Permintaan Ummi

1215 Words
Prang! Ummi dan Mas Izhar langsung menatap ke arahku. "Astagfirullah, Nia. Kaki kamu berdarah." Ummi panik, kemudian langsung menghampiriku. Kepalaku menunduk untuk melihat kakiku, dan benar, darah sudah merembes membasahi lantai. Ummi membawaku ke sofa, aku masih diam. Rasa sakit tertembus beling masih belum terasa, ada yang lebih sakit dari pada itu. "Zhar, panggil dokter Jo. Lukanya harus ditangani dengan tepat. Ummi takut kalau sampai infeksi." "Mi, Nia kan cuma kena beling, bukan mau lahiran," tolakku. Aku tidak ingin berhutang budi padanya. "Iya Mi, sebentar ya. Izhar panggil dulu," ucap Mas Izhar sambil berdiri dari kursi. Ia langsung meninggalkan rumah. Tidak lama kemudian Mas Izhar datang bersama dengan laki-laki itu yang membawa kotak berukuran sedang. Aku tak tahu isinya apa. Posisiku sekarang berubah menjadi setengah berbaring. Kakiku di tumpukan di paha Ummi yang duduk di depan sana. Kemudian Jo mengambil posisi di bawah kakiku. "Tahan sebentar, belingnya harus segera di keluarkan," ucapnya dengan nada serius. Aku mengangguk, tanganku meremas gamisku sendiri untuk meredam rasa sakit. Mataku terpejam saat tangan Jo sudah menyentuh kulit kakiku. "Arrrgh sakit!" Rintihku. Rasanya benar-benar sakit dan perih. Kalau saja bukan Jo yang sedang mengobatiku, pasti aku sudah menangis. Hanya saja, aku terlalu gengsi menangis di depannya. Maka sakit itu akan ku tahan. "Jangan banyak bergerak! Nanti belingnya semakin dalam!" "Sakit, Jo!" "Kan udah kubilang, di tahan!" Lihatlah, sedang mengobatiku saja dia masih galak. Setiap bicara padaku, nadanya pasti membentak. Aku jadi sangsi, bagaimana dia menghadapi ibu-ibu lahiran. Jika menghadapi aku yang terkena beling saja dia tak bisa sabar. Setiap beling yang dicabut Jo dari dalam kulitku, pasti aku berteriak. Terhitung sudah tiga beling yang berhasil Jo keluarkan dari kakiku. Tinggal satu beling lagi, dan itu ukurannya paling besar. "Ini yang paling besar, ditahan." Dia mengingatkan. Aku mengangguk dan dia langsung mencabut beling itu. "Yaampun Jo! Sakit!" Aku berteriak, tanpa sadar malah memanggil namanya. Ya ampun semoga saja Ummi dan Mas Izhar tidak menyadarinya. Aku bisa bernapas lega saat beling-beling itu sudah keluar dari kakiku. Jo membersihkan lukaku dengan air, kemudian memberikan antiseptik agar tidak infeksi. "Gimana dok?" tanya Ummi. Ummi baru bersuara saat Jo sedang membalut lukaku dengan kain kasa. "Untung saja tidak terlalu dalam, Mi. Jadi tidak harus di jahit." Ya Allah bisa sampai di jahit? Hidupku ini memang penuh dengan luka ya. "Makasih ya, dok." Ummi bicara padanya. Ia mengangguk dan tersenyum ke arah Ummi. "Jangan lupa perbannya harus rutin di ganti setiap hari. Biar nggak kotor," ucapnya padaku. Aku mengangguk. "Terima kasih," gumamku. Aku tidak tahu ia mendengarnya atau tidak karena suaraku begitu lirih. "Jangan ceroboh lagi!" Yaampun, tuhkan... Dia kalau bicara padaku nadanya harus naik satu oktaf. "Iya!!" Aku tak mau kalah. Kemudian memasang wajah menyebalkan sama sepertinya. Heran, padahal kami sudah berumur kepala tiga. Tapi kelakuan masih seperti anak tiga tahun. Ummi dan Mas Izhar memandangku dengan bingung. Di depan mereka memang aku tak pernah menunjukkan sikap kurang ajar. Hanya di depan Jo saja, aku seperti itu. "Yasudah Mi, saya permisi dulu ya." Pamitnya pada Ummi. Ummi berdiri untuk mengantarkan Jo sampai ke pintu. Tiba di pintu, ia membalikkan badan lagi dan menghadap ke arahku. Aku langsung memalingkan wajah. "Selamat malam." Setelah itu dia sudah benar-benar pergi meninggalkan rumah Ummi. Aku bangkit dari sofa, untuk membersihkan lantai marmer yang berubah warna merah karena darahku. Jika dilihat cukup banyak. Pantas saja Ummi sangat panik. "Lho Mbak mau kemana?" tanya Mas Izhar. "Saya mau ngambil lap, Mas. Buat bersihin lantai," jawabku. Aku berjalan hati-hati menuju ke belakang. Setiap langkah terasa perih. "Biar saya saja Mbak, yang ambil." Mas Izhar bangkit dari sofa dan mendahului aku yang berjalan tertatih-tatih. Tidak lama kemudian ia datang membawa wash lap, sapu dan juga pengki. "Sini Mas biar saya saja." Aku berusaha merebut wash lap itu dari tangannya, namun buru-buru ia cegah. "Biar saya saja, Mbak. Mbak kan masih sakit." "Yang sakit itu kan kaki saya, Mas. Bukan tangan saya." Aku masih mencoba mengambil kain itu dan akhirnya... Aku memegang tangannya. Ya Allah... Tanganku berada di atas tangannya, bahkan hangat kulitnya bisa aku rasakan. Hingga menjalar sampai ke hati. Kami sama-sama terdiam. Seolah terbius oleh kejadian yang baru saja terjadi. "Astagfirullah, maaf Mas saya nggak sengaja," ucapku sambil menjauhkan tangan darinya. Sungguh lancang sekali tanganku ini menggenggam tangannya. "I..iya Mbak. Makanya biar saya saja yang bersihkan." Ummi masuk dan melihat perdebatan di antara kami. "Ada apa sih ini?" "Mas Izhar maksa buat bersihin darah Nia di lantai Mi. Nia nggak enak." "Mbak Nia kan lagi sakit, Mi. Izhar cuma mau bantu." "Yasudah ngga papa, Ni. Kalo itu mau dia," ucap Ummi sebagai penengah diantara kami. Aku jadi heran, yang anaknya Ummi kan dia. Mengapa aku yang dibela terus? "Zhar, habis itu kita lanjutkan pembicaraan tadi ya. Oh ya, sekalian Nia juga ikut." "Seperti yang Ummi bilang tadi, Ummi sudah menjodohkan Izhar dengan anak teman Ummi." Aku hanya diam dan menyimak pembicaraan Ummi dengan Mas Izhar. Sebenarnya adanya aku di sini tidaklah penting, mengingat aku hanyalah orang lain bagi keluarga mereka. Namun Ummi tetap memintaku untuk ikut bergabung. "Kenapa Ummi nggak bilang Izhar dulu? Kenapa Ummi langsung mengambil keputusan?" Aku mendongak menatap Mas Izhar. Baru kali ini aku mendengar Mas Izhar menaikkan suaranya di depan Ummi. "Lho kamu pernah bilang kan belum ada calon? Ya Ummi ingin mencarikan kamu jodoh yang baik, Zhar." "Kalau Izhar bilang, Izhar sudah punya calon istri apa Ummi akan membatalkan perjodohan itu?" Ummi terkejut, begitu pun aku. Selama ini Mas Izhar tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Kecuali Ummi. Lalu sekarang tiba-tiba ia mengakui bahwa sudah punya calon istri. Siapakah perempuan yang beruntung itu? "Nggak bisa Zhar. Dia adalah anak dari sahabat Abi kamu. Keluarga kami sudah berjanji kalau mempunyai anak yang berbeda kelamin akan dijodohkan." "Tapi Mi–" "Zhar Ummi cuma ingin yang terbaik untuk kamu. Insya Allah dia perempuan yang baik. Hafidzah, lulusan pesantren, baik dan cantik. Ummi yakin dia pasti bisa menjadi istri yang baik untuk kamu." Kulihat Mas Izhar mengepalkan tangannya yang berada di bawah sofa. Rahangnya mengeras seakan menahan sesuatu amarah. Tiba-tiba saja, matanya menatap ke arahku. Sekilas aku bisa melihat kalau pupil matanya memerah. "Selama ini Ummi tidak pernah meminta apapun darimu, Zhar. Ummi cuma mau kamu bahagia. Itu sudah cukup. Kamu anak Ummi satu-satunya, umur Ummi sudah tua. Ummi hanya ingin kamu ada yang mengurus." "Kalau niat Ummi supaya Izhar ada yang mengurus, Mbak Nia juga bisa mengurus Izhar. Iya kan Mbak?" Lho kok malah aku yang dibawa? Aku diam saja, tak berkutik. Di tembak dengan pertanyaan seperti itu membuatku bingung. "Beda Zhar. Ummi ingin kamu diurus seorang istri. Kalau memang cinta yang menjadi alasan kamu menolak perjodohan ini, percayalah Nak. Cinta bisa datang setelah pernikahan. Allah yang akan meniupkan rasa cinta itu di hati kalian." Mas Izhar terlihat mengambil napas dalam. Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan frustasi. "Baiklah," Mas Izhar mengembuskan napasnya dalam. "Kalau memang itu kemauan Ummi, akan Izhar penuhi. Tapi Izhar nggak janji, kalau Izhar bisa mencintai dia setelah pernikahan ini." Mas Izhar berlalu begitu saja meninggalkan ruang tamu. Aku hanya bisa memandang punggungnya dari tempatku saat ini. Aku mengerti dengan apa yang Mas Izhar rasakan sekarang. Menikah dengan orang yang tidak dicinta? Aku rasa tidak mungkin. Apalagi jika tidak pernah bertemu sekalipun. Jodoh dan pekerjaan adalah dua hal yang tidak boleh main-main dalam memilihnya. Karena kita akan banyak menghabiskan waktu dengan dua hal itu. Aku hanya bisa berdoa untuk kebaikan Mas Izhar. Semoga akan ada jalan terang bagi kehidupannya, untuk sekarang dan suatu hari nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD