Seolah mengerti dengan apa yang terjadi, Diego pun mengikuti arah pandangan mata Easton dan langsung mengangguk mengerti kenapa Easton tiba-tiba saja menjadi aneh.
“Ternyata dia,” gumam Diego.
“Hah, apa?” tanya Easton setelah tersadar dengan lamunannya.
“Gadis itu kan?”
Easton menggelengkan kepalanya, “Bukan,” jawabnya tegas.
“Kau tidak bisa membohongiku. Kau menatapnya seolah pusat perhatian hanya ada pada gadis itu. Bahkan kau pasti tidak mendengar pertanyaanku tadi.”
“Pertanyaan yang mana?” Easton menaikkan sebelah alisnya.
“Sudah kuduga. Gadis itu yang membuatmu jatuh cinta. Bahkan aku yang jelas-jelas duduk di hadapanmu dan berbicara panjang lebar denganmu tidak kau gubris.”
“Sorry,” ujar Easton.
“It’s okay, dude. Tidak perlu meminta maaf karena kau sedang jatuh cinta. Justru aku sebagai teman dekatmu harus merasa senang, karena akhirnya kau jatuh cinta pada seorang gadis. Hei, apa mau aku bantu untuk mendekatinya?”
Diego mencondongkan tubuhnya ke arah Easton dan berbisik, “Akan kubuat dia juga mencintaimu.”
“Semudah itu?” sahut Easton.
“Perlahan tapi pasti.”
Sylvia menyadari bahwa sedari tadi ia seperti diperhatikan oleh dua pria dengan jabatan paling tinggi di Flat Company. Ia pun menggeser posisinya dan beridiri di sebelah Layla, berusaha untuk bersembunyi dari pandangan mata Easton.
“Ada apa?” tanya Layla menyadari sikap aneh dari temannya,
“Aku rasa dia memperhatikan kita,” jawab Sylvia sembari menunjuk Easton dan Diego dengan tatapan matanya.
Layla pun mengikuti arah pandangan Sylvia dan mendapati Easton yang tengah sibuk berbicara dengan Diego.
“Kau yakin? Aku rasa mereka tampak sibuk membicarakan urusan pekerjaan di sana.”
Sylvia langsung berdiri dari tempat duduknya.
“Hei mau kemana?” tanya Layla melihat Sylvia yang tiba-tiba saja berdiri.
“Aku mau ke ruanganku,” jawab Sylvia sembari berjalan menjalan meninggalkan Layla.
Baru saja Layla mengangkat pinggulnya, robot AI yang mengantarkan pesanan mereka pun datang. Dengan segera Layla mengulurkan tangannya dan mengambil milkshake vanilla milik mereka. Layla langsung bergegas menyusul Sylvia yang sudah jauh di depan sana.
“Kenapa dia sangat suka meninggalkanku?” gumam Layla.
Easton tersenyum kecil melihat tingkah Sylvia yang seperti terganggu dengan kehadirannya. Ia tau bahwa Sylvia tidak nyaman karena diperhatikan olehnya, tapi sikap Sylvia yang seperti itulah yang membuat seorang Easton menjadi lebih tertarik dan mau mengenal wanita itu lebih jauh lagi.
* * * * * * * * *
Easton duduk termenung membelakangi meja kerjanya. Ia sibuk menatap jalanan Bay City dari lantai 100 tempat ia berada. Dalam 10 tahun terakhir, angka penggunaan sepeda motor pun turun drastis. Yang ada sekarang hanyalah mobil tanpa roda serta sebuah hoverboard yang bergerak menggunakan magnet bumi.
Jangan tanya siapa yang menciptakan kedua kendaraan tanpa bahan bakar itu, sudah jelas jawabannya adalah Easton Wyatt Jonathan. Ya, dia merancang mobil tanpa roda serta hoverboard yang berjalan tanpa menggunakan bahan bakar apapun dan mengandalkan magnet alami dari bumi. Ide itu sempat ditentang oleh ISG, namun akhirnya disetujui saat melihat kemungkinan penggunaan yang jauh lebih baik daripada menggunakan kendaraan biasa.
Tok !
Tok !
Tok !
Suara ketukan pintu terdengar menggema hingga ke telinga Easton. Ia membalikkan kursinya dan melihat ambang pintu yang perlahan terbuka dan menampilkan sosok Diego.
Pria itu pun berjalan cepat menghampiri meja Easton dan memperlihatkan tablet miliknya. Ia membuka sebuah file dan menggeser keluar dari tablet hingga menampilkan tampilan 3D di hadapan mereka.
“Namanya Sylvia Veronica Dawson. Dia anak satu-satunya dari pasangan Rowan Dawson dan Irene Dawson. Nyonya Dawson meninggal saat melahirkan Sylvia dan Tuan Dawson hingga detik ini pun beliau tidak pernah mendekati wanita lain apalagi berusaha mencari pengganti istrinya. Benar-benar seorang pria yang setia, bukan?” jelas Diego sembari menunjukan foto-foto Tuan Dawson bersama dengan Sylvia kecil.
Easton menarik senyum simpul di sudut bibirnya. Seolah sadar bahwa Easton menikmati foto yang ia tampilkan, Diego pun kembali melanjutkan ke halaman berikutnya.
“Sylvia lahir di Crusoe City. Ibunya merupakan seorang pekerja resmi untuk sektor Utara. Ia dan Ayahnya baru pindah saat Sylvia berusia 16 tahun. Meski ia tumbuh besar di sektor Utara, ternyata ia memiliki minat dan kemampuan yang sangat mumpuni terhadap teknologi.”
Easton menghentikan penjelasan Diego dan melihat foto-foto Sylvia saat kecil.
“Jadi Ibunya dari sektor Utara dan Ayahnya dari sektor Selatan?” tanya Easton.
Diego pun menganggukan kepalanya perlahan sebagai jawaban iya atas pertanyaan Easton.
“Dimana Ayahnya sekarang?” tanya Easton.
Diego menggeser kembali jemarinya dan memperlihatkan foto Tuan Dawson yang tersenyum di depan sebuah mobil tak beroda lengkap dengan pakaian resmi milik Flat Company.
Easton menaikkan sebelah alisnya dan melihat Diego.
“Ya, dia adalah pekerja disini. Dia sudah bekerja sangat lama. Biasanya Tuan Dawson akan pergi ke sektor Utara saat sedang libur panjang. Tapi karena sudah terlalu tua dan sering sakit, Sylvia mengalah dan tinggal di sektor Selatan menemani Ayahnya sekaligus melanjutkan karir sang Ayah,” tutur Diego sembali memperlihatkan kembali beberapa gambar dari tuan Dawson kepada Easton.
“Apa posisinya?”
Tampilan 3D bergeser dan memperlihatkan foto tuan Dawson bersama dengan para pekerja yang lain.
“Ia adalah seorang Head Of Division Car Engineering.”
“Seorang HOD?”
“Iya, mungkin kau tidak terlalu mengenalnya. Mengingat kau sangat jarang turun ke lapangan apalagi pergi ke pusat pembuatan mesin di bawah sana.”
“Apa predikat bekerjanya sangat baik?” tanya Easton yang penasaran dengan status pekerjaan Ayahnya.
Diego menganggukan kepalanya, “Ia memiliki riwayat pekerjaan yang sangat baik. Beliau telah bekerja sejak Flat Company dibuka 10 tahun yang lalu. Tuan Dawson pula yang bantu meyakinkan para ISG bahwa temuanmu tentang mobil di bawah sana bisa menjadi kendaraan yang baik dan ramah lingkungan.”
Easton mengangkup kedua tangannya di atas meja dan mulai berpikir.
“Tolong tempatkan Sylvia ke divisi pengembangan akhir. Akan kupantau gadis itu dengan mata kepalaku sendiri,” ujar Sylvia.
“Siap, Pak.”
Dalam hari, Easton sudah menyiapkan berbagai rencana yang akan ia gunakan untuk mendekati Sylvia. Meskia ia ragu, tapi hatinya merasa kalau Sylvia adalah wanita yang tepat untuknya.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Aku harus melanjutkan pekerjaanku yang lain sebelum diteriaki pemilik perusahaan ini," ujar Diego.
Sadar jika Easton sedang disindir, Easton hanya beranjak dari duduknya sedangkan Diego segera kabur meninggalkan ruang kerja Easton.