[4] Flat Company

1002 Words
Sylvia menghembuskan nafasnya kasar. Ia menyadari bahwa semua wanita yang ada di ruangan itu sangat tergila-gila dengan ketampanan dua orang CEO di depan sana. Kecuali dirinya. Ya, Sylvia melihat dua orang disana sangat biasa saja. Ia bahkan tidak tertarik sedikitpun pada tubuh, wajah, kekayaan ataupun jabatan mereka. Seorang robot dengan perawakan mirip manusia tampak menaiki atas panggung dan kini berdiri di hadapan para mahasiswa. Robot manusia berjenis kelamin wanit aitu tampak tersenyum kaku menyapa para mahasiswa yang telah hadir di aula. Ia menekan tombol yang terletak di sisi lehernya untuk mengeraskan suaranya dan mulai berbicara agar terdengar ke seluruh penjuru aula. “Selamat pagi semuanya. Perkenalkan saya adalah Micha. Saya merupakan robot AI dengan kecerdasan tertinggi di sektor Selatan. Saya dirancang sejak 5 tahun yang lalu oleh CEO Flat Company yaitu, Tuan Easton Wyatt Jonathan,” jelas robot itu sembari menunjuk Easton dengan anggun. Terdengar suara sorak ramai ketika Easton berdiri dan membungkukan tubuhnya sedikit sebagai ucapan terima kasih. “Sebelum kita memulai kegiatan magang kalian, saya akan menjelaskan beberapa peraturan di Flat Company, yaitu.” Micha pun melanjutkan penjelasannya akan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan di Flat Company. Para mahasiswa yang magang disana diharuskan untuk mengisi absen setiap jam 5 pagi, menyelesaikan tugasnya maksimal 24 jam setelah tugas itu diberikan dan dilarang untuk membawa masuk barang lain tanpa seizin Flat Company. Selain itu, segala uji coba produk Flat Company, sangat dilarang untuk dibeberkan dan bahkan dibawa keluar selama produk itu belum siap untuk dipasarkan dalam skala besar. Setelah penjelasan Micha, robot pintar itu pun kembali menekan tombol pada sisi lehernya dan turun dari atas panggung diikuti oleh Easton dan Diego di belakangnya. Sylvia yang melihat itu menaikkan kedua alisnya seolah tidak percaya. “Syl, keren banget kan kedua CEO itu? Kita beruntung bisa magang disini. Walau hanya 2 minggu, itu udah lebih dari cukup,” ujar Layla sembari memeluk lengan kanan Sylvia. “What? Kedua orang itu bahkan hanya duduk terdiam di depan dan sesekali memerkan senyumnya yang tampak biasa saja. Itu yang kau sebut keren? Kau sudah gila,” jawab Sylvia. Sylvia langsung beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Layla. “Hei! Mau kemana? Tunggu aku!” pekik Layla dan langsung membereskan barang bawaannya lalu berlari menyusul Sylvia. * * * * * * * * * * Sesudah menampilkan dirinya di aula, Easton dan Diego pun berjalan menuju kafetaria. Mereka langsung memilih menu yang sudah tersedia melalui layar sentuh yang terpasang di meja. Mereka memesan kentang goreng dengan minuman teh hangat dan s**u coklat. Tak perlu menunggu waktu lama, robot AI dengan empat roda langsung berjalan menghampiri mereka. Layar monitor pun menampilkan wajah tersenyum. “Ini pesanan anda,” ucap robot itu. “Terima kasih,” ujar Easton seraya mengambil pesanannya yang diletakkan secara rapi di badan robot itu. “Aku mendengar dari Mika bahwa sejak kemarin kau berperilaku aneh,” ujar Diego memulai pembicaraanya dengan Easton. Easton memperhatikan wajah Diego sembari menyesap teh nya, “Aneh gimana?” “Iya kau aneh. Tampak tidak fokus. Bahkan tadi pun, kau tampak sangat kaku di aula. Ada apa? Apa terjadi sesuatu atau ada yang ingin kau ceritakan denganku?” Diego mulai membuka bungkusan kentang goreng di hadapannya dan menambahkan saus di atasnya. Sesekali ia melihat wajah Easton yang duduk di hadapannya yang tampak memikirkan sesuatu sembari menyesap teh hangatnya “Apa kau sedang jatuh cinta?” tanya Diego yang sukses membuat Easton langsung tersedak. Uhuk ! Easton segera mengambil sapu tangan dan mengusapkannya di area wajahnya yang terkena cipratan teh akibat ia tersedak tadi. “Sudah kuduga.” Diego tampak memicingkan matanya menatap Easton. Easton yang mendapat tatapan Diego hanya mmealingkan wajahnya ke arah lain. “Jatuh cinta?” tanya Easton berbalik pada Diego. “Iya, kau. Sedang jatuh cinta.” “Dari mana?” “Dari tingkahmu sudah terlihat," ujar Diego dan sontak mendapat tatapan tajam dari Easton yang tak terima jika dirinya sedang jatuh cinta. “Tidak juga. Aku masih bersikap sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah, mungkin itu hanya perasaaanmu atau perasaan Mika saja,” jelas Easton membela diri dan berusaha membantah apa yang sedang terjadi pada dirinya. “Hei, aku dan Mika sudah mengenalmu selama 20 tahun Tuan Jonathan. Terlebih Mika adalah seorang wanita yang aku yakin lebih peka daripada aku. Dia langsung mengetahui ada yang aneh padamu dan saat aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, aku pun menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan tingkahmu hari ini.” Diego berusaha menjelaskan maksudnya setengah mati pada Easton. Ia sangat tahu bahwa Easton tidak pernah merasakan jatuh cinta. Jangankan jatuh cinta, menyukai seorang wanita pun tidak. Diego meminum s**u coklat dan memperhatikan raut wajah Easton. Ia berusaha menerka seperti seorang cenayang yang sedang membaca pikiran. “Kau sudah gila? Mana mungkin aku jatuh cinta,” pungkas Easton. “Kau yang gila karena tidak bisa merasakan cinta dan bahkan ketika kau jatuh cinta, kau enggan untuk mengakuinya.” Easton menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan kasar. “Baiklah, aku sempat terpana dengan seorang mahasiswa.” Uhuk ! Kali ini Easton sukses membuat Diego tersedak dengan s**u coklatnya. “Apa?!” Mata Diego langsung membulat seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Iya. Apa itu aneh?” “Kau tidak pernah jatuh cinta pada siapapun, dan sekalinya kau jatuh cinta, kau justru jatuh pada seorang mahasiwa?” tanya Diego memastikan. Easton menganggukan kepalanya perlahan. Sebenarnya ia ragu, tapi Easton tak bisa menutupi kenyataan jika ia menyukai mahasiswi yang baru saja ia lihat melalui profil pendaftaran magang ke perusahaan miliknya. “Apa dia sangat cantik? Apa tubuhnya sangat bagus hingga bisa membuatmu tidak bisa mengalihkan pandanganmu dari gadis itu?” Rentetan pertanyaan yang masuk ke telinga Easton bagai angin lalu. Matanya kini terhipnotis pada seorang gadis yang baru saja datang bersama dengan temannya ke kafetaria. Ia mengenakkan kaus berwarna coklat lengkap dengan celana jeans yang tidak terlalu ketat. Kedua gadis itu pun mengambil kursi di dekat jendela yang posisi nya pun tidak terlalu jauh dengan kursi tempat Easton dan Diego duduk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD