Mimpi Buruk

1800 Words
"Kenapa? Kamu pasti bercanda kan? Haha aku tahu, kamu pasti lagi ngerjain aku." Aku melihat seorang wanita yang sedang berdiri di hadapan laki-laki. Ia tertawa kemudian menangis. Berharap bahwa apa yang barusan ia dengar adalah mimpi. Memang benar, mimpi buruk. Tapi ia tidak pernah bisa bangun dari tidur, sehingga ia terjebak dalam mimpi buruk itu selamanya. Wanita itu menatap sekeliling. Ruang tamu sudah disulap layaknya restoran paling mahal. Ia hanya ingin makan malam bersama sang kekasih, tepat di tiga tahun kebersamaan mereka dalam satu bahtera. "Aku nggak pernah bercanda. Keputusan aku udah bulat. Kita–" "Stop! Jangan diteruskan!" "Ni kamu kenapa?" tanya Ummi. Napasku tersengal, jantungku berdegup sangat cepat. Bumi seolah ikut bergetar karena detak jantungku yang naik turun. Mengapa mimpi itu muncul lagi? Setelah sekian lama aku tidak dihantui mimpi buruk karena mengonsumsi obat tidur. "Nggak papa Mi, Nia cuma mimpi buruk," jawabku. Aku memandangi sekitar, ternyata aku ketiduran di ruang tamu. "Kamu pindah ke kamar, tadinya Ummi mau bangunin kamu. Eh malah kamu sudah bangun duluan." Aku mengangguk menuruti ucapan Ummi. Sebelumnya aku ingin mengambil wudu terlebih dahulu untuk menunaikan salat Tahajud. Semoga saja setelah salat, hatiku menjadi tenang. Mimpi itu layaknya potongan sebuah film. Yang setiap scenenya membingkai kenangan tentang ketidakadilan, ketidaksempurnaan juga ketidaksetiaan. Dan aku tidak ingin melihatnya. Sama sekali. Ternyata benar, hanya mengingat Allah-lah hati menjadi tenang. Aku sudah tidak sekacau tadi. Ketika mimpi itu datang, rasanya masih sama saat aku mengalaminya langsung. Dulu aku selalu bertanya-tanya, mengapa Allah memberikanku rasa sakit seperti ini? Sampai aku tidak sanggup berdiri di kakiku sendiri. Sampai aku harus berada di jurang keputusasaan. Padahal aku tahu, Allah tidak menyukai orang yang berputus asa. Sampai akhirnya aku sadar, Dia merengkuhku dengan tangan-Nya. Dia tak pernah meninggalkanku, meski aku sering melupakan-Nya. Maka dari itu aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku, mengapa aku diberi rasa sakit yang tiada berakhir. Karena jawabannya adalah Dia ingin aku kembali pada-Nya. Pagi-pagi sekali Ummi mengajakku ke pasar tradisional. Biasanya aku selalu membeli sayur di Pak Darmo, tukang sayur yang biasa keliling kompleks. Selain harganya tidak jauh dari harga pasar, juga lebih praktis. Karena pasar tradisional lumayan jauh dari rumah, sehingga tidak bisa berjalan kaki. Oleh karena itu, kami berangkat bareng dengan Mas Izhar. Setelah mengantarku dan Ummi, barulah ia pergi ke kampus. "Ummi perlu ditunggu nggak? Biar nanti Izhar mengantar Ummi pulang dulu, baru ke kampus," kata Mas Izhar saat aku dan Ummi turun dari mobil. "Nggak usah, Zhar. Nanti kamu malah telat ke kampus. Kasihan mahasiswa kamu. Ummi sama Nia biar naik angkot aja." "Yasudah Mi, Izhar berangkat ya. Mbak Nia tolong jaga Ummi ya," ucapnya sebelum benar-benar pergi. "Iya Mas, pasti." "Assalamu'alaikum..." "Wa'alaikumsalam." Aku dan Ummi menjawab kompak. Untuk permintaan Mas Izhar agar aku menjaga Ummi, itu sudah pasti. Ummi itu sudah aku anggap sebagai ibu kandungku sendiri. Aku bersedia menjadi tamengnya jika ada orang yang menyakiti Ummi. Tujuan awal aku dan Ummi memasuki blok yang menjual sayur-mayur. Ummi bilang hari ini  ingin memakan sayur nangka. Jadi kami pergi ke tokonya Mbak Darsih, langganan Ummi membeli sayur. "Mbak nangkanya sekilo," kata Ummi pada Mbak Darsih. Mbak Darsih tersenyum ke arah Ummi sambil berkata, "O alaaaaah, baru keliatan toh Ummi kemana saja?" Dengan logat Jawa yang kental. Ummi balas tersenyum ramah, "Nggak kemana-mana Mbak. Di rumah terus." "Tapi sehat, toh?" "Alhamdulillah sehat." "Syukurlah kalau sehat," kata Mbak Darsih sambil menimbang nangka yang Ummi pesan. "Mbak cantik juga sehat, toh?" tanyanya padaku. Mbak Darsih memang seringkali memanggilku dengan sebutan cantik. Aku jadi malu. "Alhamdulillah sehat mbak, mbak sendiri sehat juga toh?" tanyaku yang mengikuti logatnya. Kemudian Mbak Darsih tersenyum. "Sehat dong, Mbak. Kalau ndhak sehat lah saya ndhak iso jualan. Hehehe." Iya juga ya. Ah tapi nggak ada salahnya kan menanyakan kabar. Bukan hanya sekedar basa-basi. "Iki sudah, pesen apalagi toh Mi?" Ummi menatapku. Selama ini aku yang tahu persedian dapur. "Sambelan sama bumbu dapurnya Mbak. Ehm, apalagi ya?" Aku mencoba mengingat-ingat. Sepertinya selain yang kusebutkan masih tersedia di dapur. "Sudah Mbak itu saja." "Oke, sip Mbak. Ditunggu yo." Mbak Darsih memberikan pesanan kami. Setelah membayar kami segera pergi untuk membeli ayam potong. "Matur suwun yo, Mbak." "Sami-sami." Kami berjalan memasuki pasar semakin dalam. Kalau tempat Mbak Darsih berada di depan pasar, maka tukang ayam berada lebih dalam lagi. Kami melewati segerombolan anak muda yang sedang menongkrong. Entah apa tujuannya aku tak tahu. Mereka semua memegang putung rokok di tangannya, penampilannya awut-awutan. Seperti orang bangun tidur. "Cuit-cuit... Anaknya ya Bu, cantik banget," kata salah satu dari mereka. "Jangan digodain, b**o. Dia itu ukhty." "Ukhty apaan? Sejenis Hello Kitty?" "Bukan, itu loh muslimah muslimah gitu deh. Yang suka sok jual mahal." "Oh kalo gitu, Assalamu'alaikum ukhty." Aku tak mengindahkan perkataan mereka. Hanya menjawab salam, karena menjawab salam itu wajib hukumnya. Itu pun lirih dan hampir tak terdengar. Aku bersyukur abang penjual ayam sepertinya tahu atas ketidaknyamananku, ia bergegas dalam melayaniku dan langsung memberikannya padaku. "Makasih ya, Bang," ucapku setelah menerima pesanan ayam potong. Aku bernapas lega karena laki-laki itu tidak berbuat apapun padaku, juga Ummi. Mungkin melihat busanaku yang seperti ini mereka segan. "Anaknya dijaga ya, Bu Hajjah. Jangan sampai lecet," celetuk salah satu dari mereka. Tak apalah Ummi dikatakan Hajjah, ku anggap itu sebagai doa. Kita tidak pernah tahu kan, doa siapa yang akan diijabah oleh Allah. Itu lah mengapa Islam mengatur wanita agar mengulurkan jilbab sampai ke dadanya. Agar tak ada laki-laki yang berani kurang ajar padanya. Adil bukan, laki-laki menundukkan pandangan sedangkan wanita menutup seluruh auratnya. Dan aku pernah dengar di salah satu kajian ustadz, jika ada perempuan yang sudah benar-benar menutup auratnya kemudian di perkosa, maka wanita itu mendapat pahala. Wallahu a'lam. Tak apalah di katakan sok jual mahal, nyatanya memang Islam memandang wanita itu mahal. Terjaga, tertutup dan tersimpan rapi. Hanya orang yang berani menghalalkannya, yang bisa melihat keindahannya. Jadilah wanita seperti Maryam. Yang semakin disimpan, semakin terhormat. Aish... Mengapa aku jadi teringat dengan perkataan Mas Izhar? Aku dan Ummi pulang menaiki angkot. Karena angkot tak sampai depan rumah, alhasil kami berdua jalan dari depan kompleks. "Nia semalam mimpi buruk lagi?" tanya Ummi membuka pembicaraan. Aku mengangguk, "iya Mi." "Ummi ngerti apa yang kamu rasa, Ni. Wanita seperti kita ini memang nggak mudah menjalani hidup. Allah memang tidak berjanji bahwa jalan hamba-Nya akan selalu mulus. Tapi Allah berjanji, setiap kerikil yang berhasil kita lewati imbalannya adalah surga." Ya Allah... Kalau tidak ingat ini adalah jalan umum, aku akan memeluk Ummi sekarang juga. "Ummi, terima kasih ya sudah mau menerima Nia yang seperti ini. Kalau bukan karena Ummi, Nia nggak tahu nasib Nia akan seperti apa. Mungkin waktu itu Nia sudah ditemukan mengambang di pinggir sungai dengan tubuh yang membengkak. Ummi benar-benar malaikat buat Nia." Mataku tiba-tiba memanas, pandanganku sedikit buram. Kemudian aku menangis diam-diam di samping Ummi. "Bukan Ummi yang menolong kamu Ni, tapi Allah. Malam itu, entah mengapa Ummi melewati jalan itu. Padahal sebelumnya Ummi tidak pernah lewat situ. Allah yang sudah menggerakkan hati Ummi agar bisa bertemu dengan kamu. Melihat kamu, Ummi seperti melihat diri Ummi sendiri." Memang  Allah-lah yang menolongku melalui perantara Ummi. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengirimkan malaikat seperti Ummi. Engkau telah memberiku cahaya di saat aku kehilangan arah melewati lorong hidupku yang gelap gulita. "Loh Mi, kok pintu rumahnya Pak Hasan terbuka? Memangnya sudah ada yang beli?" tanyaku saat melewati rumah bercat krem, dengan pintu berwarna coklat. Setahuku rumah itu adalah rumah kosong milik Pak Hasan. Pemiliknya pindah rumah, karena ingin ikut dengan anaknya ke Batam. "Sudah, Ni. Kalau nggak salah yang beli itu saudaranya nCi Meilin." "Oh ya?" Ummi mengangguk, "Dokter, baru dipindahtugaskan di kota ini." "Nia baru tahu kalau saudaranya nCim ada yang dokter. Kalau Nia sakit pengen berobat sama dia, deh. Hehehe pasti baik kayak nCim Meilin." "Kalau bisa sih jangan sakit, Ni. Harus jaga kesehatan. Walaupun dokternya ganteng, hehehe." "Ih Ummi mulai genit nih. Nia bilangin Mas Izhar lho," godaku pada Ummi. "Nia Ummi itu udah tua. Kamu lah yang cocok." "Masaaaaaaa?!" Aku memperhatikan Ummi yang sedang sibuk di dapur. Entah apa yang Ummi lakukan, karena penasaran aku menghampirinya. "Lagi ngapain, Mi?" tanyaku. Aku melihat Ummi sedang menyusun rantang stainless miliknya. "Ini makanan buat tetangga baru kita. Anggap saja hadiah perkenalan." Aku tersenyum menggoda, "uhuk batuk nih Mi." "Kamu ini, Ni. Pikirannya. Ummi nggak ada niat nikah lagi. Ummi cuma pengen sama Abinya Izhar nanti di surga." Ya Allah... Aku tersentuh. Memang wanita akan dibersamakan dengan suami terakhirnya di surga kelak. "Malah melamun! Ini kamu kasih ke dia." Ummi memberikan rantang itu ke aku. Aku menerimanya dan langsung melakukan perintah Ummi. "Siap boss!" Aku berjalan, rumah tetangga baru itu terletak dua rumah dari milik Ummi. Hanya saja, masing-masing rumah tertutup oleh dinding tinggi di samping. Sehingga antara rumah satu dengan rumah yang lain tidak terlihat jika dari samping. Aku mengetuk pintu setelah sampai di depan rumahnya. Tiga kali ku ketuk, namun si pemilik tak kunjung datang. "Permisi... Apa ada orang? Permisiii." Aku setengah berteriak. Ah, sepertinya tetangga baru ini sedang tidak di rumah. Baiklah nanti aku akan ke sini lagi. Aku langsung membalikkan badan berniat untuk pergi. "Ya, ada apa?" Baru saja tiga langkah, aku mendengar suara bariton dari arah belakangku. Badanku refleks membalik, "ini ada sesuat–" Hampir saja aku menjatuhkan rantang itu karena terlalu terkejut. Sepertinya ia juga sama terkejutnya denganku, namun itu hanya beberapa detik saja. Ia melihatku aneh, memandang dari atas sampai bawah. Selebihnya ia bisa menguasai ekspresi mukanya. "Ka–kamu pemilik rumah ini?" "Hhmm..." "Ng–nggak nyangka kita tetangga." Dia melihat-lihat ke arah belakangku, seperti sedang mencari sesuatu. "Suami kamu mana?" Jder! "Jangan nanya dia sama aku lah, kamu itu kan sahabatnya." "Kan kamu istrinya, mana dia? Sudah lama nggak ketemu," katanya dengan wajah tak berdosa. Apa dia nggak tahu tentang apa yang terjadi sama kami? Atau memang pura-pura nggak tau? "Kamu ditinggal sama dia? Oh atau diceraikan? Memang sih kamu nggak pantas buat dia!" Astagfirullah... Rasanya aku ingin lempar rantang ini saja ke wajahnya yang sok ganteng itu. Bukan hanya ke wajahnya, tapi ke mulutnya yang selalu mengucapkan kata pedas. "Aku cuma mau ngasih ini, bukan buat dihina." Aku memaksa dia mengambil rantang itu, namun dia terlihat enggan. "Tenang aja, nggak di racun! Tapi kalau aku tahu dari awal kamu yang jadi tetangga baru, mungkin udah aku kasih sianida!" Aku berbalik dan langsung meninggalkan rumah itu. Berlama-lama dengannya membuatku gerah. Terlebih telingaku memanas mendengar semua hinaan dari mulutnya. Ternyata dari dulu dia belum berubah. "Kamu pacar barunya dia?" Aku mengangguk sambil tersenyum, berusaha agar ia bisa menerimaku yang sekarang menjadi pacar dari sahabatnya. "Hehe iya, kenalin aku Dania." "Udah tahu!" ucapnya ketus. "Kok mau sih dia sama kamu. Heran! Kamu itu nggak pantas buat dia!" Kamu itu nggak pantas buat dia! Nggak pantas buat dia! Nggak pantas buat dia! Bayangan itu terlintas lagi di otakku. Kata-katanya yang tajam, membuat hatiku yang masih tertancap belati kini semakin ngilu. Aku tahu karena kekuranganku ini aku memang tidak pantas buat dia. Bahkan untuk laki-laki manapun aku tidak pantas. Mimpi apa semalam aku bisa bertemu lagi dengannya. Yaampun, aku baru ingat. Mimpi buruk!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD