Tentang Jo

1640 Words
Pagi-pagi sekali nCim Meilin datang dengan membawa buah-buahan di tangannya. Beliau bilang kalau buah itu untukku. Aku merasa tersanjung dengan perlakuan itu. Kalau Ummi yang mendapatkannya memang pantas, tapi ini aku. Hatiku menghangat, di tempat ini aku merasa mendapatkan keluarga baru meski mereka hanya orang lain. Sedangkan keluargaku sendiri, entah dimana. "Yaampun nCim pakai repot-repot, Nia nggak papa kok. Ini karena Nia ceroboh saja," kataku tak enak hati. Namun aku masih bingung dari mana nCim tau kalau aku sedang sakit. "Repot apasih Ni, nCim nggak merasa direpotkan kok. Tapi kamu nggak papa kan? Nggak ada masalah yang serius?" tanya nCim dengan nada panik. "Alhamdulillah nggak papa nCim. Oh ya, nCim tau dari mana Nia sakit?" tanyaku. Aku tidak bisa lagi membendung rasa penasaranku. "Dari Nath," jawabnya. Nath? Maksudnya? "Oh, Nathan. Jonathan." Ulangnya, sepertinya nCim tahu aku kebingungan. Oh, jadi Jo dipanggil Nathan di keluarganya. "Semalam dia datang ke rumah minta dimasakin fu yung hai, katanya kangen masakan nCim. Lalu dia cerita kalau kamu sedang sakit." "Memangnya hubungan nCim sama Jo apa?" tanyaku. Kalau nCim Meilin memiliki hubungan darah dengan Jo, aku pasti tidak akan percaya. NCim Meilin tipe orang yang baik, sedangkan Jo, tidak usah ditanya. "Jadi suami nCim itu punya adik kembar, nah Nath itu anaknya." Aku mengangguk, ternyata memang benar dugaanku. Mereka tidak ada hubungan darah, hanya terikat hubungan kekerabatan. "Oh ya, Nath juga bilang kalian teman SMA ya? Ya ampun, dunia bisa sesempit ini ya," kata nCim Meilin lagi. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Dunia memang sempit, tapi kenapa harus Jo yang dipertemukan lagi. "Nath dulu di sekolah gimana?" tanya nCim Meilin dengan sedikit berbisik padaku. "Duh gimana ya nCim," aku ragu untuk membocorkan semuanya pada nCim. Takut nCim shock tahu kelakuan Jo yang sebenarnya. Namun jika dilihat dari ekspresi nCim sepertinya nCim sangat penasaran. "NCim mau Nia jujur, atau bohong?" NCim Meilin tertawa hingga kedua matanya tak terlihat. "Jujur aja sama nCim. NCim ada dipihak kamu, kok." "Jo itu memang baik nCim, dia nggak pernah berbuat masalah dengan pihak sekolah. Seperti bolos, merokok di kantin, tawuran, melawan guru, dia tidak pernah melakukannya. Tapi...." Aku menggantung kalimatku. Menarik napas sedalam-dalamnya agar tidak meledak-ledak saat mengeluarkan kata selanjutnya. "Tapi kalau sama Nia dia jadi laki-laki yang menyebalkan. Kata-katanya kayak cabe rawit nCim pedes banget." Sabar Ni, sabar... Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar. NCim Meilin tertawa mendengar hal itu. "Contohnya?" "Pernah nih nCim, saat itu Nia memang belum mengenakan jilbab. Karena hari itu Nia ada pelajaran agama, jadilah Nia menggunakannya. Jo menarik kedua ujung sisi jilbab Nia kemudian menariknya dari belakang. Ya Nia jadi tercekik, nCim. Terus dia bilang gini ke Nia, 'kok kamu pakai jilbabnya pas ada pelajaran agama doang sih? Nggak seperti perempuan lain? Rasain tuh!" kataku sambil menirukan gaya bicara Jo waktu dulu. Menceritakannya saja masih membuat aku sebal. "Pernah juga nih nCim, waktu ada tugas drama di sekolah. Waktu itu ceritanya tentang Jaka Tarub. Awalnya yang menjadi Jaka Tarubnya bukan Jo. Tapi Jo melobi guru bahasa kami supaya dia yang jadi Jaka Tarubnya dan Nia sebagai Dewi Nawang Wulan. Dia bilang supaya bisa mengusir Nia dari muka bumi. Nyebelin kan nCim..." "Terus nih nCim waktu hari-H kami benar-benar perform. Kan Nia di dandanin ya nCim supaya terlihat cantik, kan memang perannya sebagai Dewi dari khayangan. Eh Jo bilang, 'kamu itu nggak pantas pakai baju bagus dan make up tebal. Kalau dasarnya sudah jelek ya jelek saja.'" Belum lagi sikap menyebalkannya saat aku sedang bersama dengan -yang namanya tidak perlu kusebut- Jo sengaja mengikuti kami agar aku dan dia tidak berduaan. Dan akhirnya, berakhir aku yang dikacangin oleh mereka. "Nath bener seperti itu?" tanya nCim seperti tidak percaya. Semoga saja setelah ini nCim tidak memiliki penyakit jantung akibat terlalu terkejut mendengar kelakuan Jo yang sebenarnya. "Masalahnya di rumah Nath itu anak yang pendiam." Pendiam? Aku tidak percaya. "Sepertinya kamu tidak percaya ya dengan ucapan nCim? Tapi memang begitu kenyataannya," ucap nCim. Raut wajahnya berubah menjadi serius. "Semenjak Papanya meninggal, Nath yang waktu itu masih berusia 12 tahun harus menanggung semuanya terlalu dini. Pundak kecilnya harus menopang beban yang tidak pantas diberikan oleh anak sekecil itu. Kepergian Papanya selain menimbulkan luka yang begitu dalam, juga membuat perekonomian keluarganya anjlok. Mau tidak mau, suka tidak suka, Nath harus menjadi tulang punggung keluarga untuk membantu ibunya. Setiap pulang sekolah ia selalu mencari pekerjaan sampingan entah itu loper koran, semir sepatu, atau pun menjadi tukang cuci motor." Kulihat nCim Meilin menyeka kedua matanya yang berkaca-kaca. "Sejak saat itu Nath berusaha mati-matian agar bisa melanjutkan sekolahnya. Di saat teman-temannya yang lain bermain, Nath lebih memilih belajar agar mendapatkan beasiswa di SMA tempat kalian dulu. Dan untunglah usahanya berhasil. Ia mendapat beasiswa bukan hanya saat SMA, tapi sampai ia lulus dari jurusan kedokteran. Kehidupannya berubah membaik, Nath bekerja sebagai dokter muda. Ibunya sudah tidak boleh lagi bekerja olehnya. Nath bilang, ia ingin ibunya menikmati saja hasil jerih payah selama ini. Namun, lagi-lagi ia harus mendapatkan ujian, ibunya sakit keras dan meninggal dunia." "Memangnya sakit apa, nCim?" "Kanker serviks. Nath yang waktu itu bekerja sebagai dokter mati-matian berusaha untuk menyembuhkan ibunya. Ia bertanya sana-sini kepada dokter yang lebih senior untuk tahu cara pengobatan ibunya seperti apa. Namun ia harus menelan pil pahit, kanker serviks yang diderita ibunya sudah parah dan menyebar ke seluruh tubuh. Hingga tak bisa diselamatkan. Bersamaan dengan itu, Nath cerita bahwa gadis yang ia cintai menikah dengan orang lain. Di hari yang sama ia harus kehilangan dua wanita yang ia cintai dalam hidupnya." Ya Allah... Aku tidak pernah mengira bahwa perjalanan Jo akan sepahit itu. Terkadang aku berpikir, bahwa aku adalah satu-satunya orang yang mendapat ujian paling berat. Ternyata ada yang lebih berat lagi dari ujian yang diberikan kepadaku. Memang sejatinya kita harus melihat ke bawah terlebih dahulu, agar selalu bersyukur. "Gadis itu siapa nCim?" tanyaku. Aku penasaran juga siapa yang dicintai oleh Jo. Aku kira ia tidak bisa jatuh cinta. "nCim juga nggak tau, Ni. Dia nggak pernah kasih tau identitasnya. NCim jadi takut Nath jadi berbelok arah, pasalnya dia nggak pernah pacaran sejak saat itu." Aku menahan tawa mendengar ucapan nCim, mungkin saja tidak ada yang mau dengannya karena perkataannya yang selalu membuat wanita sakit hati. "Maka dari itu Ni, apapun yang telah ia perbuat nCim harap kamu bisa memaafkannya. NCim juga terkejut mendengar Nath yang bisa seperti itu dengan kamu." Aku tersenyum pada nCim. Di saat yang bersamaan juga Ummi keluar dari kamarnya dan ikut bergabung bersama kami. "Seru banget nih ngobrolnya." Ummi duduk di sofa bagian depan. "Ni nCi belum dibuatkan minum?" Aku melirik ke arah meja yang masih kosong, dan menyengir. "Hehe maaf Mi, keasyikan cerita," ucapku pada Ummi. "Maaf ya nCim." Selanjutnya pada nCim Meilin. Kemudian aku berjalan ke arah dapur untuk membuat nCim Meilin minum. Aku tidak pernah mengira bahwa aku dan Jo mempunyai satu kesamaan. Kami berdua sama-sama yatim piatu. Bagi seorang anak, sekuat dan setangguh apapun ia, kehilangan orang tua adalah sebuah hal yang teramat menyedihkan. Allahulladzi lahu maa fissama waati wamaa fil ardh. Wawailul lil kaafirina min 'adzaabi syadiid. Aku mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Mas Izhar. Seperti biasa, suaranya masih sama merduanya. Mendayu-dayu saat ada bacaan panjang, mengulang-ngulang ayat yang artinya sebagai doa dan juga menangis saat ayat itu bermakna peringatan maupun adzab bagi orang terdahulu. Seminggu ini, sejak pembicaraan mengenai perjodohan itu aku merasa Mas Izhar menjauh. Ia akan berangkat pagi-pagi sekali dan melewatkan sarapan. Ia juga pulang setelah salat Magrib dan itu artinya pertemuan kami hanya saat di Rumah Baca saja. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar adanya. Namun hal itu sangat mengganggu pikiranku. Aku takut mempunyai salah kepadanya yang tidak aku sadari. Waidz taadzdzana Rabbukum lain' syakartum la aziidannakum, wa lain' kafartum inna adzaabi lasyadid. Ternyata Mas Izhar sedang membaca surah Ibrahim. Pada ayat tersebut ku dengar Mas Izhar mengulang bacaannya berkali-kali sambil terisak. Aku yang mendengarnya juga merasakan pedih sampai terasa ke ulu hati. Bacaannya begitu khusyu' membuat siapa saja yang mendengarnya merenung. Membuat jiwa-jiwa yang tertidur, bangkit. Suara itu, masih suara dari surga, yang bisa menenangkan jiwa. Salat Tahajud menurutku merupakan sebuah wahana untuk muhasabah diri. Di malam-malam yang sunyi sepi aku bisa menangis dalam sujud panjangku. Seraya memohon ampunan akan dosa-dosaku selama ini. Doaku di kala sepertiga malam, “Ya Rabb aku kembali lagi bersimpuh menghamba kepada-Mu. Perkenankanlah hamba-Mu yang bergelimang dosa ini mendapatkan ampunan-Mu. Sungguh diri ini sangat butuh perlindungan, cinta, dan belas kasih-Mu. Duhai Allah, aku panjatkan pengaduanku ini pada-Mu. Aku mohon dengarkanlah isi hatiku. Tunjukkanlah aku jalan lurus-Mu. Limpahkanlah kebaikan dan keindahan baik di dunia ini maupun di alam akhirat nanti.” Ku dengar Mas Izhar menangis. Tangisan penyesalan, tangisan nestapa, dan tangisan kepedihan. Aku tidak tahu apa yang membuat Mas Izhar menangis seperti itu. Setiap hati pasti memiliki permasalahan sendiri-sendiri yang ingin disampaikan pada Tuhannya. Seorang Mas Izhar yang perangainya baik, ibadahnya rajin dan sunnah yang terus ia jalankan saja bisa seperti itu. Apalagi aku? Harusnya aku lebih sering menangis mengingat akan semua dosa selama ini. Mas Izhar melipat sajadahnya, kemudian bangkit dari duduk. Ia membalikkan badan menghadap ke arahku. Sebentar ia terlihat kerkejut mendapatiku yang tengah memperhatikannya. Mata kami bertemu, aku bisa melihat matanya yang memerah akibat menangis. Tatapan itu seperti memiliki banyak arti, namun tak sanggup untuk diutarakan. Tatapan itu seperti tatapan terluka yang dirundung nestapa. Aku tidak sanggup untuk melihatnya. "Mas Izhar marah ya sama saya?" Bodoh! Kenapa pertanyaan itu yang keluar dari mulutku. Aku menepuk bibirku sendiri yang sudah lancang. Nia bodoh, Nia! "Marah kenapa Mbak?" tanyanya. Tuhkan ternyata benar, itu hanya perasaanku saja. "Selama seminggu ini saya merasa Mas Izhar menjauhkan diri dari saya. Kalau memang saya punya salah, saya minta maaf Mas." Ia terdiam lama. Suasana berubah menjadi canggung. Aku bisa mendengar melodi yang tercipta dari detik jarum jam, yang membuat kami semakin larut dalam keheningan. "Bukan Mbak Nia yang salah, tapi saya. Saya marah kepada diri saya sendiri karena mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Saya mengharapkan wanita seperti Khadijah, di saat saya belumlah sebaik Nabi Muhammad." Kemudian Mas Izhar langsung berlalu pergi, meninggalkanku yang masih mencerna ucapannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD