setelah itu ia berjalan ke barisan ibu-ibu paling belakang dan berdiri di sampingku. Aku segera menggeser tubuhku agar tidak terlalu dekat dengannya.
"Dengerin," gumamnya. Aku tidak tahu ia sedang berbicara dengan siapa.
Aku melirik ke arah samping, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Kemudian tangannya terulur dengan telapak tangan terbuka dan ada sebuah benda berwarna merah marun di tangannya.
Itu bros bunga mawar yang aku cari-cari sejak tadi.
"Kenapa ada di kamu?" tanyaku padanya. Aku mengambil bros itu, kemudian kusematkan pada jilbab.
"Nggak tau, tiba-tiba ada di baju aku."
Selanjutnya aku dan Jo tidak bicara apa-apa lagi. Aku sibuk mendengarkan penjelasan dari dokter Natasha. Subhanallah, ternyata setiap 2 menit di dunia dan 1 jam di Indonesia ada wanita yang meninggal terkena kanker serviks. Kemudian Dokter Natasha menjelaskan penyebab dari kanker serviks. Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi dari HPV sering kali tidak menimbulkan gelaja apapun, sehingga banyak orang tidak menyadari telah terinfeksi HPV. Bagi yang terinfeksi, mereka baru menyadari jika kanker sudah memasuki stadium 2B. Itu mengapa kanker serviks disebut a silent killer.
Selanjutnya Dokter Natasha memaparkan beberapa faktor resiko penyebab kanker serviks yaitu; berhubungan s**s di bawah 20 tahun, berganti-ganti pasangan s*****l, merokok dan minum-minuman keras, dan tidak menjaga kebersihan organ genital.
"Nah bu, kanker serviks memang merupakan kanker yang banyak menyebabkan kematian pada perempuan, tapi satu-satunya kanker yang dapat dicegah."
Dokter Natasha itu selain cantik dan pintar, ia juga ramah. Sepanjang memberikan penyuluhan senyum manis tak lepas dari wajahnya. Berbeda sekali dengan calon suaminya itu. Hmm..
"Cara pencegahannya dengan vaksinasi HPV dan juga skrinning dengan test IVA. Skrinning juga dapat dilakukan dengan cara PAP test dan Test HPV. Pemeriksaan ini juga bisa dilakukan di rumah sakit dan puskesmas terdekat."
Slide berganti menjadi gejala-gejala kanker serviks. Dokter Natasha menjelaskan bahwa gejala kanker serviks yaitu; keputihan yang tidak sembuh-sembuh dan berbau, pendarahan pasca berhubungan suami istri, pendarahan di luar dan diantara siklus haid, dan rasa sakit ketika berhubungan suami istri.
Dokter Natasha mengganti slide orang-orang yang terkena kanker serviks. Dari gambar kanker stadium 1 hingga stadium 4 yang paling parah. Bahkan benjolan kanker sampai keluar melalui organ kewanitaan karena tidak bisa ditampung lagi oleh perut. Ya Allah aku merinding melihatnya.
Dokter Natasha juga memberikan penjelasan bahwa penyakit ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja, melainkan bisa dialami oleh anak muda bahkan anak usia 5 tahun bisa terkena kanker serviks. Awalnya orang tua anak itu mengira bahwa anaknya terkena gizi buruk karena perutnya membesar. Setelah di periksa di rumah sakit, ternyata anaknya sudah terinfeksi kanker serviks stadium 2A.
Selanjutnya sesi pertanyaan, ada ibu-ibu yang bertanya mengenai benar atau tidaknya virus itu berasal dari toilet umum atau toilet yang dipakai secara bersama-sama. Dan dokter Natasha membenarkan. Jika toilet setelah dipakai oleh penderita kanker serviks, virus itu bisa cepat berpindah ke orang yang memakai toilet setelahnya. Dokter Natasha juga memberikan tips untuk menjaga organ kewanitaan, diusahakan organ kewanitaan jangan sampai lembab karena bisa menimbulkan jamur. Jika sudah timbul jamur, akan mudah terkena virus. Setelah dibersihkan, jangan di lap dengan menggunakan tissue, karena kertas tissue dapat menyisa di organ kewanitaan. Lebih baik mengelapnya dengan menggunakan handuk kecil, begitu kata dokter Natasha.
Masya Allah, malam ini aku begitu banyak mendapatkan ilmu. Juga pemahaman pentingnya menjaga kesehatan. Biasanya nikmat sehat barulah terasa jika nikmat itu sudah berkurang atau diambil sedikit dari kita.
Setelah acara selesai, aku memperhatikan Ummi yang sedang berbicara dengan Jo dan juga dokter Natasha. Entah apa yang mereka bicarakan aku tak tahu. Ingin aku dekati Ummi dan mengajaknya pulang, namun tak enak. Akhirnya aku hanya ikut membantu merapikaj kursi plastik dan menumpuknya menjadi satu.
"Nia sini!" Ummi memanggilku agar mendekat. Kakiku berjalan ke arah mereka dengan berat, entah karena apa. Aku berdiri di samping setelah sampai dan dokter Natasha mengajakku berkenalan.
"Ini anaknya Ummi?" tanya dokter Natasha.
"Ehm, bu–"
"Iya, anak Ummi paling besar," ucap Ummi memotong perkataanku. Rasanya aku ingin menangis diaku anak oleh Ummi.
"Hai, Natasha. Panggil saja Chacha." Dokter Natasha mengulurkan tangan ke arahku, dan kusambut tangan itu. Tangannya sangat lembut, berbeda sekali dengan tanganku yang kasar.
"Nia."
Dia tersenyum ke arahku, dan menyenggol lengan kiri Jo. Entah untuk apa aku tidak tahu.
"Sebentar ya semua, suami aku nelpon." Dokter Natasha pamit untuk mengangkat panggilannya. Suami? Bukannya kata ibu-ibu dia adalah calon istri Jo? Apa jangan-jangan dia yang dimaksud nCim Meilin kalau tepat disaat Mamanya Jo meninggal, orang yang dicintai Jo juga menikah. Jadi dokter Natasha ini orangnya.
"Besok jangan lupa datang ya dokter, Jo. Jangan sampai telat," kata Ummi pada Jo.
"Iya Ummi, saya usahakan."
"Memangnya ada acara apa Mi?" Tumben sekali Ummi ada acara tidak memberi tahu aku terlebih dahulu.
"Izhar, besok mau lamaran."
Seketika jantungku mencelos dari tempatnya. Ya Allah, tolong pegang aku agar aku tidak terjatuh disaat-saat seperti ini. Sesakit inikah rasanya berharap pada makhluk?
Ini semua salahku. Tidak seharusnya aku memendam rasa pada Mas Izhar. Harusnya aku tahu diri. Harusnya aku berkaca terlebih dahulu siapalah diriku ini. Harusnya juga aku tidak memupuk perasaan ini hingga tumbuh subur dan rimbun seperti sekarang. Mas Izhar pantas mendapatkan orang baik, dan itu bukanlah diriku.
Dari awal harusnya aku tidak pernah menganggap perhatian Mas Izhar sesuatu yang istimewa. Memberikan aku Al-Qur'an, meminjamkan aku buku, membelikan aku obat nyeri haid hingga yang terakhir menamakan rumah baca dari nama kami berdua. Harusnya aku tidak pernah menganggap itu hal yang berlebihan. Mas Izhar itu laki-laki yang baik, ia akan melakukan hal sama pada orang lain jika orang itu membutuhkan.
Ya Allah ampuni aku yang tidak tahu diri ini. Bagaimana bisa aku mencintai anak dari malaikatku?
Ummi...
Maafkanlah Nia yang sudah lancang mencintai anakmu. Maafkan Nia Ummi, maaf...
Sudah pukul 09.00 WIB aku langsung keluar dari kamar. Langkahku terasa berat, kalau bukan karena menghargai Ummi aku lebih memilih untuk berdiam diri di kamar. Entah membaca buku atau membaca Al-Qur'an agar hatiku menjadi tenang.
Di ruang tamu, sudah ramai orang. Hanya keluarga besar saja yang datang, namun lumayan banyak. Paman dan bibi Mas Izhar yang berasal dari Bogor dan Bandung juga datang. NCim Meilin dan Jo tidak lupa Ummi undang untuk menghadiri salah satu hari bersejarah Mas Izhar. Namun dari sekian banyaknya orang yang datang, aku belum melihat batang hidung orang yang ingin melamar seorang gadis.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Mas Izhar keluar dari kamarnya dengan menggunakan setelan jas berwarna hitam yang dipadukan dengan kemeja berwarna biru muda. Rambutnya disisir rapi ke belakang, sehingga ketampananya semakin terlihat. Duh, siapakah gerangan wanita beruntung yang akan menjadi permaisuri hatinya Mas Izhar?
"Masya Allah anak Ummi gagah sekali." Ummi mendekati Mas Izhar, kemudian merapikan jasnya agar terlihat semakin rapi. "Kamu mengingatkan Ummi dengan Abi kamu. Semoga beliau di sana senang melihat kamu tumbuh besar dan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab."
"Insya Allah Ummi." Hanya itu perkataan yang keluar dari bibir Mas Izhar. Pandangannya meniti sesuatu, saat mataku dan matanya bertemu aku langsung menundukkan pandangan ke bawah.
Teknis keberangkatan, Ummi, Mas Izhar, keluarga paman Saman berada dalam satu mobil. Dan keluarga paman Taufik berada di mobil yang berbeda, karena paman Taufik membawa anak-anaknya. Sedangkan aku, aku harus satu mobil dengan Jo dan nCim Meilin. Lengkap sudah penderitaanku hari ini.
"Nia cantik banget hari ini." nCim Meilin membuka percakapan. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepadanya.
"Makasih nCim," kataku. Kalau saja suasana hatiku sedang baik, aku pasti membalas menggodanya juga dengan bilang ia juga sama cantiknya seperti gadis berusia 17 tahun.
"Cantik apanya, Budhe. Jelek gitu."
Siapa lagi yang berbicara seperti itu kalau bukan Jo. Sudah kubilang, ia adalah manusia pertama yang senang melihatku menderita.
"Yasudah kalau aku jelek, kenapa kamu melihat aku terus?"
Kalah telak. Ia sedang memperhatikan aku lewat kaca spion dalam mobil.
"Aku? Merhatiin kamu? Bisa-bisa setelah ini aku langsung sakit mata kali."
Sabar Ni, sabar.
"Kalian ini bukannya nostalgia, malah saling kata-kataan," ucap nCim Meilin menengahi kami.
"Nggak ada yang buat dikenang, nCim. Adanya kenangan buruk terus kalau sama Jo."
NCim Meilin tertawa. "Awas hati-hati nanti jadi suka."
"Amit-amit deh, Budhe."
"Aku juga amit-amit kali suka sama kamu!"
Jo benar-benar membuat moodku semakin anjlok.
Mobil memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup luas. Rumah ini besar, namun terlihat sederhana. Dekorasinya juga terbuat dari kayu jati, banyak pepohonan yang tumbuh di pekarangan ini.
Kami semua memasuki rumah dan disambut hangat oleh tuan rumah. Ummi dan ibu-ibu yang kutaksir adalah pemilik rumah sedang berpelukan hangat melepas rindu.
Aku tidak memerhatikan lagi acaranya, pikiranku melayang kemana-mana. Tubuhku memang berada di tempat ini, namun tidak untuk jiwaku.
Tanpa sepengetahuan yang lain, aku pergi menjauh keluar rumah. Aku berjalan mengitari pekarangan, ternyata banyak juga bunga-bunga yang di tanam di sini. Kakiku melangkah ke kursi panjang yang terbuat dari kayu jati di bawah pohon yang rindang dan duduk di sana.
Angin sepai-sepoi menampar wajahku. Membuat jilbab yang ku kenakan terbang ke sana ke mari. Dalam keheningan yang hanya di temani suara hembusan angin tanpa terasa sesuatu menyeruak dari mataku. Keristal bening terjatuh membasahi gamisku berwarna biru dongker.
"Kamu nggak pantas patah hati, udah tua!"
Aku langsung menyeka air mataku dan menghapus pipiku yang basah. Aku tidak ingin menangis di hadapannya. Bisa-bisa ia mengejekku habis-habisan.
"Memangnya patah hati itu lihat umur!" Aku juga tidak mau kalah, aku menaikkan satu oktaf suaraku saat berbicara padanya. Aku melirik ia yang sekarang sudah duduk di ujung kursi panjang ini.
"Izhar itu nggak pantas buat kamu, Ni."
Lagi-lagi kalimat itu yang dia ucapkan. Emosiku semakin meningkat.
"Di mata kamu aku ini tidak pantas untuk siapa pun ya, Jo. Memangnya menurut kamu siapa yang pantas aku dampingi? Kamu?"
"Aku?" Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku nggak sudi sama bekas orang. Apalagi bekas sahabat aku sendiri."
Tanganku sudah mengepal kuat. Ingin sekali aku memberi wajahnya itu hadiah berupa bogeman tinju. Namun aku masih bisa mengontrol diriku agar tidak melakukan hal-hal yang nekat.
Ya Allah ku mohon kuatkan aku.
"Apa yang terjadi?" tanyanya. Suaranya menjadi lirih hingga hampir tak terdengar karena dibawa angin. "Apa yang terjadi diantara kamu dan Wisnu?"
Napasku terhenti sejenak. Nama yang tidak ingin kusebut, terucap juga dari bibir Jo. Aku tak menjawabnya, kurasa ia hanya ingin mengolok-olokku saja.
"Dia selingkuhin kamu?"
Napasku semakin tercekat. Dari mana ia tahu? Sepertinya Jo ini ada bakat cenayang yang kuat. Akhirnya aku mengangguk ragu sebagai jawaban.
"Sudah ku duga."
"Dia nggak sepenuhnya salah, aku yang nggak sempurna jadi istri. Tiga tahun menikah, aku nggak bisa kasih dia anak."
Sepertinya ada seseorang yang sedang memotong bawang merah di depan mataku, membuat mataku perih dan berair.
"Sesempurna apapun kamu, kalau dari awal jiwanya player, ya setelah nikah dia juga tetep jadi player."
"Maksud kamu apa Jo?"
"Sewaktu kalian masih pacaran juga dia sering bermain di belakang kamu. Aku pikir setelah kalian menikah, dia akan berubah tapi ternyata tidak."
Apa? Jadi selama ini sedari kami pacaran Wisnu pernah selingkuh?
"Aku rasa itu bukan alasan. Di luar sana banyak pasutri yang lima tahun menikah, sepuluh tahun menikah baru dikasih anak. Bahkan ada yang tidak diberi anak sepanjang pernikahan, dan keduanya tetap saling setia. Selingkuh itu habbits Ni. Sekali dia selingkuh, jiwanya akan tetap tertantang untuk melakukan selingkuh selanjutnya. Kecuali memang benar-benar dia bertaubat. Wisnu itu tipe laki-laki yang tidak pernah puas dengan satu perempuan."
Ya Allah... Ternyata aku mencintai orang yang salah.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang sama aku, Jo? Karena dia sahabat kamu? Kalian sekongkol buat aku menderita?"
"Aku nggak sepicik itu, Ni. Pernah suatu hari aku ingin kasih tahu kamu, tapi namanya juga orang yang sedang jatuh cinta. Telinganya tertutup dengan orang yang dicintai, matanya menjadi buta tidak bisa melihat kekurangan orang yang dicintai. Seluruh indera kamu tertutup dan hanya dipenuhi oleh nama Wisnu. Kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku bilang."
"Aku benci kamu! Aku benci Wisnu! Aku benci kalian!!"
Tangannya terulur untuk memberikan aku sapu tangan berwarna merah marun kemudian berkata, "menangislah, Ni. Aku melihat luka yang begitu dalam dari mata kamu. Kamu bukanlah Nia yang dulu, yang matanya selalu berpendar penuh cahaya."
Aku mengambil sapu tangan itu, "Aku mau nangis. Kamu jangan ngeliat. Sana balikkan badan kamu!"
Setelah Jo benar-benar membalikkan badannya, aku menutup wajahku dengan sapu tangan Jo. Menangis sepuasnya tanpa peduli lagi berapa usiaku saat ini.
"Waktu ulang tahun pernikahan hiks yang ketiga hiks... Dia... Dia menceraikan aku hiks. Dia datang bersama hiks bersama perempuan cantik. Dia bilang perempuan itu hiks... Perempuan itu adalah pacarnya dia hiks... Dan parahnya lagi pacarnya sedang hamil tiga bulan. Itu artinya dia bukan lagi sekedar selingkuh Jo, dia hiks.. Dia sudah berzina di belakang aku."
"Karena dia sudah berhasil membuat pacarnya hamil hiks... Dia... Dia mengira bahwa aku yang bermasalah... Dia menghina aku... Dia bilang aku perempuan yang man–"
Sroottt...
Ku keluarkan cairan yang ada di hidungku menggunakan sapu tangan Jo. Seperti kemarau panjang yang tersiram hujan, seperti musafir yang berjalan di gurun pasir kemudian menemukan oase, hatiku menjadi lega. Seluruh beban yang selama ini ku tanggung, seluruh kesakita-kesakitan yang ku simpan sendiri akhirnya bisa aku ceritakan kepada seseorang. Bahkan Ummi pun tidak ku ceritakan sedetil itu.
"Ini terakhir kalinya kamu menangis di depan aku. Aku nggak suka lihat kamu nangis. Jelek!"
Lihatlah, bukannya dia menenangkan aku malah mengeluarkan kata-kata seperti itu. Lagi pula mana ada orang yang menangis terlihat cantik. Ah, mungkin ada tapi hanya ada di sinetron saja.
****