Kabar Perjodohan

1250 Words
Pertemuanku kembali dengan laki-laki menyebalkan itu sukses membuat moodku hancur seharian. Bagaimana mungkin, saat aku ingin melupakan dia, aku malah dipertemukan dengan sahabatnya. Yang menurutku jauh lebih mengesalkan dibanding dia. Lihatlah, sudah disakiti aku masih saja membelanya. Aku tidak bisa berdoa meminta keburukan untuknya, biar bagaimana pun dia pernah mengisi ruang kosong di hatiku, juga orang yang pernah aku cintai. Aku akan menunjukkan padanya, oh dengan sahabatnya terlebih dahulu bahwa aku baik-baik saja setelah berpisah darinya. Meskipun pada kenyataannya tidak ada hati yang baik-baik saja setelah ditinggal pergi. Aku akan menunjukkan padanya bahwa aku bisa hidup tanpanya. Bukankah balas dendam terbaik untuk orang yang pernah menyakiti adalah dengan menjadi bahagia. Aku percaya bahwa Allah tidak pernah tidur. Dia pasti tahu akan beratnya hari-hari yang telah kulewati. Saat ini yang menjadi fokusku bukanlah masalah jodoh, toh aku sendiri sudah pernah menikah. Aku ingin memperbaiki diri agar nanti saat benar-benar ada laki-laki yang bisa menerimaku apa adanya, aku sudah siap menjadi pribadi yang baru. Terkadang kita terlalu sibuk mempercantik wajah, hingga lupa mempercantik akhlak. Padahal kecantikan yang hakiki berada di dalam sanubari, bukan hanya soal fisik semata. Ya Allah... Jika suatu saat nanti ada laki-laki yang bisa menerima kekuranganku, maka aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuknya. Karena-Mu. "Ibu coba tebak, tadi sore aku mandi sendiri apa dimandiin?" Dina datang dan membuyarkan lamunanku, mata bulatnya berbinar menunggu jawabanku dan ekspresinya sangat lucu. Aku jadi ingin mencubit pipi gembilnya itu. "Ehm..." Aku pura-pura berpikir, ia jadi tidak sabar menunggu. "Biar ibu tebak, pasti dimandiin kan?" "Ih ibu aku mandi sendiri tau!" Dina kesal, bibirnya mengerucut lucu. "Pintar sekali anak ibu. Sini ibunya mau dipeluk nggak?" Dina langsung menubruk tubuhku. Tubuh mungilnya mendekap erat tubuhku. Hatiku menghangat, entah kenapa mataku jadi memanas. Akankah suatu hari nanti aku bisa seperti ini? Bedanya tubuh mungil yang kupeluk nanti adalah darah dagingku sendiri. Aku selalu berharap hari keajaiban itu akan tiba. Aku melihat Mas Izhar yang sedang dikelilingi oleh anak-anak. Hari ini yang datang cukup banyak, hampir 10 orang. Ku kira ia akan kewalahan menghadapi anak-anak itu karena aku tidak membantunya akibat mood burukku ini. Namun nyatanya ia bisa menghandle dengan baik. Mas Izhar itu tipe laki-laki yang bisa diandalkan, juga sangat bertanggung jawab. Ia juga suka dengan anak-anak, aku yakin ia pasti bisa menjadi ayah yang baik nantinya. Anak-anak sudah pulang, waktunya aku membereskan buku-buku di meja. Buku itu ku tumpuk berdasarkan ukurannya. Ukuran yang paling besar berada di bawah. "Mas nggak capek apa setelah pulang dari kampus langsung menemani anak-anak?" tanyaku. Aku membuka percakapan karena merasa awkward. Dia memang baru pulang, belum berganti baju, apalagi istirahat. Ia masih memakai kemeja berwarna merah marun yang lengannya di gulung hingga siku. "Capek sih, Mbak. Tapi entah kenapa melihat tawa mereka rasa capek saya jadi hilang," katanya sambil mengambil buku seri Shahabiyah kemudian menumpuknya di tumpukkan buku yang sudah ku rapikan. "Semoga lelahnya Mas, jadi lillah." Ia tersenyum ke arahku. Dunia seakan berhenti dari peredarannya dan porosnya hanya tertuju pada wajah manis itu. Jangan ditanya bagaimana detak jantungku saat ini, saking kencangnya aku merasakan ada gempa. Jangan sampai Mas Izhar mendengarnya. Aku bersyukur, seseorang mengetuk pintu rumah. Aku segera pamit untuk membukanya. "Sebentar ya, Mas. Sepertinya ada tamu." Aku berjalan menghampiri pintu. Kemudian memegang knop pintu dan langsung menggesernya. Setelah pintu terbuka, sungguh aku menyesal telah bersyukur mengetahui ia yang mengetuk pintu. "Ngapain kamu kesini?" Ketusku. "Wow santai kali. Lagi pula kamu bukan pemilik rumah ini kan? Aku pengen ketemu dengan pemiliknya yang udah berbaik hati ngasih aku makan siang." Mau tak mau mempersilakannya masuk, di ruang tamu masih ada Mas Izhar yang sedang merapikan buku. "Mas ada tamu." Mas Izhar menghentikan aktivitasnya dan menghadap ke arah laki-laki itu. Ia menatapku sekilas, seperti kebingunan dengan siapa yang datang. "Kenalkan saya Jonathan. Tetangga baru yang membeli rumah Pak Hasan," ucapnya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan ke arah Mas Izhar, dia menerima uluran itu dan menyebutkan namanya. "Izhar," ucapnya. "Senang bertetangga dengan anda," ucap Jo. Matanya melirik ke arahku kemudian tangannya mengulur, seperti apa yang ia lakukan pada Mas Izhar. "Jonathan," ucapnya padaku. Seolah-olah ia tidak pernah mengenalku. Lagi pula aku tidak rugi apabila ia memang tidak mengenalku. Akan lebih baik, kalau kita tidak pernah bertemu sebelumnya.  "Dania," kataku sambil menangkupkan kedua tangan ke d**a. Bukannya tidak ingin membalas uluran tangannya, karena kita belum mahram, haram hukumnya bersentuhan. Ia menatapku mengejek, kemudian mengendikkan bahu entah kenapa. "Oh iya Mas, Nia pamit ke dapur dulu ya ngambil minum." Entah kenapa panggilan diriku berubah dari 'saya' menjadi namaku sendiri. Aku juga sengaja melembutkan nada bicara kepada Mas Izhar. Aku pergi ke dapur membuat minuman. Rasanya aku ingin menaruh racun di gelasnya, agar ia menghilang dari bumi ini. Astagfirullah. Ampuni aku ya Allah. Tidak seharusnya aku memendam dengki padanya. Dengki itu dosa. Dan dosa bagaikan titik hitam di hati yang kelamaan jika terus-menerus dilakukan maka hati akan tertutupi oleh titik hitam tersebut. Aku tidak ingin proses hijrahku gagal karenanya. Ya Allah... Aku mohon panjangkan lah sabar untuk menghadapinya. Setelah selesai membuat minuman, aku langsung ke ruang tamu. Ternyata Ummi sudah pulang mengisi kajian ibu-ibu di masjid yang tak jauh dari sini, dan ikut bergabung dengan Mas Izhar dan juga Jo. "Lho Ummi sudah pulang. Tunggu ya Mi, Nia buatkan minuman untuk Ummi dulu." Aku segera meletakkan minuman di atas meja. Baru kemudian pergi ke dapur membuat minuman untuk Ummi. Setelah selesai baru lah aku ikut bergabung. "Oh jadi Mas Jo ini dokter, dokter apa?" tanya Mas Izhar. Panggilannya tidak formal lagi. "Dokter kandungan." Aku menahan tawa, entah karena apa. Pasti dia jadi dokter c***l deh. Ups. Oke, berhenti menghinanya dalam hati, Nia. Pembicaraan masih berlanjut, aku tidak terlalu ikut di dalamnya. Jadinya aku tidak tahu mereka membahas apa. Lagi pula malas saja melihat wajah Jo, mengingatkanku pada seseorang. Dulu, Jo itu sangat dekat dengan dia. Kemana-mana selalu berdua. Jadi setiap aku bertemu dengan dia, pasti ada Jo. Mengesalkan. Akhirnya aku lebih memilih untuk undur diri, dengan alasan merapikan buku ke rak. Terlalu lama berhadapan dengan Jo, aku tidak mau dosaku semakin bertambah karena terus-menerus mengumpat di dalam hati. "Sepertinya sudah terlalu malam, saya pamit pulang dulu. Untuk masalah buku, nanti saya akan kumpulkan buku-buku saya dan juga teman. Saya permisi, Mi, Zhar. Selamat malam." Aku bernapas lega melihat ia yang sudah pulang. Aku memerhatikannya dari arah dapur. Tubuhnya sudah menghilang di balik pintu. Syukurlah. "Dokter Jo itu hebat ya, masih muda tapi kelihatan dewasa sekali. Sopan pula." Aku mendekat ke arah Ummi yang sedang memuji laki-laki itu. Belum tahu saja Ummi perangainya dia seperti apa. Mulutnya kalau sudah bicara, pedasnya melebihi cabe-cabean. "Ni, kamu potong-potong nih kue dari dokter Jo. Pakai repot-repot segala beliin kue. Sekalian rantangnya kamu taruh di dapur." "Iya Mi." Aku meraih bungkusan plastik yang di dalamnya berisi kotak besar. Serta rantang stainless milik Ummi. Setelah membuka kotak itu, ku lihat ternyata isinya adalah banana cake. Dari aromanya saja sepertinya kue ini enak sekali. Aku sangat menyukai segala olahan pisang, seperti banana cake, banana nuget, pisang goreng coklat, pokoknya semua hal yang berbau pisang aku suka. Kalau saja bukan Jo yang memberikan kue ini, pasti aku sudah memakannya. Setelah ku potong-potong kue ini, kemudian memindahkannya ke piring. Dan langsung membawanya ke ruang tamu. Ummi dan Mas Izhar sedang berbincang, yang sepertinya serius sekali. "Ummi sudah menjodohkan Izhar dengan anak teman Ummi." Prang! Piring yang ku bawa terlepas dari tanganku. Serpihan-serpihan kecil dari beling itu bahkan sampai mengenai kakiku. Namun tak kurasakan apapun, ada yang lebih sakit dari pada luka yang mengeluarkan banyak darah itu. Hatiku lebih sakit. Apa ini yang dinamakan sakit tapi tidak berdarah? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD