BAB 2: HIDUP KEMBALI

2942 Words
Di tempat lain, Seorang wanita dengan pakaian yang begitu mewah, pakaian yang hanya digunakan oleh kaum bangsawan tertinggi dunia itu. Dia adalah Putri Ainsley Almora Darren. Seorang wanita yang baru saja diangkat sebagai Putri Mahkota tertinggi Dunia Drexiaroth beberapa bulan yang lalu. Ainsley mematung di ambang pintu. Sebuah pintu kamar seorang putra mahkota tertinggi dunia itu. Ia melihat suaminya sedang bermesraan dengan wanita lain di hadapannya. Seorang wanita yang menjadi simpanan suaminya. Apakah ia cemburu? Ya, tentu saja ia sangat cemburu. Tapi yang salah di sini bukanlah perempuan yang bergelar selir itu. Tapi dirinyalah yang menjadi orang ketiga di antara kisah cinta mereka yang sudah berlangsung cukup lama. Kisah cinta mereka sudah terjalin sebelum Ainsley menikahi pangeran yang berparas sangat tampan itu. Ainsley meremas gaunnya saat melihat suaminya semakin memperdalam ciumannya kepada perempuan bernama Putri Clara Auristella. Dia mendapatkan gelar putri saat menjadi selir seorang putra mahkota yang memiliki kedudukan yang sangat tinggi setelah ayahnya, Lord Aaric dan ibunya Queen Zabrina. Richard semakin memperdalam ciumannya, ia sengaja melakukan hal tersebut saat mengetahui Ainsley sedang menonton aksi mereka. Setelah beberapa menit, Richard berhenti dan menoleh ke arah Ainsley. Ia tersenyum miring melihat merahnya wajah wanita yang menjadi istri sahnya itu. “Apakah kau masih ingin berdiri di ambang pintu? Atau kau mau melihat aksi kami yang lebih dari yang kau lihat tadi?” Pertanyaan Richard bagaikan sebuah petir bagi Ainsley. Ia tidak menyangka suaminya akan mengatakan hal itu bahkan di depan wanita yang menjadi madunya. Ia merasa sangat terhina sebagai seorang wanita. Ia merasa sangat direndahkan sebagai seorang putri mahkota di hadapan wanita yang hanya bergelar sebagai simpanan, walaupun wanita itu adalah seorang anak menteri dari salah satu kerajaan di dunia itu, tetapi Clara jauh di bawah kekuasaannya walaupun dia juga mendapatkan gelar putri setelah menikahi suaminya, tetapi dia tetaplah seorang istri sah pangeran tertinggi itu dan ia menyandang gelar sebagau putri mahkota. AInsley tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ya, dia adalah seorang wanita yang sangat lemah, ia bahkan tidak memiliki kekuatan apapun sama seperti makhluk lain di dunia itu. Padahal, dia adalah keturunan dari kaum penyihir. Ia bahkan tidak mengerti, mengapa Queen Zabrina menikahkannya kepada putranya yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Ia bahkan bukan mate dari lelaki itu. Ya, mate Richard adalah Clara Auristella, selir yang memeluk mesra suaminya sekarang. Ainsley menatap Richard sekilas, sangat nampak terlihat bahwa suaminya itu sangat membencinya. Entah salah ia apa? Apakah karena perusak hubungannya dengan Clara? Tapi mereka masih bisa bersatu, walaupun Ainsley yang menjadi istri sah dan putri mahkota di kerajaan itu. Tapi Ainsley tidak tahu bahwa ada alasan lain yang membuat Richard sangat membencinya. Aisnley berbalik dan meninggalkan kamar itu dengan perasaan yang berkecamuk. Ia berlari keluar dari istana tanpa peduli panggilan dari para pelayan pribadinya dan para pengawal kerajaan. Ia terus berlari dimalam yang begitu gelap gulita, menyusuri hutan yang sangat gelap. Air matanya terus mengalir, ia tidak tahu mengapa takdirnya begitu malang. Ia tumbuh tanpa kekuatan apapun di dalam dirinya, padahal dia adalah anak dari Vania dan Alex Darren. Vania yang notabenenya adalah pelayan pribadi Queen Zabrina pasti memiliki kekuatan yang lumayan hebat, begitupun suaminya, Alex Darren yaitu tangan kanan Lord Aaric, pastilah memiliki kekuatan yang juga tak kalah hebatnya. Namun, yang Ansley tidak bisa mengerti sampai sekarang, mengapa ia tidak memiliki kekuatan apapun, padahal ibu dan ayahnya juga mengatakan bahwa mereka tidak bisa mengunci kekuatan sama seperti raja dan ratu tertinggi Dunia Drexiaroth. Jadi, sangat mustahil jika kedua orang tuanya menyegel kekuatannya. “Kenapa? Kenapa hidupku begitu menderita? Apa salahku? Kenapa goddess? Kenapa orang yang aku cintai tidak menncintaiku? Kenapa orang-orang disekelilingku tidak menghormatiku sebagai putri mahkota tertinggi dunia ini? Apakah karena suamiku hanya memedulikan Putri Clara dan tidak pernah memedulikanku? Padahal kami adalah sahabat, aku, Pangeran Richard dan Sean. Tapi mengapa Yang Mulia sekarang begitu membenciku?” Ainsley berhenti di tepi jurang. Tidak, dia tidak bermaksud untuk bunuh diri. Ia bukan tipe wanita yang ingin menghabisi dirinya begitu saja. Dia hanya ingin menenangkan dirinya dengan berteriak sekencang mungkin. Ainsley adalah sosok wanita yang sabar. Ia tidak pernah mengeluh tentang hidupnya selama ini. Tapi sekarang, melihat suaminya sendiri melakukan hal itu di depannya membuat dirinya sudah tidak bisa menanggung semua kesedihannya. Dicampakkan oleh suami sekaligus sahabatnya itu membuatnya merasa hancur berkeping-keping. Ainsley membalikkan badannya saat mendengar suara langkah kaki yang terdengar begitu banyak mendekati dirinya. Tubuhnya gemetar hebat saat melihat sekumpulan vampire yang berdiri tak jauh di depannya. Ia tahu bahwa para pria di depannya adalah vampire dengan melihat karakteristik mereka. “A..apa yang kalian lakukan di sini? Si..siapa kalian?” Ainsley mundur selangkah. Ia tidak tahu harus melakukan apa sekarang, jika ia maju maka sekumpulan vampire itu akan menghabisinya. Dan jika ia mundur lagi, maka tubuhnya akan jatuh ke dalam jurang dan pastinya ia akan tiada saat itu juga. “Sepertinya Putri kita sangat ketakutan.” Salah satu pria di depannya tertawa setelah mengatakan hal itu. “ Putri pasti akan sangat senang jika kita menghabisinya malam ini,” lanjutnya dengan tawa yang semakin keras. “Putri? Putri siapa?” tanya Ainsley bingung. “A..apa yang kalian inginkan? Aku adalah seorang putri mahkota tertinggi, jika kalian melukaiku maka hukuman matipun tidak akan cukup untuk kalian.” Para vampire itu tertawa keras mendengar perkataan Ainsley, dan belum sempat Ainsley melanjutkan ucapannya, salah satu vampire itu mendorongnya hingga terjatuh ke dalam jurang. Ainsley tidak tahu bahwa malam itu adalah malam terakhirnya hidup di dunia itu. Jika aku diberikan kesempatan untuk hidup kembali, aku tidak akan mengemis cintanya lagi. *** Ainsley Almora’s voice in earth, Namaku Ainsley Almora, setelah kematian orang tuaku beberapa tahun yang lalu, kesepian dan keheninganlah yang menemani hari-hariku. Semua orang mengatakan bahwa aku adalah anak pembunuh dan pembawa sial. Aku menyadari sesuatu, mungkin apa yang dikatakan orang-orang itu memang benar. Aku adalah pembawa sial. Orang-orang yang dekat denganku akan meninggalkanku untuk selama-lamanya. Orang-orang yang aku cintai akan pergi dariku untuk selama-lamanya. Orang tuaku, dan sekarang sahabatku Min Ah. Tidak bisakah aku bahagia? Haruskah aku menjadi gadis yang pendiam dan mejauhi orang-orang seperti dulu agar tidak terkena sial dariku? Mungkin aku benar-benar gadis sial, karena kecelakaan itu, sekarang aku juga merasa kehilangan nyawaku. Aku merasa sudah ada di alam baka. Saat ini, aku berada di sebuah lapangan yang begitu luas. Tidak, itu bukan sebuah lapangan, tetapi padang rumput yang luasnya sejauh mata memandang. Aku melihat ke sekelilingku. Padang rumput itu dipenuhi dengan kabut. Aku tidak bisa melihat apapun di sana kecuali kabut dan sinar yang begitu terang. Aku mulai mengikuti sinar terang itu. Dan seketika, aku merasakan dadaku begitu sakit, napasku terasa begitu berat sekarang. Aku berpikir, kenapa ke alam bakapun terasa begitu menyakitkan? Kenapa ini sungguh menyiksa. Aku semakin melangkahkan kakiku mendekati cahaya itu dan menghiraukan rasa sakit di d**a dan kepalaku. Semakin mendekati cahaya terang itu, semakin aku merasa tertarik ke dalamnya dan merasakan tubuhku terjatuh ke dalam sebuah dimensi yang tidak ku ketahui. Beberapa saat, aku merasakan tubuhku tersentak. Keringat dingin memenuhi sekujur tubuhku. Hingga sayup-sayup, aku mendengar suara perempuan yang begitu lembut memanggil namaku. Tidak, aku rasa itu bukan namaku. Karena dia menambahkan kata Putri di depannya. Yang Mulia Putri Putri Ainsley *** “Putri, Putri sudah sadar. Hamba sangat bersyukur, Yang Mulia sudah sadar setelah melewati masa kritis. Bagaimana bisa Anda melakukan bunuh diri. Untung saja, Yang Mulia Lord Aaric menyelamatkan Anda, Yang Mulia.” Ainsley mengerutkan keningnya menatap wanita yang bergaun ala kerajaan seperti disebuah film dan drama-drama kerajaan yang pernah Aisnley tonton. Kini, tatapan Ainsley beralih ke tubuhnya, ia melihat jari-jari tangannya yang begitu lentik dan mulus. Tidak sama seperti jari-jari tangannya yang dahulu. Ia mengerutkan keningnya saat menyadari sesuatu. Aneh. Kenapa aku tidak merasakan sakit sedikitpun. Batin Ainsley bersuara sambil memandang wanita yang setia berada di sampingnya. “Apa Yang Mulia merasa kesakitan? Hamba mohon jangan melakukan bunuh diri lagi,” ucap salah satu wanita yang bergaun hijau tosca dengan rambut pirang dan mata berwarna coklat terang. Ainsley mengerutkan keningnya mendengar ucapan wanita itu. Bunuh diri? Perasaan, dirinya tidak melakukan bunuh diri. Ia ditabrak sebuah truk hingga terlempar cukup jauh dan sekarang ia berada di tempat yang sangat mewah ini. Ainsley baru tersadar, bahwa dia tidak berada di sebuah rumah sakit atau kamar kosnya melainkan di sebuah ruangan. Bukan, maksudnya sebuah kamar yang sangat mewah, kamar yang dipenuhi dengan warna emas dan merah maroon. Apakah itu emas asli? Sebenarnya ini di mana? Batin Ainsley kembali berbicara. “Yang Mulia, pelayan lainnya sudah memberitahu Yang Mulia Ratu bahwa Anda sudah sadar. Yang mulia ratu akan segera menjenguk Anda,” ucap wanita bergaun hijau tosca itu. “Kenapa kau selalu memanggilku Yang Mulia? Dan siapa Yang Mulia Ratu yang kau maksud itu?” Akhirnya, Ainsley bertanya dengan semua keanehan yang ia rasa. Ia bertanya dengan nada dinginnya. Wanita bergaun hijau tosca yang tak lain adalah pelayan pribadi Putri Ainsley Callista. Pelayan itu bernama Audrey. Ia tersenyum dan berbicara sangat sopan kepada majikannya. “Karena Yang Mulia adalah seorang putri mahkota dan Yang Mulia Ratu adalah ibu dari suami Anda. Dia adalah seorang ratu tertinggi dunia ini.” Mata Ainsley membulat, mulutnya terbuka. Ia kemudian menggelengkan kepalanya yang masih sedikit pusing. “Apakah kita sedang melakukan acting untuk latihan drama? Lalu di mana kameranya?” Ainsley turun dari ranjang dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang sangat luas itu. Ia mencari sebuah kamera yang sedang merekam mereka. Ia tahu, mungkin sekarang mereka sedang melakukan latihan drama untuk pentas seninya dua minggu lagi. Bukankah dia mahasiswa jurusan seni? Sudah pasti mereka sedang melakukan latihan itu. “Maafkan hamba Yang Mulia. Tapi hamba tidak mengerti perkataan Anda.” Ainsley mengerutkan keningnya. Semuanya terasa aneh menurutnya. Ia menatap wanita yang selalu menundukkan kepalanya itu di depan dirinya. “Kalau bukan begitu. Apakah kamu sedang melakukan shooting film? Atau sebuah drama kerajaan? Tapi melihat dari pakaianmu, aku rasa ini terlihat berbeda dari drama kerajaan korea yang biasa aku lihat. Sepertinya kamu sedang shooting film kerajaan ala Eropa. Benar bukan?” Kerutan tebal semakin terlihat di dahi Audrey, ia sama sekali tidak mengerti perkataan putri mahkota itu. “Itu Yang Mulia..” “Bahkan aku menggunakan pakaian ala kerajaan Eropa sepertimu,” potong Ainsley kemudian melangkahkan kakinya ke arah pintu raksasa kamar itu. Audrey mengikuti Ainsley dari belakang. Tetapi langka mereka terhenti saat kedua pintu besar itu terbuka lebar dan menampakkan beberapa orang yang datang. Tiga orang wanita yang sangat cantik berpakaian yang sangat mewah, salah satu dari wanita itu begitu membuat Ainsley terpukau dengan kecantikannya. Walaupun ia terlihat lebih dewasa dari dua wanita lainnya, tetapi kecantikannya sungguh membuat Ainsley tidak bisa berkedip sedikitpun. Dan yang membuat Ainsley lebih melongo adalah seorang pria yang merangkul pinggang wanita tadi. Menurut Ainsley, pria itu bagaikan seorang pangeran. Bukan, dia bahkan seperti raja di negeri dongeng yang terkenal sangat tampan nan dingin. Wajahnya bagaikan pahatan yang begitu sempurna. “Sudah puas menatap kami, huh?” kata seorang wanita yang bergaun merah maroon. Wanita itu tak lain adalah Putri Elea. Ainsley mengerjap beberapa kali. Ia menatap wanita yang bersuara itu. Ainsley kembali dibuat terpana dengan kecantikannya, dia sangat mirip dengan wanita yang berada di samping pria tampan yang memakai jubah hitam dengan lambang yang berukiran rumit menurut Ainsley. Hanya saja, wanita muda itu memiliki warna mata biru yang sama persis dengan pria tampan tersebut. Setelah puas menatap mereka satu per satu, Ainsley memberanikan dirinya untuk berbicara. “Kalian siapa? Apakah kalian ikut dalam shooting film juga?” tanya Ainsley dengan nada datarnya. Ia memang wanita yang cukup dingin. “Apa maksud kakak ipar? Apa itu shooting film?” Kini giliran Putri Estella yang berbicara. Ia mendekati Ainsley dan merangkul wanita itu. Ainlsey menatap tangan Estella yang melingkari bahunya. Ia melepaskan tangan itu kemudian menatap datar Estella membuat anak ketiga Lord Aaric itu mengerutkan keningnya bingung. Zabrina berjalan medekati putrinya, ia membisikkan sesuatu pada Estella membuat wanita itu mengangguk dan menarik Elea keluar dari kamar itu. Setelah kepergian kedua putrinya, Zabrina mengalihkan pandangannya ke Ainsley. “Hai, aku senang kamu sudah sadar.” Zabrina berbicara dengan wajah keibuannya dan tersenyum sangat lembut membuat Ainsley mengerjap beberapa kali. Sungguh, wanita itu sangat sangat cantik menurut Ainsley. Ia tidak pernah melihat wanita secantik itu sebelumnya. Menyadari sesuatu yang aneh dari menantunya, Zabrina mendekat dan mengelus pipi Ainsley dengan lembut. “Aku tahu, kamu mungkin lupa tentang dunia ini. Jadi, Audrey akan membantumu untuk mengenal dunia ini kembali.” Ainsley hanya terdiam mencerna perkataan wanita berparas cantik itu. Hatinya bahkan bergetar hebat saat Zabrina mengelus pipinya. Ia seperti merasakan kasih sayang seorang ibu kembali. “Aku Queen Zabrina. Aku adalah ratu di kerajaan ini dan ibunda dari suamimu, Pangeran Richard. Dan ..” Zabrina menoleh menatap Aaric, ia memberikan kode kepada suaminya untuk memperkenalkan dirinya, tetapi Aaric hanya diam dengan wajah datar dan dinginnya. Zabrina mendengus kesal kemudian menoleh kembali ke arah Ainsley, wajahnya berubah drastis. Ia tersenyum lembut kepada anak menantunya itu. “Dia adalah suamiku. Raja di kerajaan ini. Dia adalah Lord Aaric. Dan kedua wanita tadi adalah putri kembarku. Mereka adalah adik-adik dari suamimu.” Zabrina menjelaskannya dengan suara yang begitu lembut. Ainsley hanya terdiam, mencerna semua kata-kata wanita yang mengaku sebagai ibu dari suaminya. Bagaimana bisa? Ainsley belum menikah dan bagaimana bisa wanita itu menjadi mertuanya? Bahkan, wanita itu sangatlah muda untuk menjadi seorang ibu mertua untuknya. Ainsley terkekeh setelah lama terdiam. “Apakah ini sebuah skenario drama atau film kerajaan? Atau semacamnya?” tanya Ainsley membuat Aaric menaikkan alisnya. Ia membaca pikiran wanita yang menjadi menantunya itu membuat ia menghela napasnya. “Ini bukanlah sebuah shooting film atau drama atau apalah yang kamu sebut itu. Tapi apa yang istriku katakan kepadamu semuanya benar.” Ainsley mengerjapkan matanya, ia memukul kepalanya perlahan. Beberapa detik yang lalu, ia sempat mendengar pikiran pria tampan di depannya. Apakah aku bisa membaca pikiran sekarang? Tapi bagaimana bisa? Dan ia dapatkan adalah semua yang mereka katakan adalah benar. Jadi ini sebenarnya di mana? Jadi mereka benar-benar keluarga kerajaan? Jadi aku benar-benar seorang putri? Tapi bagaimana bisa ini terjadi? Batin Ainsley berbicara dan ia merasa frustasi keketika. Zabrina tersenyum, ia tahu Aaric membuat Ainsley bisa membaca pikirannya tadi. Ia berharap Ainsley akan mempercayainya sekarang. Ia merasa bersalah kepada menantunya itu, bagaimana bisa Richard sama sekali tidak memperdulikannya padahal mereka dulunya adalah sahabat? Dan bagaimana bisa Richard tidak ingin membantu Ainsley saat ia tahu wanita itu jatuh ke dalam jurang? Dan bagaimana bisa ia tidak ada di samping istrinya saat pertama kali membuka matanya kembali? Kenapa Richard memiliki hati yang begitu kejam? “Apakah kalian bercanda? Kalian ingin menipuku begitu? Bagaimana bisa kalian adalah orang tua dari anak-anak yang sudah sangat besar? Padahal wajah kalian seperti berumur 26 tahun?” “Karena kami adalah makhluk immortal dan makhluk immortal tidak akan terlihat tua walau berumur ribuan tahun.” Ainsley terkekeh mendengar jawaban pria bernama Aaric itu. Wajahnya bahkan memerah saking kerasnya ia tertawa. Audrey yang sedari tadi terdiam bergetar hebat. Seluruh badannnya gemetar karena ketakutan. Bagaimana bisa Putri Ainsley tertawa begitu keras saat Lord Aaric yang berbicara? Bagaimana bisa ia menertawai apa yang Lord Aaric katakan? Sungguh ini membuat Audrey ingin mati saja. Puas tertawa, Ainsley memegangi perutnya yang terasa sakit karena terlalu lama tertawa. “Ohh astaga. Maafkan aku. Kalian terdengar lucu. Aku tahu, kalian pasti terinspirasi dari sebuah novel atau film fantasy, benar ‘kan?” Mata Aaric memerah. Aura demonnya keluar. Ainsley yang melihat itu terkejut. Sungguh, Aaric hanya ingin menakuti wanita yang menjadi menantunya itu. Memberi pelajaran sedikit kepada menantu pilihan istrinya mungkin akan menyenangkan. Ainsley bergerak mundur, ia merasa ketakutan dengan perubahan pria yang mengaku menjadi ayah mertuanya . Zabrina yang melihat Ainsley ketakutan menyuruh Audrey untuk membawanya keluar dari kamar tersebut. Setelah mereka pergi, Aaric menghentikan aksinya dan tersenyum miring ke arah Zabrina. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Aaric saat Zabrina memicingkan mata ke arahnya. “Kenapa kau melakukan itu padanya?” “Bukannya lebih bagus, supaya dia cepat percaya tentang kita. Ahh sudahlah, ini membuang waktuku saja. Ini gara-gara kamu yang menjodohkan wanita lemah itu dengan putra kita. Lihatlah Richard bahkan tidak mneyukainya.” Zabrina membulatkan matanya mendengar perkataan suaminya. “Aku tahu, dia tidak memiliki kekuatan apapun tapi setidaknya dia adalah wanita yang terbaik untuk putra kita. Aku sudah mengatakan semuanya kepadamu sebelum perjodohan itu bukan? Aku mohon jangan mengatakan hal seperti itu tentangnya, dia juga adalah putrimu sekarang dan tentang Richard yang membencinya, putra kita hanya belum bisa menerima kejadian beberapa tahun lalu itu.” Mata Zabrina berkaca-kaca, ia menatap Aaric membuat pria itu menghampirinya dan memeluk wanita yang sangat ia cintai. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu bersedih.” Zabrina mengangguk dipelukan Aaric. Ia tahu, suaminya sudah melakukan semua yang ia minta. Ia sangat bersyukur memiliki suami pengertian seperti Aaric. Walaupun sikap dingin dan kejamnya masih selalu melekat pada pria demon itu. setidaknya, ia masih bisa merasakan kasih sayang darinya seutuhnya. “Apakah kau yakin semuanya akan baik-baik saja nanti? Dia adalah wanita lemah, dan dia adalah manusia biasa. Aku takut, terjadi sesuatu kepadanya nanti.” Aaric melepaskan pelukannya, ia menunggu jawaban dari wanita yang sangat ia cintai itu. “Aku berharap tidak akan terjadi apapun. Aku hanya bisa melihat masa depannya satu tahun yang akan datang. Kekuatan melihat masa depanku semakin lemah. Aku tidak bisa melihat jangkaun masa depannya yang lebih lama. Aku berharap semua akan baik-baik saja.” Aaric mengangguk kemudian mengelus pipi wanita berparas cantik itu. “Hmm. Kamu sudah melakukan yang terbaik untuknya.” Zabrina tersenyum, ia merasa sedikit khawatir dengan masa depan wanita yang menjadi menantunya itu. Ia tidak tahu, apa yang akan terjadi di tahun-tahun yang akan datang. “Apakah menjodohkannya dengan Richard adalah pilihan yang sudah benar? Bagaimana jika yang kutakutkan akan terjadi? Bagaimana jika kejadian ratusan lalu terulang kembali” Batin Zabrina dengan wajahnya yang nampak begitu khawatir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD