Rumah Baca Nizhar

1976 Words
Aku sangat senang hari ini, karena Rumah Baca akan mendapat tempat baru. Makin hari ke hari, anak-anak semakin bertambah. Tidak mungkin anak-anak yang berjumlah lebih dari 15 orang disatukan di ruang tamu Ummi. Alhasil, Mas Izhar membangun sebuah gazebo di depan pekarangan rumah Ummi yang luas. Aku dan Mas Izhar memang sengaja membuat konsep yang menyatu dengan alam. Agar anak-anak juga bisa belajar dari alam. Anak-anak harus tahu bagaimana keindahan alam, sehingga nanti ia bisa menghargai alam sebagai tempat tinggalnya. Rumah Baca ini seperti napas hidupku. Aku senang bisa berkumpul dengan anak-anak yang lucu-lucu. Melihat senyum mereka, rasanya seluruh bebanku lenyap tak bersisa. Senyum mereka asli, tak dibuat-buat. Tidak seperti orang dewasa, yang diharuskan tersenyum meski hati menangis. Ya, senyum menutup luka. Rumah baca juga sekarang terdapat volunteer baru. Anak remaja daerah sini. Aku senang melihat anak remaja yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal positif. Masa remaja memang masa yang sangat rentan, jika tidak diimbangi dengan hal yang bermanfaat maka mereka akan melampiaskannya pada hal-hal yang negatif. Ada dua orang, yaitu Anggun dan juga Yudi. Mereka masih kelas XI SMA. Terkadang juga mereka mengajak temannya untuk membantu atau menyumbang buku bacaan. "Ibu ibu ibu, nanti Dina belajarnya di situ ya?" seorang anak mengejutkanku. Ia menarik-narik gamisku dari bawah. Kepalanya mendongak ke atas untuk melihat wajahku. "Iya sayang. Nanti Dina belajar di sana ya." "Asiiiikkkk," Dina mengepalkan tangannya ke atas. Matanya menghilang karena tertutup oleh pipinya yang gembil. Ah, aku jadi ingat seseorang. Astagfirullah, kenapa aku jadi kepikiran Jo? Padahal maksudku yang mempunyai mata yang menghilang saat tertawa adalah nCim Meilin. "Abim ayo sini mainnya jangan di situ, nanti kamu kena paku." Aku berteriak saat mendapati salah satu anak yang mendekati area gazebo. Untunglah Mas Izhar cepat tanggap, ia menggendong Abim kemudian mengajaknya bercanda. Sebenarnya bukannya Mas Izhar yang membuatnya sendiri, tapi menyuruh jasa tukang. Ia hanya mengatur saja. "Hayo mau kemana?" Kulihat Mas Izhar mengelitiki perut Abim, anak itu tertawa geli. "Ayo anak-anak masuk yuk, sama Ibu. Nanti ibu akan bacakan cerita seru!" Aku berteriak lagi kepada mereka. Namun sepertinya tidak mempan. Mereka masih bermain-main di pekarangan rumah. Ada yang berlari-lari, ada yang melompat-lompat serta berusaha menaiki pohon mangga yang sudah sejak lama berada di pekarangan rumah ini. "Ibu ibu, dokter Jo mana?" tanya Desti. Baru saja ia hilang di dalam pikiranku, sekarang malah ada yang mengingatkannya lagi. Jo memang sering datang ke Rumah Baca. Jika sempat ia juga menjadi volunteer untuk membacakan cerita kepada anak-anak. Dan yang paling aku sebal lagi, anak-anak lebih menyukai dirinya karena seorang dokter. "Dokter Jo lagi sibuk, di rumah sakit." "Halo selamat siang." Aku menghadap ke arah sumber suara, orang yang sedang dibicarakan muncul. "Dokter Jo!" "Dokter Jo!" "Yeay dokter Jo datang!" Anak-anak memanggil namanya, seperti seorang pahlawan yang baru pulang dari medan pertempuran. Mereka yang sibuk dengan kegiatan masing-masing pun kini melingkari Jo layaknya semut yang mengerumuni gula. "Ayo tebak dokter Jo bawa apa?" Ia mengangkat dua plastik besar di tangannya. Membuat anak-anak itu penasaran dengan apa yang ia bawa. Aku hanya memerhatikannya dari sini, tidak mengira sedikitpun kalau Jo mempunyai sifat kebapak'an. "Jo!" Panggilku. Ia beralih menatapku seraya bertanya mengapa aku memanggilnya. "Bawa anak-anak ke dalam." "Dokter Jo punya permen, siapa yang mau?" "Aku, aku, aku," mereka saling mengangkat tangan setinggi-tingginya. "Tapi kalian harus temani dokter ya di dalam." "Iya dokter." Jo langsung memberikan satu persatu dari mereka sebuah permen lolipop warna-warni berukuran besar. "Jo, jangan terlalu sering kasih mereka permen," kataku saat Jo melewatiku. Kami sedang berada di depan pintu, anak-anak sudah berada di dalam. "Iya Ni, cuma sesekali aja kok." Tumben sekali ia tidak menyelaku. Ajaib. Jo duduk diantara anak-anak yang sedang memakan permennya. Terlihat sekali kalau sebenarnya ia kelelahan. Kantung matanya terlihat sangat jelas. Namun ia bisa menutupi itu dengan baik di depan anak-anak. "Jo mau minum?" tawarku. Ia sedikit terkejut dengan tawaranku itu kemudian mengangguk. "Minum apa?" "Jus alpukat ada?". Aku segera melayangkan tatapan mematikan padanya. "Nggak ada! Jangan yang susah-susah mintanya." "Yasudah yang ada aja di dapur." "Minyak sayur mau?" godaku. "Ni jangan seperti itu di depan anak-anak. Kita harus kasih contoh jadi Ibu dan Bapak yang baik." Aku langsung terdiam, mungkin kalau yang bicara seperti itu Mas Izhar aku sudah melompat-lompat saking bahagianya. Tapi ini yang bicara adalah Jo. Aku segera berjalan ke arah dapur dan membuatkannya minum. Sekembalinya aku dari dapur, anak-anak sedang mewarnai di buku gambar. Mungkin buku itu Jo yang memberikan. "Nih Jo minumnya," kataku sambil meletakkan segelas teh manis. Aku langsung duduk di dekat Abim yang sedang mewarnai gambar rumah. "Assalamu'alaikum..." "Wa'alaikum salam," jawabku. Kulihat ada Mbak Lia, orang tua dari Zahra datang. Ia menggendong anak yang kutaksir berusia 3 bulan dan sedang menangis. "Mbak Nia, saya titip Zahra ya. Katanya dia mau ikut di Rumah Baca, tapi harus sama Mamanya. Udah tahu Mamanya repot, belum lagi adiknya rewel." Aku meringis, sepertinya Mbak Lia ini repot sekali. "Zahra di sini aja ya, sama ibu," kataku pada anak berusia 3 tahun. Ia menggelengkan kepalanya tanda tidak mau. "Maunya sama Mama!" kata Zahra. Matanya sudah berlinang seperti ingin menangis. "Duuuh Zahra, Mama mau nyuci baju dulu. Dari tadi adik kamu nangis terus, jadi Mama nggak bisa ngapa-ngapain." Keluh Mbak Lia. "Zahra sini sama Pak dokter. Kita mewarnai yuk." Itu kata Jo. Di tangannya sudah ada buku mewarnai dan juga crayon. Zahra yang melihat itu mendekat, dan duduk di samping Jo. Ajaib. Benar-benar ajaib. "Mbak, coba sini saya gendong adeknya Zahra." Aku mencoba menawarkan diri untuk menggendong anak usia 3 bulan itu yang sedang menangis. Mbak Lia memberikannya padaku, dan langsung kubawa ke dalam gendonganku. "Namanya siapa Mbak?" tanyaku sambil menepuk-nepuk b****g adek kecil itu. "Almira," jawab Mbak Lia. Tidak lama kemudian, Almira yang tadinya menangis, kini sudah berhenti. Aku dan Mbak Lia saling liat-liatan. "Wah Mbak Nia hebat juga ya." Aku hanya menanggapi dengan senyum. Hatiku menghangat karena tidak menyangka bayi usia 3 bulan ini terdiam dalam gendonganku. Ia sudah tidak rewel lagi. "Yasudah Mbak, kalau Mbak Lia mau nyuci baju dulu silakan. Biar Almira sama saya dulu." "Beneran Mbak?" tanya Mbak Lia. Aku mengangguk. Ia nampak senang karena mungkin bebannya sedikit berkurang. "Makasih ya Mbak. Saya permisi dulu." Aku membawa Almira ikut bergabung dengan yang lain. Sambil menepuk-nepuk bokongnya, aku juga melantunkan salawat Badar. "Shalatullah salaamullah. 'alaa thahaa rasulillah. Shalatullah salaamullah. 'alaa yaasin habibillah." Mulut kecil Almira komat-kamit dan tangannya menggapai-gapai wajahku. Aku gemas, ku balas mencium pipinya yang gembil. Aku masih menunggu hari keajaiban itu tiba. Aku masih menunggu saat-saat aku mendengar sebutan "Mama" dari mulut kecil anak yang lahir dari rahimku sendiri. Aku percaya tiada yang mustahil bagi-Nya. Kun fayakun. Jadilah! Maka jadilah. Aku mencium pipi Almira sekali lagi. Ku lihat Jo sedang berjalan menghampiriku kemudian berdiri di sampingku. Ia menjawil pipi Almira saking gemasnya. "Liat Jo, matanya kayak kamu. Nggak ada." Ku perlihatkan Almira pada Jo. Keduanya memang memiliki kesamaan, sama-sama bermata sipit. "Pipinya juga kayak kamu," kata Jo kemudian ia menggembungkan kedua pipinya sendiri. "Chubby." "Nyebelin! Memangnya aku segendut itu apa?" Pipiku memang chubby, namun badanku terhitung kecil. Tinggi badanku 160 cm dan berat badanku 49 kg. Sepertinya asupan makanan yang aku makan dicerna semuanya ke pipi. Jo tertawa sampai matanya menghilang tak terlihat. "Ni," panggilnya. Nadanya terdengar serius. "Ada makanan nggak sih di dapur? Aku belum makan dari pagi." Aku menahan tawa, ku kira ada apa sampai nadanya berubah serius. "Ada Jo, ambil aja sana di dapur." "Nggak enak sama Ummi." "Ummi kan lagi nggak ada. Lagi pula kalau ada pun Ummi pasti bakalan izinin." "Ambilin..." Yaampun Jo, Almira sudah berhenti rewelnya. Kini gantian Jo yang rewel. "Yaudah aku ambilin." Aku berjalan ke arah dapur, ternyata Jo juga mengikuti dari belakang. Ku eratkan lagi kain untuk gendongan Almira, agar bayi itu nyaman. Kebetulan hari ini aku memasak sambal terong, ati ampela goreng, dan juga sayur katuk. Ku ambil nasi ke piring dan menaruh lauk pauk ke meja makan. Biar Jo sendiri yang memilih lauknya. "Temani aku, Ni. Aku nggak bisa makan sendiri," ucapnya saat aku ingin kembali ke ruang tamu. Jika dilihat dari ruang tamu, ruang makan ini masih terlihat. Semoga aku dan Jo tidak terhitung berduaan, karena di dalam gendonganku ada Almira. "Iya." Akhirnya aku menuruti kata-katanya dan duduk di kursi kosong tepat berhadapan dengannya. Dulu aku pernah memimpikan saat-saat seperti ini. Namun bedanya, orang itu adalah -yang namanya tidak perlu kusebut- aku selalu membayangkan menemani suamiku makan bersama dengan anak-anakku. Mengambilkan nasi serta lauk pauk ke piring suami dan menyuapi anak-anakku bila mereka kesulitan. Namun nyatanya, hal itu memang hanya menjadi angan-anganku saja. Kecuali ada sebuah keajaiban. Mataku memanas, sepertinya jika sekali saja aku berkedip air mataku jatuh. Aku mencium pipi Almira lagi, bersembunyi di tubuh mungil itu agar Jo tidak tahu aku sedang menangis. Tanpa terasa gazebo sudah selesai. Setelah beberapa hari menunggu, hari ini masa penantian itu terbayar lunas. Hari ini merupakan peresmian Rumah Baca yang baru dibuka. Ummi dan aku telah menyiapkan nasi kuning, untuk dibagikan ke anak-anak yang datang. Yudi, Anggun, Jo dan Mas Izhar juga nampak sudah siap. Mereka berdiri di depan gazebo menunggu Mas Izhar memotong pita, sebagai tanda dibukanya Rumah Baca yang baru. Kulihat plang di atas gazebo yang bertuliskan, "Rumah Baca Nizhar". Aku sendiri tidak tahu arti kata "Nizhar" itu apa. Mungkin saja diambil dari kata bahasa Arab oleh Mas Izhar. "Ummi Nia sini," panggil Mas Izhar. Aku dan Ummi segera mendekat karena sebentar lagi pita siap untuk dipotong. "Dengan izin Allah pada hari ini Rumah Baca Nizhar telah diresmikan. Bismillahirrahmanirahim..." Pita terpotong. "Alhamdulillah..." semua mengucap syukur, termasuk anak-anak yang hadir. Setelah diresmikan, anak-anak terlihat bahagia sekali. Mereka semua kompak untuk cepat-cepatan memasuki gazebo. Ah, bahagia itu sederhana bukan? Melihat mereka tersenyum saja sudah membuatku bahagia. Mereka semakin senang saat aku memberikan nasi kuning yang sudah kusiapkan sejak tadi. Tak ada kegiatan dahulu hari ini, karena memang hari ini khusus diagendakan hanya untuk peresmian. Satu jam kemudian anak-anak pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan para orang tua– maksudku, aku, Mas Izhar, Ummi, Jo, Yudi dan Anggun masuk ke rumah Ummi untuk makan bersama. "Ah masakan Mbak Nia memang nggak pernah mengecewakan," puji Yudi pada masakanku. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya itu. "Kalau jadi cewek itu kayak Mbak Nia dong Nggun, pintar masak." "Ih apaan sih Yud, emang kamu pikir masak itu gampang!" Anggun membalas ucapan Yudi yang terkesan meremehkannya. Melihat mereka seperti aku melihat diriku sendiri dengan... Jo. Diam-diam aku memperhatikan dia. Hari ini dia memakai kemeja berwarna hitam lengan pendek. Kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih pucat. Ia duduk di samping Mas Izhar yang berada di depanku. Astagfirullahal 'azhim... Jo juga menghadap ke arahku. Ku rasa ia juga merasakan hal yang sama denganku saat melihat Yudi dan juga Anggun. Aku langsung memalingkan wajah. "Jadi perempuan itu harus bisa masak Ni. Nanti yang jadi suami kamu mau dikasih makan apa coba? Aku sih ngga mau ya sama cewek yang nggak bisa masak." "Memangnya masak itu gampang! Coba kamu sendiri saja yang masak sana!" "Oh iya, kamu kan nggak bisa masak ya. Masak air saja sampai gosong. Hahaha." Aku masih ingat percakapan itu. Waktu itu terjadi di kelas, saat aku memberikan bekal yang kuberikan pada –yang namanya tidak perlu kusebut– . Aku mengakui bahwa bekal itu adalah masakanku, padahal aku beli di warteg dekat rumah. Dan Jo tahu akan kebohonganku itu. "Oh iya Mi, lusa akan ada penyuluhan kanker serviks di rumah Pak RT. Ummi usahakan datang ya," kata Jo membuka suara dan berhasil membuyarkan lamunanku. "Insya Allah Ummi usahakan dokter, Nia juga boleh kan?" "Dia juga boleh datang, Mi," kata Jo seakan-akan aku tidak ada di sini. Aku menenggak minumanku agar tubuhku tidak panas mendengar kata yang keluar dari mulut Jo. Semoga saja air bisa menenangkan hatiku. "Oh iya Zhar, arti Rumah Baca Nizhar itu apa?" tanya Jo. Bagus pertanyaanku sudah diwakilkan olehnya. "Nizhar itu dari dua nama, Mas. Nia dan Izhar." Sontak air yang berada dimulutku keluar dari hidung. Aku benar-benar tersedak. Untung saja tidak sampai menyembur begitu jauh. "Ya Allah Ni, pelan-pelan minumnya." Ummi menepuk-nepuk punggungku. Aku tidak salah dengar kan? Meskipun umurku sudah kepala tiga, namun aku bisa pastikan kalau pendengaranku masih baik-baik saja. Nizhar, Nia dan Izhar. Aku senang mendengar nama itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD